Malam ini kafe tutup lebih awal.
Sedari sore pengunjung membludak, bahkan beberapa dari mereka harus sabar menunggu dan antre untuk mendapat giliran meja.
Airin menempelkan pipinya pada meja yang baru saja selesai ia bersihkan.
Tatapannya lurus menghadap jalanan yang mulai ditinggal penggunanya.
"Hufft..."
Gadis itu menghela napas berat.
Hari ini rasanya berjalan begitu berat. Apalagi seharian pikirannya melayang tidak berada di tempat. Hatinya masih mencemaskan keluarga.
Apa kabar mereka di kampung?
"Capek banget, ya?"
Ryan datang dengan segelas es kopi s**u, kemudian menyodorkannya tepat di depan wajah Airin.
"Minum dulu biar segeran."
"Makasih, Yan."
Tanpa menunggu di perintah dua kali, Airin segera menyeruput minuman yang menjadi minuman favoritnya ketika merasa lelah itu hingga tersisa tinggal separuhnya saja.
"Aku kepikiran Bapak sama Ibu di kampung, Yan. Nggak tahu kenapa akhir akhir ini kepikiran mereka terus."
Gadis itu berterus terang, meskipun Ryan sama sekali tak memintanya untuk bercerita, namun dengan suka rela ia mengutarakan isi hatinya.
Kenyataan itu, disadari atau tidak telah membuat perasaan Ryan mengembang.
Lelaki yang sering menggunakan ikat kepala itu merasa bangga pada diri sendiri, ketika akhirnya ia dapat diandalkan oleh seseorang yang diam-diam dia sukai sebagai tempat ternyaman untuk bercerita.
"Mungkin kamu cuma kangen aja, kali. Kamu udah berapa hari nggak hubungan sama mereka?" jawab Ryan setelah berhasil menguasai diri.
"Udah hampir seminggu."
"Nah, kan, beneran. Kamu itu kangen banget sama keluarga karena udah lama nggak dengar kabar mereka. Makanya pikirannya jadi kemana-mana."
"Iya juga, sih. Kamu bener, Yan. Aku pasti lagi kangen mereka banget. Makanya pikirannya jadi kacau gini."
"Kamu mau aku anterin ketemu Devan?" Ryan memberikan penawaran.
"Eh? Nggak usah, Yan. Nggak apa-apa."
"Yakin? Kalau dia mau nyita hape kamu, itu terserah dia, tapi kamu masih punya hak buat pegang sim card kamu, kan?"
Airin tertegun untuk beberapa saat. Ryan ada benarnya juga. Dia masih punya hak buat ambil sim card dalam ponselnya yang disita Devan.
"Terus, aku mesti gimana, Yan?"
"Kita temui Devan, lalu minta sim card kamu secara baik-baik."
"Tapi, Yan?"
"Kenapa? Kamu ragu? Takut? Nggak usah takut, ada aku yang bakalan nemenin kamu ketemu sama dia."
"Hah? beneran, Yan?"
"Iya, beneran."
"Aaa ... Makasih banyak ya, Ryan. Kamu emang temen aku yang paaling pengertian."
Hati Ryan seketika berbunga, tubuhnya mendadak kaku sulit digerakkan seolah seluruh sistem syarafnya lumpuh, saat secara spontan Airin memeluknya cukup erat.
Namun di lain sisi hatinya, terasa perih ketika mendengar pengakuan Airin bahwa ia hanya dianggap sebatas teman.
Tidak lebih.
Tapi, apa pedulinya tentang sebuah status?
Mampu menjadi seseorang yang bisa diandalkan Airin saja, rasanya itu sudah lebih dari cukup.
Tak jauh dari tempat mereka bercengkerama, dalam diam Nina memerhatikan keduanya.
Hatinya turut pilu melihat kedekatan antara Ryan dan Airin.
Bukan, bukan karena rasa cemburu. Melainkan perasaan iba terhadap pengorbanan yang di lakukan Ryan hanya demi bisa dekat dengan Airin.
Nina tahu betul, Ryan yang dia kenal adalah lelaki normal dan macho layaknya pria dewasa kebanyakan. Namun secara mendadak, berubah saat Airin datang dan mencuri perhatian banyak orang. Termasuk Ryan.
Bahkan Nina curiga bahwa atasan mereka, Banyu juga telah jatuh hati pada Airin.
Terkadang, muncul juga rasa iri dalam hati kecilnya.
Airin nampak begitu sempurna. Tubuhnya yang kecil, mungil, membuatnya cocok memakai pakaian model apapun. Belum lagi wajahnya yang memang begitu cantik dengan kontur wajah yang seolah memang Tuhan buat untuk dia yang ramah. Selaras dengan tingkah lakunya yang rendah hati dan mau berteman dengan siapa saja, tanpa memandang bentuk fisik.
Berbeda sekali dengan dirinya yang bertubuh gempal. Yang sering dijadikan bahan lelucon oleh teman-temannya hanya karena ia berbadan besar. Seolah, besar badannya mampu menampik sakit hati karena ejekan mereka.
Selama ini Nina hanya bisa diam tanpa berani melawan. Sudah menjadi makanannya sejak sekolah, mendapat perlakuan tidak mengenakan seperti bullying dan body shaming.
Padahal, bukan keinginannya memiliki tubuh subur. Ia bahkan sempat beberapa kali gonta ganti resep diet mengikuti saran teman temannya, Tapi hingga dewasa ia tetap gagal juga. Diet itu tak pernah berhasil, sekeras apapun Nina mencoba. Hingga sempat dilarikan ke rumah sakit dan di opname selama satu minggu lebih akibat dehidrasi akut dan kurangnya asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh.
Nina menjadi sangat minder ketika mengenal Airin dan bahkan sampai menjadi teman dekatnya.
Beruntung Airin bukan tipe orang yang suka mem-bully bentuk fisik.
Airin sama sekali tidak masalah harus berjalan berdua dengan Nina yang jika dilihat, orang lain pasti akan menyebut mereka seperti angka 10.
Namun ia tak peduli. Selama Airin masih bersikap baik padanya, selama itu mereka akan tetap berteman. Tak peduli apa kata orang mengenai pertemanan mereka.
**
Di luar, terik matahari di tambah polusi dari asap kendaraan semakin membuat cuaca terasa menyengat. Beberapa wanita bahkan lari larian demi menghindari sinar UVA yang membakar kulit.
Banyu memalingkan wajah. Memfokuskan kembali pikirannya pada pembicaraan mereka.
"Lo yakin akan tetap meneruskan rencana balas dendam itu?"
Devan tersenyum separo. Disandarkan nya tubuh kekar itu pada bahu kursi.
"Kenapa memang, Nyu?"
"Lo tahu, kan, kalau sejak awal gue nggak pernah setuju sama ide busuk lo itu? Dan sampai sekarang pun, gue tetap nggak setuju. Jadi, plis ... Gue mohon batalin rencana balas dendam lo terhadap Airin. Lepasin dia dan biarkan dia bebas."
Devan yang semula tersenyum, kini justru tertawa mendengar permintaan Banyu.
"Lo kenapa, Nyu? Lo naksir sama cewek itu? Lo nggak terima dia deket deket sama gue? Iya?"
"Ini bukan tentang gue, tapi tentang lo dan Airin. Balas dendam nggak akan pernah berakhir dengan baik, Van. Lagipula, kenapa lo nggak coba berpikiran positif dan mencari tahu kebenarannya dulu, apa alasan keluarga Airin membuang lo ketika masih kecil dulu?"
Devan mengibaskan tangan.
"Lo ngomong gitu karena lo nggak pernah berada di posisi gue, Nyu. Lo nggak tahu gimana sakit hatinya gue tiap kali lo atau teman teman kita datang ke sekolah bersama kedua orang tuanya, sementara gue hanya sendiri. Lo tahu, kan, perlakuan bokap nyokap gue setelah anak kandung mereka lahir? Gue dicampakkan, Nyu! Gue diabaikan seolah gue nggak ada. Padahal, saat itu gue masih sangat butuh sosok keluarga yang mampu mensupport gue dalam banyak hal. Tapi, apa yang gue dapat? Penolakan dan penolakan."
Devan berhenti sejenak untuk kembali menyulut lintingan bakau. Menghirup dalam, kemudian melepaskan hingga asapnya mengebul melalu hidung serta mulut.
"Tapi gue nggak bisa nyalahin mereka, Nyu. Orang tua kandung gue aja tega menelantarkan gue, apa lagi mereka yang cuma orang tua angkat?"
Lanjut Devan begitu emosionalnya berangsur stabil.
Banyu terdiam cukup lama. Tak memungkiri bahwa yang dialami sahabatnya memang bukan sesuatu yang mudah.
Sejak remaja, Devan sudah bersahabat dengan yang namanya kesepian.
Usia dimana seharusnya ia masih sangat butuh perhatian dan arahan, Devan justru melewatinya sendiri tanpa pegangan. Tanpa seseorang yang bisa ia andalkan sebagai petunjuk jalan.
"Gue paham yang lo alam, Van. Tapi ..."
"Enggak. Lo nggak memahaminya sama sekali." Devan memotong ucapan Banyu.
"Kalau sampai sekarang ini lo masih membela Airin di depan gue, itu artinya lo emang nggak pernah bisa memahami posisi gue."
Banyu memang tak pernah bisa menang jika harus beradu argumen dengan Devan.
Rasa kasihan dan tak tega yang selama ini membuat Banyu selalu mengalah pada Devan.
"Terserah lo mau bilang apa, yang jelas gue sama sekali nggak setuju sama tingkah lo kali ini, Van. Sekarang pilihan ada di tangan lo. Lo mau terus terusan keras kepala kayak gini, atau lo mau berubah demi persahabatan kita."
"Sahabat? Setau gue sahabat itu saling support. Udah lah, nggak usah munafik. Lo suka kak sama cewek itu?"
Banyu tidak tahan lagi. Semakin hari Devan semakin ngelunjak dan keterlaluan.
"Iya. Gue sayang sama Airin. Jadi tolong, jauhi dia!"
Devan serius sekarang. Tubuh yang semula bersandar santai, kini berdiri tegap menghadap Banyu dengan tatapan tajam.
"Lo boleh suka sama Airin tapi lihat saja, di antara kita siapa yang bakal dia pilih. Dan inget, Lo masih bukan siapa-siapa dia sekarang, jadi lo sama sekali nggak ada hak buat nyuruh gue jauhi dia!"
Telunjuk Devan terangkat pada baris kalimat terakhir. Ada perasaan ngilu di hati Banyu. Se dangkal itukah arti persahabatan mereka?