3

2126 Kata
Beberapa orang melampiaskan rasa sedih, kecewa, dan sakit hatinya dengan hanya berdiam diri. Merenungi dan menangisi sesuatu yang membuat hatinya terluka. Namun, beberapa lainnya menghabiskan waktu dengan menyibukkan diri, alih alih hanya duduk melamun.  Begitu pula yang kini tengah dialami Bintang, gadis itu sudah sejak subuh sibuk dengan berbagai kegiatan.  Selepas mengaji, disempatkan nya berjalan jalan sebentar melihat pemandangan di sekitar villa, yang kemarin belum sempat ia jamah.  Pagi terasa begitu dingin. Titik titik embun bertengger manis di pucuk dedaunan.  Demi mengusir dingin yang menyergap, diraihnya sebuah sapu di pojok taman.  Menyapu halaman sambil olahraga. Bukan hal yang buruk jika dilakukan di tempat seindah ini.  Dengan perasaan riang, Bintang melakukan aktifitas nya. Sesekali bersenandung kala rasa bosan mulai datang.  "Rajin banget sih, Bi."  Seseorang datang, dengan nada bicaranya yang khas. Yang meski tak menoleh sekalipun Bintang tahu siapa yang sekarang ini sedang bersamanya.  Ingatan Bintang kembali memutar, mengingat percakapan Rifa'i dengan Rasti semalam, tentang Indra yang hanya sekedar 'penasaran' saja terhadap dirinya. Perasaan sementara karena dia dianggap berbeda.  Seketika rasa ngilu dalam hatinya terasa kembali. Sampai rasanya, apakah sanggup dirinya memandang wajah Indra seperti kemarin?  Kemudian Bintang menyadari, rasa sakit itu, apa penyebabnya? Apa yang membuatnya kecewa? Sementara Indra memang tak pernah memberikan harapan apa apa padanya.  Rasa sakit itu, kecewa itu hadir karena dirinya yang terlalu banyak berharap.  Selama ini, Indra hanya menawarkan hubungan sebagai teman. Tidak lebih.  Kalau pun Indra pernah mengaku mengaguminya, bukankah wajar seorang teman mengagumi temannya yang lain?  Apa yang Bintang harapkan dari sebuah pertemanan?  Pertanyaan itu seolah menampar Bintang untuk kembali sadar.  Semua rasa sakit itu ada karena ulahnya sendiri yang bersikap tak tau diri.  Setelah mengatur napas, Bintang segera berbalik. Tersenyum kepada Indra dengan tulus.  "Hai, Ndra. Udah bangun," sapanya.  Kemudian dibalas dengan sebuah senyuman pula oleh Indra. Bintang sadar, tak baik memperlakukan seseorang dengan berbeda, tanpa orang itu tahu apa kesalahannya. Itu hanya akan membuat hubungan mereka merenggang dan sulit untuk kembali seperti semula.  Perasaan seseorat itu ibarat air danau.  Tenang di permukaan, tapi tak pernah ada yang bisa menduga apa yang ada di dalamnya.  Bisa jadi di luar nampak tenang, tapi di dalam justru memiliki arus yang kuat. Pun sebaliknya.  Dan kali ini, Bintang memilih untuk menjadi air yang mengikuti kemana arus membawanya.  Mengikuti arus, setidaknya tidak akan menyakiti siapapun.  Semoga saja.  "Pagi ini kita ke makam Mutia dulu, ya."  Rifa'i yang baru keluar dari villa langsung membuka percakapan.  Berdiri tegap di antara Indra dan Bintang. Menjadi pusat perhatian.  "Iya, Bang."  "Aku jadi penasaran, sebenarnya gimana sih mukanya Almarhum kak Mutia, yang sampai bikin abang Fa'i susah move on gini." Celetuk Indra yang langsung mendapat jitakan di kepalanya.  "Yang jelas jauh lebih cantik dari selera lo!" Jawab Rifa'i dengan tatapan sinis.  Tak peduli dengan adiknya yang mengeluh kesakitan sambil mengusap kepala.  "Wah, apa ada apa sih ini? Pagi pagi udah rame aja. Bang, butuh bantuan nggak buat jitak si kepala batu ini?"  Faris yang baru saja datang bersamaan dengan Rasti, sudah siap siaga di samping Indra. Dengan tangan di atas, yang tentu saja buru buru ditampik oleh Indra.  "Kalian tuh, udah kayak barisan para mantan yang gagal move on, deh. Kalo ketemu bawaannya pengen berantem mulu. Kayak ada yang belum terselesaikan dari kalian," ujar Rasti mengemukakan pendapat.  Bintang dan Rifa'i sontak tertawa. Puas melihat tampang tak suka dari keduanya.  "Mereka dulu itu sahabatan, Ras. Tapi gara gara cewek, hubungan mereka jadi renggang. Bahkan sampai musuhan." Rifa'i menjelaskan. Yang tentu saja membuat Rasti dan Bintang seketika terperangah, tak percaya dengan fakta yang baru saja mereka dengar.  "Seriusan?"  Rifa'i mengangguk.   "Dulu, mereka udah kayak anak kembar. Kemana mana selalu barengan. Tapi cuma karena masalah sepele, hubungan mereka bubar. Selemah itu persahabatan di mata mereka."  "Iya, juga. Sahabat seharusnya saling percaya. Saling mengerti dan memahami. Persahabatan itu hubungan yang agung, seharusnya nggak kalian nodai dengan hal hal sepele. Apalagi soal cewek. Aku jadi penasaran, secantik apa cewek yang udah berhasil bikin kalian berselisih paham kayak sekarang?"  Sekarang giliran Rifa'i yang tertawa.  Sementara dua lelaki bak bocah itu, masih terpaku di tempat. Belum siap rahasia pertengkaran mereka di umbar.  "Kenapa masih tanya? Memangnya cewek mana lagi yang dekat dengan Indra?"  Rasti melongo. Tak percaya.  "Hah? Aku?" tanyanya sambil menunjuk diri sendiri.  Rifa'i mengendikkan bahu. "Kamu pikir? Siapa lagi?"  Gadis itu kehilangan kata-kata.  Benarkah dirinya?  "Bang, apaan, sih! Bikin suasana jadi nggak enak aja. Ras, jangan dengerin omongan bang Fa'i. Tau sendiri kan dia orangnya emang suka melantur gitu. Yang dia omongin nggak sepenuhnya bener, kok." Sahut Indra, begitu atmosfer di antara mereka berubah canggung.  "Nggak sepenuhnya? Berarti ada benarnya juga, kan?"  "Bang, udah, deh. Nggak usah ngomporin."  "Kok jadi elu yang panik sih, Ndra? Rasti aja biasa aja."  "Maaf ya, Ndra. Maaf ya, Ris. Kalau emang gara gara aku hubungan kalian jadi nggak akur kayak sekarang ini." Sesal Rasti.  "Enggak, Ras. Ini bukan salah kamu. Dan kalaupun emang iya, itu cuma masa lalu. Nggak perlu lah dibahas lagi." Faris membuka suara.  "Tuh, kan. Abang sih! Enggak Ras. Ini bukan karena kamu. Beneran."  Rifa'i yang menggoreng masalah, justru terlihat santai dan biasa saja. Tak pedulikan Indra yang kalang kabut mencoba menenangkan perasaan Rasti.  Ia bahkan mengajak Bintang untuk duduk bersantai pada bebatuan tak jauh dari Indra, Rasti dan Faris berdiri.  "Kita nikmati drama mereka dari sini ya, Bi. Biarin aja mereka. Memang sudah seharusnya salah paham ini diluruskan."  "Bang Fa'i sengaja? Biar apa, Bang? Bintang nggak ngerti."  "Biar mereka bisa saling melepas satu sama lain.  Biar pun mereka bilang sudah tak ada rasa, tapi ganjalan dalam hati mereka yang membuat hubungan mereka tak bisa kembali seperti semula. Karena apa? Karena ego untuk saling mengakui kesalahan dan memaafkan di antara mereka itu sangat tinggi. Abang mau mereka belajar untuk melepas dan menerima."  Bintang mendengar dengan seksama. Rifa'i nampak begitu bijak dalam menyelesaikan berbagai masalah.  Perasaan Bintang menghangat.  "Mereka harus tahu, Bi. Bahwa melepas tak selamanya berarti kita akan kehilangan. Justru, bisa jadi ketika kita telah ikhlas l, kebaikan kebaikan lain akan dengan senang hati menghampiri kita."  "Pantas kak Mutia begitu mengagumi bang Fa'i," celetuk Bintang lirih,.  "Eh? Apa, Bi?"  "Ah, enggak. Aku cuma salut sama abang yang punya pemikiran terbuka."  "Kakak kamu yang mengajarkan abang tentang banyak hal, Bi. Termasuk ilmu melepas dan menerima. Abang sudah membuktikannya. Seperti setelah Abang melepas Mutia, abang jadi punya adik kecil menggemaskan kayak kamu."  Rifa'i mengusap puncak kepala Bintang yang terhalang hijab.  Hanya sebagai adik kecil, ya?  Rifa'i kemudian berdiri. Menengahi antara Rasti, Indra, dan Faris, kemudian mengakhiri nya.  "Matahari sudah mulai naik. Berhenti main mainnya. Mending sekarang kita sarapan lalu berangkat ke makam Mutia. Ayo."  *** Hari masih terlalu muda, namun lalu lalang kendaraan seakan tak pernah berhenti melintas. Ibukota memang seperti kota yang tak pernah tidur. Se gelap apapun langit di atas sana, deru dari mobil dan motor yang melintas seolah tak pernah mau berhenti menebarkan polusi. "Akhirnya sampai juga." Devan menarik napas lega. Karena akhirnya bisa terbebas dari kendaraan umum berbadan besar itu. Yah, meskipun jauh lebih baik dari saat keberangkatan nya ke kampung halaman Airin kemarin, karena kali ini mereka menggunakan bis ber-AC dengan fasilitas yang lebih baik. Tentu saja atas desakan dari Devan. "Setelah dua hari bisa menghirup oksigen yang masih murni, akhirnya kembali bertemu sama polusi-polusi ini. Rasanya kangen juga dengar suara klakson setiap hari." Airin menimpali. "Kamu pasti kangen menjadi pesuruh, kan? Hidupmu pasti akan sangat membosankan kalau nggak ada yang memberimu perintah." Ejek Devan. "Iya, ya. Terserah anda Tuan Arogan!" balas Airin tak mau kalah. Tak berselang lama, sebuah mobi mewah berwarna hitam mengkilap berhenti tepat di depan mereka. "Ayo!" Ajak Devan yang membuat Airin tak mengerti. "Hah?" "Saya antar kamu pulang." "Mhm... Tapi..." "Ayo cepat! Sebelum saya berubah pikiran." Tak menunggu lama, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan Airin segera berlari menghampiri mobil yang ia rasa pasti milik keluarga Devan. "Ke jalan Persada ya, Pak." Perintah Devan yang langsung mendapat anggukan dari sang supir. "Mau kemana kita?" tanya Airin bingung. "Ke tempat tinggalmu, lah. Kamu nggak mau pulang, memang?" "Tapi, gimana kamu bisa tahu kalau kost-an ku ada di daerah situ?" Gadis itu belum mengerti. "Eh?" Nah, sekarang giliran Devan yang kebingungan mencari alasan. Tidak mungkin kan, dia berterus terang kalau selama ini dia telah mengikuti gadis itu, layaknya seorang penguntit? "Hh... Aku tahu, sekarang. Jangan-jangan, mas Devan selama ini suka buntutin aku dari belakang, ya? Ah, pantas. Kita beberapa kali ketemu. Ternyata itu bukan suatu kebetulan aja." Airin mengangguk angguk. Sepertinya dia mulai mengerti sekarang. Namun tentu saja, bukan Devan namanya kalau tidak bisa mengelak. "Jangan sok penting! Buat apa saya mengikuti kamu? Apa untungnya coba? Coba katakan, alasan apa yang membuat saya harus membuntuti kamu?" sanggah Devan balas menantang. Airin menggaruk tengkuk. Benar juga, tak ada satu alasan pun yang ia temukan kenapa Devan harus membuntuti nya. "Nah. Makanya jangan kege-eran dulu. Saya tahu karena waktu itu Banyu sempat bercerita soal karyawannya. Terutama yang suka merepotkan seperti kamu!" Jelas Devan sambil menoyor pelipis sebelah kiri milik Airin. Dan tentu saja, penjelasan Devan hanyalah kebohongan semata. "Aduh! Dasar cowok bar-bar. Nggak bisa ya, bersikap lemah lembut terhadap perempuan?" "Nggak bisa kalau perempuan itu kamu! Kamu adalah pengecualian." Airin berdecih kesal. "Padahal bapak jelas jelas memberi amanah supaya mas Devan menjaga aku. Tapi kenyataannya, aku malah dianiaya." "Hei? Menurut kamu, seorang sesibuk saya harus membuang waktu hanya untuk mengurusi perempuan nggak penting kayak kamu, begitu? Ya ampun. Dasar nggak tahu diri!" "Dasar lelaki nggak amanah! Pantas saja masih melajang sampai sekarang!" "Wah, dasar!" "Apa?" Di balik kursi kemudi, sang sopir yang sudah cukup lama menjadi sopir panggilan langganan keluarga Devan hanya mampu tersenyum mendengar perdebatan mereka yang duduk berdampingan di jok belakang. Sudah lama, ia tak melihat anak dari majikannya itu bertingkah layaknya manusia normal. Biasanya, ia hanya diam dan berbicara ketika ada hal hal penting saja. Namun kali ini, Devan bahkan mau berbicara panjang lebar meskipun tidak ada yang meminta. Sepertinya setelah ini ia perlu berterima kasih pada perempuan di sebelah Devan, karena telah mampu mengubah anak majikannya itu menjadi manusia normal. *** "Sudah sampai, mbak." "Oh, iya. Terima kasih banyak ya, pak. Sudah mau mengantar aku pulang sampai di depan pintu." Ucap Airin tulus. "Sama sama, mbak. Saya juga sepertinya perlu berterima kasih kepada mbak, karena sudah membuat mas Devan banyak bicara hari ini. Sungguh keajaiban yang luar biasa yang saya lihat sepagi ini." "Heh?" Airin mengangguk, meskipun ia tak begitu mengerti apa yang dimaksud pak supir. "Sudah lama saya tidak melihat mas Devan berbicara banyak sama orang lain. Bahkan pada keluarganya sendiri pun, mas Devan sangat irit berbicara." "Bapak yakin?" Gadis itu tentu tak bisa percaya begitu saja. Karena sependek ingatannya, entah sudah berapa kali ia berdebat dengan Devan dalam dua hari terakhir mereka bersama. Dan tentu saja, Devan tak pernah mau kalah dalam setiap perdebatan mereka. Jadi, mana mungkin yang seperti itu bisa dibilang pendiam? "Iya, mbak. Semenjak mas Devan memiliki adik, dia jadi pribadi yang tertutup. Saya kadang merasa kasihan pada mas Devan, karena sejak saat itu dia benar-benar kehilangan perhatian dari kedua orangtuanya. Semua perhatian dan kasih sayang mereka seolah habis hanya untuk putri bungsu mereka. Tidak ada lagi yang tersisa untuk mas Devan." Lelaki paruh baya itu sesekali menoleh ke dalam mobil, di mana saat ini Devan tengah terlelap mungkin karena kelelahan. "Mh... Begitu." Airin tidak tahu harus bagaimana ia bersikap, mendengar secuil kisah milik Devan yang mungkin akan marah saat menyadari ada orang lain yang mengetahui masa sulit yang menciptakan karakter nya saat ini. "Itulah kenapa saya rasa harus banyak berterima kasih pada mbak, yang sudah membuat mas Devan kembali seperti manusia normal lainnya." "Aku nggak melakukan apa-apa, pak. Bapak jangan berlebihan. Mungkin karena saya yang cerewet dan keras kepala, sehingga sangat cocok bagi Devan untuk menjadikan aku lawan debatnya yang sepadan. Bapak nggak perlu berterima kasih seperti itu." "Baiklah. Mbak memang anak yang baik, saya bisa lihat ketulusan yang terpancar dari  mata mbak....?" "Airin. Bapak bisa panggil aku Airin." "Kalau begitu, salam kenal mbak Airin. Nama saya Rahman." Lelaki yang kira kira berusia sekitar setengah abad itu mengulurkan tangan, yang segera dijabat oleh Airin. "Salam kenal pak Rahman." "Hey, kamu! Bahkan bapak-bapak setua pak Rahman pun masih coba kamu goda? Ck!" Teriakan itu berasal dari dalam mobil. Yang seketika mengalihkan perhatian mereka. Airin memonyongkan bibir. Bahkan baru bangun tidur pun lelaki itu tetap saja menyebalkan. "Ayo, pak Rahman kita pulang. Saya masih pengen melanjutkan mimpi di kamar ternyaman saya." Ajak Devan yang segera mendapat anggukan dari pak Rahman. "Siap mas Devan," ucapnya lalu bergegas membuka pintu untuk kemudian berkutat dengan setir kemudi, lagi. "Kamu! Jaga diri baik-baik. Saya nggak mau reputasi saya di depan pak Muji jadi hancur gara gara kamu yang ceroboh!" "Hei! Dasar Tuan Tidak Bertanggungjawab!" Teriak Airin merasa sebal. Namun tak mendapat apa-apa karena sekarang mobil yang Devan tumpangi telah melaju membelah jalan. Melalui kaca mobil, tangan Devan melambai mengucapkan selamat tinggal pada Airin yang menyimpan beribu kekesalan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN