Pukul sepuluh.
Malam tampak bersih tanpa kabut. Gemintang bertaburan memenuhi langit. Pada satu titik, bulan purnama yang berbentuk bulat sempurna berhias kabut tipis dengan pelangi mengelilinginya.
Di area tambak sendiri, puluhan lampu tertanam pada lahan seluas lima ratus meter persegi.
Di sejauh mata memandang maka, pemandangan yang terlihat hamparan lampu neon bercahaya putih. Mengalahkan sumber cahaya dari alam.
Satu persatu suara diesel berhenti beroperasi seiring dengan kolam udang yang satu persatu telah selesai dipanen.
"Mas Devan belum pulang?"
Seorang penjaga tambak mengenakan pakaian serba panjang, juga menutup kepala. Udara di sekitar pesisir pantai pada musim hujan memang lebih dingin dan lembab dari suhu normal.
"Belum, pak. Sebentar lagi," jawabnya sambil mengulum senyum.
Saat ini Devan tengah bersantai pada sebuah gubug di tengah-tengah tambak dan persawahan. Bangunan sederhana yang hanya terbuat dari bilah bambu dengan tembok menggunakan papan gypsum, dan atap yang terbuat dari tumpukan daun kelapa kering, biasanya digunakan sebagai tempat beristirahat para penjaga.
Penjaga kolam udang atau yang akrab disebut dengan nama tambak itu ikut duduk pada 'lincak' yang terbuat dari bambu di depan gubuk.
"Biar saya temani, ya." Katanya menawarkan diri.
"Boleh, pak. Silakan."
"Di mana Bayu? Ndak kelihatan dari tadi."
"Sedang beli minum sama sedikit camilan, pak."
Kemudian bapak penjaga tambak yang bernama Husein itu membulatkan bibir.
"Sudah selesai ya, pak, tugas musim ini." Devan berusaha membuka percakapan. Tentu saja dengan tema yang tak jauh dari pekerjaan bapak Husein itu sendiri.
"Iya, mas Devan. Setidaknya selama beberapa minggu ke depan saya bisa tidur nyenyak di rumah, juga bisa kumpul dengan keluarga."
"Loh, memang selama ini?" tanya Devan penasaran.
"Selama jaga udang paname ini, saya pulang ke rumah sehari dua kali, kalau mau makan aja. Itu pun cuma nggak begitu lama. Nggak sempat ngobrol apalagi bercanda sama anak." Cerita pak Husein.
"Jadi, selama tiga bulan bapak dan teman teman lainnya jaga dua puluh empat jam di sini?"
Pak Husein mengangguk.
"Kita ndak pernah tahu kapan listrik padam, sementara kalau listrik padam dan diesel yang menggerakkan mesin untuk terus mengatur sirkulasi udara dalam air berhenti, udang paname bisa terancam stres dan berakibat gagal panen. Selain itu, udang udang ini juga harus tepat waktu dalam pemberian pakan dan vitamin.
Makanya para juragan paname ndak mau ambil resiko. Penjaga harus siaga di tambak dua puluh empat jam selama tiga bulan penuh."
Devan terpaku tak percaya. Dengan gaji yang tidak lebih tinggi dari upah minimum di Jakarta, Para penjaga tambak rela mengorbankan waktu mereka bersama keluarga.
"Kopi, mas."
Bayu datang membawa dua gelas kopi yang ditaruh dalam gelas plastik, beberapa botol air mineral, juga makanan ringan yang ia bawa dalam dua kresek berukuran besar.
Bayu sengaja membelanjakan seluruh upah hasil kuli panggul hari ini untuk merayakan malam bersama Devan, yang malam ini akan tidur di rumah pak RT.
"Banyak sekali, mas, jajannya."
"Biar cukup buat kita ngobrol sampai pagi."
"Oh, jadi mas Bayu mau ngajakin saya buat begadang? Oke! Ayo pak Husein, ikut begadang sama kami."
Ajak Devan pada pak Husein. Dan segera diamini oleh Bayu.
"Iya, pak. Makin rame makin asik."
Pak Husein hanya tertawa menanggapi ajakan dua pemuda di sampingnya.
"Kalian saja yang masih muda. Masih punya banyak energi untuk bersenang-senang. Lagi pula, bapak juga sudah sangat kangen sama rumah. Kangen dengan kasur dan selimut, apa lagi istri."
Pak Husein kembali tertawa di akhir kalimatnya.
"Yah, baiklah kalau bapak nggak mau join sama kami. Hiburan kita memang berbeda, pak." Sahut Bayu kemudian ikut tertawa.
***
Kokok ayam terdengar nyaring di telinga pria berhidung mancung, yang saat itu tengah bergumul dengan guling dan selimut.
Dengan malas Devan menggeliat, lalu membuka mata dengan perlahan.
Kedua matanya masih terasa berat untuk dibuka, meski sinar matahari sudah mencorong membuatnya silau.
Akibat dirinya yang memaksa untuk pulang pukul dua dini hari. Beruntung saat itu pak RT masih terjaga.
Bulan bulan ini memang sedang musim liga premier.
Bagi seorang yang fanatik terhadap suatu klub sepak bola seperti pak RT, wajib hukumnya bagi mereka untuk menyaksikan secara langsung pertandingan klub favorit.
Beliau juga memaklumi tingkah Devan yang pulang lewat larut malam.
Bagaimanapun juga, beliau pernah muda. Sikap seorang yang lebih dewasa dalam memaklumi para daun muda seperti Devan yang mencoba membaur dengan lingkungan sekitar.
Ketukan pintu berirama, diiringi dengan suara dari luar, terdengar mengusik indra pendengar.
"Nak Devan. Ayo, bangun. Kita sarapan sama-sama."
Satu, dua ketukan lagi beliau ulangi sampai empunya nama akhirnya menjawab juga.
"Iya, pak. Sebentar lagi saya menyusul," sahut Devan masih dengan posisinya yang meringkuk dan terbungkus selimut.
Udara di pedesaan memang jauh lebih sejuk dari pada di Ibukota yang telah tercemar berbagai polusi.
Hal itu memaksa Devan untuk segera terbiasa dengan cuaca yang berbanding terbalik.
Meski masih amat mengantuk, pada akhirnya Devan bangun juga. Menghampiri pak RT dan istrinya yang sudah lebih dulu bersiap di meja makan, setelah selesai mencuci muka.
Mau bagaimana juga, tidak baik membuat tuan rumah menunggu terlalu lama.
"Maaf pak, bu, saya terlambat bangun," sesal Devan menahan malu.
"Iya. Ndak apa-apa, nak. Kami ngerti kok, nak Devan pasti masih mengantuk setelah begadang semalam." Pungkas bu RT, berbadan tambun.
"Iya, Bu. Sore ini jadwalnya saya dan Airin harus balik ke Jakarta. Jadi, rasanya sayang aja kalau saya habiskan waktu di sini cuma buat tidur aja. Saya masih ingin mengeksplor lebih banyak lagi destinasi wisata, potensi budaya dan kearifan lokal di desa ini. Sayangnya, waktu berkunjung kami sangat singkat."
"Nak Devan bisa kembali berkunjung dan menginap lagi di sini kapanpun nak Devan mau. Pintu rumah kami selalu terbuka untuk Nak Devan." Sahut pak RT antusias.
"Terima kasih pak, bu. Atas sambutan hangat dan sudah menerima kehadiran saya di rumah ini."
"Sama-sama, Nak. Kami senang, bisa mengenal sosok pemuda berprestasi seperti nak Devan. Kalau saja putri kami masih ada, pasti sudah kami jodohkan dengan Nak Devan."
Devan hanya tersenyum menanggapi kalimat bu RT.
Devan pernah mendengar cerita dari Airin mengenai hilangnya putri semata wayang pak RT dan bu RT, ketika terjadi musibah banjir yang terjadi lima belas tahun lalu. Saat itu, anak pak RT baru berusia lima tahun.
Keduanya begitu terpukul dalam menghadapi musibah yang datang bertubi-tubi. Setelah tiga tahun lamanya menanti buah hati, Tuhan ambil kembali titipan-Nya dalam waktu yang singkat.
Itulah kenapa pak RT dan bu RT begitu menyukai anak kecil, para remaja, juga pemuda yang seusia putrinya.
"Beliau bahkan membuka griya baca di rumahnya, demi mengenalkan anak-anak generasi muda dengan dunia literasi." Begitu kata Airin, suatu waktu mereka berada di halaman berdua.
Sekali lagi Devan merasa tertampar dengan kehidupan lain yang jauh lebih sulit dari dirinya.
Selama ini, ia berpikir bahwa dirinya lah manusia paling menderita. Hidup tanpa kasih sayang kedua orangtua kandung.
Namun ternyata, kehidupan membuka cerita lain.
Banyak di luar sana yang jauh menderita dari dirinya.