Riana mencoba mengalihkan arah pandangannya pada Rendi yang ternyata sedang menatapnya. Lekat, hangat dan lembut. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada yang menegur lebih dulu diantara dua insan yang saling memendam perasaan cinta dalam diam itu. Hanya beberapa detik, hingga suara deheman membuyarkan keheningan yang tercipta diantara mereka. "Ehmm." Ustad Malik melirik jahil keduanya secara bergantian. Secepat kilat mereka mengambil sikap biasa lagi demi menutupi kecanggungan ini. "Riana tinggal ke dapur dulu, Ustad." Riana menganggukan kepala meminta ijin undur diri pada keduanya. "Assalamualaikum." "Wa'alaikumsalam." Rendi masih memandang punggung sang gadis yang meninggalkannya melalui kaca-kaca jendela masjid. Hingga punggung itu menghilang memasuki koridor yang mengarah ke dapur.

