Bab 6: Heartbreak Girl

1329 Kata
Disa dan Stella keluar dari ruang BK dengan wajah muram. Bagaimana tidak muram? Mulai besok, mereka harus sampai di sekolah jam enam pagi agar bisa membersihkan perpustakaan. Dan yang membuat Disa muram juga adalah karena besok dia tidak mungkin berangkat sekolah bersama Troy. Disa sudah sering merepotkan Troy. Disa juga punya rasa malu, walau lebih sering malu-maluin. Seketika, wajah Disa langsung ceria saat melihat Troy yang sedang duduk di dekat ruang BK sambil bermain ponsel. Apa Troy menunggu dirinya? "Troy! Astaga, lo pasti nungguin gue, 'kan?" Stella dengan percaya diri duduk di sebelah Troy, sambil mengamit lengan lelaki itu erat. Disa memutar bola matanya, muak melihat tingkah ganjen Stella. Tidak mungkin Troy menunggu Stella, lah! Stella siapa Troy? Gebetan? Enak aja! Disa menaikkan satu alisnya saat Troy menatap Disa seperti meminta pertolongan. "What?" Disa tersenyum menahan tawa. Melihat Troy risi dengan Stella, ternyata adalah hal yang cukup lucu. Troy menghela napas dan bangkit berdiri. "Gue nunggu Disa. Gue 'kan pulang bareng sama dia, Stell." Stella ikut berdiri, mendengus tidak suka. "Oh, kalian pulang bareng karena sebatas tetangga, 'kan? Nggak lebih?" Troy dan Disa mengernyit mendengar pertanyaan Stella yang terdengar over protective. "Hello? lo siapa, Mbak? Pacar? Bukan, 'kan?" Disa membalas ucapan Stella kemarin. Lalu merangkul Troy dengan santai. Troy pun balas merangkul Disa. "Gue pulang bareng Disa karena gue memang harus pulang bareng dia. Udah kebiasaan, iya 'kan, Dis?" Troy terkekeh melirik Disa. Sesaat, Disa menjulurkan lidahnya mengejek Stella tanpa sepengetahuan Troy. "Yoi, lo sayang sama gue nggak, Troy?" tanya Disa sengaja memanasi Stella. "Sayang banget, lah!" Troy tertawa lepas. "Lo sahabat gue satu-satunya, Dis." Sekarang giliran Stella yang menjulurkan lidahnya pada Disa dengan cepat. "Sahabat ya, Troy?" tanya Stella tersenyum puas. Troy mengangguk. "Yep!" "Udah, ah. Ayo, pulang!" Disa menarik tangan Troy, menyeretnya untuk pergi meninggalkan Stella. Membuat perempuan itu mendengus kesal, tapi tetap merasa menang. Sebenarnya Troy tidak mengerti kenapa Disa tiba-tiba terlihat kesal. Apa ia salah bicara? "Lo kenapa, Dis?" "Nggak apa-apa, cuma lagi laper aja." "Ya udah, kita cari makan dulu aja. Gimana?" Disa menggeleng. "Mau makan masakan bunda aja." "Oke." Perempuan memang sulit dimengerti, ya? *** Saat sore harinya, Troy memilih berbaring di tempat tidur sambil bermain laptop. Troy menonton Youtube, ia sebenarnya diam-diam menyukai One Direction dan 5SOS. Troy selalu senyum-senyum tidak jelas setiap melihat kedua band tersebut di Youtube. Troy memang menyukai lagu-lagu mereka. Terutama Little Things dan Heartbreak Girl. "Astaga, suara Harry keren banget," gumam Troy, dan tersenyum aneh saat melihat Harry di videoclip Little things. Jika ada yang melihat ekspresi Troy saat ini, pasti akan merasa geli seketika. Cowok cool yang suka pelajaran Sejarah, dan bisa main gitar ternyata suka dengan Harry Styles. Astaga! Di saat Troy sedang bahagia mengagumi Harry Styles, suara ketukan pintu membuat Troy menghela napas, lalu berteriak cukup kencang, "Masuk aja, Ma! Nggak dikunci!" "Cie, gue dikira mama." Disa tertawa setelah membuka pintu kamar Troy. "Eh, lo lagi ngapain?" Disa sudah tidak marah dengan Troy. Perempuan tomboy yang hobi memanjat pagar itu memang tidak bisa marah dengan Troy terlalu lama. Disa akan merasa aneh jika tidak mengganggu Troy di sore hari. Jadi, dia memaafkan Troy, walau lelaki itu tidak meminta maaf. Lagipula, Troy memang tidak tahu kesalahannya itu apa. HANYA DISA YANG TAHU. Troy mana mungkin peka? "Gue lagi nonton Youtube. Nyari referensi lagu yang enak." Troy menggaruk kepalanya, dan mulai memasang wajah cool saat melihat videoclip tersebut. "Wih, Wandi." Disa duduk di sebelah Troy, dan bersandar di kepala tempat tidur. "Gila, gila! Niall cute banget." Disa memang menyukai One Direction. Tapi, masih pada tahap wajar. Belum sampai tahap fangirl yang bermimpi menjadi istri salah satu dari personel One Direction. "Biasa aja ah, Dis. Lo lebay." Troy berusaha untuk cool, dan berbohong pada Disa. Agar terlihat normal. Itu saja. "Ih, Niall cute banget. Lo cowok sih, nggak ngerti." Gerutuan Disa membuat Troy terkekeh. "Yeah, gue nggak mungkin ngerti selera lo." Troy mengedikkan bahunya, lalu dia mencari videoclip Heartbreak Girl. "Enak nih lagunya. Lo bisa nyanyi lagu ini nggak, Troy?" Troy berpikir sejenak. Lalu mengangguk. "Bisa-bisa aja sih, cuma males." "Yah, nyanyiin untuk gue dong. Please...." Disa memohon sambil menatap Troy dengan memelas. Berharap Troy luluh. "Okay, stop it." Troy menutup wajah Disa dengan telapak tangannya. Membuat Disa tertawa geli sekaligus bahagia karena berhasil membuat Troy luluh. "Pakai keyboard aja, ya?" Troy turun dari tempat tidurnya, dan duduk di hadapan keyboard-nya. Kamar Troy memang terdapat banyak alat musik. Ada gitar, keyboard, biola, dan pianika. Yang terakhir itu wajib ada, karena dipakai saat pelajaran kesenian waktu SMP. "Anggap gue penonton aja, Troy. Siapa tau lima tahun lagi, lo jadi penyanyi terkenal." Disa terkekeh dan duduk di tepi tempat tidur Troy. Melihat Troy dengan tatapan memujanya. "Ada-ada aja lo, Dis." Troy mendengus geli. "Lo diem ya, jangan ledekin gue pas nyanyi. Deal?" "Deal! Cepet mulai!" Disa berucap dengan semangat. "Nih lagu pas banget buat gue...," lanjut Disa dengan pelan. "Apa, Dis?" Sepertinya Troy tidak mendengarnya. Disa bersyukur Troy tidak mendengarnya. "Nothing. Cepet mulai!" Disa memasang senyum lebarnya. Menyembunyikan rasa sakit yang kian menjalar setiap melihat Troy.     "You call me up, it's like a broken record. Saying that your heart hurts, that you never get over him getting over you. And you end up crying, and I end up lying, 'Cause I'm just a sucker for anything that you do." Disa tersenyum kagum dan miris melihat Troy bernyanyi. Disa kagum karena Troy memiliki suara yang sangat merdu, tapi, dia merasa miris karena lagu ini sangat menyindirnya. Sangat! "And when the phone call finally ends, you say, 'Thanks for being a friend,' And we're going in circles again and again... "I dedicate this song to you, the one who never sees the truth, that I can take away your hurt, heartbreak girl. Hold you tight straight through the day light, I'm right here. When you gonna realize. That I'm your cure, heartbreak girl." Troy tersenyum tipis melihat Disa mengacungkan dua jempol untuknya. Troy tidak tahu saja bagaimana sakitnya hati Disa saat ini. "I bite my tongue but I wanna scream out, you could be with me now, but I end up telling you what you wanna hear, but you're not ready and it's so frustrating. He treats you so bad and I'm so good to you it's not fair.. "And when the phone call finally ends. You say, 'I'll call you tomorrow at ten.' And I'm stuck in the friend zone again and again.." Disa berusaha tersenyum lebar saat lirik lagu itu menampar dirinya dengan keras. Friendzone? Ternyata sakit, ya? "I dedicate this song to you, the one who never sees the truth, that I can take away your hurt, heartbreak girl. Hold you tight straight through the day light, I'm right here. When you gonna realize? That I'm your cure, heartbreak girl. Heartbreak girl..." Disa bertepuk tangan dengan meriah, bahkan dia bangkit berdiri. Disa bertingkah selayaknya fans, dan itu membuat Troy cukup tersanjung. "Yeeey! Troooy!" Troy terkekeh dan berdiri di hadapan Disa. "Mau tanda tangan gue sekalian?" Disa meninju lengan Troy. "Gue mau tanda tangan lo, kalau lo udah berhasil terkenal. Oke?" Troy menyisir rambutnya dengan jemari. "Lo meragukan kegantengan gue, Dis," ujar Troy percaya diri. "Najis!" Disa tertawa, begitu pula dengan Troy. Lalu setelah tawa mereka reda, Disa memandang bibir merah muda Troy yang berada tidak jauh dari wajahnya. Entah apa yang merasukinya, hingga dia sedikit berjinjit dan mendekatkan wajahnya pada Troy. Troy pun juga hanya diam, saat wajah Disa mendekat. Tapi, tiba-tiba Troy terbatuk, "Astaga, gue kayaknya haus." Disa pun langsung tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Awkward. "Gue juga haus, pesen es teh manis satu, ya!" seru Disa berusaha terdengar ceria. Padahal dia salah tingkah sekaligus menahan malu. "Siap. Tunggu sini, ya." Disa memukul kepalanya saat Troy sudah keluar dari kamar. "b**o! Hampir aja gue nyium dia. Nafsuan banget sih, Dis!" Disa menggerutu kesal seraya terkekeh mengingat kebodohannya tadi. Setelah Troy keluar dari kamarnya, Troy bersandar di pintu. Apa itu tadi? Disa mau mencium dirinya? Benarkah? Hampir. Tapi, kenapa Disa mau nyium gue? Aneh banget....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN