bc

PERNIKAHAN DARURAT

book_age18+
669
IKUTI
4.7K
BACA
HE
age gap
lighthearted
city
like
intro-logo
Uraian

Emma kabur di hari pernikahan setelah mengetahui calon suami berselingkuh dengan adik tirinya. Sial, Emma harus terlibat dengan Hugo, mantan atasan sekaligus musuh yang juga kabur dari pernikahannya.

Keduanya pun membuat gossip jika mereka kawin lari. Mau tidak mau, keduanya harus menikah demi menghindari pernikahan yang diatur oleh kedua orang tua mereka. Namun, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, mereka terpaksa merahasiakan pernikahan dari publik, termasuk kantor tempat mereka berdua bekerja.

Kehidupan rahasia kontrak pernikahan antara atasan dan bawahan pun dimulai.

chap-preview
Pratinjau gratis
KABUR DARI PERNIKAHAN
Emma beberapa kali mondar-mandir di ruang make up. Masih memakai gaun akadnya yang berwarna putih, sederhana, berlengan panjang, roknya tidak terlalu mengembang dan kainnya terbuat dari kain duchess. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya ia pun memutuskan pilihannya sendiri. “Persetan dengan pernikahan ini,” umpat Emma kemudian membuka jendela, ia melihat sekelilingnya kemudian menghela napas kasar. Saat ini, Emma berada di lantai empat, ia cukup kebingungan mencari cara untuk kabur. Namun, ia harus segera pergi dari sana. Jika tidak, kehidupan yang dia inginkan dihancurkan oleh pernikahan tanpa dasar cinta. Kursi yang dipakai saat duduk tadi, ditariknya, ia akan melompat. Hanya itulah yang terpikirkan di kepalanya, dia tidak mungkin lewat pintu depan karena banyak yang menunggunya keluar. Kaki yang sudah siap untuk melompat harus dikejutkan kedatangan penata rias. Mata membulat dengan mulut seketika mengangga. Emma segera memberikan isyarat diam dan meminta pria itu segera menutup pintu. “What are you doing?” pekik pria itu tetapi suaranya tidak terdengar. “Please, bantu aku kabur dari sini,” pinta Emma. “T-tapi—“ “Kau sudah melihat calon suamiku bermesraan dengan wanita lain. Apa kau ingin aku menikahi pria yang berselingkuh di hari pernikahannya?” Emma membentak pria itu. “Please!” Wajah Emma benar-benar memohon pada pria. “Tapi bagaimana caranya?” Pria itu seketika merespon setelah beberapa saat yang lalu terpaku memikirkan tindakan yang akan dilakukan. “Jangan katakan pada siapapun jika aku kabur dengan melompat di jendela,” tegas Emma. Pria itu mendekat dan melihat ke arah Emma. “Kau gila? Mau melompat dari sini? Kau bisa mati.” “Aku tidak punya cara lain selain ini,” ucap Emma dengan lirih. Ia benar-benar kehabisan ide. “Mustahil aku kabur lewat pintu itu,” tambah Emma sambil melihat ke arah pintu. Penata rias itu pun berpikir bagaimana membantu Emma untuk kabur. Setelah mendapatkan ide, ia segera beranjak dan mengambil beberapa kain kemudian di ikatkan satu sama lain. “Kau bisa memakai ini untuk kabur,” ucap pria itu kemudian mengulurkan kain itu ke arah bawah. Merasa jika kain yang dipakai masih pendek, ia pun menambah dengan kain-kain horden yang ada di sana. “Aku rasa ini sudah cukup,” ucap Emma kemudian mengikatkan ujung kain ke ranjang yang ada di kamar itu. “Thank you, aku akan membalas kebaikanmu karena membantuku kabur.” Penata rias itu hanya menganggukan kepala. “Cepat turun, yang di sini serahkan padaku,” ucapnya kemudian tersenyum pada Emma. Walaupun apa yang dilakukan Emma cukup gila, tetapi ia tidak ingin kehidupannya berakhir dengan pernikahan yang tidak dia inginkan. Pernikahan yang diatur oleh keluarganya, tetapi pria tersebut berselingkuh dengan adik tirinya, lebih parahnya keluarganya mengetahui hal itu. Saat tiba di bawah, Emma segera berlari menuju pintu keluar. Sepatu high heels yang dikenakan dilepas dan di pegang olehnya. Bisa-bisa jika ada yang mengejarnya, akan ribet. Baru bernapas lega beberapa menit. Sebuah teriakan beberapa orang terdengar, bersamaan dengan seorang pria tengah memakai setelan jas pengatin berlari ke arahnya, melihat orang-orang yang tengah mengejar Emma ikutan lari. Pria itu bahkan mengandeng tangan Emma dan berlari bersama. Untung saja saat di pintu gerbang sebuah taksi baru saja menurunkan pengantin membuat Emma dan pria itu segera masuk ke dalam. “Cepat jalan, Pak,” pinta Emma menepuk-nepuk bahu sopir taksi sambil melihat ke arah luar. “Pak, buruan,” pekik Emma lagi. “Buruan, Pak. Aku bayar berapapun, bawa kami pergi dari sini. Kalau bisa, ngebut Pak,” tegas pria itu membuat sopir taksi pun segera melaju dengan kecepatan yang dia bisa. Untung saja, saat itu jalanan Jakarta tidak terjadi kemacetan membuat sopir taksi bisa leluasa melajukan taksi miliknya. “Ah, sial. Mereka pasti sadar kalau aku kabur,” gerutu Emma sambil bersandar di kursi, kemudian menghela napas kasar. “Mereka suruhan orang tuaku,” timpal pria yang berada di samping Emma. Mendengar suara itu, Emma benar-benar baru menyadari jika dia berlari bersama seorang pria yang dikenalnya. “Sial. Aku jadi ikutan lari padahal mereka mengejarmu. Kenapa juga kamu malah mengandeng tanganku, lari bersamamu, huh?” bentak Emma sambil menatap wajah pria yang mengajaknya berlari itu. Tatapan keduanya berada dalam satu garis lurus. “Dokter Hugo?” Emma memekik memanggil nama pria yang wajahnya dikenal itu. “Emma? Kamu Emma si anak magang yang tengil itu ‘kan?” tanya Hugo yang baru menyadari. Emma memalingkan wajah ke arah lain, kemudian mengumpat dalam hati. “Dokter kenapa narik saya?” “Saya yang seharusnya bertanya, kenapa kamu ikutan lari?” Cukup kebingungan Emma menjawab pertanyaan Hugo, dia kabur karena berpikir beberapa pria tadi adalah orang suruhan keluarganya. “Saya pikir mereka suruhan orang tua saya,” jawab Emma jujur. “Lagi pula kenapa Dokter pakai kabur dari pernikahan coba. Lebih tepatnya kenapa lari ke arah saya?” “Kamu pikir ada jalan lain selain lewat pintu gerbang?” Hugo sedikit menaikan nada bicaranya. Ia melirik ke arah Emma yang tengah memakai gaun pengantin. “Kamu kabur dari pernikahan?” “Bukannya Dokter juga?” Emma membalas pertanyaan Hugo dengan pertanyaan lagi, membuat pria itu terdiam, tidak menjawab pertanyaan Emma. Sopir taksi hanya bisa memasang wajah tidak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya. Dua orang mempelai pengantin kabur dari pernikahan. “Huh. Apa ini hari sialku,” gumam Emma. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain kembali menghela napas. “Kamu kenapa kabur?” Hugo bertanya karena penasaran. “Tunanganku—“ “Oh, pria sok kaya datang menjemputmu setiap hari? Kenapa? Dia selingkuh?” Ejek Hugo. “Apa tunangan Dokter juga selingkuh jadi kabur dari pernikahan juga?” Balas Emma. Lagi-lagi Hugo kalah dengan kalimat mematikan Emma. “Iya, dia selingkuh dengan kakakku sendiri.” Mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Hugo membuat Emma terkekeh. “Tsk. Aku tidak percaya, Dokter bisa juga diselingkuhi,” ejek Emma. Hugo yang menjalaninya saja tidak percaya jika tunangannya begitu berani berselingkuh darinya. Dia bahkan tidak kurang satupun, bahkan telah memberikan segalanya untuk kekasihnya. Hanya karena Hugo mengungkapkan keinginan untuk hidup mandiri tanpa bantuan keluarganya, dalam waktu beberapa hari saja tunangannya telah berselingkuh. “Kita sama, Pak. Lucu, kupikir seperti di novel atau film. Tunangan direbut oleh keluarga sendiri,” kekeh Emma. “Jadi, sekarang kamu akan pergi ke mana?” Hugo penasaran dengan kehidupan Emma setelah ini. Emma diam, ia tidak menjawab sesaat. “Bersembunyi. Keluarga saya pasti akan mencari dan memaksa untuk menikah,” ucap Emma dengan raut wajah sedih. Sopir taksi sejak tadi mendengarkan keduanya. Awalnya dia pikir kedua orang itu begitu bodoh tetapi mendengar cerita Emma dan Hugo dia merasa prihatin. “Ehem. J-jadi kalian akan turun di mana? Sejak tadi saya berkeliling-keliling,” ucap sopir taksi membuat Hugo melihat ke arah Emma. Mereka berdua tidak tahu harus pergi ke mana. Hanya berpikir untuk kabur dari pernikahan, tanpa memikirkan tempat untuk bersembunyi.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook