15. Failed Plan

2173 Kata
Hani diam, menatap Roy tajam. "Memangnya apa rencanamu?" Roy pun tersenyum penuh arti. Satu kakinya yang tadi ia letakkan di atas paha kini turun menjejak di lantai, sementara tubuh kekarnya condong ke depan ketika ia mematikan rokok miliknya yang masih tinggal setengah. "Bagiku, gagal menyelesaikan tugas konsekuensinya adalah mati." Hani terkejut mengetahui indikasi kejam dalam prinsip yang diakui pria itu barusan, namun dengan cepat ekspresinya berubah datar. Wanita itu mendekatkan gelas wine yang ia pegang ke depan bibir kemudian menyesapnya penuh penghayatan tanpa sekali pun memutus tatapannya kepada Roy. Setelah itu, barulah Hani memasukkan nada ramah ke dalam suaranya. "Apa kau akan membunuhnya?" tanya Hani, padahal dia sudah tahu jawaban atas pertanyaannya bahkan sebelum Roy menjawab. Dengan suara rendah dan cepat, Roy berkata kepada Hani. "Tentu saja. Akan lebih mudah melenyapkannya daripada menyuruhnya tutup mulut. Tidak ada yang bisa menjamin orang itu tidak akan menyeret namaku jika dia tertangkap entah oleh polisi, atau oleh orang lain." Sejenak bayangan mengerikan terlintas di pikiran Hani. Dia membayangkan bagaimana cara Roy membungkam mulut orang suruhannya untuk selama-lamanya menggunakan berbagai macam siksaan fisik, tusukan pisau, jeratan tali, atau lusinan cara lain yang mungkin tidak akan pernah terpikirkan olehnya. Bayangan itu membuat tangan Hani gemetar cemas. Dia sempat lupa kalau pria yang duduk berdekatan dengannya adalah ketua crew berbasis Yakuza yang terkenal kejam. Salah-salah bukan hanya anak buah Roy saja yang bisa kehilangan nyawa, dia pun bisa berada dalam bahaya jika tidak berhati-hati saat berhadapan dengan si sialan yang sayangnya masih bisa dia manfaatkan itu. Tiba-tiba tatapan tajam Roy yang beraura bengis tertancap di wajah Hani ketika ia terbuai oleh kengeriannya sendiri. Begitu sadar, Hani pun tersentak. Tubuhnya refleks mundur hingga punggungnya menyentuh sandaran sofa, lalu dengan gugup dia bertanya, "Ke-kenapa? Ada apa?" Diam sedetik, Roy pun membuka mulut. "Sebenarnya, siapa pria itu?" "Pria itu?" Hani mengernyit bingung, tidak mengerti siapa yang Roy maksud dengan 'orang itu.' "Laki-laki tampan bertubuh tinggi yang berhasil menggagalkan rencanaku, sampai-sampai aku harus membunuh anak buahku sendiri." Kedua netra Roy menusuk Hani, mengejutkan gadis itu dengan kebencian yang menyala-nyala. "Yang pasti orang itu bukan Jay," tambahnya cepat. Mengerti siapa orang yang Roy maksud sembari berpikiran positif bahwa sorot mata kejam itu bukanlah ditujukan kepadanya, Hani berusaha keras bersikap santai. Dia pindah tempat duduk persis di samping Roy. Bersikap manis dengan menuangkan wine ke dalam gelas kosong milik pria itu, kemudian membawa gelas yang sudah terisi setengah ke hadapan Roy dengan gestur tubuh mempersilakan Roy menikmati alkohol yang memabukkan di tangannya. "Sebenarnya, aku tidak mengenal laki-laki itu karena Nara sendiri tidak pernah terlihat sedang bersamanya. Mungkin saja dia pacar rahasia Nara?" Mata Hani berputar atas gagasannya sendiri, merasa karangan yang ia buat di buku diary sang adik bisa jadi memang benar kenyataan. "Bisa jadi, kan?" Dia lantas mengangkat bahu, menyunggingkan senyum mencemooh. Hani sendiri memang sedang mengulur waktu demi memusnahkan perasaan takut yang tumbuh di hatinya ketika matanya bersirobok dengan mata Roy, merasa cukup beruntung karena Roy tidak gegabah membunuhnya setelah menerima omelannya tadi. "Kau yakin pria itu memiliki hubungan khusus dengan adikmu?" Roy menyandarkan punggungnya di punggung sofa, kemudian merentangkan tangannya di atas sana. Kepalanya tertengadah ke atas. Tidak ada yang tahu apa yang sedang ia pikirkan ketika seringai keji muncul sekilas di bibirnya yang tebal. "Aku memang belum memeriksa siapa pria itu. Tapi entah kenapa firasatku mengatakan kalau dia bukanlah orang sembarangan." "Begitukah? Tapi aku rasa..." telunjuk Hani bermain-main di d**a Roy, membentuk gerakan berputar-putar dengan gestur sensual, "Roy-ku yang hebat ini akan dengan mudah mengatasinya." Posisi Hani yang terlalu dekat serta aroma manis dari parfum yang menguar di lehernya, mampu membangkitkan gairah Roy yang memang sudah lama tak tersentuh oleh kulit halus Hani. Lengan Roy merangkul Hani dalam gerakan tiba-tiba, menarik wanita itu ke tubuhnya yang keras dan berotot sebelum melancarkan serangan ke bibir merah bergincu itu dengan ciuman-ciuman panas. Semakin malam, suara decak liar dari kedua bibir yang saling beradu itu semakin panas dan tangan Roy semakin bebas bergerak melintasi titik demi titik yang biasa digemari oleh kaum adam. Entah sejak kapan tangan Roy menyelinap masuk ke bawah gaun seksi yang Hani pakai. Hingga ketika tangan besar itu bersiap menarik turun pakaian dalam yang menutupi area terlarang Hani, tangan wanita itu menahannya dan Hani susah payah melepas bibirnya dari cengkeraman bibir Roy yang basah. "Jangan lupa kalau aku sedang hamil." Hani mengingatkan sambil terengah-engah. Roy tersenyum masam, menyingkirkan rambut panjang Hani yang terjuntai melewati bahu. "Aku tahu dan aku akan bermain lebih lembut dari biasanya. Kau jangan khawatir." Hani beringsut ingin lepas. Namun oleh Roy punggungnya ditahan sehingga Hani gagal menciptakan jarak lebih di antara tubuh mereka. "Jangan menolakku, Baby," Roy lantas mendekatkan bibirnya ke telinga Hani, "ingat, kau berutang banyak padaku." Nada suara yang sarat akan peringatan itu membuat Hani tak berdaya di dalam kungkungan pria yang dengan liar melucuti semua pakaiannya, tanpa satu helai benang pun yang tersisa di dalam ruangan VIP tempat pembicaraan pribadi mereka berlangsung. ... Sejun baru saja keluar dari kamar mandi setelah menyegarkan dirinya lewat tetes-tetes air hangat sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk, ketika ia melihat Nara sedang naik ke atas kursi di depan rak buku miliknya dengan kepala mendongak ke atas, ke deretan buku di rak tertinggi. Sejun mendekat tanpa suara, memiringkan kepala seraya mendongak guna mengetahui buku apa yang menarik minat Nara sampai dia harus memanjat seperti itu. "Mau aku bantu?" Kedatangan Sejun yang tiba-tiba membuat Nara nyaris melompat kaget. Pandangannya yang terbuka lebar jatuh tepat di atas kornea Sejun sebelum dia mengembuskan napas lega. "Aku kira siapa." Gadis itu pun turun dari kursi kemudian duduk manis di sana, sembari mengamati Sejun yang terlihat lebih fresh setelah mandi. "Ini 'kan kamarku. Siapa lagi yang ada di sini kalau bukan aku?" Sejun diam sebentar. "Kau sedang melihat buku apa?" "Itu," Nara berdiri, menunjuk buku yang ingin ia ambil di bagian rak paling atas, "buku tebal warna merah." Sejun pun dengan mudah menjangkau buku yang Nara maksud. "Novel ini?" tanya Sejun, menunjukkan buku yang barusan ia ambil. Nara mengangguk penuh semangat sementara matanya berbinar-binar seperti anak kecil. Gadis itu lantas mengulurkan tangan dengan niat mengambil buku di tangan Sejun, tapi kedua tangannya hanya bisa menembus benda tersebut seolah-olah dia sedang menggenggam udara. Nara menghela napas lesu, sedih karena buku yang menjadi incarannya bahkan tak bisa ia buka. Dia pun kembali duduk di kursi, tatapannya yang sayu tertuju ke lantai. "Sudahlah. Lupakan saja," katanya pasrah. Sejun tersenyum lembut, membalik buku tebal di tangannya menghadap ke bagian depan, membaca judul novel favorit Nara. "My Regret karya penulis Aegiyaa. Kau suka novel ini?" Bibir Nara sedikit mengerucut, menatap Sejun lalu mengangguk. "Aku sudah membaca edisi pertamanya. Dan yang kau pegang itu edisi kedua. Aish... susah sekali mencari buku itu karena selalu sold out begitu rilis," curhatnya tiba-tiba. Sejun hanya mengangguk-anggukkan kepala meskipun dia tidak mengerti kenapa ibu, adik, dan kini Nara menyukai novel dari pengarang tersebut. Pria itu lantas duduk di tepi ranjang. Membuka halaman pertama buku di genggamannya kemudian berkata, "Mau aku bacakan?" Ekspresi heran di wajah Nara saat ia mendengar penawaran dari Sejun begitu lucu sampai Sejun terpecah antara desakan untuk bertanya kenapa sembari tertawa, dan desakan lain yang lebih menarik yaitu mencubit hidung gadis itu karena gemas. "Kenapa ekspresimu begitu?" tanya Sejun, sementara kedua sudut bibirnya terasa ditarik-tarik menahan senyum. "Eum... tidak kenapa-kenapa. Hanya sedikit aneh." "Apanya yang aneh?" Dalam keheningan beku yang menyusul pertanyaan itu, Nara menjawab, "Kau orang kedua setelah ibuku yang menawarkan diri membacakan buku untukku. Dulu," Nara mulai mengenang masa lalu, "waktu aku kecil, aku tidak bisa tidur jika ibuku belum membacakan dongeng. Ibuku akan terus bercerita sampai aku tertidur. Tapi setelah ibuku meninggal, setiap malam sebelum dan sesudah aku merebahkan diri di tempat tidur, aku pasti menangis. Biasanya ibuku duduk bersandar di sampingku sambil mengusap kepalaku dengan sentuhannya yang lembut. Perubahan yang tiba-tiba itu tidak bisa aku terima dengan mudah." Sejun mengangkat mata ke mata Nara, ekspresi dari manik sewarna madu itu mengingatkan Sejun pada burung yang terluka karena panah, walaupun Nara menggunakan nada yang tenang dan santai. Sejun bisa merasakan kesedihan dan kesulitan wanita cantik di depannya, seolah-olah dirinya sendirilah yang mengalami kejadian itu. Tidak sulit bagi Sejun memposisikan dirinya berada di posisi gadis yang kini berbincang dengannya, karena dia pun pernah kehilangan seorang ayah sambung yang begitu baik dan sangat mencintainya, sehingga rasa kehilangan yang Nara rasakan sudah pasti tidak jauh berbeda dengan yang dia rasakan dahulu. "Kenapa kau tidak meminta ayahmu membacakan buku dongeng untukmu?" Nara tersenyum muram seraya menggeleng. "Sebelum aku tahu kalau ibu habis bertengkar hebat dengan ayah lalu pergi dari rumah dan mengalami kecelakaan, ayahku duluan yang sibuk menghindariku. Tapi setelah aku tahu kebenarannya, akulah yang sibuk menghindarinya. Lalu, secara alami kita berdua berubah menjadi seperti orang asing." Sejun menutup buku di dalam genggamannya, merasa lebih tertarik mendengarkan cerita Nara guna mengetahui seluk beluk kehidupan yang dijalani oleh wanita itu dengan lebih detail lagi. "Duduk di sini." Sejun menepuk-nepuk tempat di sebelahnya, meminta Nara untuk pindah tempat duduk di sisinya dengan nada suara lembut tetapi memerintah. Nara menurut dengan mudah, kepercayaannya yang tumbuh semakin kuat pada Sejun membuat langkah kakinya ringan tanpa beban. "Kau tidak jadi membacakan novel itu untukku?" tanya Nara setelah dirinya duduk berdampingan dengan Oh Sejun. "Jadi," mata mereka saling beradu pandang dan Sejun menyelipkan senyum menawan setelahnya, "tapi tidak malam ini. Entah kenapa, mendengarkan cerita tentang dirimu sepertinya lebih menarik." Nara tertawa, menganggap perkataan Sejun barusan itu lucu sekaligus membuatnya penasaran. "Apa yang ingin kau ketahui? Hidupku sama sekali tidak menarik," katanya sambil mengangkat bahu. "Tapi keingintahuanku itu yang membuatnya jadi menarik." "Aku bingung harus memulainya dari mana." "Terserah saja. Yang jelas, aku akan menjadi pendengar setiamu malam ini. Jarang-jarang aku—" "Stop," Nara meletakkan jarinya di depan mulut Sejun, "aku sudah tahu kau mau bilang apa?" Gadis itu pun tersenyum mengejek. "Kau akan bilang, jarang-jarang aku bersikap seperti ini kepada seorang gadis. Iya, kan?" Sedetik kemudian Sejun tertawa renyah, tawa yang menular hingga Nara pun ikut tertawa bersamanya, melupakan fakta kalau malam mulai merangkak menjadi dini hari. Nara terdiam cukup lama, sibuk menimbang-nimbang sebaiknya dari sisi mana dulu ia mulai bercerita tentang kisah hidupnya sendiri. Sementara itu, jari-jari Sejun berayun dengan irama lembut di atas pahanya, sedangkan pipinya ia sangga menggunakan tangan yang lain. "Apa kau ingin bercerita sambil berbaring di tempat tidur?" Sejun membuat Nara terkesiap, menoleh cepat ke arahnya. "A-apa kau bilang? Ti-tidur?" Dengan polos Sejun mengangguk. "Iya. Bercerita sambil berbaring sepertinya lebih nyaman. Bukankah hal seperti itu sedang tren belakangan ini?" Nara gugup, mengutuk diri sendiri karena otaknya sudah berani berpikiran yang tidak-tidak. Memang benar pillow talk saat ini sedang populer. Banyak youtuber dan acara tv yang menggunakan metode ini ketika mereka mengobrol dengan para narasumber. Meski begitu, tetap saja Nara merasa canggung untuk tidur bersama Sejun, meski mereka berdua hanya mengobrol biasa tanpa keterlibatan konotasi negatif di dalamnya. "Apa kau takut kalau aku berbuat macam-macam padamu?" tanya Sejun bermaksud menggoda. "Ti-tidak, kok! Aku tidak berpikiran begitu." Kalimat Nara yang terbata-bata, menjelaskan makna sebaliknya dari apa yang ia utarakan. "Jinjja? Tapi kenapa wajahmu mengatakan hal yang sebaliknya? Kau pasti memikirkan hal-hal yang aneh." Perkataan Sejun membuat Nara melotot. Gadis itu pura-pura marah sekaligus malu, refleks menyikut perut Sejun tapi tidak keras supaya pria itu berhenti menggodanya. "Jangan asal bicara!" cetus Nara, kedua sudut bibirnya berkedut nyaris tertawa. Menduga kalau Nara mungkin merasa risih sedangkan dia sendiri merasa lelah, Sejun kemudian memberikan opsi lain. "Ya sudah. Kalau begitu, aku akan mendengarkan ceritamu sambil rebahan memeluk guling dan kau bisa bersandar dengan nyaman sambil bercerita. Anggaplah kau sedang latihan mendongeng sebelum kau memiliki your own child." Setelah berkata demikian, Sejun segera menata bantal yang akan ia gunakan kemudian melemparnya ke seberang, memberikan space kalau-kalau Nara nanti berubah pikiran. Pria itu berbaring dengan nyaman di tempatnya. Menarik selimut hingga ke pinggang, menyelipkan satu lengannya di bawah kepala sementara tatapan matanya tertuju ke langit-langit kamar. Mengikuti saran dari Sejun, Nara akhirnya menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang, lalu beringsut hingga punggungnya menempel ke kepala dipan. Setelah suasana hening menyapa mereka dalam waktu yang terbilang lama, Sejun berinisiatif membuka obrolan dengan bertanya dengan hati-hati. "Eum... kalau boleh tahu, ibumu meninggal dunia saat kau umur berapa?" "Tujuh tahun." "Tujuh tahun?" "Ya. Ibuku meninggal saat usiaku tujuh tahun." Nara menjeda sejenak kalimatnya, terlihat mengumpulkan kekuatan untuk mengorek kembali duka terpendam yang ia simpan dengan baik. "Kalau aku ingat-ingat lagi, dulu kehidupan keluargaku cukup harmonis. Aku bahkan tidak pernah melihat kedua orang tua kandungku bertengkar. Entah karena mereka memang tidak pernah berselisih, atau hanya pintar menyembunyikan masalah mereka dari putrinya. Yang jelas, hubungan ayah dan ibuku waktu itu baik-baik saja. Bahkan tergolong romantis persis seperti ayah dan ibumu sekarang." Sejun berbaring miring, menyangga kepalanya dengan sebelah tangan, menatap Nara lekat penuh simpati tetapi tetap diam sambil menunggu gadis di sampingnya melanjutkan cerita yang baru ia mulai. "Dalam ingatanku yang samar-samar, suatu malam ibuku pernah masuk ke dalam kamarku dengan mata yang sembap seperti habis menangis. Saat itu aku benar-benar mengantuk sehingga ketika ibuku menjawab matanya perih karena habis memotong bawang, aku percaya-percaya saja kemudian tidur tanpa beban. Sama sekali tidak tahu kalau saat itu akan menjadi detik-detik terakhir aku bersamanya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN