Bab 8: She likes you

1348 Kata
Disa menepuk dahinya saat bel istirahat berbunyi. Dia baru ingat kalau habis jam istirahat adalah pelajaran bahasa Inggris. Dan parahnya, Dia belum menyontek PR Troy. "Astaga, gawat!"                 Troy menoleh saat dia baru menaruh buku Fisika di kolong meja. "Kenapa, Dis?" tanya Troy sedikit cemas, karena wajah Disa terlihat sangat sedih dan panik, "lo nggak apa-apa?"                 "Troy, gue lupa ngerjain PR...."                 "Nggak usah pura-pura lupa. Nih, lihat aja PR gue biar lo seneng." Troy mengeluarkan LKS bahasa Inggrisnya dari dalam tas, lalu memberikan ke Disa dengan setengah hati.                 "Lo memang yang terbaik!" Disa langsung buru-buru menyalin PR Troy. "Pilihan ganda aja, kan?" tanya Disa saat tangannya sibuk menyalin.                 "Yang essay juga."                 "Yah elah. Banyak amat!"                 Troy terkekeh dan memperhatikan raut wajah Disa yang serius. "Lo nggak ke kantin?"                 "Lo duluan aja. Nanti gue nyusul kalo nih PR udah selesai." Disa mendengus kesal karena PR bahasa Inggrisnya ternyata sangat banyak.                 "Oke. Atau mau gue beliin makanan aja? Mau apa?"                 Disa berpikir sesaat. "Roti aja deh. Rasa cokelat ya, gue nggak suka rasa lain," ujar Disa masih tidak melihat Troy, karena sibuk dengan PR-nya.                 "Oke. Gue tau kok, Dis." Troy pun berjalan keluar dari kelas. Dan saat dia berjalan sambil bermain ponsel, tiba-tiba Stella menghadangnya.                 "Stop!"                 Troy memaksakan sebuah senyum. "Hei, Stell."                 "Disa mana?" tanya Stella ketus.                 "Ada di kelas. Kenapa, Stell?"                 Troy menaikkan satu alisnya saat melihat Stella seperti menahan emosinya. Stella terlihat mengatur napasnya berkali-kali. "Are you okay?"                 "I'm not okay. Mak lampir kesayangan lo itu udah membuat hukuman gue bertambah! Gue disuruh bersihin toilet, Troy! Bayangin!"                 Troy langsung berusaha membayangkannya, dan hasilnya dia malah tertawa pelan. "Lagian lo sih nggak dateng tadi pagi buat bersihin perpus. Wajar aja Disa marah dan ngelapor ke Bu Sukma."                 "Ah, Disa aja yang memang dendam banget sama gue. Padahal gue sebenernya baik lho, Troy."                 Troy mengangguk. "Iya, lo baik." Kalo lagi nggak jahat.                 "Lo tau nggak alasan Disa benci sama gue?" tanya Stella sambil melipat tangannya di depan perut.                 Troy menaikkan satu alisnya lagi. "Apa?"                 "Dia suka sama lo, Troy."                 Deg                 Troy memang sedikit terkejut, tapi tak lama kemudian dia mendengus geli. "Jangan bercanda. Dia itu cuma suka sama Niall Horan, bukan gue."                 "Troy, lo ini nggak peka banget. Semua orang juga bisa liat kalo Disa suka sama lo. Dan itu bukan cuma sebagai sahabat."                 Troy mengernyit dan mengacak rambutnya. "Nggak. Gue nggak percaya. Disa nggak mau pacaran sama siapapun sampai Niall ngelamar dia."                 Stella memutar bola matanya. "Troy, berhenti pura-pura b**o. Dia cuma suka sama lo, Troy."                 "Oke. Tapi, kenapa lo ngasih tau hal ini ke gue?" Troy memandang Stella curiga.                 "Disa udah buat gue dihukum lebih parah, so? Gue bongkar rahasianya. Keren, kan?" Stella tersenyum miring. Merasa menang karena Troy sudah tahu rahasia terbesar Disa.                 Namun Troy malah berdecak. "Lo mau ngehancurin persahabatan gue sama Disa, kan? Sorry, gue nggak percaya sama lo."                 "Terserah. Lo pikir gue peduli?"                 Troy mengernyit bingung melihat perubahan sikap Stella. Bukankah Stella sangat menyukai dirinya? Lalu kenapa sekarang dia malah bersikap seperti musuh saat ini?                 "Oke. Permisi, gue mau beliin Disa makanan di kantin." Troy berdeham lalu berjalan melewati Stella dengan santai.                 Sebenarnya informasi yang diberikan Stella sangat berhasil memecah konsentrasi Troy. Dia jadi merasa aneh dan teringat semua sikap baik Disa pada dirinya. Apakah mungkin Disa menyukai dirinya?                 Troy kira, Disa hanya menyukai Niall horan dan Ironman. *** Selama pelajaran bahasa Inggris, Troy jadi diam-diam selalu melirik Disa yang sedang bertopang dagu menahan ngantuk.                 Troy mengetuk-ngetukkan jarinya di meja, kakinya pun tidak bisa diam. Gue kenapa sih? Disa yang merasa terganggu, langsung melihat Troy dengan pandangan bertanya. Troy hanya meringis dan berusaha untuk diam. Tapi, ternyata sangat sulit. Akhirnya Troy mengembuskan napas beratnya dan menoleh ke Disa.                 "Dis, gue mau nanya." Troy berbisik sambil menusuk-nusuk lengan Disa dengan jari telunjuknya.                 "Nanya apa?" Disa menoleh malas, sambil menaikkan satu alisnya.                 "Nggak jadi." Troy tersenyum canggung dan kembali memerhatikan Mr.Zack--guru bahasa Inggrisnya. Sebenarnya nama Mr.Zack adalah Zakaria. Tapi, agar lebih keren, anak-anak memanggilnya Mr.Zack.                 "Any question?" Mr.Zack bertanya pada murid-murid setelah menjelaskan materinya.                 "No, sir!"                 Mr.Zack berdecak kesal. "Jangan malu-malu atuh kalo mau nanya mah. Bapak kan bukan gebetan kalian. Slow aja!"                 Beberapa murid tertawa. Mr.Zack memang tidak jauh berbeda dengan Bu Sukma. Logat sundanya sangat kental, walau sedang bicara bahasa Inggris. Malah terkadang dicampur-campur.            Jadi terdengar lucu.                 "Mr.Zack lucu, ya? Gue jadi makin suka sama dia." Disa terkekeh pelan, saat bicara dengan Troy.                 "Lo suka sama Mr.Zack?"                 Disa berhenti tertawa lalu mencubit pinggang Troy. "Gue bercanda, astaga."                 "Oh, terus siapa yang lo suka?"                 Disa tersenyum jail. "Niall Horan."                 "Gue serius. Selain Niall?"                 Disa semakin berusaha tersenyum lebar. "Ironman. Lo bukannya udah tau, ya?"                 Troy menghela napas frustrasi, dan terus bertanya, "Selain Ironman? Siapa yang lo suka? Gue serius."                 Disa mulai gelisah. "Erm...."                 "Eta yang di belakang cicing wae! Do you understand?" Mr. Zack menginterupsi Disa dan Troy yang sedang berbicara serius.                 Disa dan Troy hanya bisa meringis dan menggaruk kepala mereka. "Yes, Sir!" ujar mereka berdua dengan kompak.                 "Good! Sepertinya semua murid di kelas ini pinter-pinter. So, minggu depan kita ulangan. Okay, guys?" Mr.Zack tersenyum jahat seperti pemain sinetron yang ada di TV. Dia merasa senang melihat para muridnya lemas dan protes panjang lebar agar tidak ulangan.                 "No reason! Next week! Belajar yang bener, eta jangan bobogohan wae. Okay, guys? See ya tomorrow!"                 Disa tertawa keras setelah Mr.Zack keluar dari kelas. "Itu guru makin lucu aja, sih. Ngomongnya campur-campur kayak rujak aja!"                 Troy tersenyum kecil. "Iya. Gue jadi pengen rujak."                 "Masa? Ya udah, nanti sore kita bikin rujak aja! Gimana?"                 Troy tersenyum. "Oke." *** Setelah Troy memarkirkan motornya di halaman rumahnya, Troy dan Disa pun turun. Lalu berjalan masuk ke rumah lelaki penyuka warna biru itu, untuk membuat rujak.                 "Nyokap lo ke mana, Troy?"                 Troy hanya tersenyum kecil dan terus berjalan ke kamarnya. Membuat Disa berdecak dan mengikuti Troy dari belakang. "Ditanya bukannya jawab, malah diem aja. Kenapa sih, Troy?"                 Troy merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya. Matanya terpejam. "Mama lagi di butik."                 "Oh, pulang jam berapa?"                 "Nggak tau, belom nanya."                 Disa mengangguk pelan lalu duduk di tepi tempat tidur Troy. "Katanya mau bikin rujak? Ayo."                 "Gue berubah pikiran."                 "Lo kenapa sih aneh banget, Troy? Ada masalah?" tanya Disa gemas karena Troy menjadi sangat singkat menjawab pertanyaannya.                 Tidak biasanya Troy seperti itu. Biasanya Troy akan menjawab halus dan pasti sambil terkekeh atau tersenyum. Disa yakin kalau Troy mempunyai masalah saat ini.                 "Nggak tau, Dis." Troy membuka matanya dan melihat Disa, "gue cuma takut," lanjut Troy tersenyum miris.                 "Takut kenapa?" Disa semakin cemas saat Troy bangkit duduk dan memeluk lutut. "Ada apa, Troy?"                 "Lo harus milih cowok yang baik dan tepat. Gue nggak mau liat lo kecewa, Dis...."                 Disa semakin mengernyit. "Maksud lo apa?"                 Troy menepuk tempat di sebelahnya, meminta Disa duduk lebih dekat dengannya. Disa pun menurut dan duduk di sebelah Troy. "Jelasin ke gue, maksud lo apa ngomong gitu?"                 Troy meraih tangan Disa. "Kita sahabatan sejak kecil. Iya, kan?"                 Disa mengangguk.                 "Gue mau selalu jadi sahabat lo, Dis. Gue nggak mau lo sakit hati dan kecewa. Jadi, gue nggak mau lo ... milih cowok yang salah. Oke?" Troy tersenyum tipis, dan memeluk Disa dari samping saat melihat perubahan wajah Disa yang drastis. Disa terlihat sedih.                 "Maaf, Dis. Gue cuma nggak mau liat lo sakit hati. Erm... Nico bukan cowok yang baik buat lo." Troy sedikit meringis, dia awalnya ingin bertanya pada Disa tentang informasi yang dikasih Stella.                 Tapi, Troy rasa ini bukan saat yang tepat. Dan pasti tidak sopan jika Troy bertanya, namun tidak bisa membalas perasaan Disa, jika memang benar perempuan itu menyukai dirinya. Jadi, lebih baik Troy pura-pura tidak tau agar semuanya tetap berjalan seperti biasanya.                 "Nico? Troy, gue nggak pernah suka sama dia. Lo tenang aja!"                 Troy berusaha mengembuskan napas lega. "Gue kira lo suka sama dia. Gue takut lo disakitin sama Nico, Dis. Itu aja."                 Disa terkekeh, "Oh, astaga gue tadi sempet deg-degan."                 "Deg-degan kenapa?" tanya Troy seraya melepas pelukannya.                 "Kayaknya gue laper. Ada makanan nggak di dapur?" tanya Disa mencari topik lain.                 "Ada es krim. Mau?" Troy kembali tersenyum lebar, apalagi saat Disa mengangguk dengan semangat.                 Lo harus bahagia, Dis. Dan jangan suka sama gue. Karena lo pasti akan kecewa....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN