Kunci bahagia, adalah rasa syukur.
Bersyukur atas kehidupan yang dijalani. Bersyukur walau bagaimana Tuhan menggariskan takdir untuk kita.
Dua hari Devan menghabiskan waktu di desa, ada banyak hikmah yang ia dapat. Mengenai kehidupan yang tak bisa berjalan sesuai keinginan. Ada saja, cobaan yang Tuhan kirimkan. Entah sebagai penguji keimanan, atau sebagai hukuman atas perilaku yang melampaui batas.
Devan mengembuskan napas kasar. Batinnya seakan di tampar bertubi-tubi oleh kenyataan yang Tuhan paparkan di hadapannya.
Ikhlas.
Satu kata yang amat sulit untuk ia jalani. Ikhlas menerima, jika dirinya memang ditakdirkan untuk hidup dan tumbuh bersama keluarga angkat. Bukan dengan orang tua kandung nya.
Hatinya masih saja merasa sakit, setiap kali memikirkan kemungkinan-kemungkinan apa yang membuat kedua orangtuanya memutuskan untuk memberikannya kepada orang lain.
"Rencana, hari ini mau kemana?" tanya Airin yang tiba-tiba duduk di samping Devan.
Gadis itu menatap siluet wajah Devan dari samping. Baginya, Devan itu misterius.
Selalu bersikap angkuh dan sombong setiap berada di banyak kerumunan. Menjadi orang yang dingin dan tak tersentuh, pada orang asing.
Namun belakangan ini, pria itu nampak bukan Devan yang dia kenal sebelumnya. Devan akhir akhir ini lebih ramah dan terlalu banyak senyum. Sangat terbuka dengan orang baru yang bisa dibilang sangat jauh dari dirinya. Dan juga, Devan selalu memasang raut sedih setiap kali tengah sendiri.
Ini bukan kali pertama Airin melihat Devan dengan ekspresi yang sama.
Seolah ada sesuatu yang ia simpan di hati.
"Nggak tahu. Mungkin akan menyusul pak Muji ke ladang," sahut Devan.
Kursi kayu di bawah pohon belimbing di halaman rumah Airin, sekarang menjadi tempat ternyaman bagi Devan menghabiskan waktu santai.
"Gimana kalau kita ke pantai aja?" tawar Airin antusias.
"Pantai? Di sekitar sini? Memang ada?"
"Ada, kok. Deket nggak nyampe lima belas menit perjalanan."
"Oh, ya? Tapi, mau naik apa? Motor kan di bawa bapak."
"Itu." Airin menunjuk kendaraan beroda yang terparkir di samping rumah.
"Naik sepeda? Boncengan?" tanya Devan tidak percaya. Kapan terakhir kali ia mengayuh sepeda?
Mungkin sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu, saat adiknya belum lahir ke dunia.
Sekali lagi Airin mengangguk antusias.
"Iya."
Kebalikannya, Devan justru menggeleng kuat.
Naik sepeda, berboncengan dengan Airin? Nanti orang-orang pasti menganggap mereka berpacaran.
"Ayolah. Mas Devan belum pernah kan ngerasain serunya sepedaan di atas pasir?"
Bujuk Airin tanpa henti. Yang akhirnya membuat Devan menganggukkan kepalanya juga.
"Yes!"
Serunya kemudian segera berlari mengambil sepeda yang catnya mulai mengelupas.
***
Langit hari itu begitu cerah. Biru, sebiru air laut yang terhampar di sejauh mata memandang.
Devan menggumam, terpesona akan keindahan alam yang tersaji di hadapan.
"Indah banget, kan?"
Setelah mengucapkan kalimat itu, tanpa menunggu respon dari Devan, Airin segera berlari. Menghambur ke arah gulungan ombak yang langsung menerpa kakinya.
Tangannya terbuka, siap menyambut ombak yang lebih besar. Tak peduli seluruh pakaiannya basah, gadis itu mengulanginya lagi.
Tawanya selalu pecah tiap kali gulungan ombak itu datang.
Devan menggeleng, yang di hadapannya kini bukan seperti gadis berusia dua puluh satu tahun, melainkan bocah yang masih suka bermain.
Pria itu mendekat, berniat untuk memberi tahu Airin bahwa dirinya akan menunggu dia di sebuah warung di sekitar sana. Namun, semua terjadi di luar rencana. Airin justru menarik ujung pakaian yang Devan pakai dan membuat pria tersebut jatuh tercebur ke dalam air yang terus bergerak.
"Airin!"
Seru Devan kemudian bersiap untuk mengejar Airin yang sudah lebih dulu lari menjauh.
Dan pemandangan yang terlihat adalah sepasang manusia dewasa, berlarian, berkejaran di atas lembutnya pasir pantai. Menciptakan jejak jejak kenangan yang untuk selanjutnya tersapu ombak yang datang.
"Iya, mas. Ampun ...ampun..." pinta Airin memohon, begitu langkahnya telah terkejar.
"Nggak ada ampun, ya."
Devan mengambil air menggunakan tangan, lalu menyiramkannya ke arah Airin.
Tentu saja Airin tidak tinggal diam, ia pun melakukan hal yang sama. Hingga keduanya basah kuyup.
Sesekali tawa renyah keluar dari bibir keduanya.
Matahari beranjak naik. Sinarnya terik, membuat air laut berkilauan.
"Mau dalam hal apapun, kamu tetap kalah dari saya," ujar Devan di sela sela ia mengatur napas.
"Jangan senang dulu. Lain kali, kita harus beradu untuk sesuatu yang aku jagokan."
Keduanya kini tengah berbaring di atas pasir, dengan rerimbunan pohon cemara yang melindungi mereka dari sinar UVA.
"Nggak nyangka besok kita udah nggak di sini lagi."
Airin menoleh ke arah samping, menatap siluet Devan yang sedang lekat menatap langit.
Dari sana Airin bisa melihat lekuk wajah Devan yang begitu menawan. Dahi yang bidang, hidung mancung, serta bibir yang seksi.
Benar benar pemandangan yang memukau.
Gadis itu menggeleng. Lalu segera membuang muka.
Mikir apa dia! Bagaimana bisa dia berpikir kalau Devan itu tampan!
Ah, pikirannya sudah terkontaminasi dengan sudut pandang Nina.
"Perasaan ini kampung, kampung asal aku, deh. Yang berniat mudik dan ketemu keluarga juga aku. Kenapa sekarang, jadi kayak mas Devan yang seperti merasa sedih gitu?" Ujar Airin begitu berhasil mengembalikan fokus.
Devan berdecih sebal.
"Memangnya kenapa? Apa masalahnya kalau saya merasa sedih saat harus meninggalkan tempat ini?"
"Ya, nggak apa-apa, juga. Cuma aneh aja."
Devan menarik napas dalam sebelum melanjutkan kalimat.
"Karena di tempat ini saya menemukan diri saya yang berbeda. Di sini, saya seperti terlahir kembali menjadi pribadi yang lebih baik. Banyak cinta bertebaran yang sebelumnya tidak pernah saya rasakan."
Airin mendengarkan.
Gadis itu yang menatap wajah Devan meski dari arah samping, bahkan bisa nampak dengan jelas ada gurat kesedihan di wajahnya.
Se kelam itu kah kisah dalam hidup Devan?
"Nggak usah menatap saya dengan tatapan melas seperti itu. Saya bukan orang yang pantas buat kamu kasihani. Kasihanilah hidupmu sendiri yang masih belum bebas dari jeratan kebutuhan ekonomi," ungkap Devan secara tiba-tiba.
Seketika, membuat perasaan Airin terjun bebas.
Airin mencebik. Kemudian segera menarik kata-kata dalam pikirannya yang beberapa detik lalu merasa kasihan pada Devan yang kekurangan kasih sayang.
"Orang seperti kamu memang nggak pantas buat dikasihani!"
Segera gadis itu beranjak pergi. Malas sekali kalau harus menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan pohon pisang seperti Devan.
Punya jantung tapi tak punya hati!
"Dasar nggak tahu diuntung, memang! Di kasih hati malah melunjak!" Airin masih mengomel panjang pendek.
"Hey! Saya masih bisa dengar!" Seru Devan yang berjalan di belakang.
"Bodo amat." Sahut Airin meski dengan suara lirih.
Ia tidak berniat untuk meneruskan perdebatan mereka hingga di bawa sampai rumah.
Makanya gadis itu memilih untuk berjalan lebih cepat, tidak membiarkan Devan menyejajari langkahnya. Juga tidak menanggapi ocehan Devan yang seolah sengaja ingin menarik perhatiannya agar kembali berdebat.
Airin malas. Seribu persen malas kalau sampai orang-orang di desanya melihat ia dan Devan seolah dekat. Dan memiliki hubungan yang lebih.
***
"Jadi kalian ikut pemberangkatan malam ini, nak?" tanya pak Muji selepas selesai menyantap hidangan makan malam.
Airin mengangguk.
"Iya, pak. Besok Rin harus masuk kerja. Rin cuma bisa dua hari di kampung karena memang memanfaatkan jatah libur bulanan. Rin kepikiran sama bapak sama ibu. Makanya pulang, walopun cuma sebentar."
"Iya, ndak apa-apa. Sebentar juga bapak sama ibu seneng ditengoki kamu, nduk."
"Lagian hape kamu kemana toh, nduk? Kok wis semingguan dihubungi susah? Rusak opo piye?" sambung ibu Laksmi yang seketika membuat Airin dan Devan terdiam.
Keduanya saling bertukar pandang. Saling beradu pelototan tajam.
'salahmu sih!'
'loh? Kok saya?"
'Nggak usah sok polos! Kamu yang udah sita hape aku!'
'Bukan salahku. Itu kan memang salahmu.'
Devan mengendikkan bahu di akhir kalimatnya.
Begitu kira-kira percakapan yang tersirat dari sorot mata keduanya.