Saat Troy sedang mengerjakan PR bahasa Inggris, ponselnya bergetar dan ada chat dari Disa. Troy langsung berdecak. "Tumben, biasanya tinggal manjat jendela kalo mau ngomong malem-malem gini."
Adisa cantik : Woy, besok gue berangkat ke sekolah duluan, oke?
Troy mengernyit. Kenapa Disa tidak mau berangkat bersamanya? Apa karena kejadian tadi sore?
Troy : Why? Lo berangkat naik apa besok?
Adisa cantik: Not why why. Gue kayaknya naik angkot.
Troy: Serius? Lo marah, ya?
Adisa cantik: Ih gue nggak marah, gue tuh harus nyampe sekolah jam enam pagi. Harus bersihin perpus!
Troy: Oh, yaudah. Gue juga berangkat jam enam kurang aja biar bisa bareng lo. Simple, kan?
Troy menghitung satu sampai tiga puluh detik, tapi Disa tidak kunjung membalasnya. Sepertinya tadi Disa cukup cepat membalasnya. Kenapa tiba-tiba lama, ya?
Adisa cantik: Oke deh kalo lo maksa. Makasih ya!
Troy terkekeh."Apanya yang maksa sih, Dis?"
Troy: See ya tomorrow! Oh iya, PR LKS bahasa Inggris hal 65 jangan sampe lupa!
Adisa cantik: Gue padahal berniat pura-pura lupa besok lho! Lo pake acara ngingetin! Dasar nyebelin
Troy: Cepet kerjain. Jangan nyontek gue mulu. Bentar lagi UN!
Adisa cantik: Masih lama! Udah ah, gue ngantuk. Bye bye, Best Friend!
Troy: Apa sih lebay wkwk
Adisa cantik: Bodo! Good night!
Troy: goodnight too! Semoga besok nggak kesiangan, ya!
Read
Troy tersenyum lalu lembali mengerjakan PR yang sempat tertunda. Sedikit lagi selesai, dan Troy tiba-tiba terkekeh pelan membayangkan Disa pasti akan memohon untuk meminta contekan PR pada Troy.
Wajah memelas Disa selalu berhasil membuat Troy memberinya contekan PR. Dan sebenarnya Troy juga tidak ingin Disa dihukum. Jadi, pasti Troy akan membantu Disa.
Walau menyontek itu adalah hal yang tidak baik, tapi Troy yakin Disa akan lebih rajin nanti. Entah kapan, tapi Troy harap Disa bisa lebih peduli untuk belajar dan mengerjakan PR.
"Otak lo emang ajaib, Dis. Tapi, lo nggak boleh sombong." Troy bergumam pelan, mengingat Disa yang malas belajar tapi selalu bisa mendapat nilai di atas delapan. Itu cukup ajaib bagi Troy. Dan tentu saja bagi guru-guru. Seandainya otak Disa lebih diasah, pasti akan jauh lebih bagus.
***
Jam lima pagi, Troy bangun, mandi dan salat subuh. Dia bersiap-siap cukup cepat hingga jam setengah enam, dia sudah berdiri di depan rumah Disa. Dia mengetuk pintu, dan ternyata Bunda Disa yang membukakan pintu untuk Troy.
"Eh, kok Troy udah siap jam segini?" tanya Julia--Bunda Disa, dengan bingung.
"Troy sama Disa memang harus berangkat jam enam kurang, Tante. Disa udah siap?" Troy bertanya dengan sopan, seraya tersenyum manis.
"Siap? Bangun aja kayaknya belum, Troy. Bentar deh, Tante bangunin dia dulu."
"Eh, biar Troy aja, Tan."
Julia tersenyum dan mengangguk, mengizinkan Troy masuk. "Disa memang rada kebo. Disa pasti sering repotin Troy, ya?"
Troy terkekeh, "Nggak kok, Tan. Troy nggak pernah ngerasa direpotin."
"Kamu baik banget. Udah punya pacar belom?"
Troy memandang Julia dengan bingung. "Tante suka sama Troy? Duh, Tan. Troy nggak suka tante-tante."
Julia tertawa dan mengacak rambut Troy. "Udah baik, lucu lagi. Wajar Disa suka sama--"
"Bunda! Selamat pagi!" Disa menyela ucapan bundanya dengan tepat waktu.
"Eh, kamu udah bangun ternyata. Kirain belom. Baru aja mau dibangunin sama Troy!" Julia tertawa pelan menghampiri Disa.
"Bunda di dapur mulu, sih. Nggak tau aku di kamar udah cantik dari tadi." Disa menggerutu kesal. Julia tersenyum senang melihat Disa menggerai rambutnya dengan cantik.
"Cantiknya anak Bunda hari ini. Ada apa nih? Kok kalian berangkat pagi banget?"
Disa menggaruk tengkuknya sambil menyengir lebar. "Biasa, Bun. Aku dihukum."
Julia menghela napas. "Dihukum kenapa lagi kali ini?"
"Ada deh, nggak parah banget kok. Serius! Tanya aja Troy!"
Julia melirik Troy. "Beneran, Troy? Kali ini Disa nggak jambak-jambakan sama temennya lagi, kan?"
Troy meringis. "Nggak kok, Tan." Cuma nyiram temennya pake es jeruk. Lanjut Troy dalam hati.
"Ya udah, kalian sarapan dulu."
"Males ah, Bun. Mual aku kalo sarapan sepagi ini." Disa mencium tangan dan pipi bundanya dengan cepat. Disa pun langsung berlari keluar, mengabaikan dengusan geli dari Troy.
"Eh, Dis! Astagfirullah. Itu anak main kabur aja. Padahal sarapan itu penting. Iya kan, Troy?" Julia melirik Troy yang memasang senyum tipisnya.
"Iya, Tan. Tapi, Disa memang suka mual di sekolah kalo sarapan."
Julia mengernyit. "Bener? Ya udah, pokoknya Disa nggak boleh telat makan, ya. Harus yang sehat. Jangan sembarangan."
"Siap, Tante!" Troy hormat seperti tentara, lalu terkekeh, "Ya udah, Troy juga pamit. Assalamualaikum!" Troy mencium tangan Julia dengan sopan, lalu berjalan keluar dari rumah Disa.
"Lama banget. Gue curiga bunda gue lo modusin, Troy."
Troy tertawa dan mencubit pipi Disa yang memang chubby. "Astaga, bunda lo memang cantik. Tapi, gue nggak separah itu modusin tante-tante."
Disa mendengus. "Iya iya, gue percaya! Kuy berangkat!"
"Kuy? Bahasa alay apa lagi itu?" Troy mengernyit memandang Disa.
"Nggak alay! Kuy itu artinya YUK. Tinggal dibalik, Troy. Norak lo!"
Troy menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. "Kenapa harus dibalik-balik sih? Ada-ada aja anak zaman sekarang."
Disa benar-benar gemas jika Troy bersikap sok dewasa seperti saat ini. "Maaf deh, Om. Kita anak muda memang suka berkreasi."
"Iya, Dek. Terserah!"
Troy dan Disa pun memakai helm, naik ke atas motor Troy yang bewarna biru.
Troy sedikit bingung karena Disa tidak memeluknya seperti biasa, ada apa ini? Disa hanya memegang ujung jaket di pinggang Troy saja.
Entah kenapa, Disa memang merasa canggung untuk memeluk Troy. Rasanya aneh setelah dia kemarin hampir mencium Troy, dia merasa tidak bisa memeluk Troy lagi seperti biasanya.
Sesampainya di sekolah, Troy dan Disa berjalan memasuki kelas dengan hening. Mereka enggan berbicara. Dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Setelah menaruh tas, Disa berjalan keluar dari kelas, namun suara Troy membuatnya berhenti. "Mau ke perpus? Gue ikut, ya?"
Disa pasti tidak akan bisa membersihkan perpustakaan dengan benar jika ada Troy di dekatnya. "Lo di sini aja, Troy."
"Dis, gue bisa mati karena bosen kalo di kelas sendirian. Gue ikut lo aja ke perpus. Please?"
Disa berbalik badan melihat Troy yang memasang senyum andalannya. "Tapi, lo harus diem. Jangan gangguin gue. Oke?"
"Siap, Boss!"
***
Suasana hening perpustakaan benar-benar membuat Troy bosan. Dia memasang headset ke telinganya, dan mulai mendengarkan lagu dari ponselnya. Lagu Lost Stars mengalun merdu di telinganya, dan Troy terus membuka lembaran halaman di buku sejarah yang dia pinjam dari perpustakaan.
Disa mendengus saat melihat Troy santai-santai, sedangkan dirinya harus mengepel lantai perpustakaan dan merapikan buku-buku di rak.
Disa semakin kesal saat mengingat Stella tidak membantumya. Padahal Stella juga dihukum sama sepertinya!
Ini tidak adil. Disa harus melaporkan Stella pada Bu Sukma nanti. Disa harap, Stella akan diberi hukuman lebih berat daripada menjaga perpustakaan. Ha! Disa memang kejam.
Waktu terus berjalan dan perpustakaan semakin rapi berkat Disa. Setelah hampir jam tujuh pagi, Disa pun menepuk bahu Troy.
Troy menoleh lalu melepas headset-nya. "Apaan?"
"Udah selesai. Kuy balik ke kelas," jawab Disa terlihat kelelahan.
"Kuy. Lo capek, ya?" Troy bangkit berdiri dari kursinya. Dan memberikan sapu tangan biru muda pada Disa.
"Sedikit." Disa berusaha tersenyum dan menerima sapu tangan pemberian Troy. Disa mencium sapu tangan Troy, "Ini udah dicuci, 'kan?"
Troy tertawa pelan, "Udah! Wangi, 'kan? Gue mah nggak jorok kayak lo, Dis."
Disa menyengir dan menghapus keringat di dahinya dengan cepat. "Ya udah, kuy!"
"Bentar, gue balikin buku ini dulu ke raknya." Troy pun berjalan dan menaruh buku pinjamannya di rak semula.
Troy mengedarkan pandangannya, tersenyum melihat betapa bersih perpustakaan saat ini berkat gadis malas bernama Disa.
"Lo bukannya paling males bersih-bersih, Dis?" tanya Troy saat mereka berjalan keluar dari perpustakaan.
"Iya sih, tapi ini kan hukuman. Jadi, gue harus bersih-bersih, lah."
"Lo sangat bertanggung jawab. Gue bangga sama lo, Dis." Troy menepuk kepala Disa, dan mengusapnya pelan.
"Duh, kepala gue membesar nih. Lo terlalu sering muji gue, Troy." Disa terkekeh canggung.
"Kapan gue muji lo?"
Disa menyeringai. "Itu nama gue di LINE aja lo ganti jadi Adisa Cantik. Cie banget!"
Troy terkekeh lalu merangkul Disa dengan gemas. "Itu kan lo yang bajak sejak lama, Dis!"
Tapi, lo memang cantik, kok.
Gue beruntung punya sahabat secantik lo, Dis....