2.

2686 Kata
Ketika pikiran merasa tak tenang, maka mata pun akan terasa sulit sekali terpejam.  Begitulah yang saat ini tengah Rasti alami.  Entah sudah berapa kali ia coba memejamkan mata, berharap dapat segera terlelap dalam buaian mimpi.  Namun sayang, kantuk yang ia damba kali ini tak kunjung datang.  Gadis itu sekali lagi melirik jam di atas meja.  Sudah hampir pukul sepuluh. Di luar, angin berembus cukup kencang. Menerbangkan gorden kamar melalu celah celah jendela.  Momen yang pas sebenarnya untuk bergumul dalam selimut.  Seperti yang sedang teman kamarnya lakukan. Bintang bahkan sudah sejak sore bersembunyi dalam selimut, sebelum para laki-laki masuk ke dalam kamar mereka.  Mereka, tidak diizinkan untuk tidur sebelum Bintang benar-benar terlelap. Katanya, untuk berjaga-jaga.  Sebenarnya, Rasti juga sudah menemani Bintang di kamar sejak pukul sembilan, setelah mereka menghabiskan santap malam.  Tapi entahlah, sudah berapa kali ia berusaha untuk tidak memikirkan apapun, tapu justru ia semakin tak bisa mengosongkan pikirannya.  Akhirnya, gadis itu pun mengalah pada mata yang mengkhianati dirinya sendiri.  Memakai sweater rajut kebesaran, gadis itu keluar kamar.  Menghirup udara segar mungkin dapat sedikit membantu merilekskan otaknya.  Duduk bertengger dengan dua kaki di atas kursi rotan, Rasti menggunakan kedua lututnya untuk menyangga kepala.  "Belum tidur?"  Gadis itu menoleh. Kemudian tersenyum begitu melihat siapa yang datang.  "Belum, bang. Abang sendiri, kenapa belum tidur?" Rifa'i berjalan menghampiri, ikut duduk pada kursi di samping Rasti lalu meletakkan nampan kecil berisi dua cangkir minuman hangat yang masih mengepulkan asap.  "Niatnya sih, mau. Tapi tadi pas balik dari toilet, abang liat kamu jalan keluar sendirian. Kenapa? Ada yang dipikirin?"  Meski terasa canggung, gadis itu menggeleng.  Bagaimana dia bisa menjawab, ia sendiri tak mengerti apa yang tengah dirinya rasakan saat ini.  "Mikirin Indra?" tanya Rifa'i tepat sasaran. "Apa sih, Bang? Indra mulu, deh," elak Rasti, meskipun usahanya jelas sia-sia.  Berapa tahun sih, mereka saling mengenal? Tentu bukan hal yang sulit bagi Rifa'i untuk mengetahui kapan gadis di hadapannya itu berkata bohong, atau sedang jujur.  Mereka memang se dekat itu.  "Di minum wedang nya."  Dibandingkan meneruskan obrolan yang sudah jelas mengarah ke mana, Rifa'i lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan.  "Ini namanya wedang uwuh! Terbuat dari rempah alami pilihan yang sudah di keringkan. Praktis. Kita tinggal seduh pakai air panas, sudah," jelas Rifa'i menerangkan setelah menyeruput dua kali wedang uwuh miliknya.  Mengikuti Rifa'i, Rasti turut menyicipi minuman herbal kekinian yang kini tengah digandrungi banyak masyarakat milenial. Selain manfaatnya yang bagus untuk menghangatkan tubuh, proses penyajian nya yang praktis dan ekonomis pun jadi faktor utama minuman ini jadi pilihan banyak konsumen.  "Iya deh, Bang. Seger. Badan jadi angetan."  "Kan, apa abang bilang? Abisin minumannya, terus tidur. Besok pagi kita pergi ke rumah Bintang." Rifa'i hendak beranjak dari duduknya, saat suara Rasti tiba-tiba menghentikan langkahnya.  "Bang. Menurut bang Fa'i, sebenarnya Indra suka sama Bintang nggak, sih?"  Akhirnya setelah sekian lama berusaha ia pendam, pertanyaan itu keluar juga dari mulut Rasti.  Sebelum berbalik, Rifa'i menyunggingkan senyum. Telah menduga, apa yang kini tengah mengganjal pikiran gadis yang telah ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri itu, hingga membuat matanya sulit terpejam.  "Nggak ada yang tahu soal hati, Ras. Hari ini mungkin kamu sedang cinta mati pada seseorang, tapi besok bisa jadi kamu membenci se benci bencinya. Maka, pesan abang, cinta seseorang sewajarnya. Jangan jadikan orang lain sebagai sumber kebahagiaan kita, sehingga ketika orang itu pergi, kita sampai lupa caranya tersenyum."  Rifa'i menahan napas. Kembali duduk di samping Rasti. Menggenggam tangannya, memberi pengertian setulusnya.  "Abang sudah melewati itu, Ras. Ditinggal orang yang telah abang jadikan sumber kebahagiaan itu rasanya sakit tak terperi. Lukanya tak nampak, tapi duka tak pernah sirna dari hati abang. Abang kehilangan selera untuk tersenyum. Abang lupa caranya tertawa. Yang ada, semua kehidupan abang terasa hambar." "Kak Mutia?"  Sejenak suasana hening. Hanya terdengar suara binatang malam yang saling bersahutan. Gerimis tadi sore, menyisakan udara semakin dingin menusuk tulang.  Rasti merapatkan pakaian yang ia kenakan. Sepenuh hati menatap Rifa'i. Menunggu jawabannya.  "Awalnya sulit sekali untuk bisa kembali hidup setelah berpisah lama dengan Mutia. Wajar saja abang kecewa saat pada akhirnya takdir tak mengijinkan kita bersama. Bukan salah takdir, padahal. Tapi karena abang yang terlalu menaruh besar harapan pada hubungan kami yang saat itu bahkan belum memiliki status apapun. Semuanya, kekecewaan yang besar ini sebenarnya adalah salah abang sendiri."  "Sabar ya, bang. Bang Fa'i pasti bisa lewati ini semua."  Rasti terpaku. Pengalaman hidup yang dijalani Rifa'i rupanya jauh lebih rumit dari dirinya.  "Abang sudah belajar banyak hal. Sekarang waktunya abang untuk berpikir lebih bijak lagi. Dan mengambil hikmah dari setiap kejadian yang telah abang lewati. Berusaha menjadi manusia yang berguna bagi manusia lain, sepertinya itu lebih baik."  Rifa'i terdiam sejenak. Menatap lekat lawan bicaranya.  "Begitu juga kamu, Ras. Kamu, Indra, dan Bintang masih terlalu muda. Jangan terpaku pada satu hal yang justru merugikan dirimu sendiri. Jangan jadikan pasangan sebagai sumber kebahagiaan kamu. Bahagia lah untuk dirimu sendiri. Cintai dirimu lebih dari kamu mencintai orang lain. Hargai perasaanmu, jangan melulu berkorban demi menjaga hati orang lain. Ingat, kamu berhak bahagian dengan caramu. Jangan terpaku pada hubungan yang bahkan belum jelas akan dibawa kemana. Kamu harus bahagia dengan dirimu sebagai alasannya, bukan orang lain."  Rasti tersenyum tulus. Merasa puas dengan jawaban yang Rifa'i berikan. Entah bagaimana caranya kalimat kalimat itu bekerja, yang jelas saat ini hatinya merasa lebih lega. Seperti beban berat yang selama ini menumpu di hatinya, lepas begitu saja. Perasaannya jadi ringan, tak lagi terbebani.  "Makasih ya, bang. Buat konseling nya malam ini. Perasaan ku jadi lega banget, bang. Ah, aku berhutang budi ini sama abang."  "Mungkin bisa kamu balas dengan mentraktir abang makan siang, nanti. Abang tau rumah makan padang yang enak di sekitar sini."  "Oke. Setuju!" Jawab Rasti mengiyakan. Kemudian menyeruput wedang uwuh hingga tandas tak bersisa.  Gadis itu hendak beranjak masuk saat tiba tiba suara Rifa'i menginterupsi langkahnya.  "Oh, ya. Soal pertanyaan kamu tadi..."  Rasti menoleh sambil mengernyitkan dahi.  Ia bahkan sudah lupa dengan pertanyaan yang dia buat sendiri.  "Se pengelihatan abang, Indra nggak cinta sama Bintang. Beda kok cara Indra liat kamu sama ke Bintang. Bocah itu, mungkin cuma penasaran aja sama Bintang. Secara Bintang kan secara 'tampilan' dan tingkah laku juga berbeda dari temannya kebanyakan. Itulah mungkin yang bikin Indra tertarik. Tapi serius, deh. Rasa tertarik Indra ke Bintang cuma sementara aja. Nggak akan lama. Berbeda dengan hubungan kamu dan Indra yang memang sudah solid sejak kecil. Nggak usah terlalu dipikirkan ya, soal kedekatan mereka."  Kalimat pamungkas itu, melegakan Rasti yang berdiri sejajar dengannya. Namun, terasa menyakitkan bagi dia yang berdiri di balik pintu yang tak sengaja mendengar obrolan mereka.  *** Laju bus yang mereka tumpangi membelah jalanan. Rumah-rumah, pohon, dan apa saja yang berbaris di sisi jalan seolah bergerak. Menjauhi mereka. Sebagian penumpang memilih untuk merapatkan jaket yang dikenakan. Menghalau hawa dingin yang berusaha menyusup dan bergegas untuk memejamkan mata. Menghabiskan waktu diperjalanan dengan bermimpi, pilihan bagi sebagian banyak orang. Tapi tidak dengan Devan. Pandangannya lurus keluar kaca. Memerhatikan setiap detail bangunan yang dilewati. Lelaki itu terus terjaga. Seolah tak rela, kenangannya bersama kampung halaman akan berakhir begitu saja. "Kamu masih belum tidur?" Airin yang sudah terlelap sejak sepuluh menit awal keberangkatan terbangun saat bus yang mereka tumpangi tak sengaja melewati jalanan berlubang, sehingga menimbulkan guncangan kecil pada bus. Dan segera menyadari bahwa lelaki di sampingnya sejak tiga jam lalu masih berada pada posisi yang sama, dengan fokus yang sama. Menatap ke arah luar jendela. Yang ditanya tak memberi tanggapan sedikitpun. Hanya mengembuskan napas, kemudian membuang pandangan ke arah berlawanan, dan segera menutup mata dengan kedua tangan yang terlipat di d**a. "Dasar aneh!" Airin mencebik kesal, merasa diabaikan. Gadis itu tak tahu, ada yang coba Devan sembunyikan darinya. Yaitu air mata. Devan sendiri tak tahu, bagaimana ia yang dulu selalu bisa bersikap masa bodoh terhadap apapun, kini menjadi orang yang  menyedihkan. Dia menjadi seorang yang haus akan kasih sayang. Setelah bertemu dengan kedua orang tua dan keluarga Airin, Devan baru menyadari bahwa selama ini dirinya amatlah kesepian, kekurangan kasih sayang. Devan masih tergugu dengan mata terpejam. Berharap akan segera melupakan kesedihannya dengan tidur. Namun ternyata salah, rasa sakit itu masih terus menjalar hingga membuat dadanya sesak. Airin kehilangan kata, melihat bahu Devan yang bergetar. Ia yakin betul, lelaki yang tengah bersamanya kini sebenarnya tengah menyimpan luka. Airin sudah curiga sejak awal Devan menginjakkan kaki di kampung halamannya. Devan tampak tak biasa. Ia lebih mudah tersenyum, tapu juga seringkali melamun di kala sendirian. Tak tinggal diam, Airin menyelimuti tubuh Devan menggunakan jas milik lelaki itu yang sebelumnya digunakan untuk menyelimuti Airin ketika ia terlelap. "Mas Devan kedinginan. Mendingan mas Devan aja yang pakai ini," ucap Airin berpura pura tak tahu, bahwa sebenarnya lelaki itu tengah menangis. Tentu saja Devan tidak menjawab. Airin juga tak berharap banyak Devan akan merespon ucapannya. Hanya saja, ia rasa perlu untuk memberikan sedikit perhatian kecil pada lelaki itu. Di balik sikapnya yang dingin dan angkuh, Airin menyadari bahwa sebenarnya Devan hanya berusaha menutupi sisi lain dari dirinya yang kesepian dan membutuhkan teman. "Saya mau tidur. Tolong, jangan ganggu saya." "Iya." Setelah itu, keduanya larut dalam diam untuk waktu yang cukup lama. Menghabiskan waktu malam yang dingin dengan sepi. Airin yang sudah kehilangan rasa kantuknya, tak berani untuk sekedar menawarkan sebotol minuman pada Devan yang masih saja memejamkan mata. Meski Airin yakin, Devan sebenarnya tak benar benar tidur. *** "Makan selagi rasanya masih enak. Kalau sampai besok, nantinya keburu dingin dan basi." "Saya nggak lapar." "Mas Devan nggak bisa ya, menghargai pemberian orang? Itu ibu buat khusus loh, buat mas Devan. Se perhatian itu ibu sama mas Devan, tapi kamu malah begitu!" Omel Airin merasa kesal. Sejak tadi Devan hanya duduk terdiam dengan tote bag warna kuning berisi bekal yang tadi bu Laksmi bawakan untuknya. Lelaki itu sama sekaki tak menyentuh isinya, hanya memandangi bungkusan luar dengan tatapan entah harus bagaimana Airin mengartikannya. Membuat gadis itu merasa kesal karena usaha ibunya tak dihargai.  Airin jadi menyesal sekarang. Seharusnya dia lebih gigih untuk membatalkan niat ibunya membawakan bekal untuk lelaki itu. Ia berpikir mungkin Devan tak berselera karena itu adalah masakan kampung. Jauh berbeda dengan lidahnya yang terbiasa dengan hidangan ala western. Padahal bukan itu yang sebenarnya terjadi. Dalam diamnya, pikiran Devan berkecamuk sekarang. Baru kali ini lelaki itu mengalami, memutuskan untuk makan atau tidak bisa menjadi hal yang cukup sulit untuk ia putuskan. Di satu sisi, lidah sudah sangat rindu dengan cita rasa masakan yang bu Laksmi buat, meskipun baru sore tadi ia menyantap masakannya tapi, rasa itu seolah ingin kembali menyapa lidah. Namun sayangnya di lain sisi, Devan berpikir jika ia menyantap habis bekal makanan dari bu Laksmi, maka kenangan itu hanya akan sampai di sini. Tak tersisa untuknya lagi. Ia akan menjalani kehidupan seperti biasanya. Yang sepi dan membosankan. Monoton dan tak ada gairah. Tanpa aroma masakan yang hanya dengan mencium baunya saja sudah membuat napsu makannya meningkat drastis. "Saya makan nanti saja," kata Devan sambil segera berdiri dan pergi membawa bekal miliknya. "Hey!" Airin membuntuti dari belakang. Mereka sekarang sedang berada di rest area. Melewati jalur yang berbeda dari awal pemberangkatan, kali ini sang sopir bus yang mereka tumpangi memilih untuk menggunakan jalur bebas hambatan. "Tunggu!" Airin berteriak sambil berlari tanpa melihat jalan, sehingga ketika sosok yang ia kejar berhenti, wajahnya membentur punggung Devan yang kokoh. "Aduh!" keluhnya sambil mengusap dahi. "Ada apa?" "Mas Devan mau ke mana?" "Ke sana. Mau ikut?" Devan menunjuk ke arah bangunan yang berada di sudut area. Beberapa orang berlalu lalang keluar masuk tempat dengan plang 'Toilet Umum' dengan seorang penjaga di antara pintunya. Airin buru-buru menggeleng begitu tahu tujuan Devan. "Enggak! Aku tunggu di masjid aja," katanya sambil memamerkan barisan gigi yang rapi. "Yaudah!" "Eh, tapi..." "Apa lagi?" "Yakin mas Devan mau bawa itu ke dalam sana?" Pandangan Airin mengarah pada tote bag yang sedari tadi tak lepas dari tangan Devan. "Mh? Ini." Devan menyerahkan bekal miliknya pada Airin meski sempat ragu. "Titip, ya. Jangan di makan," pesannya kemudian. "Hey! Aku nggak se rakus itu!" Gadis itu mencebik. "Ya sudah sana pergi!" "Ya sudah." "Aku ke sana, kamu ke sana." "Iya!" Setelah puas berdebat, mereka akhirnya berpisah pada jalan yang berbeda. Meski dengan langkah yang tak sama, namun siapa sangka bahwa takdir tetap menuntun mereka untuk kembali bersama. *** Meski dini hari, tapi suasana masjid tetap ramai. Banyak para pengguna rest area yang menggunakan bangunan suci itu sebagai tempat beristirahat, selain untuk beribadah tentunya. Seperti yang sekarang sedang gadis itu lakukan. Airin memilih untuk beristirahat sejenak dengan menyelonjorkan kaki di pelataran masjid sambil menunggu bus yang mereka tumpangi selesai diperbaiki, setelah sempat mengalami kerusakan ringan di bagian pengereman. "Masih belum selesai?" Airin bertanya pada Devan yang tadi sempat pamit untuk mengecek kondisi kendaraan. "Belum," jawab Devan sambil mengacungkan salah satu botol minuman yang ia bawa. "Makasih." Airin menenggak minuman isotonik pengganti cairan tubuh. "Kasihan mereka," gumam Airin yang seketika membuat Devan mencari objek yang menjadi pusat perhatian gadis itu. "Bocah-bocah malang." "Andai aku bisa lakuin sesuatu buat mereka." "Lakuin apa? Hidupmu aja masih susah. Kamu masih harus bekerja keras untuk adik adik dan kedua orangtuamu." "Hey! Berbagi nggak perlu menunggu kaya dulu, kan? Lagi pula, berbagi itu nggak melulu soal uang." Sanggah Airin tak sependapat. "Lalu apa? Dengan senyuman? Sebuah senyuman nggak bisa buat mereka kenyang, asal kamu tahu!" Alih-alih membalas perkataan Devan, Airin memilih untuk tidak menghiraukan dan justru pergi menghampiri dua bocah yang terduduk lesu di bawah temaram lampu di depan toko yang sudah tak beroperasi. "Hai, dek." Sapa Airin pada dua bocah yang ia duga adalah kakak beradik. Devan yang menyusul Airin, ikut berjongkok di hadapan dua bocah bernasib malang tersebut. Tak menjawab, salah satu dari bocah itu justru memandang dengan tatapan tak suka pada Airin. Sementara satu lagi, tertidur dengan kardus sebagai alas, dan menjadikan kaki sang kakak untuk dijadikan bantal. "Kenalin, namaku Airin." Gadis itu mengulurkan tangannya. Namun sayang, lagi lagi bocah itu tak membalas jabatan tangannya. "Mhm... Oke. Nggak apa-apa kalau adek nggak mau kenalan." Airin masih berusaha untuk mengakrabkan diri. Sementara Devan yang mulai jengah melihat tingkah angkuh yang ditunjukkan bocah laki-laki itu, berusaha menarik tangan Airin untuk segera pergi dari sana. "Ayo, balik ke bis!" "Eh, tunggu dulu." Airin melepaskan pegangan tangan Devan dan kembali fokus pada dua kakak beradik tadi. "Dek, ini ada sedikit makanan buat kalian. Di makan, ya? Setelah itu, kamu tidur. Anak seusia kamu butuh istirahat yang cukup. Tidurlah yang nyenyak, dan besok kamu harus terbangun dengan mimpi yang ada di genggaman. Kamu harus kuat demi adikmu itu. Yakin esok, matahari akan bersinar lebih cerah. Secerah masa depanmu." Setelah meletakkan makanan tepat di samping bocah laki-laki yang berusia sekitar dua belas tahun, Airin menyelimuti adik kecil di pangkuannya dengan jas yang sedari tadi terlampir di pundak. "Semoga suatu saat kita bisa bertemu lagi dengan keadaan yang lebih baik." Airin menepuk pundak bocah itu sebelum benar-benar beranjak. "Kak Airin!" Teriak bocah itu pada akhirnya. Menghentikan langkah Airin yang hendak menyusul Devan yang sudah lebih dulu meninggalkan mereka. "Ya?" Airin menoleh dengan senyum yang mengembang. "Terima kasih banyak, kak." *** "Sok baik!" Celetuk Devan begitu Airin kembali ke dalam bis. Bis yang mereka tunggangi telah selesai mendapat perbaikan. Dan sekarang mereka tengah melanjutkan perjalanan ke kota tujuan. "Ya begitulah, kalau dalam otaknya cuma punya pikiran negatif. Semua dipandang buruk," Sindir Airin tak mau kalah. "Buat apa kita berbuat baik, sedangkan yang mau kita tolong terang-terangan bersikap tidak suka. Itu cuma buang-buang waktu saja!" Airin menepuk pundak Devan cukup keras, membuat lelaki itu sempat mengaduh kesakitan sambil mengusap pundaknya. "Kita nggak pernah tahu, derita apa yang dialami mereka sehingga menjadikan mereka berwatak keras. Aku percaya kok, semua orang itu punya sisi baik. Hanya saja, terkadang terpaan ujian yang membuat seseorang menutup diri dan bersikap angkuh pada orang lain." "Kamu nyindir saya?" Airin tertawa mendengar respon lelaki disebelahnya. "Kenapa mas Devan jadi merasa? Padahal aku nggak bermaksud lho." "Alah. Kamu itu paling jago memang kalau soal ngeles." "Dih." "Sini." Devan menarik dengan kasar tas berisi bekal dari bu Laksmi yang sempat ia titipkan pada Airin. "Ya ampun. Padahal itu bekal dari ibuku, loh!" "Bodo amat. Jangan minta!" "Pelitnya." "Salah sendiri sudah sok sok-an jadi pahlawan kemalaman!" "Sejak kapan berbuat baik itu sebuah kesalahan?" "Karena kamu yang melakukannya. Itu." "Memangnya kenapa aku?" "Hidupmu saja masih butuh banyak pertolongan. Gayanya mau nolongin orang." Airin memonyongkan bibir. Tidak ada habisnya memang kalau sudah berdebat dengan Devan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN