Bab 4: Musuh Bebuyutan

1189 Kata
Disa berjalan memesan es jeruk dengan gula yang cukup banyak. Disa suka manis. Itu mungkin salah satu alasannya menyukai Troy. Karena Troy sangat manis. Bahkan, lebih manis dari gula. Setelah menerima segelas es jeruk, Disa menyipitkan matanya menatap Stella yang membawa semangkuk bakso. Tiba-tiba Disa teringat saat Stella dengan lancang mencium pipi Troy. Mencium pipi Troy! Dasar perempuan nggak tahu malu. Disa melangkah yakin mencegat Stella yang sedang berjalan. "Hei, Nenek sihir." Disa berdiri di hadapan Stella sambil tersenyum miring, menahan kesal. "Apa mau lo?" Disa mengernyit, memulai bicara dengan dramatis. "Mau gue? Lo harus jauhin Troy. Gue udah sangat sabar untuk tidak menjambak rambut lo, saat lo dengan lancang nyium pipi Troy tadi." Stella malah tertawa sinis. "Jauhin Troy? Punya hak apa lo ngatur-ngatur hidup Troy? Pacar? Bukan, 'kan?" Disa mengepalkan satu tangannya dan menatap Stella dengan sangat emosi. "Gue sahabatnya. Gue berhak nentuin cewek mana yang boleh dan yang nggak boleh deket sama Troy." "Whoa, lo sahabat atau body guard? Atau ... lo suka sama Troy, tapi Troy nggak suka sama lo? Kasihan banget, sih." Disa tidak bisa menahan emosinya lebih lama lagi, Disa pun menyiram Stella dengan es jeruknya. Membuat wajah dan rambut Stella basah. "What the hell?! Dasar cewek gila!" Stella menggeram kesal, dan Stella semakin merasa emosi saat Disa tertawa puas. Semua siswa tiba-tiba mendekat dan menjadikan Disa dan Stella sebagai bahan tontonan. Troy dan Nico melihat mereka berdua, tapi mereka malas ikut campur urusan perempuan. Apalagi Disa dan Stella sudah sangat sering bertengkar. Mereka kira itu hanya pertengkaran kecil. "Gue gila, lo apa? Dasar nenek sihir." Di saat Disa tertawa puas, Stella pun tanpa pikir panjang, menyiram Disa dengan semangkuk bakso yang panas. "Aaaaah! s**t!" "Disa!" Troy langsung berlari menghampiri Disa saat mendengar teriakan Disa dan suara gelas pecah. Troy sempat terdiam saat melihat kedua perempuan yang dia kenal dalam keadaan kacau. Tapi, tentu saja lebih kacau Disa. Stella hanya basah kuyup karena es jeruk. Sedangkan Disa, Troy bahkan tidak bisa memikirkan apapun selain harus menutupi tubuh Disa. "Dis, astaga...." Troy memeluk Disa agar seragam Disa yang transparan tidak dilihat murid yang lain. Troy bahkan tidak peduli kalau seragamnya juga jadi basah dan bau kuah bakso. "Sakit, Troy. Panas...." Disa meringis dan hampir menangis karena merasakan kulitnya seperti melepuh. "God sake, ayo kita ke UKS." Troy menuntun Disa berjalan, sambil berusaha menutupi seragam Disa yang basah dan sedikit transparan. Suasana kantin sangat ricuh, dan Stella membuka mulutnya saat melihat Troy menolong Disa bagaikan pahlawan. Troy bahkan tidak bertanya apa pun pada Stella. Troy tidak bertanya 'apakah Stella baik-baik saja?', dan Troy tidak tahu bagaimana perasaan Stella saat ini. Malu, kesal, dan sangat terhina. Stella berdiri di tengah keramaian dan semuanya memandang Stella seolah dia baru saja membunuh seseorang. "b**o! Kenapa lo nyakitin Disa?!" Nico tiba-tiba mencengkram lengan Stella dengan kuat. "Dia yang mulai! Dia nyiram gue, Nic!" pekik Stella menepis tangan Nico. "Tapi, Disa nggak nyiram lo pake kuah bakso! Itu panas, Stell! Otak lo dimana, sih? Kalo kulit Disa kenapa-napa, gue—" "APA? Lo mau apa? Terus aja bela Disa! Lo sama Troy nggak ada bedanya! Sama-sama nggak peduli sama gue! Nggak ada yang peduli sama gue." Nico mengusap wajahnya dengan kasar. "Lo keterlaluan. Gue nggak akan maafin lo dan bantuin lo buat deket sama Troy lagi." Nico berlalu pergi meninggalkan Stella. Membuat Stella membanting mangkuk kosong di tangannya. "Terserah! Lo yang b**o, Nico!" "Dan lo sakit jiwa!" *** Disa menunduk saat duduk di atas ranjang UKS, dia akhirnya menangis di depan Troy. "Sorry, Troy," kata Disa terisak. Ia merasa bersalah. Mungkin jika ia tidak mencari ribut dengan Stella, situasinya tidak akan menjadi separah ini. Troy menghela napas. "Nanti aja minta maaf dan jelasinnya, Dis." Tangan Troy mengambil tissue dan membersihkan seragam Disa yang kotor akibat kuah bakso. Troy hanya diam dan serius menyingkirkan mie bihun yang menempel di seragam Disa. Seragam Disa yang terkena kuah bakso juga jadi berwarna merah. Sepertinya bakso pesanan Stella sangat pedas. Setelah lumayan bersih, tangan Troy menyentuh kancing seragam Disa. "Eh, lo mau ngapain?" tanya Disa menahan tangan Troy. Troy mengembuskan napas, dia merasa sangat panik hingga lupa kalau dia tidak boleh melepas baju Disa sembarangan. Disa perempuan! "Sorry, gue panik. Erm ... buka seragam lo, terus pake handuk ini. Cepet." Troy memberi handuk putih yang cukup besar. Beruntung UKS di sekolahnya sangat lengkap. "Oke, tapi lo balik badan!" Troy terkekeh. "Oke, gue nggak akan ngintip," ucap Troy berbalik badan, "udah belom?" "Astaga, gue baru mau buka kancing. Sabar!" Disa sudah tidak menangis lagi, dia berhenti menangis sejak Troy membersihkan seragamnya dengan hati-hati dan serius. Setelah melepas seragam, Disa langsung menutupi tubuhnya dengan handuk. "Udah, Troy." Troy berbalik badan lagi, lalu menggaruk kepalanya. "Ini para PMR pada kemana, sih? Masa gue yang harus ngobatin lo?" Disa menunduk. "Gue cuma perlu seragam bersih aja, Troy." "Kulit lo nggak melepuh?" "Emang sedikit perih, tapi kayaknya nggak sampe melepuh, kok." Troy tersenyum kecil. "Gue bawa hoodie. Lo pakai aja, terus kita pulang. Biar gue yang minta izin. Oke?" Disa melebarkan matanya. "Pulang?" "Iya. Dis, kali ini aja, jangan bandel. Lo harus pulang." Disa akhirnya mengangguk pasrah. "Oke, Boss." "Good. Gue ambil hoodie gue dulu di kelas." Troy mengusap kepala Disa, lalu keluar dari UKS. Sekitar sepuluh menit, Troy belum kembali ke UKS. Dan itu membuat Disa bosan. Oh, mungkin Troy lama karena minta izin dulu sama guru piket untuk pulang. "Dis, lo nggak apa-apa?" Disa memutar bola matanya saat melihat siapa yang masuk ke dalam UKS. "Ngapain lo, Nic?" "Mau lihat kondisi lo, lah. Kulit lo melepuh, nggak?" "Nggak. Sana pergi, gue makin kesel lihat muka lo." Nico terkekeh. "Masih aja lucu. Eh, kok lo pakai handuk gitu?" "Seragam gue kotor. Troy lagi ngambil hoodie buat gue." Nico tersenyum aneh. "Kayaknya kulit lo melepuh, sini gue periksa. Gue mantan anak PMR." Disa mengernyit bingung dan dia mulai panik saat Nico melangkah semakin dekat. "Nggak! Lebih baik, lo pergi." "Lo takut sama gue?" Nico terus berjalan maju mendekati Disa, tapi dia berhenti saat ada yang menepuk bahunya. "Lo harus keluar dari sini. Sekarang, Nico." Troy berusaha menahan emosinya saat ini. Dia tau reputasi Nico seperti apa. Dan Troy tidak mungkin diam saja saat Nico berniat jahat pada Disa. Ia mungkin memang menyukai Nico, tapi tugasnya adalah menjaga Disa. Bunda Disa sangat percaya padanya. "Oke. Jaga Disa baik-baik, Troy. Semoga Disa cepat sembuh." Nico pun tersenyum miring pada Troy, lalu menepuk bahu Troy beberapa kali dan keluar dari UKS. "Kita udah dibolehin pulang. Nih, pakai hoodie gue. Cepat, ya." Troy memberikan hoodie biru muda favorit-nya pada Disa. Sebelum Disa berucap, Troy mengangkat tangannya dan berbalik badan. Disa melepas handuk, dan memakai hoodie Troy. Disa pun tersenyum karena merasa sangat nyaman memakai hoodie milik Troy. Hangat dan wangi Troy. "Udah, Dis?" tanya Troy tidak sabar. Disa mendengus lalu turun dari ranjang UKS, dia pun memeluk Troy dari belakang. "Thanks, Troy. Lagi-lagi gue ngerepotin lo." Troy mengembuskan napas leganya. "Kenapa lo bikin gue khawatir mulu, sih?" "Nggak tau. Kayaknya hobi, deh." Disa terkekeh lalu melepaskan Troy. Disa kemudian berjalan cepat mendahului Troy keluar UKS. "Ayo pulang, Trooyy." "Iya, dan lo utang penjelasan sama gue, Dis." Apa sih alasan Disa berantem sama Stella lagi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN