DUA PENGANTIN

1092 Kata
“Apa yang kalian kerjakan, bagaimana bisa pengantinnya menjadi Mia? Ke mana Emma?” Suara Samuel, ayah Emma tengah marah menggema bahkan Mia, adik tiri Emma begitu ketakutan. “A-ayah—“ Bibir Mia bergetar karena ketakutan, ia tidak tahu jika sang ayah akan sangat murka. Samuel segera masuk ke ruang make up dengan wajah merah padam, membuat penata rias ikut ketakutan. “Bukannya kamu sejak tadi dengannya?” Samuel mulai mengintrogasi. “B-benar, t-tapi saya keluar sebentar. Saat kembali, s-saya tidak menemukan Nona Emma hanya kain yang diikat sampai tanah,” jelas penata rias itu. Walaupun dia begitu takut karena membantu Emma melarikan diri tapi dia masih bisa berbohong dengan sangat baik. Maklum, dulunya bercita-cita menjadi artis. Samuel tidak bisa berkata-kata lagi, tengkuk lehernya terasa tegang. Dia tidak tahu harus menaruh muka di mana, putrinya kabur di hari pernikahan. Di lantai atas pun terjadi hal yang sama. Semua orang menahan diri untuk tidak emosi. Itu adalah lantai tempat pernikahan Hugo dan tunangannya. Kedua belah pihak keluarga menjadi heboh lantaran Hugo tidak ada di manapun dan hanya meninggalkan surat. "Jangan cari aku-" geram Lilian Bharion yang melihat tulisan acak putranya dengan kedua tangan gemetar dan menyuarakan dengan nada keras. "Dia kira- bisa kabur begitu saja?" Ahan tidak berkomentar tapi hanya tersenyum sinis mendengar perilaku kekanakan adiknya, sementara Audrey hanya duduk di atas sofa tempat ruang tunggu pengantin, tidak berani bersuara di hadapan kakak Hugo, Ahan. Ivan Bharion yang berdiri tidak jauh dari tempat orang tua kedua belah pihak berdiskusi, tidak berkomentar ataupun memberikan penjelasan. Kakak keduanya kabur bersama wanita lain, dia melihat jelas saat Hugo mengandeng tangan seorang wanita saat masuk ke sebuah taksi. Orang tua Audrey menjadi cemas. Jika Hugo kabur dan tidak menjadi menantu mereka, maka tidak bisa menjalin hubungan baik dengan keluarga pengusaha Bharion. Tidak hanya itu, mereka sudah pamer ke semua orang mengenai hubungan baik putri mereka dengan anak kedua jenius, keluarga Bharion. Saat dua keluarga yang begitu frustasi memikirkan pengantin yang kabur sedangkan Emma dan Hugo saat ini tengah duduk di dalam taksi. Tidak terpikirkan sama sekali kabur bersama Hugo, Dokter yang sering meneriakinya saat di klinik. Mengingat beberapa waktu lalu, pria di sampingnya memarahinya karena pelanggan yang komplain. “Dokter akan ke mana?” "Kamu sendiri mau ke mana?" Hugo balik bertanya. “Tidak tahu. Saya tidak punya tujuan, Dok,” jawab Emma. “Dokter sendiri?” "Saya punya rumah yang tidak diketahui siapapun. Saya bisa tinggal di sana, setidaknya sampai situasinya aman.” “Boleh saya tinggal di rumah Dokter?” tanya Emma membuat Hugo terkejut. Seorang wanita tengah menawarkan diri tinggal bersamanya. “Kamu gila, ya? Mau tinggal dengan saya?” "Saya tidak seperti Dokter yang sudah mempersiapkan pelarian jauh hari. Keluarga saya pasti mencari jika saya pergi ke apartement.” Emma menatap Hugo penuh dengan permohonan agar pria itu memberikan izin untuk tinggal. “Satu bulan saja, Dok. Please.” Melihat Emma yang tengah bermohon seperti itu, hati Hugo pun tergerak. “Huh. Baiklah. Saya akan mengizinkanmu tinggal, tapi hanya sebulan saja setelah itu kau pergi dari rumahku.” “Terima kasih, Dokter. Saya janji tidak akan menjadi penghuni yang merepotkan.” “Hanya sebulan saja. Satu bulan saja!” tegas Hugo dijawab anggukan oleh Emma. Suasana di dalam mobil kembali hening. “Jadi, kalian turun di mana? Ini sudah tiga saya jam mutar-mutar bersama kalian, satu putaran lagi bisa-bisa saya dapat piring cantik,” celetuk sopir taksi yang sejak tadi sedikit risih dengan Emma dan Hugo. Dia terus menerus mendengarkan keduanya berdebat seperti kucing dan anjing. Hugo pun memberikan dua alamat pada sopir taksi tersebut. Alamat yang pertama diberikan adalah alamat klinik hewan miliknya. Setibanya di rumah sakit hewan yang hanya membutuhkan waktu lima belas menit dari hotel, Hugo masuk ke bagian halaman belakang dan parkir mobil di sana. Para staff yang sedang duduk di belakang sambil merokok untuk istirahat, terkejut melihat atasannya tiba. Lebih terkejut lagi saat melihat Hugo datang bersama Emma memakai pakaian pengantin. "Emma?" Emma membeku sesaat lalu berlari mendekati Hugo sambil sembunyi dibelakangnya. Dua dokter hewan yang sedang memeriksa kondisi pasien rawat inap, melihat Hugo masuk memakai pakaian formal, serta bunga yang disematkan di d**a. "Dokter," sapa mereka lalu mengintip di belakang Hugo. "Emma?" tanya mereka bersamaan. Emma melambaikan tangan sambil tersenyum canggung. "Oh, hai. Hallo." "Bagaimana bisa kalian berdua-" Salah satu dokter hewan yang memakai jilbab berwarna kuning dan menggendong seekor anjing poodle yang lemas setelah operasi hernia semalam. Dokter lainnya yang sedang membantu dokter tersebut menyenggol lengan dan melotot. Hugo maupun Emma tidak menjawab pertanyaan mereka. Hugo menarik tangan Emma dengan lembut. "Ikut aku." Emma mengikuti Hugo dari belakang menuju lantai atas. Emma mengangkat gaunnya dengan susah payah menggunakan satu tangan. Kedua dokter hanya melihat kelakuan mereka berdua sekaligus memberikan jalan supaya bisa lewat. "Apakah mereka berdua menikah?" "Bukankah mereka saling membenci?" Semua orang saling melemparkan tatapan mempertanyakan apa yang terjadi antara Hugo dan Emma. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya keduanya pun turun dari lantai atas dan kembali ke mobil begitu saja. Emma hanya tersenyum kemudian berlari mengikuti Hugo keluar dengan susah payah. “Aku yakin mereka pasti sudah menikah!” Seru salah satu dokter hewan dengan percaya diri tinggi.. “Hei, jangan asal bicara. Seperti tidak tahu kalau mereka itu musuh. Jadi tidak mungkin kalau mereka itu menikah,” bantah yang lain. “Terus yang kita lihat, apa? Jika bukan telah menikah, huh?” Dokter itu kembali bertanya pada teman-temannya. Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu. Semuanya terdiam. Setelah ke klinik untuk mengambil beberapa barang-barang yang diperlukan. Hugo pun meminta agar sopir mengantarkan mereka ke rumah yang akan ditempati. Membutuhkan satu jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumah yang tidak terlalu besar tetapi cukup mewah. Setelah sampai, tidak lupa Hugo membayar seluruh biaya perjalanan mereka pada sopir. “Ini salah satu rumah yang tidak diketahui oleh keluargaku,” ucap Hugo. “Aku membelinya dari hasil klinik,” tambah Hugo. Ia tidak tahu kenapa dia mengatakan pada Emma cerita mengenai rumahnya. Emma melihat ke arah Hugo. Kemudian melangkah masuk ke dalam rumah, sangat rapi dengan penataan yang sangat sempurna di mata Emma. Rumah yang pernah menjadi impiannya, tidak disangka bisa menginjakkan kaki ke tempat ini. Dunia serasa tidak adil, karena musuhnya justru bisa tinggal di rumah sebagus ini. Hugo duduk bersandar di dinding dan menatap Emma yang tengah memperhatikan sekitar rumahnya. "Bagaimana?" "Apanya?" "Setelah sembunyi, apa yang akan kau lakukan?" tanya Hugo. Emma menggeleng bingung. "Aku tidak pernah berpikir ke sana." Hugo menghela napas. "Kamu memang orangnya impulsif, tidak pernah memikirkan rencana dengan baik." Emma menjadi tersinggung. "Apa maksud Dokter?" "Dengar, bagaimana jika kita menikah?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN