1

2515 Kata
Apa yang sebenarnya paling ditakuti oleh manusia?  Masa lalu? Masa depan? Atau, lebih dari itu?  Sesuatu yang jauh dari jangkauan mereka. Yang tak bisa tersentuh oleh tangan, namun bersinggungan dengan takdir yang mereka jalani.  *** Perjalanan tak seberapa jauh itu ternyata cukup melelahkan bagi Bintang yang memang jarang sekali keluar kandang. Selepas berbenah barang bawaan, gadis itu memilih untuk beristirahat sejenak. Menenggelamkan wajahnya pada bantal empuk yang sudah tersedia di masing-masing kamar dalam villa.  "Bi, yakin nggak mau ikutan?" tanya Rasti sekali lagi. Barang kali rekan sesama perempuannya itu berubah pikiran.  "Enggak. Kamu jalan aja sama yang lain. Aku nggak apa-apa kok sendiri di sini." Bintang menjawab tanpa menoleh. Matanya terasa berat sekali ingin segera terlelap dalam mimpi.  "Oh. Ya udah kalau gitu. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi kita, ya. Kita nggak jauh-jauh kok, jalannya. Cuma di sekitar sini aja."  "Ok!"  Bintang mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi, dan masih dengan posisi yang sama.  Setelah selesai mengikat rambut dan mengenakan syal, Rasti mulai beranjak dari kamar.  "Aku keluar!" teriaknya sebelum benar-benar pergi.  Rencananya, ia akan beristirahat sebentar untuk meluruskan tubuhnya yang terasa pegal, namun ternyata, Bintang tertidur cukup pulas hingga tak sadar waktu sudah menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh lima menit.  Sambil menguap beberapa kali, gadis itu turun dari ranjang. Melihat sekeliling masih sepi, ia berinisiatif untuk menyusul rombongan keluar.  Menjelang malam, cuaca di sekitar villa menjadi semakin dingin.  Bintang merapatkan jaket setibanya ia di teras.  Senja.  Masa transisi dimana siang terang hendak digantikan gelap malam. Pada masa itu, langit berwarna kemerahan.  Kebanyakan orang-orang tua di Jawa menyebutnya, Sandekala.  Yang berasal dari dua kata yaitu, sande atau sanes yang berarti bukan dan kala, yang artinya waktu.  Jika digabungkan, maka makna dari kata Sandekala adalah bukan waktunya. Alias, bukan waktunya seseorang untuk keluar rumah.  Di masa transisi itu, seharusnya semua anggota keluarga berada di dalam rumah. Menutup seluruh pintu dan jendela, kala waktu maghrib menjelang.  Bintang semakin merapatkan jaket yang ia kenakan. Kali ini dingin yang ia rasa, terasa berbeda.  Beberapa kali ia mengusap tengkuk. Merasa tak nyaman dengan situasi ini.  Ingin kembali, tapi di mana teman-temannya? "Ponsel mana, ya?" Gadis itu geragapan, mencari ponsel yang ternyata tak sengaja ia tinggal di atas meja dalam kamar.  Keluarga Bintang sendiri, termasuk dalam orang-orang yang percaya bahwa berada di luar rumah ketika waktu maghrib tiba adalah sesuatu yang tidak baik.  Meski sempat ragu, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke dalam.  Namun, belum genap lima kali kakinya melangkah, di ujung lorong yang menuju ke arah antara dapur dan kamar mandi, selintas bayangan berkelebat begitu cepat.  Bintang bernapas lega. Akhirnya ia bisa menemukan rombongannya.  "Rasti. Kalian kemana aja, sih?"  Sambil berjalan mendekat, Bintang menggerutu.  Ia pun sudah bertekad dalam hati untuk memberi mereka hukuman karena telah meninggalkan nya sendirian.  "Ras?"  "Rasti kamu di dalam, kan?" Perasaan nya mula was-was ketika yang dipanggil tak kunjung memberi jawaban.  Langkahnya melambat, ketika ia sudah melewati dapur namun tidak ada satu orang pun yang ia temu di sana.  "Rasti, jangan bercanda, deh! Nggak lucu, tau!"  "Indra! Bang Fa'i! Faris!"  Takut juga penasaran bercampur menjadi satu.  Ingin mundur, tapi sudah kepalang tanggung. Tinggal selangkah lagi untuk mencapai pintu kamar mandi, dan dia akan tahu bayangan siapa yang dia lihat tadi, dan siapa yang sebenarnya tengah mengerjainya sampai seniat ini.  Suara keran yang semula berbunyi, mendadak diam ketika tangan Bintang menyentuh gagang pintu kamar mandi.  Seraya merapal do'a, gadis itu memberanikan diri membuka pintu kamar mandi. Napasnya tercekat. Tangis pecah seketika itu juga. Sambil jongkok, gadis malang itu menutupi wajahnya menggunakan telapak tangan.  Dan dalam tangisnya, seseorang menyentuh pundaknya, membuatnya jantungnya semakin berdebar hebat. "Bintang, kamu kenapa?"  Seketika Bintang menoleh, kemudian segera memeluk seseorang di belakangnya begitu melihat itu adalah Rasti.  "Kalian kemana aja? Aku takut sendirian!" Protes Bintang di tengah tangisannya.  "Kami ada di ruang tengah dari tadi. Justru kami yang bingung, pas aku cek kamu di kamar, kamunya nggak ada. Makanya, aku minta Indra, bang Fa'i sama Faris buat cari kamu. Iya kan, Indra?"  Indra mengangguk mengiyakan.  "Iya, Bi. Kami dari tadi cariin kamu. Kamu dari mana aja, sih?"  "Aku tadi cari-cari kalian sampai halaman depan, tapi nggak ada satupun dari kalian yang aku temui. Sampai tadi aku lihat ada yang lewat, aku pikir itu salah satu dari kalian, makanya aku kesini," terang Bintang menjelaskan.  "Sudah, sudah. Yang penting semuanya sudah kumpul. Sekarang, mendingan kita sholat dulu. Belum pada sholat, kan?" tanya Rifa'i.  Yang lainnya menggeleng.  "Ya sudah, sekarang kita ambil wudhu bergantian. Nanti kita sholat jamaah di kamar kosong di sebelah kamar cowok, ya. Di situ kayaknya lega kalau perabotannya di sisihkan sementara di pinggir."  Perintah Rifa'i dan langsung dijalankan para anggota rombongan tanpa banyak pertanyaan.  Satu persatu dari mereka mengantre mengambil air wudhu. Faris di urutan pertama, disusul Bintang, kemudian Rasti, dan Rifa'i yang berada di urutan paling belakang. Mengikuti arahan dari Rifa'i, baik Indra maupun Faris keduanya sigap memindahkan barang-barang ke pinggir tembok.  Memberi ruang uang cukup luas di tengah kamar untuk mereka beribadah.  "Sudah semua?" Tanya Rifa'i sebelum memulai sholat.  "Sudah, bang." Jawab mereka serentak.  Ibadah sholat Maghrib kala itu dilaksanakan dengan khidmat. Masing-masing dari mereka dengan khusyuk memanjatkan do'a-do'a dan harapan.  *** "Bang, aku nggak nyaman, deh, di sini," ungkap Bintang. Terus terang, pengalaman mengerikan seperti yang baru saja ia alami, membuat pikirannya tak tenang.  "Tapi ini udah malam, Bi. Susah cari penginapan yang murah di jam segini. Lagi pula, sayang banget kalau kita tinggalin dan cari penginapan lain. Villa ini udah abang bayar full sampai tiga hari ke depan."  Sedikit kecewa mendengar penjelasan Rifa'i, namun Bintang mencoba untuk dewasa dan tidak berpikir egois.  Lagi pula, kejadian tadi bisa jadi karena tubuhnya yang sedang kelelahan sehingga timbul halusinasi.  "Kamu nggak usah kuatir ya, Bi. Kalau kamu takut, aku bersedia kok, jagain kamar kamu sama Rasti."  Alis Bintang bertaut mendengar penyataan Faris.  "Maksudnya apa, nih?" Sergah Indra tak terima.  "Ya, aku cuma mau jagain mereka. Apa salahnya?"  "Ya salah, lah! Sejak kapan kamu jadi pahlawan kesiangan gini?"  Rifa'i memutar bola mata, jengah. Mulai lagi perdebatan di antara dua bocah itu. "Mau kesiangan, kesorean, kek, itu bukan urusan kamu, Ndra. Nggak usah sok ngatur." "Oh, ya jelas aku harus ngatur. Aku merasa punya hak untuk memberi batas siapa saja yang bisa dekat sama Rasti."  Kalimat Indra yang terakhir membuat Rasti tercenung. Ada sesuatu yang menyentil perasaannya.  Kenapa Indra mengatakan hal seperti itu lagi?  *** Sang Surya mulai meredup. Menyisakan cahaya kemerahan di ufuk barat. Para warga, pria wanita, anak anak maupun dewasa berbondong bondong menuju satu arah, begitu kumandang adzan mengudara. Anak anak berjalan bergerombol sambil membicarakan entah apa. Beberapa dari mereka bahkan dengan susah payah menyingsing sarung sambil berlarian. Asyik bermain kejar-kejaran. Di belakang mereka, Devan memandang takjub. Rasa kekeluargaan dan tenggang rasa di kampung masih amat terasa. Anak anak bebas bermain tanpa batasan, tanpa ada larangan dengan siapa mereka bergaul. Semua sama, tidak ada pembeda. "Ndak nyangka, besok sudah ndak bisa ketemu mas Devan lagi." Devan hanya tersenyum menanggapi ucapan Bayu yang tiba-tiba saja berjalan bersisian dengannya. "Nanti kalau ada waktu sering main ya," pintanya kemudian. "Saya juga sebenernya masih betah di sini, pengen lebih lama lagi. Tapi mau gimana lagi, banyak pekerjaan yang harus saya urus.  Saya pasti akan datang lagi ke sini kalau ada kesempatan. Pasti." "Benar, ya? Saya pasti akan tagih janji mas Devan hari ini." Keduanya kemudian tertawa dan saling berangkulan. Berjalan bersama pada satu tujuan, menghadap Tuhan. Airin tersenyum haru melihat pemandangan yang berjarak sekitar lima meter di hadapannya. Devan, meskipun lebih tinggi dari Bayu namun, sifatnya yang terkadang masih sangat egois dan kekanakan, sangat pas jika di padukan dengan karakter Bayu yang tenang dan tidak berpikir gegabah. Kedua lelaki di hadapannya itu, seolah cocok jika disebut sebagai kakak adik.  Postur yang hampir sama, meski jelas Devan memiliki kulit yang lebih bersih dan terawat. Namun keduanya memiliki bentuk bahu yang sama. Jenis bahu yang nyaman untuk dijadikan sandaran. 'apa? Sandaran?" Airin menggeleng cepat. Bisa-bisanya dia membayangkan bersandar di bahu Devan hanya karena melihat betapa lebarnya punggung Devan jika di lihat dari belakang. Apalagi saat ini, ketika Devan mengenakan pakaian yang berbeda dari biasanya. Menggunakan sarung dan baju koko yang ia pinjam dari pak Muji, membuat auranya semakin terpancar. Lagi-lagi Airin menggeleng. Tidak setuju dengan pemikirannya yang mengagumi setiap bentuk tubuh yang dimiliki Devan. "Dia terlalu arogan untuk mendapatkan pujian." Celetuk Airin mengingkari penilaian nya sendiri. *** "Apa tidak terlalu berlebihan, bu?" Airin nampak mengerucutkan bibir. Sementara yang diajak bicara tetap bersikap santai. Tersenyum sambil masih terus melanjutkan aktifitas nya. "Ndak ada yang namanya berlebihan buat sebuah kebaikan," jawab Laksmi santai. "Iya. Tapi, kan, lihat dong siapa yang lagi ibu baikin. Mas Devan itu nggak sebaik kelihatannya, tau!" sanggah Airin cepat. Gadis itu masih ingat kejadian sepulang dari mushola tadi. Bagaimana Devan mengerjainya. Dia pikir, ketika pria itu mengatakan ingin memberikan sesuatu, maka yang terlintas di benaknya adalah hal hal romantis. Apa lagi ketika Devan memintanya untuk menutup mata. Hatinya sudah berbunga-bunga memikirkan hal hal indah. Masih di jalan pulang, Devan menuntun Airin yang matanya ditutup dengan bawahan mukena. "Sebentar lagi sampai," katanya saat itu ketika Airin mulai tak sabar. "Mau ke mana, sih?" Tak lama setelah Airin mengatakan kalimat itu, langkah Devan berhenti. "Sudah sampai." Airin tersenyum, bersiap untuk membuka mata. "Sudah boleh buka mata?" "Tunggu saya hitung mundur sampai hitungan ketiga," tahan Devan. "Bersiap ya... Satu... Dua... Tiga!" Sungguh! Sangat konyol sekali bagaimana Airin bisa semudah itu percaya pada Devan. Karena yang ia lihat selanjutnya, bukan taman penuh cahaya dan bunga, melainkan perkebunan yang dipenuhi rerumputan dan sama sekali tidak ada penerangan. Bahkan, lelaki yang membawanya kemari pun sudah tak ada. "Devan!" Airin menjerit geram. Kemudian segera berlari meninggalkan tempat mengerikan itu. Bayangkan saja, di waktu sandekala dia berdiri seorang diri, di tengah kebun dengan banyak pohon menjulang tinggi. Dalam langkah yang dia buat secepat mungkin, Airin mengumpat panjang lebar. Memikirkan pembalasan seperti apa yang akan dia berikan untuk Devan. Huft. Airin mengatur napas. Kalau mengingat kejadian sore tadi, rasa kesal dan ingin membalas jadi semakin menggebu. "Ndak ada yang berlebihan untuk sebuah kebaikan, Nduk." Airin bersedekap. "Ibu nggak tahu sih, gimana sebenarnya mas Devan itu." Bu Laksmi menyentuh punggung tangan Airin. Coba memberikan pemahaman yang tulus. "Nduk, membalas kebaikan orang yang berbuat baik kepada kita itu adalah hal yang biasa. Tapi, berbuat baik kepada mereka yang bahkan seringkali membuat kita kecewa, sakit hati, itu baru luar biasa." Gadis itu mencoba memahami meskipun sebenarnya hatinya masih sangat jengkel. "Sudah jam berapa ini?" Airin melongok ke arah jam dinding yang bertengger di atas pintu utama. "Jam tujuh." Sahut Airin. "Ya sudah, mending sekarang kamu siap-siap, Rin. Bis berangkat jam delapan, kan?" "Tapi masih kangen," rengek Airin sambil memeluk bu Laksmi manja. Wanita tua itu mengelus puncak kepala anak gadisnya dengan penuh kasih sayang. "Sekarang kamu harus berangkat. Ada kewajiban yang menanti untuk diselesaikan. Nanti, kalau sudah waktunya berhenti bekerja, bisa jadi kamu akan merindukan masa masa sekarang." Airin mendongak. Ingin melihat wajah sang ibunda sekali lagi. "Nanti kalau Rin ada rejeki lebih, Rin belikan hape baru yang lebih canggih ya, bu. Biar bisa tiap hari liat wajah ibu." "Iya. Sekarang siap-siap dulu, yah. Kamu harus bekerja biar bisa mewujudkan keinginan kamu itu." "Siap!" Setelah itu Airin segera bergegas. Menyiapkan barang bawaan yang sudah sejak sore ia kemas rapi dalam sebuah tas besar. Di luar, Devan yang memang tidak membawa apa-apa, terlihat sedang duduk santai sambil bercengkrama ringan dengan pak Muji. Mengenakan setelan jas yang ia pakai di malam itu, Devan terlihat seratus kali lebih menawan di bawah sinaran rembulan. Juga senyum yang tak lepas dari wajahnya. "Pak, Rin mau berangkat ke Jakarta lagi," ucap Airin, memotong pembicaraan dua lelaki tadi. "Iya, Nduk. Sing ati-ati kamu di sana. Jangan suka keluyuran malam. Pulang kerja harus langsung balik ke kontrakan. Ya?" Nasihat pak Muji. "Siap, pak!" Airin mengangkat tangan kanan sambil menghentakkan kaki, berpose selayaknya prajurit yang hormat pada atasannya. "Ya sudah, pak, bu, kami pamit berangkat dulu. Takut kemalaman nanti nggak kebagian kursi." "Iya, nak Devan. Bapak minta tolong, titip Airin di sana, jagain dia buat bapak, ya?" Airin dan Devan saling bertukar pandang begitu mendengar pesan pak Muji. "Insya Allah, pak. Saya nggak bisa..." "Tolong, nak Devan. Nak Devan harus janji untuk menjaga Airin anak gadis kami. Cuma nak Devan laki-laki di lingkungan Airin sana yang kami kenal dan kami percaya, nak Devan anak yang baik. Tolong, nak, berjanjilah." Devan mengusap tengkuk. Merasa bingung dengan permintaan pak Muji yang seakan membebani punggungnya. Namun meski begitu, pada akhir nya lelaki itu mengangguk juga. Rasanya sulit sekali untuk menolak permintaan lelaki tua itu, apalagi ketika melihat tatapan matanya yang penuh harap. "Iya, pak. Saya janji untuk menjaga Airin untuk bapak dan ibu." "Alhamdulillah... Kalau begini, hati bapak jadi tenang melepas kalian berdua kembali ke Jakarta." "Ya sudah, kami pamit ya, pak, bu." Devan mencium tangan pak Muji dan bu Laksmi dengan penuh rasa hormat. Bergantian dengan Airin di belakangnya. "Nak Devan." Panggil bu Laksmi sebelum keduanya benar-benar pergi. "Ini, ada bekal buat nak Devan di perjalanan. Dimakan, ya. Jangan sampai perutnya kosong, nanti masuk angin." Bu Laksmi mengingatkan. Devan tersenyum. Matanya jadi segaris ketika bibirnya tertarik ke atas. "Terima kasih banyak, bu. Untuk perhatian nya selama saya di sini." "Sama-sama, Nak. Nak Devan sudah seperti anak bagi kami. Jangan segan untuk datang kembali lagi ke sini ya, Nak. Pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk Nak Devan." Devan mendongak. Menghalau agar air matanya tak sampai menetes. "Bu, boleh saya peluk ibu?" Pintanya dengan suara yang teramat lirih. Namun cukup untuk sampai di indera pendengaran bu Laksmi yang saat ini masih berdiri di hadapannya. "Boleh, Nak. Sini, peluk ibu." Tanpa menunggu diperintah dua kali, Devan segera menghambur pada dekapan bu Laksmi yang sebelumnya sudah merentangkan tangan. Siap menyambut pelukan Devan. Dalam dekapannya, air mata itu lolos juga. Tak mampu rasanya Devan menahan gejolak rasa dalam hati, saking bahagianya ia dapat memeluk sosok yang sangat ia rindukan selama ini. "Ya sudah, kalian harus berangkat sekarang. Sudah malam. Jangan sampai kalian kehabisan kursi." Pak Muji memotong suasana haru antara dua hati yang telah lama terpisah. Membuat Devan terpaksa harus segera melepas pelukannya. "Biar Bayu sama bapak yang antar kalian ke terminal. Nggak usah naik ojek, sayang ongkos." Bayu datang pada waktu yang tepat. Sesaat sebelum keduanya berangkat. "Kendaraannya? Bapak kan cuma punya satu motor?" Tanya Airin bingung. Tidak mungkin kan mereka bonceng bertiga? "Itu." Bayu menoleh ke arah belakang, sambil menunjuk sebuah kendaraan beroda dua yang terparkir di halaman. "Sepulang dari Mushola tadi Bayu langsung pergi buat pinjam motor milik pak RT. Dan Alhamdulillah pak RT mengijinkan." "Syukurlah. Bapak kira kamu kemana dari tadi ndak kelihatan, Yu." "Bayu ingin mengantar kepergian adik Bayu yang paling cantik ini, pak. Bayu ingin setidaknya berbuat sesuatu untuk Airin yang sudah dengan rela hati bekerja keras demi keluarga." "Mas Bayu." Seru Airin terharu, kemudian bergelayut manja pada bahu Bayu. "Ayo, berangkat." Pak Muji sudah bersiap di atas kuda besi kebanggaan. Memberi isyarat pada Airin agar segera menaiki jok di belakangnya. Sementara Devan, berboncengan dengan Bayu. Keduanya asyik bercengkrama selama di perjalanan. Malam itu, ditemani nyala bintang dan bulan dengan perasaan rela Airin pergi demi sebuah cita-cita. Siap menampung rindu yang akan segera memenuhi hatinya mulai dari detik ia melangkah kan kaki keluar dari kampung halaman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN