Ikatan yang Terlupakan

1367 Kata
"Jadi nak Devan, bisnis apa yang sedang anak Devan kerjakan di daerah sini?" Tanya pak Muji. Keduanya kini tengah berjalan menuju rumah pak RT guna melaporkan Devan sebagai tamu dari luar daerah. "Dalam waktu dekat, ingin membuka sebuah restoran seafood. Dan saya dengar, daerah sini khususnya desa ini menjadi salah satu penghasil udang paname terbaik. Saya berencana untuk mengeksplor lebih lagi agar para petani panami di desa ini bisa lebih berkembang." Beruntung sebelum pak Muju mengajaknya ke rumah pak RT tadi, ia sempatkan untuk mencari tahu salah satu potensi di desa ini. Sehingga ia bisa selamat dari pertanyaan pertanyaan pak Muji. "Hebat sekali, nak. Masih muda sudah pandai berbisnis. Semoga kelak anak-anak bapak bisa menjadi orang hebat seperti nak Devan," ungkap pak Muji sambil menepuk pundak Devan. Membuat lelaki berusia dua puluh lima tahun itu berdebar tak karuan. "Bapak terlalu berlebihan." "Dari dulu. Bapak selalu ingin memiliki anak yang sukses dalam karirnya. Menjadi seseorang yang dibanggakan keluarga. Sayangnya, anak lelaki bapak, dia tidak se sehat yang lainnya semenjak kecelakaan itu." "Maksud bapak, Mas Bayu?" Devan tidak tahu sejak kapan dia bisa memanggil lelaki kurus berambut keriting itu dengan sebutan mas. Kata itu keluar begitu saja secara spontan. Pak Muji mengangguk. "Malang sekali nasib Bayu yang harus rela mengubur mimpinya menjadi pesepakbola semenjak kecelakaan yang dia alami saat umurnya delapan belas tahun. Di saat sudah banyak yang dia lakukan untuk mewujudkan impiannya menjadi bagian dari timnas." "Mas Bayu bercita cita ingin menjadi anggota timnas?" "Iya, nak Devan. Dulu Bayu sangat gigih, sangat semangat belajar. Selepas sekolah, dia langsung berlatih mengasah bakatnya di lapangan desa." Pak Muji melempar pandangan ke sisi kiri jalan. Keduanya kini tengah berjalan melewati tanah lapang yang cukup luas dan dipenuhi rumput liar. Di beberapa sisi bahkan rumput rumput itu telah tumbuh setinggi betis orang dewasa. Dengan sepasang tiang terbuai dari bambu yang di buat menyerupai gawang, di dua sisi berlawanan. Sementara di samping kanan dan kiri tanah lapang itu adalah rawa dengan air yang menggenang. Ditumbuhi pohon bakau di sepanjang jalur. "Apa yang terjadi dengan kaki nya, pak?" "Ada yang retak pada tulangnya. Harus melakukan operasi agar bisa pulih. Meskipun tidak bisa seratus persen. Tapi sayangnya bapak tidak bisa. Jangankan untuk biaya operasi, untuk membayar kamar dan obat-obatan nya pun kami harus berhutang. Dan sekarang, sebagai anak tertua nomor dua, Airin yang harus menanggung semuanya. Dia harus rela bekerja membanting tulang di tanah perantauan bahkan saat usianya baru menginjak angka lima belas." Devan pernah mendengar cerita itu dari Banyu. Alasan Banyu menerima Airin yang saat itu melamar pekerjaan padanya dengan membawa ijazah SMA yang bahkan baru saja ia dapatkan. Gadis itu begitu bersikeras ingin bekerja. Berapa pun gajinya, asal dia memiliki penghasilan demi membayar hutang yang sudah bertahun-tahun tidak terlunasi. Ternyata begini cerita lengkapnya. "Sekarang, berapa usia mas Bayu, pak?" "Dua puluh lima tahun, Nak." "Mungkin saya bisa mengajak mas Bayu ke Jakarta dan bekerja sama. Saya berharap, kesibukan akan membuat dia bisa melupakan kesedihannya." "Benarkah?" "Iya, Pak. Mas Bayu masih terlalu muda untuk menghabiskan waktunya untuk bersedih. Masih ada banyak hal yang bisa dia lakukan, lebih dari sekedar mencari rumput untuk makanan kambing. Saya yakin, setelah berpindah tempat suasana hati mas Bayu pasti akan jadi lebih baik." "Tapi, kenapa, nak Devan?" "Kenapa? Kenapa apanya, pak?" "Kenapa nak Devan begitu baik terhadap keluarga kami? Tidak cukup dengan Airin, nak Devan juga ingin memberikan pekerjaan pada Bayu." Karena rasa bersalah itu, pak. Rasa bersalah karena terlalu lama menyimpan dendam dengan kedua orangtuanya sendiri yang ternyata memiliki hati yang begitu hangat, serupa malaikat. Ah, Seandainya dia bisa mengungkapkan alasan yang sesungguhnya. Pak Muji menatap Devan dengan penuh perhatian. Penasaran dengan alasan yang akan diungkapkan lelaki usia tanggung itu. Beruntung nya, Devan kembali selamat dari jerat tanya pak Muji yang selalu bisa membuatnya salah tingkah. Seseorang berpakaian rapi dengan tatanan rambut yang klimis menghampiri mereka berdua. "Pak Muji." Sapanya mengalihkan perhatian pak Muji dan Devan. "Eh. Halo pak RT, selamat pagi." Ketiganya saling bergantian berjabat tangan. "Pagi pak Muji. Ada perlu apa kah, sampai harus datang ke rumah sepagi ini?" Pak Muji melihat sekitar. Terlalu asik berbicara dengan Devan, membuatnya tak sadar kalau mereka berdua telah sampai di depan pintu rumah yang mereka tuju. "Ah, begini pak saya ingin melaporkan kedatangan tamu, kenalan anak saya dari Jakarta, baru tiba pagi tadi bersama Airin." "Oh, mengenai itu. Lebih baik kita lanjut bicara di dalam saja, pak Muji." "Baik, pak RT." "Mari, masuk. Mari, nak. Jangan sungkan." *** Devan berjalan dengan langkah cepat dengan senyuman yang sesekali merekah. Ia sudah tak sabar untuk segera sampai ke rumah Airin. Kali ini ia hanya berjalan sendiri. Pak Muji, setelah selesai bercakap-cakap dengan ketua RT, lebih dulu pamit undur diri. Mau langsung ke ladang, katanya. Beberapa warga menatap ke arah Devan dengan tatapan penuh rasa penasaran. Ada juga segerombolan ibu ibu dengan kresek belanjaan di tangan, yang saling berbisik seolah tengah membicarakan Devan. Devan mana peduli. Waktunya terlalu berharga untuk sekedar memikirkan omongan orang tentangnya. Dengan membawa satu kantong penuh makanan, Devan masuk ke dalam rumah. Mencari keberadaan bu Laksmi. "Bu." Panggilnya begitu menemukan wanita paruh baya itu, yang ternyata tengah menyalakan api di tungku. Mereka memang memiliki kompor gas seperti yang biasa digunakan masyarakat pada umumnya. Tapi, bu Laksmi lebih sering memasak menggunakan tungku. Selain agar dapat menekan pengeluaran, kayu bakar dari ranting ranting pohon kering pun melimpah di sekitar mereka. "Sayang, kalau ndak digunakan. Biar kata mereka ini sampah, tapi bagi ibu ini masih bisa dimanfaatkan." Kata bu Laksmi saat Devan bertanya, mengapa harus susah susah mengipasi agar api tetap menyala, jika yang tinggal putar saja ada. "Bu, sore ini nggak usah masak untuk makan malam, ya. Saya sudah belikan makanan buat kita," ujar Devan sambil menunjukkan satu kantong penuh makanan. "Ya Allah. Banyak sekali, Nak. Berapa habis uang nak Devan?" "Udah, ibu nggak usah pikirin berapa habisnya. Yang penting, makan malam nanti kita bisa makan enak." "Ibu jadi ndak enak sama nak Devan. Nak Devan yang tamu di sini, tapi malah beli makanan buat kami sekeluarga." "Nggak apa-apa, bu. Anggap ini sebagai permintaan maaf saya karena sudah lancang menghabiskan jatah sarapan ibu pagi tadi." "Padahal ndak perlu sampai sebegini nya, loh. Itu adalah kewajiban ibu sebagai tuan rumah untuk menyuguhi tamu sebaik baiknya." Melalui celah pintu kamar yang sedikit terbuka, Airin memerhatikan Devan dan ibunya. Devan dengan wajah yang berbeda dari biasanya. Raut mukanya yang lebih sering menyunggingkan senyum. Juga sorot mata yang lebih tulus. Berbeda dengan Devan yang ia temui di ibukota. Devan yang menyebalkan dan memiliki tatapan yang mengancam. "Aku heran, deh. Kenapa di sini kamu jadi berakting jadi anak baik gini? Mas Devan lagi ngerencanain sesuatu?" Airin mencegat langkah Devan yang hendak menuju kamar. "Nggak baik suudzon sama orang." Devan melengos. Tak menghiraukan. Hatinya sedang bahagia saat ini. Meladeni Airin hanya akan membuat mood nya berantakan. "Awas yah, kalau sampai macem macem sama keluargaku!" Ancam Airin. Yang tentu saja tidak digubris sama sekali. Membuat gadis itu geram. "Udah, deh. Nggak usah berisik. Aku ngantuk, mau tidur. Bangunin aku waktu makan malam tiba." Devan baru saja melangkahkan kakinya, hendak memasuki kamar, ketika suara pak Muji menginterupsi. "Nak Devan, ndak ikut ke mushola?" "Em... Anu, pak. Saya, kebetulan nggak bawa baju ganti sama sekali. Tadi juga lupa pas belanja, lupa nggak beli sarung." Devan menyeringai, malu. "Eleh. Bilang aja emang nggak pernah sholat." Sindir Airin yang masih berdiri di samping nya. "Hush! Ndak boleh bilang gitu!" tegur Pak Muji pada Airin. Yang membuat lelaki itu merasa menang. "Mending sekarang nak Devan mandi, sudah mau maghrib. Nanti, kita berangkat ke mushola bareng. Soal sarung ndak usah kuatir, bisa pakai punya bapak dulu," Kata beliau kemudian. "Baik, Pak," jawab Devan langsung. Dia sendiri sampai heran, mengapa di depan pak Muji ia seakan tunduk dengan segala titahnya. Rasanya sulit sekali membantah perintah dari lelaki berusia lebih dari setengah abad itu, padahal dulu bahkan kemarin Devan adalah si raja pembangkang. Mungkinkah ini karena darah yang mengalir di nadinya, berada dari tubuh tua itu pula. Sehingga secara langsung, membuat hati dan pikirannya condong ke arah lelaki tua itu. Sekali lagi Devan dibuat bingung oleh ikatan tak kasat mata, namun jelas adanya. Ikatan yang selama ini tidak ada satu orang pun yang mengakuinya bahkan dirinya sendiri. Atau mungkin, Devan berharap ikatan itu diakui sekarang?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN