15. Masakan Istimewa

1565 Kata
Seorang pecundang, akan berkoar koar di belakang, namun hanya bisa berdiam diri ketika di hadapkan pada sesuatu yang sebelumnya mereka anggap sepele. Seperti Devan contohnya. Yang berubah kaku tak bergerak, layaknya manekin bernyawa, ketika berada di hadapan ayah Arini. Lupakan pikirannya yang ingin memberi pelajaran kepada lelaki paruh baya itu, tadi. Pada kenyataannya, jangankan memukul, bersikap acuh dan menyangkal setiap perkataan yang dia ucapkan pun rasanya Devan tak sanggup. "Mari sini, Nak. Duduk." Lelaki tua yang rambutnya telah dipenuhi uban itu mempersilakan Devan duduk di kayu rotan. Berhadapan dengannya. "Iya. Makasih, Pak." "Salam kenal, Nak. Perkenalkan, saya Muji. Bapaknya Airin." Pak Muji mengulurkan tangan. Meski sempat ragu, namun akhirnya Devan menjabat tangan renta itu juga. Tangan itu, terasa kasar. Khas milik orang-orang pekerja keras. Sekejap terlintas dipikiran Devan, apakah selama ini kedua orangtuanya tidak hidup dengan semestinya? "Kalau boleh tau, Nak. Nak Devan ini punya hubungan apa sama Airin? Kenal di mana?" "Saya, saya ini atasannya Airin, pak. Kebetulan ada perjalanan bisnis mendadak di daerah Pemalang sini. Jadi saya ikut bersama Airin semalam." Pak Muji mengangguk. "Kira-kira berapa lama urusan nak Devan, Atau, mungkin lebih baik saya panggil nak Devan dengan sebutan bapak?" "Tidak perlu, pak. Panggil nama saja. Saya kurang tahu, pak. Berapa lama urusan saya selesai. Mungkin akan kembali ke Jakarta bersama dengan Airin lagi, nanti." "Kalau begitu, maaf, Nak Devan. Bapak nggak bisa kasih Nak Devan tempat untuk menginap di rumah ini. Ada peraturan di desa yang tidak mengizinkan warganya menerima tamu dari luar, sampai menginap.  Apa lagi bapak punya tiga putri di rumah ini. Demi menghindari fitnah, sebaiknya nak Devan cari penginapan di sekitar sini. Sekali lagi bapak minta maaf." Suasana seketika hening. Ada yang sakit, meskipun tak berdarah. Perasaannya berkecamuk. Bahkan, meski mereka tak mengenalinya pun, dia tetap mendapatkan penolakan. Apakah memang sudah menjadi takdirnya untuk selalu menjadi yang terbuang? Devan berusaha tersenyum meskipun harus mengkhianati hatinya yang terluka. "Iya, pak. Saya mengerti. Saya akan segera cari tempat tinggal lain di sekitar sini." "Terima kasih atas pengertiannya, nak Devan." "Apa ada yang ingin bapak sampaikan lagi? Jika tidak, saya ijin permisi." "Nak Devan." Suara pak Muji menginterupsi langkah Devan yang hendak meninggalkan ruang tamu. "Tidak perlu buru-buru untuk segera pindah. Kamu bisa istirahat dulu di kamar Bayu, dan ikut sarapan bersama kami nanti," lanjutnya kemudian. Devan hanya mengangguk tanpa menoleh. Kenapa dia masih saja merasakan sakit? Sementara, selama hidupnya ia telah terbiasa mendapat penolakan. Seharusnya, hatinya sudah sekokoh karang saat ini. Dengan tatapan kosong, Devan berjalan menuju kamar yang sebelumnya sudah ia gunakan untuk mengistirahatkan badan. Ia bahkan mengabaikan Airin yang berpapasan dengannya. Diusap selimut yang sudah pudar warnanya, mencium aroma kamar yang baginya terasa pengap, namun entah bagaimana ia begitu menyukainya. Setitik bening menjebol pertahanan. Devan menangis tanpa suara. Seseorang yang tak pernah ia kenal sama sekali sebelumnya, tengah tertidur pulas. Meringkuk dengan tubuh kurus, kulit hitam legam, serta rambut yang berantakan. Kalau dia diminta untuk mengambil keputusan, kehidupan mana yang akan dia pilih? Menjadi seseorang yang kini tengah berada di sampingnya, kah? Atau menjadi dirinya sendiri saat ini yang hidup serba berkecukupan? Hati dan pikirannya berkhianat. Apakah terlalu kejam jika selama ini Devan menyimpan dendam terhadap keluarganya sendiri? Sementara di balik itu, berkat mereka dia bisa hidup dengan layak sekarang. Devan membaringkan tubuhnya pada dipan yang terbuat dari bilah bilah bambu, beralaskan kasur yang keras. Badannya miring memunggungi seseorang yang ia tahu bernama Bayu. Tubuh Devan terasa begitu lelah. Lelah dengan perasaannya sendiri yang tak bisa berdiri pada satu keputusan. Dengan selimut yang mulai memudar warnanya, Devan menutupi seluruh tubuh hingga ujung kepala, kemudian terlelap. Berharap ketika terbangun nanti, Tuhan sedikit berbelas kasih. Memberinya kesempatan untuk menikmati bagaimana rasanya menjadi salah satu anggota dari keluarga sederhana ini. *** Sinar matahari mulai menerobos melalu celah jendela kamar yang tak tertutup sempurna. Sebagian kayunya telah keropos dimakan rayap. Rapuh. Membuat jendela itu bolong tanpa kaca. Menjadikan angin dengan leluasa menerbangkan gorden, yang terbuat dari kain perca yang dijahit sedemikian rupa. Perlahan mata Devan terbuka. Tergantung oleh bias cahaya mentari pagi. Dilihatnya seseorang di sebelah, sudah tidak ada di tempatnya. Belum seratus persen kesadarannya kembali, seseorang yang ia cari tadi muncul dari balik pintu. "Sudah bangun, Mas. Ayo, sarapan. Sudah ditunggu sama yang lain," katanya dengan bahasa yang masih belepotan. "Iya. Sebentar lagi saya menyusul." Lelaki itu segera bergegas. Mungkin Tuhan tengah berencana untuk mengabulkan permintaannya. Setelah selesai mencuci muka, sedikit canggung Devan berjalan menuju ruang makan yang ternyata jauh dari bayangannya. Ruangan itu masih sama dengan ruang yang ia dan pak Muji tempati ketika berbicara pagi tadi. Hanya saja jika tadi ia duduk di kursi rotan di sisi kanan ruangan, maka kali ini mereka makan di ruang kosong di sebelah kiri. Ada empat orang yang sudah duduk dengan formasi melingkar di sana. Duduk di lantai dengan hanya beralaskan tikar seperti yang ibu Airin buat subuh tadi. "Ayo, Nak Devan. Mari makan." Ibu Laksmi datang bersama Airin dari arah dapur. Masing masing membawa wadah yang berisi lauk pauk. "I-iya, bu." "Sini, mas. Duduk samping Aina." Gadis kecil dengan rambut dikepang dua itu menepuk-nepuk ruang kosong di sebelahnya, antusias menyambut Devan. "Adek! Itu kan tempat duduk mbak," sahut Airin yang masih sibuk menata piring. "Mbak Rin udah biasa duduk di sini. Sekarang, giliran mas Devan, yang duduk di samping Ina." "Anak bontot ibu, sekarang sudah ganjen ya sama lelaki." "Padahal masih suka ngompol, tuh!" Aida yang duduk di sisi lain Aini menimpali. Membuat suasana menjadi gaduh oleh tawa. Terkecuali si kecil Aina yang memasang muka masam. Setelah kakaknya sendiri mempermalukan ia di depan Devan. "Sudah, sudah. Jangan bercanda terus. Makanannya sudah siap." Bu Laksmi menengahi. "Nak Devan, makan seadanya, ya. Maaf, cuma ini yang bisa ibu suguhkan." Lanjutnya kemudian. "Iya, Bu. Begini juga saya sudah sangat berterima kasih," ucap Devan tulus. "Sini, biar Rin yang ambilin nasinya." Sigap Airin mengisi satu persatu piring kosong. Menyajikannya di depan masing masing anggota keluarga. "Nak Devan mau makan pakai lauk apa?" "Nanti biar saya ambil sendiri aja, Bu." "Cobain deh makan pakai ini." Tanpa meminta persetujuan, Airin menaruh sesendok penuh tumis kangkung. Menaruhnya di piring milik Devan. Kemudian dua potong tempe goreng, juga seekor ikan asin. Tak lupa pula sambal terasi yang selalu jadi menu utama di setiap hidangan. "Banyak banget, Rin." Protes Devan lirih. "Udah, nggak usah malu-malu, mas Devan. Belum pernah makan rame ramean kayak gini, kan? Cobain, deh! Walopun menunya sederhana, tapi rasanya jadi seratus kali lebih lezat kalau kita makan bareng bareng kayak gini. Percaya, deh." "Iya, nak. Dicoba dulu. Kalau nggak suka, bisa disisihin aja." Pak Muji menimpali. "Enak kok, mas." Aini ikut bicara. Pada suapan pertama, seketika membuat matanya berkaca-kaca. Seumur hidupnya, itu adalah makanan terlezat yang pernah ia rasakan. Mungkin karena mereka memasaknya dengan penuh rasa cinta. Meski harus menahan malu, Devan bahkan tak segan meminta izin. "Boleh tidak kalau saya nambah lagi, pak?" Yang tentu saja dijawab dengan anggukan oleh baik pak Muji maupun bu Laksmi. "Monggo, nak Devan. Silahkan. Makan sampai kenyang. Ndak udah segan." Bu Laksmi mempersilakan. Dengan penuh antusias, Devan mengambil lagi se centong nasi hangat dari bakul. Juga lauk pauk yang lengkap seperti tadi. Ia bahkan tak peduli dengan tatapan Airin yang melotot ke arahnya. "Enak, bu." Katanya sambil menyuapkan sesendok lagi nasi dan tumis kangkungnya. *** Setelah perutnya terisi penuh, lelaki itu hanya mampu menyandarkan tubuhnya pada kursi santai di halaman depan. Dirinya benar benar kenyang sekarang. "Sudah kenyang?" Airin yang baru saja selesai membantu bu Laksmi mencuci piring, duduk di samping Devan. "Kenyang sekali." Sahut Devan sambil mengusap-usap perutnya yang membuncit. "Dasar, tamu nggak tahu diri." Sindir Airin sembari menatap lelaki di sampingnya dengan tatapan tak suka. "Biarin saja. Toh, ibu sama bapak nggak apa apa, kan? Beliau loh yang menawari saya buat nambah lagi makannya." Ujar Devan membela diri. "Iya. Tapi seharusnya sebagai tamu bisa kan kamu tahu diri dikit. Tau nggak, gara gara keserakahan mu itu, ibu jadi harus mengalah. Beliau jadi tidak makan cuma biar kamu bisa nambah." "Hah? Beneran?" "Heh? Beneyan?" Airin menirukan kalimat Devan dengan nada yang dibuat-buat. "Serius aku nggak tahu, kalau porsinya memang sudah pas segitu." Sesal Devan merasa bersalah. Perutnya yang kenyang, menjadi semakin terasa tak enak begitu Airin mengatakan yang sebenarnya. "Makanya, jadi orang tuh--" Belum selesai Airin berbicara, Devan sudah bergegas masuk ke dalam. Mencari keberadaan Laksmi. "Yee. Dasar orang kaya nggak tahu sopan santun!" Omel Airin sendirian. Di ruang yang tadi di gunakan untuk makan bersama, bu Laksmi tengah serius menganyam akar rotan kering. Menyulap nya menjadi salah satu sumber penghasilan keluarga mereka. "Bu." Devan duduk bersila di samping bu Laksmi yang tengah khidmat menganyam sambil menikmati hiburan di televisi. Salah satu bentuk dari hasil kerja keras Airin selama di perantauan. "Iya, nak Devan." "Maafkan saya, bu. Gara gara saya yang tidak tahu diri, ibu jadi tidak kebagian makanan." Sesal Devan, sambil menundukkan kepala. "Loh, siapa yang bilang begitu?" "Airin, bu." "Oalah. Bocah kae!" Bu Laksmi menghentikan anyamannya, kemudian menyentuh pundak Devan dengan lembut. "Ndak usah dipikirkan ya, Nak. Sudah sepantasnya ibu sebagai tuan rumah menyuguhi tamu dengan sebaik-baiknya. Ibu sudah biasa ndak makan. Ndak apa-apa." "Tapi kan, bu..." "Wes, toh. Ndak usah dipikirkan lagi. Ibu ndak apa apa. Ndak lapar juga." Devan tahu yang bu Laksmi katakan itu bohong. Mana mungkin, setelah terbangun dari sebelum subuh. Memasak dan melakukan banyak aktivitas lain, tapi perutnya tetap tak lapar? Devan semakin tertunduk lesu. Merasa bersalah. Sebenarnya, terbuat dari apa hati bu Laksmi ini. Mengapa ia begitu lembut dan se penyayang ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN