14. Rindu yang tertutup debu.

1938 Kata
Selepas dari terminal, Devan melewati perjalanan dengan lebih baik dari pada sebelumnya. Perutnya sudah cukup terisi untuk amunisi, juga pengalaman di awal agar lebih siap siaga setiap kali sang sopir melakukan pengereman mendadak.  "Sebenarnya ini sopir bus sudah dapat ijin mengemudi belum, sih? Ugal-ugalan banget nyetirnya," keluh Devan. Mana nggak ada seat belt lagi. Membahayakan penumpang." "Namanya juga kelas ekonomi." Airin masih menanggapi komentar Devan dengan santai. Tak begitu mengurusi.  "Tapi kan tetap saja, safety first. Sepertinya, se kembalinya aku ke Jakarta, ini sopir bakal aku bawa ke pengadilan. Atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan. Gara gara dia, aku jadi nggak berdaya, tadi. Untung ada mie cup instan yang enak tadi."  "Nggak usah lebay, deh!"  Airin menggeleng tak percaya. Kalau begini modelnya, lebih baik Devan mabok saja seperti di awal perjalanan tadi agar tak banyak keluhan yang keluar dari mulutnya.  Eh, tapi jangan. Pundaknya sudah cukup pegal buat dijadikan tumpuan kepalanya yang besar dan keras. Dasar si besar kepala memang, dia.  Airin mengeluh dalam hati.  Perjalanan yang seharusnya menyenangkan berubah jadi sangat merepotkan karena kehadiran Devan.  Waktu terus berjalan mengiringi roda yang berputar.  Sudah melewati tengah malam, kantuk menyerang tanpa bisa ia tahan. Tapi, mana bisa Airin terlelap jika di sampingnya ada orang asing seperti ini?  Meski begitu berat, gadis itu berusaha untuk menahannya. Mengalihkan perhatian dengan menatap lampu jalan yang berkedip-kedip layaknya sebuah bintang.  Sayangnya, hujannya semakin membaik rasa kantuk itu justru semakin menyerang tak tertahankan.  Tanpa sadar, matanya mulai terpejam. Bersandar pada jendela, kepalanya tertunduk ke bawah dengan mulut yang sedikit menganga.  Devan yang semula masih sibuk berceloteh mengomentari apa saja, diam terpaku begitu menyadari Airin yang rupanya sudah lelap dalam tidurnya.  Dengan sangat perlahan, di betulkan nya posisi tidur Airin agar lebih nyaman.  Ia juga rela melepas jas yang ia kenakan sebagai selimut untuk menutupi tubuh Airin  agar jangan sampai kedinginan. Kepala mungil itu, ia biarkan bersandar pada bahunya.  Yah, anggap saja sebagai balas budi karena telah merepotkan Airin di awal perjalanan tadi.  Sesekali Devan memutar persendian. Pegal. Apalagi saat ini ia mengenakan kostum yang tidak tepat.  Ah, ya. Dia memang buru buru menyusul Airin di terminal sepulang bekerja tanpa sempat mengganti pakaian sama sekali, begitu orang suruhannya mengabari lokasi terkini milik Airin.  Tanpa basa-basi lelaki itu segera menyusul.  Hingga kini dirinya sendiri belum bisa memahami, dendam seperti apa yang dia bawa hingga nekat bertindak sampai sejauh ini. Dan yang membuat nya semakin tak mengerti, kedekatan nya dengan Airin justru lebih sering membuatnya tertawa. Alih alih memikirkan rencana balas dendam, yang ada hanyalah senyum yang terus mengembang. Setiap hal baru yang ia lewati bersama Airin, membuat nya menjadi terasa lebih hidup.  Bukan lagi Devan yang dingin tak tersentuh. Semua itu karena ketulusan yang selalu terpancar dari manik mata Airin.  Mata itu, terlalu indah untuk direnggut sinarnya.  Ah!  Buru-buru Devan menggeleng.  Mengusir pikirannya yang mulai melantur.  Mau bagaimanapun juga, rencana balas dendam itu harus tetap dijalankan. Memberi pelajaran kepada orang yang telah menyakiti hati kita bukanlah sebuah kejahatan.  Melainkan sebuah timbal balik.  Mereka sudah dengan tega menyakiti perasaannya bahkan sebelum ia mengenal apa itu kasih sayang, harus siap jika nantinya tersakiti. Apa yang mereka tanam, itu yang akan mereka tuai nantinya.  Sekali lagi Devan meyakinkan diri, agar jangan sampai terbuai. Dan lupa tujuan awal.  Balas dendam ini penting baginya, agar keluarga Airin tahu bagaimana selama ini dia menderita menjalani kehidupan tanpa kasih sayang. Dirinya dipaksa untuk dewasa lebih awal, karena kedua orangtuanya yang tak lagi mempedulikan Devan semenjak mereka memiliki buah hati, anak kandung mereka sendiri.  Perasaan terbuang itu, lekat terpatri dalam hati Devan kecil.  Hingga dewasa, rasa kesepian itu berubah menjadi lubang tak kasat mata. Disusupi dingin yang membuat hatinya jadi sekeras batu. Dingin tak tersentuh.  Pada sepertiga perjalanan terakhir, Devan sama sekali tak bisa memejamkan mata. Pikirannya berkecamuk.  Ada perasaan khawatir juga takut. Sebentar lagi ia akan bertemu dengan sosok yang seumur hidupnya amat ia rindukan.  Dalam diamnya ia terus berpikir bagaimana nanti caranya berkomunikasi dengan keluarga Airin?  Apakah dia harus bersikap dingin seperti biasanya?  Atau berpura pura baik agar mereka terkesan? Demi Tuhan, saat ini dia kehabisan akal.  Begitu gugupnya sampai tanpa sadar tubuhnya menegang dengan kedua tangan sedari tadi mengepal hingga berkeringat. Menyadari gelagat tak nyaman dari Devan, membuat Airin terbangun dari tidurnya. Agak terkejut begitu melihat jas milik Devan yang bertengger menyelimuti tubuhnya, sementara Devan hanya mengenakan kemeja putih dengan pergelangan yang digulung setinggi siku.  "Dev?"  Devan menoleh. Dan segera mengumpat dalam hati begitu ia mengalihkan pandangan, dan pemandangan yang pertama kali ia tangkap adalah wajah polos Airin yang menatapnya dengan tatapan seperti itu.  Tatapan tulus, yang entah kenapa sekarang menjadi sangat ia sukai, meskipun dari dulu tatapan seperti itu adalah tatapan yang paling dia hindari dan benci.  "Baguslah kamu udah bangun! Aku nggak mau kalau sampai kita terlewat turunnya gara-gara kamu yang terlalu keenakan tidur!" Ketus Devan begitu kesadarannya kembali.  "Yee! Dasar cowok nggak jelas!" Jawab Airin tak kalah sinis. Kemudian mengalihkan pandangan ke arah luar jendela.  Benar saja. Sebentar lagi mereka akan sampai.  Tapi, tunggu.  Apa kata Devan barusan? Kita? Terlewat turun? Apa itu artinya Devan akan turun bersamanya nanti? Airin menepuk dahi.  Rupanya perjalanan bersama lelaki aneh itu belum berakhir.  Sebenarnya apa yang sedang Devan cari? Apa yang ingin dia lakukan sampai harus membuntutinya seperti ini?  Ada banyak sekali pertanyaan yang ingin Airin sampaikan. Tapi, melihat raut muka Devan yang tak se santai sebelumnya, membuat ia pada akhirnya mengurungkan niat untuk bertanya.  Mungkin akan ia lakukan nanti setelah mereka sampai. Setelah keadaan hati Devan lebih baik. Pikirnya kemudian.    *** Mereka turun dari bis ketika waktu menunjukkan pukul empat pagi. Beberapa pejuang nafkah sudah memarkirkan kendaraan milik mereka, alat untuk mendapatkan rupiah di pagi hari.  Beberapa dari mereka segera berlari begitu para penumpang bis turun.  Tak terkecuali seorang bapak paruh baya yang bergegas menghampiri Airin dan Devan.  "Kemana, mas? Mbak? Saya antar, ya."  Awalnya Airin berusaha menolak, tapi Devan justru sebaliknya. Tanpa basa basi ia segara menaiki becak motor milik bapak tua tadi.  "Ayo, naik. Tunggu apa lagi?"  Kalau sudah begitu, Airin juga yang harus mengalah.  "Kenapa harus naik, sih? Mahal tau ongkosnya. Lagian rumahku dekat dari sini. Jalan kaki juga nggak sampai sepuluh menit." "Jadi orang tuh nggak usah terlalu perhitungan banget bisa nggak, sih? Aku ngantuk, capek! Males kalau harus di suruh jalan kaki. Mau deket, kek, jauh kek. Males! Lagian kamu nggak kasihan apa sama bapak ini? Dia udah tua, lho? Pagi pagi dibela belain keluar rumah demi mengais rejeki untuk anak istri. Kamu yang masih muda gini nggak mau berbagi rejeki buat pejuang nafkah?"  Bibir Airin sukses mengerucut.  Pertama, karena pagi pagi buta begini dia sudah mendapatkan ceramah. Yang kedua karena Devan mengatakan kalimat itu dengan suara yang lantang. Setidaknya cukup keras untuk bisa di dengar si bapak penarik bentor yang mereka tumpangi.  Kan, Airin jadi malu sendiri.  Sisa perjalanan mereka lewati dengan diam. Tak ada satu pun dari mereka yang berniat untuk memulai obrolan. Airin yang sudah kesal setengah mati meladeni lelaki di sebelahnya, sementara Devan yang sedang berkonsentrasi penuh mengatur perasaan menjelang pertemuan Perdananya dengan kedua orang tua Airin. Atau, bolehkah ia menyebut mereka sebagai orang tuanya?  Tak sampai lima menit keduanya tiba di sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas.  Keadaan masih sangat sepi, namun dari luar Devan bisa mendengar seseorang tengah melantunkan ayat ayat suci.  "Itu suara ibu. Beliau pasti bangun lebih awal karena tahu aku mau pulang." Seru Airin antusias. Langkahnya riang menuju bangunan sederhana dengan cat yang mulai mengelupas di beberapa bagiannya.  "Jangan terlalu percaya diri." Sahut Devan di belakangnya.  Airin mana peduli. Penuh semangat gadis itu mengetuk pintu. Mengucap salam hingga seseorang dengan mukenah yang masih menempel menutupi tubuhnya, membukakan pintu.  "Masya Allah, anak gadis ibu." Seru wanita paruh baya itu penuh haru.  "Ibu... Airin kangen."  Keduanya kini hanyut dalam pelukan. Airin bahkan sampai menitihkan air mata.  Tak jauh dari mereka, Devan menatap dengan tatapan yang sulit di artikan.  Jika hanya dalam beberapa hitungan bulan saja mereka bisa se rindu itu, dan se bahagia itu ketika bertemu. Lantas, bagaimana dengan dirinya yang seumur hidupnya tak pernah melihat wajah mereka, mendengar kabar tentang mereka?  Akankah ia mendapat perlakuan yang sama? Akankah dia mendapat pelukan sehangat itu? Matanya mulai berembun, siap jatuh membasahi pipi, kalau saja suara riang Airin tidak menginterupsi lamunannya.  "Ibu, ini teman aku dari Jakarta. Dia datang ke sini karena ada urusan. Tapi, karena mendadak, dia jadi nggak sempat cari tempat tinggal. Boleh sementara ini dia istirahat di rumah?" Airin menjelaskan panjang lebar.  "Oh, iya. Boleh. Boleh sekali, mas. Namanya siapa?"  Cukup lama Devan menatap uluran tangan milik wanita itu. Tangannya bergetar hanya untuk membalas jabat tangan nya.  Airin yang melihat reaksi Devan, segera menyenggol lengan Devan sambil melotot dan berbisik pelan namun penuh penekanan.  "Itu ibu mau ajak salaman. Di balas, kek. Nggak sopan banget sih jadi tamu!"  "I-iya, bu. Perkenalkan, saya Devan. Devan Naraya."  "Oh, Nak Devan. Ibu senang bisa bertemu dengan Nak Devan." sahut Ibu Airin sumringah.  Sementara Devan masih saja terpaku.  'Benarkah? Benarkah dia senang bertemu denganku? Kalau benar dia senang dengan pertemuan ini, lalu kenapa dia dulu harus membuangku?'  Pikirannya terus berkecamuk. Tak bisa fokus pada obrolan selanjutnya, hingga beberapa kali hanya membalas pertanyaan ibu Airin dengan anggukan dan senyum sangsi.  "Mungkin dia capek, abis perjalanan jauh. Biar di istirahat dulu." "Iya, kali, Bu. Makanya di ajak ngobrol nggak konek, gitu." Celetuk Airin cuek.  "Ri, ajak dia masuk. Biar nak Devan istirahat di kamar Andi." Perintah ibu yang langsung di kerjakan Airin.  "Ayo, ikut aku." Kali ini Devan hanya menurut tanpa sedikitpun ada keniatan untuk menyela. Airin sampai heran dibuatnya.  Seseorang yang super perfeksionis dan cerewet seperti Devan mendadak diam seribu bahasa.  Ah, bukan urusannya.  Bukankah itu lebih baik untuknya? Tidak melulu meladeni kalimat sarkas yang keluar dari mulut Devan.  Seharusnya dia bersyukur. Mungkin Tuhan telah memberikan hidayah-Nya pada lelaki itu, sehingga Devan berubah menjadi manusia yang lebih baik.  Mungkin saja. Semoga.  *** Apa yang lebih menyakitkan dari saat kamu bisa memandang wajah nya, namun tak dapat menyentuh tubuhnya? Dengan penerangan seadanya, wanita paruh baya itu begitu telaten meluruskan satu demi satu akar rotan, menganyam bagian per bagian, lalu menyulapnya menjadi sebuah gelaran tikar.  Dari balik kelambu kamar, Devan memerhatikan tangan yang mulai nampak keriput namun tetap cekatan milik Desti.  Rasa hati ingin sekali ia menyapa, tapi apalah daya, dalam hatinya seolah telah tertanam batu kebencian yang begitu besar, sampai menutupi akal sehatnya.  Batu besar yang entah semakin ia menyangkal keberadaannya, semakin sesak dadanya terasa.  Batu itu seakan akan menghimpit d**a hingga membuatnya sulit bernapas lega.  Apakah dengan membalas dendam, batu itu mampu ia singkirkan?  "Devan?"  Devan terlonjak kaget, begitu menyadari keberadaan Airin di sampingnya.  "Sejak kapan kamu di sini?" tanya Devan dengan raut muka tak bersahabat.  "Mm... Lumayan."  "Lagi ngeliatin apa, sih?"  Airin turut menoleh ke arah Devan memandang.  Rumah milik orang tua Airin adalah bangunan sederhana yang memiliki tiga kamar tidur dan satu ruang tamu yang cukup luas.  Ketiga kamar itu di disain berjejer memanjang, dengan posisi dan bentuk yang  sama persis.  "Apaan, sih! Kepo banget!"  Devan hendak kembali ke kamar yang ia tempati, namun segera ditahan oleh Airin.  Pria itu memandangi tangannya yang bertaut dengan tangan milik Airin. Membuat gadis itu secara spontan melepas pegangan tangan merek begitu kesadarannya kembali.  "Kenapa pegang-pegang?"  "Bapak. Tadi nyuruh kamu ke depan. Bapak mau ketemu katanya."  "Ada apa?"  Airin mengendikkan bahu, kemudian berjalan mendahului Devan.  "Mana saya tahu? Cari tahu aja sendiri!"  Detak jantung itu, bekerja tak normal lagi.  Kira-kira, sebagai sambutan apa yang harus Devan berikan?  Apakah sebuah bogem mentah di rahang kiri, cukup untuk dijadikan salam perkenalan?  Atau, tendangan pada pusat kehidupan, lebih pantas untuk ia terima?  Sekarang ini, sambil melangkah untuk menemui bapak Airin, dalam kepala Devan penuh dengan pikiran buruk untuk meluapkan sakit hati yang ia pendam puluhan tahun. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN