Bab 5: Secret

1378 Kata
Menyembunyikan rahasia dari seseorang yang kita sayangi adalah salah satu hal yang paling sulit untuk dilakukan. Contohnya, Disa sayang Troy lebih dari sahabat dan ia sudah menyembunyikan rahasia itu sejak lama. Dan entah kenapa, rasanya semakin menyakitkan setiap harinya. Lalu, Troy adalah gay. Itulah rahasia yang Troy sembunyikan bertahun-tahun dari Disa dan semua orang. Kecuali orang tuanya. Orang tua Troy sudah tahu fakta itu saat Troy berusia empat belas tahun. Saat di mana Troy baru menyadari dirinya adalah gay. Saat itu, Troy menangis dan memeluk mamanya dengan erat. Dia merasa malu, kacau, dan takut membuat mamanya sedih. Troy kira, mamanya juga akan marah. Tapi, mamanya hanya diam dan memeluk dirinya tak kalah erat. "Maafin Troy, Ma." Mungkin mamanya bingung harus bersikap bagaimana pada Troy. Tentu saja mamanya kecewa, tapi seorang ibu tidak mungkin marah pada anaknya terlalu lama. Dan mama Troy masih berpikir positif kalau Troy mungkin hanya salah paham. Berbeda dengan mamanya, papa Troy yang humoris malah tertawa dan sempat menganggap Troy bercanda. "Troy serius, Pa. Troy gay...." "Halah! Kamu ini mau ikut stand up comedy, ya? Masih kurang lucu, Troy." Troy hanya diam dan menunjukkan wajah seriusnya. Papa Troy juga ikut diam sesaat. "Kamu gay? Kamu nggak bercanda?" tanya papanya serius. Troy menggeleng pelan, lalu papanya mengusap dagu sesaat. "Troy, Papa ini lulusan Psikologi. Papa nggak percaya kalau kamu gay. Itu nggak mungkin karena kamu punya keluarga yang lengkap, dan Papa juga selalu ada buat kamu, 'kan? Kamu bukan gay, Troy." "Tapi, semua teman Troy ngatain Troy ini gay, Pa!" "Mereka cuma iri karena kamu lebih ganteng dari mereka, kali." Surya--Papa Troy terkekeh. "Jangan dengerin mereka." "Troy nggak suka girl band Korea. Troy lebih sukanya One Direction. Temen-temen Troy bilang, Troy kayak gitu karena Troy itu GAY. Troy nggak normal?" "Papa juga suka One Direction! Mereka keren. Wajar kalo kamu suka, Troy." Papanya semakin tertawa. Menganggap putranya sangat lucu. "Bohong. Papa sukanya Rhoma Irama. Papa ngomong gitu, cuma biar Troy ngerasa normal." Surya meringis, ternyata Troy pintar juga. "Ya udah, jadi kamu gay?" "Iya, Pa...." "Oke, Papa percaya." Surya menghela napas lalu berujar, "Tapi, tolong rahasiakan hal ini dari semua orang." Troy mengernyit tidak suka. "Kenapa? Papa malu, ya?" "Bukan malu. Troy, di luar sana banyak orang jahat yang nggak suka dengan gay. Papa takut kamu kenapa-kenapa." Surya memegang kedua bahu putranya dengan yakin. "Lagipula, kamu masih punya waktu untuk mencari jati diri kamu sebenarnya. Kalau saat lulus SMA, kamu masih merasa kamu ini gay, Papa akan percaya dan nerima kamu. Jangan takut." "Makasih, Pa." Troy memeluk papanya dengan tangis haru. "Papa adalah Papa Troy yang paling baik!" Surya tertawa. "Memangnya kamu punya papa yang lain? Dasar." Troy juga tertawa walau air matanya sudah keluar karena teharu. Dia tidak menyangka kedua orang tuanya tetap menerima dirinya, walau dia adalah gay. Orang tuanya memanglah yang terbaik! Troy terbangun saat mendengar gerutuan keras Disa. Perempuan itu lalu duduk di tepi tempat tidurnya. Memperhatikan Troy yang mulai membuka mata. "Malah tidur. Gue mandi perasaan nggak lama, deh." "Gue mimpi aneh," gumam Troy tersenyum kecil pada Disa. Ia masih berbaring di tempat tidur Disa. Troy sempat pulang untuk berganti baju karena seragamnya juga kotor. "Mimpi apa?" Disa mulai penasaran. "Geser deh...." Troy pun sedikit menggeser posisi tidurnya, agar Disa juga bisa berbaring di sebelahnya. Ini adalah hal yang biasa bagi mereka sejak kecil. Tapi, tentu saja mereka tidak pernah macam-macam. "Gue mimpi kalau gue jadi gay. Menurut lo gimana?"   Disa mengernyit, dan memiringkan tubuhnya. "Horor banget mimpi lo." "Kok horor? Emang serem ya, kalau misalnya gue gay?" Disa berjengkit geli. "Gue paling geli sama gay. Nggak tau kenapa, takut aja." Troy terdiam dan menggigit bibir bawahnya. Dia benar-benar bingung, mulutnya sangat ingin mengatakan semuanya pada Disa. Tapi, dia merasa takut dan belum siap melihat respon Disa. Tapi, tiba-tiba, ide cemerlang muncul di otak Troy. Semoga berhasil. "Apa yang lo lakukan kalau misalnya ... gue gay, Dis? Apa lo akan takut sama gue?" tanya Troy menatap mata Disa dengan serius. "Lo bukan gay." Disa berucap tajam. "Lo emang manis banget. Tapi, gue yakin lo bukan gay." Troy semakin gelisah. "Iya, memang bukan. Tapi ... kalau seandainya gue gay, gimana?" Disa berpikir tidak terlalu lama. "Mungkin, gue akan nangis tujuh hari, tujuh malam." Disa terkekeh dan mencubit pipi Troy. "Kok nangis?" Walau Disa bercanda, Troy tetap menganggap Disa serius. Troy tidak ingin membuat Disa menangis. Disa kini mulai gelisah. "Erm ... tentu aja gue sedih banget, kalau tau sahabat gue yang baik banget ini adalah gay." Disa mencubit pipi Troy, dia merasa gemas melihat raut Troy yang terlalu serius. "Ohh, terus lo akan musuhin gue, nggak?" tanya Troy sedikit ragu. "Ah! Lo bikin gue takut. Lo bukan gay, 'kan?" Disa meninju lengan Troy cukup keras. Troy meringis. "Bukan. Lo tenang aja, gue masih doyan cewek kayak Stella, kok!" Troy tertawa dan sengaja berbohong untuk membuat Disa kesal. "Jangan sebut nama nenek sihir terkutuk itu lagi. Gue mual." "Oh iya, lo belum jelasin alasan kalian bertengkar. Gue penasaran, kenapa Stella kejam banget nyiram lo pakai kuah bakso?" Disa mengedikkan bahunya. "Dia 'kan nenek sihir. Tentu aja dia kejam, Troy." "Pasti ada penyebabnya, Dis." Disa menggeleng lalu memeluk Troy. "Gue capek dan ngantuk. Lupain aja, yang penting sekarang gue udah nggak apa-apa." Troy mengusap kepala Disa dengan lembut. "Oke." *** Disa dan Stella masuk ruang BK. Itu adalah berita yang wajar, mengingat betapa parahnya mereka kemarin bertengkar. Sudah satu jam Troy menunggu Disa di luar ruang BK, tapi sepertinya kasus ini cukup lama. Troy harus lebih bersabar menunggu. "Kenapa kamu nyiram Stella pake es jeruk, Disaaa?" tanya Bu Sukma dengan gemas. Mereka berdua ditanya, jawabnya singkat-singkat kayak balas chat gebetan saja. "Karena di tangan saya, adanya cuma es jeruk, Bu." Disa menjawab dengan ketus, masih membuang pandangannya dari Stella yang duduk di sebelahnya. "Bukan itu maksud saya. Alasan kamu nyiram Stella itu apa, Disaaa?" Bu Sukma mulai kesal. Apa susahnya menjawab pertanyaan yang sesederhana itu? "Alasannya? Karena Stella layak untuk disiram, Bu. Tamat." Disa menyengir lebar, lalu kembali memasang wajah cemberut. "Lihat 'kan, Bu? Disa emang ngeselin. Padahal saya bicara fakta, eh malah saya disiram pakai es jeruk!" Stella memukul meja yang ada di depannya, membuat Bu Sukma memandangnya tajam. Stella bertingkah seperti korban yang teraniaya oleh Disa. "Tunggu dulu, menurut laporan para saksi, kamu juga nyiram Disa pakai ... semangkuk bakso?! Astaga, Stella. Nyebut, Nak...." Bu Sukma mulai lelah dan memijat pelipisnya. Kenapa anak-anak zaman sekarang sulit untuk diatur, Ya Tuhan? "Iya, Bu. Lagian saya kesal, dia bikin saya malu, ya udah saya bales!" "Kenapa pakai bakso? Itu kan panas, Nak!" "Karena ... di tangan saya adanya semangkuk bakso, Bu. Lagian pembalasan 'kan memang harus lebih kejam, Bu!" "Diam kamu! Aduh, kalian berdua perempuan. Kenapa pada jahat-jahat, sih? Manis sedikit, atuh." Bu Sukma memandang Disa dan Stella dengan prihatin. "Saya baik kok, Bu. Kalo Stella mah memang nenek sihir. Sabar ya, Bu." Disa tersenyum sopan, padahal dalam hatinya dia sedang tertawa puas. "Lo tuh, Mak lampir! Sirik mulu kalau gue deket sama Troy. Kasihan, cuma sahabat, ya?" Stella tertawa sinis, mengabaikan tatapan tajam Disa yang seperti burung elang sedang mencari mangsa. "Troy? Troy Alexander yang pinter dan ganteng itu?" tanya Bu Sukma mengernyit. Stella dan Disa mengangguk semangat. Lalu Disa menepuk dahinya. Mampus! Kalau Troy ikut terlibat, rahasia gue bisa terbongkar. "Jadi, alasan kalian bertengkar itu karena Troy? Ada apa? Cinta segitiga?" Stella tertawa. "Bukan, Bu. Tapi, FRIENDZONE." "Apa? Timezone? Itu mah tempat main anak saya atuh!" "Bukan Timezone. Tapi, Friendzone. Disa ini sebenernya suka sama—" "One Direction! Gila, Bu. Mereka ganteng-ganteng pisan!" Disa menyela ucapan Stella, dan tersenyum puas karena Bu Sukma terlihat tertarik. "Iya! Aduh, itu yang kayak Arab mirip mantan pacar Ibu dulu, Dis!" "Zayn? Aduh, Bu. Dia udah solo karir sekarang. Yah, Ibu bikin saya galau mendadak!" "Apa?! Kenapa dia jadi solo karir?! Terus Harry gimana?!" Stella menggelengkan kepalanya kesal. Ini kenapa malah jadi pada fangirling-an? "Bu! Fokus! Gimana kasus saya sama Disa? Udah selesai?" tanya Stella tidak sabar. Dan dia pun sepertinya lupa untuk menyinggung masalah friendzone tadi. Disa bersyukur. "Oh iya, belum. Kalian saya hukum! Kalian harus membersihkan perpustakaan dan menjaga perpustakaan selama seminggu. Mulai besok, perpustakaan sekolah jadi tanggung jawab kalian. Mengerti?!" Disa menelan ludahnya, lalu berpandangan dengan Stella. Pasti besok akan menjadi hari yang melelahkan untuknya. Satu minggu jaga perpustakaan? Bareng nenek sihir? ASTAGA!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN