Aku Normal !

1091 Kata
"Juli? Kamu kok bisa ada disini?" tanya Rei yang bergegas melepaskan rangkulan Anton. Juli menatap Rei lalu melirik sebentar ke Anton yang tersenyum sinis. "Ada juga kenapa kamu bisa ada disini, Rei? Bukannya kamu ngajar les privat? Apa kamu bohongin aku biar bisa jalan sama Anton?" Ia balik bertanya dan menuduh Rei, seperti yang ia takutkan jika mereka benar-benar sepasang kekasih. Rei mendekat, "Aku baru selesai ngajar, Jul. Ini rumah muridku," terang Rei, meraih tangan Juli tapi Juli menepisnya cepat. "Apa perlu kamu ngajar bawa Anton? Atau yang Anton bilang kemaren itu memang benar?" tanya Juli lagi, mengungkit ucapan Anton kemarin malam. Rei tertawa kecil lalu menggeleng, "Juli...Juli. Kamu--" "Kak Rei, topinya ketinggalan, Kak," panggil seorang perempuan dari teras rumah dan berlari ke arah Rei membawa sebuah topi hitam. Rei tertegun dan menerima, "Oh iya. Makasih ya, Nes," balas Rei. Perempuan ABG yang bernama Agnes tadi melirik Anton, "Kakak di panggil Papa tuh, katanya mau minta kartu kredit yang kemaren Kakak pake," ucapnya, menyipitkan mata. "Iya, sebentar lagi Kakak kedalam," balas Anton melirik ke Agnes yang langsung berjalan kedalam rumah lagi. Juli menunjuk anak ABG yang baru saja masuk kedalam rumah tadi, "Dia itu--" "Murid aku, Jul. Adek Anton. Dan ini rumah Anton," potong Rei yang menjelaskan kesalah pahaman Juli. Anton menyeringai sinis ke arah Juli yang wajahnya memerah karena malu, "Kenapa? Lu cemburu sama gue? Atau sama adek gue?" tanya Anton dengan nada tinggi. Rei menyodori helm ke d**a Anton, "Gue pulang sama Juli, Lu gak usah antar gue, Nton." ucapnya lalu mendekati Juli. Anton menarik tangan Rei, "Lu ngapain bareng dia, Rei. Biar gue aja yang nganter lu. Lagi pula sejak kapan lu suka cewek--" "Stop, Nton. Lu jangan ikut campur urusan gue sama Juli lagi," potong Rei kesal tak terima dan langsung meninggalkan Anton yang terdiam dengan tangan terkepal kesal. Rei menarik tangan Juli, "Ayo kita pulang," ajak Rei. "Motor Mu mana, Jul?" Juli menepis tangan Rei, "Apa benar yang Anton bilang kalau kamu pacaran sama dia? Apa benar kalau kamu itu gay?" Kali ini Juli tak bisa menahan rasa penasarannya lagi, karena tak mau kecewa seperti Elis pada Lucky. Rei terdiam, ia melirik Anton yang masih berdiri tak jauh dari mereka sambil tersenyum lebar. Seperti menanti adegan pertengkaran mereka. "Jawab aku, Rei!" teriak Juli yang tak sabar menunggu jawaban Rei. "Kamu mau tahu jawaban aku, Jul? Ikut aku!" Rei menarik tangan Juli dan membawanya menuju motor Juli yang terparkir di depan rumah berlantai dua. "Kamu mau bawa aku kemana, Rei?" tanya Juli yang mengikuti langkah Rei yang terhenti di dekat motornya lalu menengadahkan tangan meminta kunci motor. Juli memberikan. "Buat ngebuktiin kalau aku cuma suka kamu, Jul," jawab Rei lalu menunggangi motor dan beranjak pergi meninggalkan Anton yang terdiam kesal. ❤❤❤ Juli melongo melihat hotel melati di depannya. Ini bukan pertama kalinya ia berada di hotel bersama seorang cowok, karena sebelumnya mantan pacar Juli pernah membawanya ke hotel. Walau berhasil kabur sebelum mencumbu dan menidurinya saat itu. Rei menarik tangan Juli setelah menerima sebuah kunci dari resepsionis dan membawanya menuju lantai dua. "Buat apa kita kesini, Rei? Bukannya hotel ini harganya separoh dari harga kontrakan kamu sebulan?" tanya Juli yang mengikuti langkah Rei saat menaiki tangga dan berjalan di sepanjang koridor. Rei diam tak membalas ucapan Juli yang seperti gadis naif dan terus membawa Juli lalu menghentikan langkah tepat pada kamar paling ujung nomor 220. Rei membuka pintu dan menarik tangan Juli lagi. "Masuklah," ajak Rei yang langsung berjalan menuju ranjang dan menaruh ransel di bawahnya. Mata Juli menyusuri seluruh isi kamar yang terlihat rapi dan bersih. Sebuah ranjang besar, meja rias, lemari pakaian, televisi layar datar dan AC. Walau ukuran kamar itu tak terlalu luas tapi terlihat nyaman, belum lagi terdapat sebuah balkon yang bisa memandang jalan raya yang masih terlihat ramai walau hari hampir memasuki tengah malam. Juli duduk di bibir ranjang melihat Rei yang membuka kaos sambil menatapnya tajam. Ia membuang wajah ketika Rei membuka celana jeans-nya dan menutup pinggang dengan selembar handuk. "Kamu mau ngapain, Rei?" tanyanya dengan wajah merona dan masih membuang wajah ke arah balkon. "Mandi," jawab Rei singkat dan langsung berjalan menuju kamar mandi yang berada tak jauh dari ranjang. Juli terdiam dan berpikir. Sikap Rei berubah setelah ia bertanya dan menuduhnya seorang gay. Ia sadar ucapannya sudah menyakiti hati Rei karena terlalu mempercayai ucapan Anton yang sesat. Tapi Anton berhasil membuatnya menuduh yang tidak-tidak terhadap Rei, lagipula pria jangkung dan kurus itu terlihat sentimen setiap kali ia bersama Rei.  Cemburu. Anton terlihat cemburu padanya tapi tidak dengan sikap Rei yang santai dan bersikap layaknya tak terjadi apa-apa. Tak mengelak ataupun menerima ucapan Anton kemarin malam.  Tapi malam ini Juli menyadari kesalahannya yang telah menuduh dan menyudutkan Rei. Dan ia akan meminta maaf sehabis Rei keluar dari kamar mandi. "Kamu gak mandi?" tanya Rei, membuyarkan lamunan Juli setelah selesai mandi. "Mandi? Jam segini?" tanya Juli melirik arlojinya dan melihat sudah memasuki jam 22.25 WIB. "Gak sekalian aja kita mampir beli kembang tadi, Rei. Biar mandi kembang," sahut Juli yang gak setuju untuk mandi di tengah malam. Selain terasa dingin, ia takut rematik di usia muda. Rei duduk disampingnya dan terdiam memandang Juli yang jadi serba salah. "Ada apa? Ka--kamu gak pake baju lagi? Disini dingin, Rei. Nanti kamu masuk angin," ujar Juli yang bingung Rei belum mengenakan bajunya, hanya handuk yang menutupi pinggulnya saja sementara ia membiarkan d**a dan perutnya yang sixpack terbuka. Rei menggeleng lalu menggenggam kedua tangan Juli. "Kamu tahu tujuan aku bawa kamu kesini?" tanyanya, kembali mengingatkan ucapannya sebelum membawa Juli. "Ya," Juli mengangguk, "Buat ngebuktiin kalau kamu sayang aku?" tambahnya lagi. "Itu benar dan ngebuktiin kalau aku normal, Jul," timpal Rei dan membuat Juli terbelalak kaget sekaligus senang. "Oh ya? Jadi yang Anton bilang itu bohong? Kamu gak gay? Kamu normal? Dan memang benar-benar cuma suka aku?" Saking bahagianya Juli menjadi wartawan dadakan yang banyak tanya. Rei menggeleng. "Eh? Maksudmu?" Juli tak mengerti dengan gelengan Rei. "Aku normal semenjak kenal kamu," jawab Rei serius. Juli ternganga kaget, Normal setelah ketemu gue? Berati sebelumnya?! "Aku gak suka cewek sebelum suka kamu. Tapi semenjak kenal kamu aku berubah, Jul. Gak tau kenapa kamu beda sama cewek laen yang jaim, sok imut, sok perhatian.. tapi kamu gak kayak mereka. Aku.." Rei mendorong tubuh Juli dan membuatnya terbaring. 'Glek'  Juli menelan ludah, Rei menindih separuh badannya. Dan wajah Rei terlalu dekat saking dekatnya aroma sabun mandi bisa ia cium dari tubuh dan wajah Rei.  Entah mengapa kali ini nyali Juli menjadi ciut tidak seperti biasanya yang agresif untuk memulai cumbuan. Entah karena mereka berada di hotel yang notabene tempat sepasang kekasih memadu kasih atau karena melihat Rei dalam keadaan topless. Mungkin lebih tepatnya bugil, karena pinggulnya hanya ditutupi selembar handuk. Tanpa boxer. "Aku apa?" tanya Juli yang tak sabar menunggu sambungan ucapan Rei. Rei mendekatkan wajahnya hingga Juli bisa merasakan jelas hembusan nafasnya yang hangat lalu berbisik dan berhasil membuat Juli terkejut. "Apa?!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN