Troy dan Disa terlambat sepuluh menit. Namun, untung saja guru piket hari ini sangat baik. Jadi, mereka boleh masuk kelas setelah meminta maaf berkali-kali. Hari ini sepertinya Troy dan Disa sedang beruntung, karena jam pertama gurunya belum ada di kelas saat mereka datang.
Mereka mengembuskan napas lega dan duduk di kursi paling belakang. Tentu saja yang memilih tempat duduk itu adalah Disa. Ia lebih suka di belakang, lebih santai.
Troy melirik Disa yang napasnya terengah-engah, mereka memang berlari saat mau menuju ke kelas tadi. "Lo nggak apa-apa, Dis? Muka lo pucat," ucap Troy cemas, lalu mengeluarkan botol minuman dari tasnya. "Nih, minum."
Disa menerima botol minuman dari tangan Troy, lalu meminum air cukup banyak. "Thanks. Gue baik-baik aja, Troy."
Troy semakin cemas saat melihat Disa memegang kepalanya. "Lo pusing? Mau ke UKS?" tanya Troy khawatir.
Disa menggeleng pelan. "Nggak usah. Selow."
Troy tidak percaya dengan Disa karena perempuan itu memang sangat keras kepala sejak mereka kecil. "Lo sakit, Dis."
"Nggak. Duh, Bu Asih kok nggak dateng-dateng, ya?"
Troy memutar bola matanya ketika Disa mencoba mengalihkan pembicaraan. "Dis, kalo lo tiba-tiba pingsan, gue nggak mau gendong lo ke UKS. Bodo amat, ya." Troy mulai kesal, dia pun mengeluarkan buku Biologi, lalu pura-pura sibuk membaca untuk tidak memedulikan Disa.
"Troy, kok lo jahat?" Disa bertanya dengan nada manjanya dan hampir berhasil membuat Troy tertawa. Tapi, Troy tetap berusaha memasang wajah tidak pedulinya.
"Gue pingsan nih, Troy...." Troy tetap diam dan tidak memedulikan ancaman Disa yang bercanda. Dan itu membuat Disa semakin kesal. "Ya udah, gue mau ke toilet. Gue mules karena dicuekin mulu sama lo," gerutu Disa lalu bangkit berdiri.
Disa pun berjalan keluar dari kelas. Membuat Troy mendengus geli melihatnya. Disa sangat mudah marah tidak jelas. Tapi, itu adalah hal yang lucu.
Bu Asih ternyata tidak masuk hari ini. Tapi, beliau memberi tugas yang sangat banyak. Semua murid mendesah malas, tapi Troy hanya diam karena mulai mencemaskan Disa. Sudah hampir lima belas menit Disa belum kembali dari toilet.
Saat pikiran Troy kemana-mana, Siti—teman sekelas Troy masuk ke dalam kelas dengan panik. "Eh! Disa pingsan di deket toilet! Tolongin!"
Mata Troy melebar, dan dia adalah orang pertama yang berlari ke luar kelas. Semuanya ricuh dan mulai panik, namun Troy berhasil sampai dengan cepat.
Troy sangat khawatir melihat Disa yang terbaring di lantai, dekat toilet perempuan. "Dis! Astaga...." Troy dengan cepat menggendong Disa dan membawanya ke UKS, "Lo tambah berat, Dis. Kenapa lo beneran pingsan, sih?" Troy bergumam selama menggendong Disa ke UKS. Perasaannya kacau.
Banyak yang mengikuti Troy hingga ke UKS, tapi Troy mengusir mereka semua secara halus. "Biar gue yang jaga Disa, kalian semua balik ke kelas aja."
Semuanya menghela napas, namun pada akhirnya menuruti perintah Troy untuk kembali ke kelas.
Setelah Troy membaringkan tubuh Disa di ranjang UKS, Troy merapikan rambut Disa yang menghalangi setengah wajah cantik perempuan keras kepala itu. "Lo ngeselin, Dis. Jangan sakit, gue nggak suka kalau lo sakit."
Di saat Troy menggenggam tangan Disa sambil menundukkan kepalanya, Disa membuka sedikit matanya untuk mengintip Troy. Dia dari tadi berusaha menahan tawa puasnya karena berhasil mengerjai lelaki manis itu. Ternyata terlalu mudah untuk mengerjai lelaki itu.
"Dis, sori tadi gue marah. Lagian lo keras kepala banget, sih. Lo selalu bikin gue khawatir," gumam Troy pelan dan menunduk. Melihat Disa sakit selalu berhasil membuatnya sedih.
"Ah masa, sih?"
Troy mengangkat wajahnya saat mendengar suara jail Disa. "Lo ngerjain gue, Dis?" tanya Troy tajam.
Disa menyengir polos. "Yea, kind of."
Troy mengembuskan napas secara kasar. "Lo bener-bener ngeselin. Ngapain sih lo pura-pura pingsan?"
Disa menggigit bibir bawahnya dan memandang Troy dengan puppy eyes andalannya. "Sorry...." Troy masih menatap Disa dengan kesal. Disa meringis. "Gue cuma penasaran, kalau gue pingsan, lo bener nggak peduli atau—"
"Tentu gue peduli! Astaga, gue mana mungkin diem aja saat lihat lo pingsan gitu?!" Troy mengacak rambutnya frustrasi.
"Thanks. Duh, gue childish banget, ya?" Disa lagi-lagi meringis, "Sorry...."
Troy berdecak. "Jangan bikin gue khawatir lagi, baru gue mau maafin."
"Oke, Boss! Janji." Disa tersenyum lebar, lalu menyentuh pipi Troy dengan jari telunjuknya. "Senyum dong, Troy."
Troy pun tersenyum lalu terkekeh pelan. Ia memang harus sabar memiliki sahabat seperti Disa. "Iya, Adisa."
***
Saat jam istirahat, Troy dan Disa makan bakso bersama di kantin. Semua berjalan lancar dan menyenangkan. Namun, saat Stella dan Nico ikut duduk bersama mereka, semuanya jadi berubah canggung.
Stella dengan santai duduk di sebelah Troy dan menyandarkan kepalanya di bahu Troy. Sedangkan Nico, dia duduk di sebelah Disa. Tentu saja sambil bertopang dagu memperhatikan Disa yang makan bakso.
"Lo cantik kalo lagi kepedasan, Dis." Nico tersenyum aneh dan terus memperhatikan Disa.
Sebenarnya Disa tidak terlalu kepedasan, tapi dia panas karena melihat Stella yang bersandar di bahu Troy. Stella juga tersenyum sinis padanya. Merasa menang, mungkin.
Berbeda dengan Disa, Troy sama sekali tidak peduli dengan Stella yang bersandar tanpa izin di bahunya. Troy merasa canggung karena Nico terus memperhatikan Disa. Cemburu, mungkin. Tidak, bukan karena Troy menyukai Disa. Tapi, karena Troy menyukai Nico. Sepertinya begitu. Yah, pasti begitu.
"Troy, lo nggak nyuruh gue makan?" tanya Stella manja, tapi Troy sama sekali tidak melirik Stella.
"Ya udah, pesen aja makanan," jawab Troy, sedikit terpaksa.
"Lo traktir?" tanya Stella lagi dengan senyum mengembang. Troy bisa saja menjawab tidak, tapi Troy merasa itu tidak sopan. Jadi, Troy hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Yey, Troy memang yang paling baik!" Stella mencium pipi Troy dengan cepat, namun lelaki itu sama sekali tidak peduli. Dia terus melanjutkan makannya dengan santai.
Tapi, di sisi lain, Disa sangat peduli. Disa mencengkram garpu dan sendoknya dengan kuat sambil menatap kesal kepergian Stella yang memesan makanan.
"Troy, kok lo diem aja dicium sama nenek sihir itu? Tampar, dong!" bisik Disa tajam, hampir melotot pada Troy.
Troy mendengus geli. "Gue nggak mungkin nampar cewek."
"Tapi, Troooyy. Nenek sihir itu makin kurang ajar. Ya udah, gue aja yang nampar dia." Disa bangkit berdiri, tapi Nico menarik tangan Disa agar duduk lagi.
"Eh, mau ke mana, Cantik?" goda Nico tersenyum miring.
"Mau nampar nenek sihir. Kenapa? Lo mau gue tampar juga?" Disa menaikkan satu alisnya menantang.
"Galak banget, sih. Jadi tambah cantik." Nico terkekeh dan mencubit pipi Disa. Membuat Disa dan Troy melebarkan mata mereka bersamaan.
Kalau Disa, karena kesal. Kalau Troy, mungkin karena cemburu.
"Sok akrab banget, sih!" dengus Disa mengusap pipinya dengan kasar, dia pun melihat Troy yang terlihat kesal. Disa diam-diam tersenyum. Apa Troy cemburu? Apa Troy sebenernya suka sama gue?
Disa pun bangkit berdiri. "Gue mau beli minuman lagi. Mau nitip nggak, Troy?"
Troy mengerjap lalu menggeleng pelan. "No, thanks."
"Eh, gue nitip es teh manis dong, Dis," jawab Nico yang sebenarnya tidak ditanya oleh Disa.
"Duh, banyak suara nyamuk ya di sini, Troy. Berisik banget." Disa pura-pura tidak mendengar Nico dan dengan santai berjalan untuk memesan minuman, sekaligus ingin memarahi nenek sihir karena berani mencium pipi sahabatnya.
Nico tertawa pelan saat Disa pergi. "Sahabat lo lucu banget, Troy. Cantik dan unik."
Troy meringis canggung. "Yeah, Disa emang gitu. Maaf, ya?"
"Nggak, gue nggak marah. Gue malah makin tertarik sama Disa." Nico tersenyum lebar, sedangkan Troy malah terkejut.
"Jadi, lo makin suka sama Disa?"
"Iyalah, jarang cewek kayak Disa. Dia kayaknya nggak ngebosenin."
"Ohh, gitu." Troy mengaduk kuah baksonya, bingung menanggapi ucapan Nico.
"Eh, lo 'kan sahabat Disa. Bantuin gue, dong." Nico sedikit berbisik semangat.
Troy mengernyit bingung. "Bantuin apa?"
"Bantuin comblangin gue sama Disa. Gue bayar deh, atau ... gue bantuin lo deket sama Stella juga. Gimana?"
Troy semakin mengernyit tidak suka. "Gue nggak suka sama Stella."
"Oh, ya? Dia 'kan cewek paling famous, Troy. Terus lo suka sama siapa?" tanya Nico dengan mata menyipit. "Atau ... jangan-jangan lo suka sama Disa, ya?"
Troy melebarkan matanya. "Disa sahabat gue. Mana mungkin gue suka sama dia?"
"So? Lo suka sama siapa?" tanya Nico mulai kesal.
Gue nggak mungkin bisa jawab, Nic. Sorry.