"Aku pikir lebih baik kita bicara yang sebenarnya ke orang tua aku." Azam mengerutkan kening tidak setuju. "Tidak, bagaimana dengan Emma?" "Dia memutuskan pergi, untuk apa ditunggu lagi? Bukankah kakak ipar lebih suka bersama dengan aku daripada dengannya?" "Mia-" "Kakak sudah tidak ada, pergi, kabur. Tolong jangan tinggalkan aku sendiri, aku masih sayang kamu." Mia menggenggam erat kedua tangan Azam. "Bukankah kakak berjanji tidak akan pernah meninggalkan aku dalam keadaan apa pun?" Azam menghela napas panjang. "Mia, tolong. Tunggu sebentar saja, aku hanya ingin memastikan kondisi Emma saja." "Bukankah kakak ipar sendiri yang bilang kalau perasaan itu sudah lama menghilang, Emma juga tidak sesuai dengan kriteria calon istri keluarga kakak ipar, kenapa-" Azam menyipitkan kedua mata

