"Jadi, kapan nak Devan akan pindah?"
"Mungkin setelah selesai makan malam, pak. Tadi pak RT bilang, untuk sementara saya akan tinggal di rumah beliau yang kebetulan masih memiliki ruang kosong buat menginap.
Untuk memudahkan saya agar tidak terlalu jauh, juga tidak terlalu memakan banyak waktu ketika harus bolak balik untuk survei tambak."
"Syukurlah. Bapak jadi ndak bingung kalau mau mengunjungi nak Devan."
Perasaan Devan membuncah. Kalimat pak Muji barusan terdengar seperti ajakan kencan dari seseorang yang Devan taksir. Benar benar membuat hatinya berbunga.
Keduanya kini tengah berjalan beriringan sepulang dari mushola. Di depannya, Bayu sudah lebih dulu berjalan.
Seperti kata pak Muji, Bayu sangatlah pendiam. Devan bahkan belum sempat ngobrol barang satu kalimat pun pada Bayu. Atau sekedar 'say hi', mereka belum pernah saling bertegur sapa.
"Mas Bayu."
Devan mempercepat langkah, setelah sebelumnya sudah meminta izin pada pak Muji untuk jalan lebih dulu.
Yang dipanggil menoleh, sambil tersenyum ke arah Devan yang berjarak hanya beberapa langkah saja.
Semenjak kejadian nahas itu, kaki Bayu memang tidak bisa di ajak berjalan dengan cepat. Tulang yang retak, tidak mendapatkan perawatan yang optimal sehingga menimbulkan ketidak sempurnaan pada kakinya.
"Habis makan malam, ada kerjaan tidak, mas?" tanya Devan setelah langkah mereka saling bersisian.
Bayu menggeleng.
"Kenapa?"
"Tadi sore, kata pemilik tambak, ada salah satu tambak panami yang siap panen. Rencananya, malam ini saya mau lihat prosesnya bagaimana. Sekalian mau survei bagaimana kondisi udang udang tersebut, dan bagaimana proses packaging nya. Mas Bayu mau ikut?"
Bayu mengangguk. Tentu saja dia akan datang ke sana. Tapi bukan hanya sekedar sebagai penonton saja. Melainkan menjadi bagian dari proses memanen tersebut.
Menjadi buruh panggul ketika tiba masa panen, sudah jadi pekerjaan sehari-hari bagi Bayu.
"Mas Bayu, kenapa nggak ikut Airin ke Jakarta?" tanya Devan, ingin menuntaskan rasa penasarannya.
"Siapa yang mau terima saya, Mas Devan. Yang cuma punya ijasah SMP, lagi pula lihat kaki saya. Tempurung lutut saya yang retak tidak bisa di ajak kerja terlalu berat. Dan juga yang ada di bagian tumit, saya sudah tidak sesempurna manusia lain, mas Devan."
Devan termenung sejenak.
Pasti berat menjalani kehidupan seperti yang dialami Bayu.
"Tapi Airin? Dia lulusan SMA?"
"Iya. Makanya saya beri dia kesempatan untuk meraih cita-cita nya. Dia masih punya masa depan yang cerah. Berbeda dengan saya yang cacat. Makanya, sebisa saya semampu saya bekerja keras untuk membiayai sekolah Airin. Juga membayar hutang bapak yang habis untuk membiayai biaya pengobatan saya dulu."
"Kenapa nggak cari kerja di luar kota, mas? Pendapatan di sana pasti jauh lebih besar dari pada di kampung, kan?"
"Iya, memang mas. Tapi bagaimana dengan bapak sama ibu? Mereka sudah tua. Dan dengan adik adik saya yang masih sekolah. Butuh banyak belajar. Saya nggak mau pelajaran mereka jadi terganggu gara gara terlalu sibuk membantu pekerjaan rumah."
Devan mengerti sekarang. Bayu rela mengorbankan masa depannya sendiri demi adik-adiknya. Demi cita-cita yang ditumpu kan pada bahu ketiga adiknya.
"Saya nggak tahu mesti bilang apa lagi. Pengorbanan mas Bayu untuk keluarga, benar-benar nggak bisa di anggap sepele."
"Bukan apa apa jika dibandingkan dengan pengorbanan ibu dan bapak, yang selama ini sudah berjuang merawat dan membesarkan kami, anak-anaknya."
Tanpa sadar, tahu-tahu mereka telah sampai di depan rumah. Di halaman, Aida dan Aina berdiri menyambut kedatangan mereka.
"Akhirnya, mas Devan sama mas Bayu pulang juga." Seru Aina girang.
"Ada apa memang, Na?"
Tidak menjawab, Aina justru menarik lengan Devan untuk segera masuk ke dalam. Sementara di belakangnya, Aida berjalan beriringan bersama Bayu.
"Ayo kita makan! Ina udah nggak sabar mau cicipi semuanya."
Devan tersenyum, begitu rupanya yang buat Aina begitu antusias. Karena makanan yang sore tadi ia bawa.
"Ibu suruh tunggu mas Devan dulu. Padahal Ina udah pengen banget makan itu," katanya sambil menunjuk sekotak pizza.
"Ina!" tegur ibu Laksmi melihat tingkah putri bungsunya.
"Nggak apa-apa, bu. Ya sudah, ayo makan. Mas Devan kan udah di sini." Devan mengajak Aina untuk duduk di sampingnya, dan tentu saja dibalas dengan antusias.
"Aina apa deh! Jangan bikin malu. Makan satu-satu!" Kali ini giliran Airin yang menegur, begitu melihat adiknya yang paling bontot mengambil dua potong pizza sekaligus.
"Biarin lah, Rin. Aina masih kecil, butuh banyak asupan biar sehat. Iya kan, Na?" Devan mengelus-elus rambut hitam lebat milik Aina. Membuat gadis kecil itu semakin di atas awan.
"Mas Devan, Aina boleh nambah satu lagi, nggak?" pinta Aina sambil menunjukkan wajah polosnya.
"Boleh, dong, Na. Ambil sesuka Aina."
"Yeay! Makasih, mas."
"Sama-sama, sayang. Aina suka? Besok beli lagi, ya?"
Aina hanya bisa mengangguk. Tentu saja, mulutnya kini penuh dengan makanan khas Italia itu.
Sementara yang lainnya, menikmati hidangan dengan tenang.
"Ibu nggak makan?" tanya Airin, begitu sadar bu Laksmi hanya memandangi anak-anaknya makan bersama.
"Ndak. Kalian aja, makan sampai kenyang. Jarang jarang kan menu makan malam kita seenak ini?"
"Ibu juga harus makan dong bareng kita."
"Iya, bu Laksmi. Saya sengaja beli banyak, biar ibu juga kebagian dan bisa mencicipi makanan ini. Bu Laksmi makan, ya?"
"Terima kasih nak Devan. Ibu lihat anak-anak masih lahap sekali makannya. Ibu nggak tega kalau kalian ternyata belum puas. Biar kalian puas makan dulu, ibu nanti makan sisanya, ya."
Mata Devan berkaca.
Secinta itu seorang ibu kepada anak-anaknya.
Apapun akan dia lakukan demi sang buah hati.
Tapi, dengannya?
Mendadak rasa sakit itu muncul kembali. Rasa sakit karena tak merasakan apa yang para anak-anak lainnya rasa.
Kasih sayang tulus dari kedua orang tua.
"Nak Devan, kenapa? Kok ndak makan?"
Pertanyaan bu Laksmi membuat Devan tersadar dari rasa sakitnya.
"Kamu kenapa, mas? Kok kayak mau nangis gitu?"
Kali ini giliran Arini yang bertanya.
"Ah, enggak. Saya cuma terharu. Lama tidak merasakan kehangatan sebuah keluarga seperti ini." Devan berterus terang.
Hatinya selama ini dingin karena tak pernah merasakan kehangatan sebuah keluarga.
Hidupnya dihabiskan untuk membenci. Tak pernah ada cinta.
"Lho? Memangnya kenapa? Kemana orang tuamu, Nak?"
'Kedua orang tuaku telah membuang ku ke keluarga yang tak memiliki cinta di dalamnya.'
Ingin sekali Devan mengeluarkan isi hatinya. Namun ia urungkan karena tahu itu hanya sia-sia. Dan justru akan merusak momen pertama kali miliknya bersama keluarga kandungnya sendiri.
Pada akhirnya Devan hanya tersenyum, dsn menjawab seadanya.
"Mereka terlalu sibuk dengan urusan bisnis masing-masing. Sampai lupa bahwa di rumah, ada anak yang menunggu untuk disayang dan diperhatikan."
Bu Laksmi merasa iba, bergeser ia dari tempat semula. Kemudian membawa Devan dalam pelukannya.
"Ndak apa-apa, Nak. Kamu tumbuh menjadi anak yang baik dan hebat, itu sudah cukup. Cukup membuktikan kalau kamu memiliki hati yang lembut. Kamu bisa tumbuh tanpa uluran tangan orang lain. Kamu hebat, kamu kuat, Nak Devan."
Bulu kuduk Airin merinding, melihat Devan yang tiba-tiba menangis dalam pelukan ibunya. Bukan, bukan rasa cemburu yang menguasai hatinya. Melainkan rasa iba dan ketidak percayaan mengenai kisah hidup Devan yang ternyata selama ini didekap rasa sepi.
"Kok jadi pada nangis?" celetuk Aida yang membuat bu Laksmi melepas pelukannya.
Berganti dengan Aina yang tiba-tiba saja merangsek ke arah Devan, kemudian memeluknya.
"Eh, kok jadi pada sedih sedihan gitu, sih. Udah yuk makan. Nggak baik nangis di depan makanan."
Airin menengahi.
"Ayo, nak Devan. Dimakan makanannya. Kamu harus tahu, nak, makanan di depanmu yang kamu santap setiap hari ini, yang kamu anggap biasa saja. Akan terasa lebih enak ketika dinikmati bersama keluarga."
Bu Laksmi menaruh sepotong pizza pada piring di hadapan Devan.
Dengan serampangan pria itu mengusap air mata, kemudian mulai menyantap makanannya.
"Di mana bapak, bu?" tanya Devan ketika menyadari kurangnya satu anggota keluarga.
"Bapak sudah tidur duluan di kamar. Perut nya sakit lagi katanya."
"Bapak sakit, bu?"
"Iya. Tapi ndak apa-apa. Mungkin cuma masuk angin aja. Sebentar lagi juga sembuh."
"Nggak mending di bawa ke rumah sakit aja, bu?"
Bu Laksmi menggeleng.
"Nanti biar ibu kerokin saja. InsyaAllah bapak baik baik aja."
***
Nyaring jangkrik mengerik memecah suasana sepi. Juga suara katak yang bernyanyi saling bersahutan, setelah gerimis melanda sore tadi.
Setelah makan malam usai, Devan memilih untuk duduk di halaman depan.
Kursi kayu di bawah pohon belimbing yang baru bertumbuh setinggi dua meter.
"Melamun."
Devan menoleh, dan mendapati Airin berdiri di ambang pintu.
"Menikmati orkestra alam," sahut Devan.
Airin mendekat, kemudian ikut duduk di samping Devan.
"Kamu senang liburan kali ini?" tanya Devan yang langsung mendapat anggukan dari Airin.
"Liburan kali ini cukup berkesan. Ah, nggak nyangka nanti sore aku harus kembali ke Jakarta. Kalau mas Devan sendiri?"
"Hmm? Saya? Saya ini bos. Jam kerja saya bebas. Saya bebas menentukan akan liburan berapa lama. Beda sama kamu yang masih kuli. Waktumu bukan milikmu. Waktumu sudah kamu gadaikan demi uang yang tak seberapa itu."
Gadis itu mencebik.
Baru saja dia merasa iba dengan kehidupan Devan yang selalu sendirian, sekarang langsung dibuat illfeel dengan kata kata tajam miliknya.
Airin jadi berpikir, apakah kosakata yang dimiliki Devan hanyalah kata kata yang melukai?
"Padahal maksudnya tadi aku nanya, apa mas Devan juga menikmati liburan ini? Kok malah nyerang aku dengan kalimat sarkasme kayak gitu. Pantas hidup mas Devan itu membosankan, orangnya aja kaku kayak papan triplek, dingin kayak es batu!"
Airin menggerutu panjang lebar.
Menyebalkan memang berurusan dengan manusia sombong.