14. Let's Go Home.

2226 Kata
Dengan langkah gontai Sejun berjalan menuju bangku kosong yang terletak di samping koridor. Keningnya disangga oleh kedua tangan yang saling terjalin, sementara pikirannya yang kalut memikirkan kembali bagaimana takutnya dia ketika monitor yang ada di ruang ICU menunjukkan grafis kinerja tubuh Nara yang buruk. Sejun menarik napas untuk menenangkan diri, namun hal itu tidaklah berguna karena jantungnya terus berdegup kencang sembari menyematkan rasa sakit. Entah sudah berapa lama waktu berlalu dalam lamunan hening ketika Sejun mendongakkan kepala bersandar di dinding, kembali menatap tembok putih di depannya dengan pandangan menerawang. Dia tidak lekas mencari keberadaan jiwa Nara dengan asumsi bahwa mungkin saja lewat kejadian ini jiwa gadis itu sudah bersatu kembali dengan raganya. Karena jika tidak demikian, Nara dalam wujud tak biasa sudah pasti akan datang menghampirinya tanpa harus dicari. Namun dalam kelegaan yang mendera di sudut terkecil hatinya, kesunyian lain mulai membayang dan Sejun tidak menyukai perasaan seperti ini. Sejun mencubit pangkal hidungnya seolah-olah dia sedang memaksakan diri untuk bangun dari mimpi-mimpi hampa yang membuatnya nyaris tersesat. Lalu, derap langkah sedikit tergesa terdengar semakin keras dari ujung lorong. Sejun menoleh ke asal suara, mendapati seorang petugas keamanan yang tadi sempat ingin membawanya ke ruang keamanan karena berkelahi dengan Jay sedang berjalan cepat menuju ke arahnya. Begitu pria paruh baya itu sampai di hadapan Sejun, dia langsung membungkuk, menundukkan kepalanya dalam-dalam sebagai bentuk rasa penyesalan sambil berharap kalau Sejun tidak mengambil hati tindakan tidak menyenangkan yang sudah ia perbuat. "Maafkan kami karena kami tidak langsung mengenali Anda Tuan Oh Sejun," katanya takut-takut. Sejun mengangguk singkat terlihat tak berminat, nyaris menyuruh pria itu pergi meninggalkannya sendiri namun keburu didahului oleh pengumuman yang sebenarnya tidak terlalu ingin ia ketahui. "Pria yang berkelahi dengan Anda saat ini masih belum sadarkan diri di ruang perawatan, Tuan." "Oh, ya?" Sejun tersenyum tipis. "Aku lebih suka dia dilempar ke jalanan," tambahnya sadis yang langsung membuat kening petugas tersebut mengernyit mempertanyakan kebenaran dari tindakannya sendiri. "Ma-maafkan saya." Hening sejenak sebelum dia meneruskan. "Haruskah saya melakukan hal itu sekarang, Tuan?" tanyanya serius. "Tidak perlu," kata Sejun cepat. "Biarkan saja. Dia harus tahu kalau aku cukup bermurah hati dengan membiarkannya menerima perawatan di rumah sakit milik ibuku." Sejun kemudian berdiri. Mendesah lelah sembari memejamkan mata erat-erat, lalu membukanya kembali dan menatap sekitar lebih jelas. Alis tebal milik Sejun nyaris bertaut ketika dia melihat Nara—dengan tatapan sedikit tidak yakin, sedang duduk memeluk lutut di atas lantai yang dingin tepat di bawah jendela dekat lift. "Pergilah. Ada yang harus aku urus." Sejun langsung melangkah ke depan, menghampiri Nara yang duduk sementara tubuh mungilnya semakin kerdil dalam pelukannya sendiri. Dalam pandangan petugas itu, Sejun berhenti dan berdiri menghadap tembok, sedangkan tatapannya jatuh ke bawah seperti ada suatu benda yang terjatuh di sana, namun kenyataannya tak ada apa pun yang bisa menjadi objek mata selain keramik putih yang bersih. Tahu jika dia sedang dipandangi, Sejun menoleh cepat ke arah pria paruh baya yang belum juga pergi dari tempatnya sampai-sampai orang yang dipandang terkesiap kaget. "Apa lagi yang kau tunggu?" tanya Sejun dingin. Melihat perintah tak terucap dari manik hitam milik Sejun membuat sang petugas buru-buru membungkuk pamit lalu pergi dari tempat itu. Setelah memastikan bahwa tidak ada orang di sana selain dirinya, Sejun pun berjongkok di depan Nara. Tangannya terulur ke atas kepala dengan niat memberikan usapan lembut di sana. Tapi niat itu Sejun urungkan karena tidak peduli seberapa kuat keinginannya menyentuh gadis yang termenung dalam tangis di depannya, mereka tetap saja seperti garis paralel yang tak pernah bisa sejalan. "Nara," panggil Sejun lembut. Terkejut dengan nada suara selembut beledu yang tak pernah dia dapatkan dari Sejun sebelumnya, Nara pun mengangkat wajah memandang Sejun tapi tidak benar-benar menatapnya. "Jangan khawatir. Sekarang kau sudah aman." Sambil berkata demikian, Sejun tersenyum dengan cara yang membuat Nara merasakan dorongan begitu besar untuk bergantung lalu menangis sepuasnya di d**a bidang nan kokoh milik Sejun. Nara menurunkan pandangan ke tangan kekar yang terulur di hadapannya, seakan-akan uluran tangan itu sedang menawarkan perlindungan yang saat ini sangat ia butuhkan. Teringat dengan janji yang dulu pernah ia ucapkan kepada Sejun bahwa dia tidak akan mengganggu hidup pria itu lagi setelah Sejun menyampaikan semua yang ingin dia sampaikan kepada Jay, Nara akhirnya membatalkan keinginan besarnya untuk menyambut tangan Sejun. Kesepian datang menghimpitnya dan rasa putus asa memukul kepalanya bagaikan palu godam yang tak terkalahkan. Nara takut. Amat sangat takut karena berada di antara hidup dan mati membuatnya seperti terombang-ambing di lautan dalam yang gelap tanpa kepastian. Tidak ada yang bisa mendengar atau menolongnya dan dia tidak tahu keadaan seperti ini akan berlanjut sampai kapan. Pikiran itu membuat empedu pahit naik dan menyekat tenggorokannya, dan Nara melesat berdiri, antara ingin memeluk Sejun sekaligus mendorong pria itu pergi menjauh. "Pulanglah. Ini sudah larut," kata Nara hampa, matanya enggan bersinggungan dengan sorot mata tajam yang kini ia yakini bisa menembus jantung lalu mengoyaknya dengan cara yang kejam. Sejun memberengut melihat wajah Nara yang semakin pucat dan samar? Segera pria itu mengedipkan matanya beberapa kali, takut kalau sesuatu membuat matanya buram. Setelah memutuskan bahwa dia hanya sedang lelah sehabis melewati malam yang cukup berat, Sejun pun membalas, "Benar. Ini sudah larut malam. Ayo kita pulang." "Kau saja." "Kenapa? Aku datang bersamamu. Pulang pun kita harus bersama." "Bukankah aku sudah berjanji untuk tidak mengganggumu lagi terlepas dari apa pun jawaban yang diberikan oleh Jay? Dia sudah memberikan jawaban yang jelas lewat sikapnya yang tidak mempercayaiku. Tidak ada alasan lagi untukku terus mengikutimu." "Nara—"kata Sejun, suaranya menunjukkan kekesalan karena gadis itu malah berbalik memunggunginya. Sejun pindah di depan Nara seolah-olah dia sedang menjelma menjadi tembok tinggi yang sukar dilampaui. "Jangan pergi," ucap Sejun, serius dalam kelembutan senyum yang menghiasi bibirnya di akhir kalimat itu. "Setidaknya jangan pergi jika kondisimu masih seperti ini." Lebih dari sekedar meminta, apa yang Sejun katakan kepada Nara lebih mirip seperti orang yang sedang memohon dan itu membuat Nara tertegun sekali lagi. Tidak seperti biasanya, kali ini Sejun membuatnya merasakan perasaan takut berharap lebih alih-alih membuatnya takut diusir atau diintimidasi. Nara menggigit bibir bawahnya saat haru dan sendu bergulat cukup ketat di hatinya. Kepalanya mulai tertunduk dalam sementara bahunya yang mungil bergetar halus tapi tetap terlihat jelas di mata Sejun. Sejun tidak terlalu memusingkan alasan apa yang mendasari terjadinya entakan nyeri di rongga dadanya sekarang. Yang pasti dia hanya ingin memeluk, menenangkan dan mengatakan bahwa aku ada bersamamu dan kau tidak perlu takut terhadap apa pun kepada Nara. Melihat Nara yang terus menangis seperti anak kucing yang terluka, Sejun merentangkan tangannya dan mendekap, seolah-olah dia sedang memeluk gadis itu meski yang kini sedang ia peluk hanyalah udara hampa dan kosong. Nara memandangnya dengan tatapan bertanya yang Sejun balas dengan ukiran halus di bibir. "Posisiku aneh bukan? Maka dari itu, lebih baik kau yang memelukku agar aku tidak disangka gila oleh orang yang melihat." Kedua sudut bibir Nara mulai tertarik perlahan yang sontak membawa ledakan besar kelegaan di dalam jiwa Oh Sejun. "Jarang-jarang aku menawarkan diri untuk dipeluk secara sukarela. Sebaiknya kau jangan menyia-nyiakan kesempatan langka yang aku berikan khusus untukmu." Sejun berkata sambil tertawa. Nara menatap lekat mata sepekat malam milik Sejun yang memikat itu, tiba-tiba sadar kalau dia memang membutuhkan kehadiran seseorang yang bisa membantunya mengenyahkan rasa sepi, sedih, dan juga kecewa yang kini sedang menggelayuti dirinya. Gadis itu pun maju lebih dekat dengan ragu, sementara manik sewarna madu miliknya terus beradu dengan Sejun seolah-olah dia sedang meminta diyakinkan. Permintaan tanpa suara itu diketahui oleh Sejun bagaikan telepati yang merasuk ke hati. Sejun menempatkan kedua tangannya seolah-olah sedang mendarat di kedua bahu Nara kemudian berkata dengan suara lembut membujuk. "Apalagi yang kau tunggu?" Sejun menaikkan sebelah alisnya. Selang beberapa detik kemudian, suaranya yang rendah mulai terdengar serius. "Dengarkan aku." Nara spontan membeku, memperhatikan Sejun dengan saksama. "Kau... tidak lagi sendirian karena aku ada untukmu... bersamamu. Mengerti?" Bagi Nara, kata-kata Sejun terlalu indah untuk diabaikan meskipun nantinya untaian kalimat barusan hanya akan menjadi genangan air di daun talas, terombang-ambing dan mudah jatuh. Nara menyadari dengan rasa sakit di bagian belakang kelopak matanya bahwa Sejun mungkin saja hanya sekedar bersimpati atas kemalangan yang menimpa dirinya, dan kesadaran itu menusuknya dengan rasa sakit yang tak terduga. Gadis bersurai hitam panjang itu belum menyadari bahwa dirinya mulai diserang dahaga tak terpenuhi atas kebaikan, perhatian juga kelembutan yang Sejun berikan akhir-akhir ini. Nara bahkan tidak tahu jika Sejun ratusan kali lipat lebih berbahaya ketika dia sedang bersikap manis daripada saat pria itu sedang bertingkah arogan, sok berkuasa, atau bahkan cuek bebek sekali pun. Terlepas dari kekhawatiran asing yang mengganggu pikiran Nara, jelas sudah kalau hatinya ingin menerima sentuhan manis yang Sejun tawarkan secara cuma-cuma. Nara mengangguk dan menelan ludah, menatap Sejun dengan sorot mata sendu. Tangan mungilnya mulai melingkar di sekeliling pinggang Sejun. Semakin mendekat meranggas jarak, hingga jeda tak lagi tercipta di antara keduanya. Sejun memejamkan mata merasakan kehangatan yang tak bisa ia sentuh. Membiarkan perasaan tenang itu melebur ke dalam jiwanya, barangkali dengan begitu, dia bisa membantu Nara yang ia tahu sedang merasa down. "Terima—terima kasih," bisik Nara, suaranya tersendat dipenuhi emosi. Lambat laun isakan lirih dari bibir Nara semakin terdengar jelas. Raungan sedih itu menyentuh perasaan Sejun hingga titik yang paling dalam. Baru tadi pagi Nara tersenyum cerah sementara suaranya ketika berbicara merdu bagaikan kicau burung yang membuat Sejun harus menahan senyum demi wibawa yang ia jaga. Namun sekarang, gadis yang kini memeluknya erat tampak lebih rapuh dari dedaunan yang gugur tertiup angin. "Kasihan," bisik Sejun dalam hati, "siapa yang tega mencoba membunuhmu? Kau... nyaris mati dua kali." Seperti air yang diterjang suhu dingin secara signifikan, perasaan kasihan yang ia curahkan untuk Nara mulai mengeras dan berubah menjadi amarah yang membatu. Sorot matanya berubah nyalang diiringi adrenalin yang membuat jantungnya berpacu cepat. Dia marah kepada Jay yang sebegitu mudahnya dikelabuhi oleh Hani. Dia juga marah kepada kakak tiri Nara yang sangat manipulatif, juga... dia amat sangat marah kepada siapa pun itu yang mencoba membunuh Nara dalam kondisi setidakberdaya sekarang. Jangan membahas tentang ayah kandung Nara karena setelah Sejun telisik, pria itu hanya pernah mengunjungi putrinya sekali. SEKALI! Demi Tuhan! Apakah pria itu benar-benar ayah kandungnya? Gigi Sejun bergemeletuk diikuti kedua tangan yang terkepal erat saat memikirkan kenyataan itu. Salah mengertikan perubahan halus tubuh Sejun, Nara pun mundur, melepaskan pelukannya dengan enggan. "Kenapa?" tanya Sejun, menatap Nara bingung. Nara mengerjap beberapa kali, membalas tatapan Sejun dengan tatapan bertanya yang senada. "Aku pikir... aku memelukmu terlalu erat sehingga..." pandangan Nara naik tepat ke kornea Sejun, "kau merasa tak nyaman dan ingin lepas dariku." "Aku tidak merasa begitu," jawab Sejun, rasa keberatan atas kebijakan Nara melepaskan pelukannya yang tak ingin Sejun akui membuat suara pria bermarga Oh itu terdengar tegas. "Karena sepertinya kau sudah merasa baikan, bukankah lebih baik kalau kita pulang ke rumah sekarang?" Tatapan senang dan tidak percaya di wajah Nara sudah cukup menghibur Sejun dari suasana buruk yang datang bagai serbuan ngengat. "Kau bisa lanjut menangis di sana bila kau mau," tambahnya. "Baiklah. Aku ikut!" seru Nara, tidak bisa memercayai hadiah takdir ini. Senyum menawan di bibir Sejun membuatnya terlihat sangat tampan dan nyaris kekanak-kanakan. "Kau juga boleh tidur di ranjangku jika kau mau. Kali ini aku tidak akan melarang," Sejun berjanji, sedikit menyelipkan humor yang membuat Nara malu. "Jangan macam-macam." Nara terkekeh dan suasana seketika mencair seperti ice cream. Sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, Sejun mencondongkan tubuhnya ke depan seraya berkata, "Harusnya aku yang berkata seperti itu kepadamu. Bukankah hanya kau yang bisa menyentuhku? Jadi, harusnya aku yang merasa takut kalau kau akan berbuat macam-macam padaku saat aku tertidur." Nara mengentakkan kakinya dengan cara yang imut sembari memberengut lucu. Senyum tersipu serta decakan lidah campuran antara malu dan kesal, menyatakan rasa syukurnya yang tak terduga. "Aku mau pulang." Gadis itu berbalik memunggungi Sejun, kemudian berdiri di depan lift. "Tolong tekan tombol lift-nya untukku." "Siap, Bos!" jawab Sejun, tangannya serong di atas pelipis seolah-olah dia sedang memberi hormat kepada jenderal pemimpin upacara. ... Di tempat lain, di bawah kepulan asap rokok serta minuman keras yang datang bergilir, Hani menatap tajam ke arah Roy yang sibuk menikmati isapan demi isapan cerutu yang terkunci di antara jari-jarinya. "Jadi anak buahmu gagal menjalankan misi?" tanya Hani, memicingkan mata dengan kebencian yang tidak ditutup-tutupi kepada Roy yang terlihat tidak peduli kepadanya. "Tidak sepenuhnya gagal, hanya korbannya sedang beruntung," jawab Roy enteng, kembali mengepulkan asap berbentuk bulat ke udara. "Ya!" Hani menggebrak meja, namun suaranya kalah oleh dentuman suara musik yang berputar di sana. "Aku sudah menghabiskan seluruh uang tabunganku untukmu! Tapi mana pertanggungjawabanmu? Apa waktu itu kau hanya sedang membual kepadaku, hah?" "Calm down, Baby. Kau 'kan sedang hamil. Jadi, tolong jangan marah-marah. Kasihan bayinya." Roy memasang wajah memelas yang justru membuat Hani muak. Terpaksa Hani duduk kembali di atas sofa. Melipat kedua tangannya di depan d**a, menyilangkan kedua kakinya supaya terlihat anggun dalam balutan gaun malam yang seksi. "Aku sudah susah payah memanipulasi buku harian Nara agar Jay percaya kepadaku. Kau tahu? Mencari seseorang yang bisa meniru tulisan tangan seseorang itu tidak mudah. Tapi sialnya rencanaku harus hancur akibat perbuatanmu yang tanpa perhitungan matang itu." Hani menggerutu, memandang Roy dengan tatapan sinis menuduh. Roy mengetuk-ngetuk cerutunya di tepi asbak, membuang sisa pembakaran tembakau sebelum kembali menikmati racun dalam bentuk batangan itu. "Jangan khawatir. Masih ada lain waktu. Aku akui kalau aku memang salah," kata Roy tenang, "karena aku sudah menganggap enteng tugas yang kau berikan. Harusnya aku sendiri yang maju menghabisinya. Bukan anak buahku. Tapi yang terpenting sekarang adalah menghapus bukti-bukti yang mengarah kepadamu, juga kepadaku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN