Sejun yang terlambat mengantisipasi hantaman tak terduga dari Jay hanya bisa mengikuti arah pukulan pria itu agar rasa sakit yang ia terima berkurang. Tubuhnya yang tinggi melenting ke belakang sementara kaki kirinya ia gunakan sebagai tumpuan agar tidak terjatuh ke tanah. Tatapan mata Sejun yang terhunus ke arah Jay sarat dengan aura membunuh, diimbangi oleh gestur tubuh dengan kewaspadaan tinggi demi mengantisipasi serangan berikutnya meski di luar dia terlihat berdiri tenang dan menunggu.
Dikuasai amarah, Jay kembali merangsek maju berniat melayangkan tinjunya yang kedua ke perut Sejun. Namun kali ini Sejun bisa menghindar ke samping dengan gerakan secepat kilat sambil menahan pukulan dengan kedua tangan di depan tubuh, kemudian membalas serangan Jay dengan menyikut wajah lawannya keras-keras.
Jay terhuyung ke belakang, memegangi rahangnya yang baru saja terkena pukulan sembari meringis. Satu pukulan dari Sejun rupanya belum bisa menghentikan letupan angkara yang bergolak di hatinya bagai magma panas yang dikandung oleh perut bumi. Pukulan demi pukulan terus berdatangan dari kedua belah pihak dan itu membuat Nara histeris.
Gadis itu menatap panik wajah Sejun dan Jay yang sama-sama diliputi amarah secara bergantian, bingung harus bagaimana agar mereka berdua berhenti berkelahi karena dengan mengandalkan teriakan saja, hanya Sejun satu-satunya orang yang bisa mendengarnya sedangkan jika dia menahan Sejun agar berhenti, Jay belum tentu menyudahi apa yang sudah ia mulai.
"Apa kau selalu menyelesaikan masalah dengan pukulan?" tanya Sejun sarkas setelah Jay berhasil ia buat bertekuk lutut, "dasar orang gila." Sejun memandang Jay dengan kebencian yang sama seperti yang Jay lakukan kepadanya sembari mengatur napas.
Jay yang jatuh terduduk di tanah berumput itu mulai bangkit berdiri meski tertatih tanpa melewatkan pandangannya dari Sejun meski hanya sedetik. "Sudah berapa lama kalian selingkuh di belakangku?"
Sejun mengernyit, memiringkan sedikit kepalanya sedangkan Nara yang tadi berdiri di tengah-tengah kedua pria itu lantas bergerak ke arah Sejun, berdiri di sampingnya. "Apa kau bilang?" Awalnya Sejun tak mengerti, tapi sedetik kemudian pencerahan samar muncul di kepalanya. "Maksudmu sudah berapa lama aku menjalin hubungan dengan Nara sebagai sepasang kekasih, begitu?" Sejun menegaskan dengan nada mengejek, sebelum tawa mencemooh darinya meledak di udara, "aku tidak tahu kalau pikiranmu sedangkal ini." Napas Sejun sedikit tersengal karena tawa, seolah-olah dia baru saja mendengar lelucon terburuk yang pernah ia dengar selama ia hidup.
"Jangan pura-pura tidak tahu! Buku itu sudah menjelaskan semuanya kepadaku," balas Jay tak mau kalah.
Pandangan Nara dan Sejun otomatis tertuju pada buku yang tak sengaja terlempar ketika perkelahian berlangsung. Sesaat mereka berdua saling berpandangan dengan tatapan bertanya. "Aku tidak mengerti maksud Jay," kata Nara pahit.
Sejun bergegas memungut buku tersebut. Membawanya ke sudut paling terang di taman sepi suram tempat mereka berada sekarang, kemudian membukanya secara acak, berusaha mencari jawaban atas perkataan Jay dengan waktu sesingkat mungkin. Wajah Sejun yang mengeras ketika pria itu membaca buku di tangannya menjadi magnet tersendiri bagi Nara untuk mendekat.
Nara melongok, penasaran dengan apa yang sudah ia tulis di sana sehingga Sejun bisa dibuatnya terperangah sedemikian rupa. Tidak membutuhkan banyak waktu bagi Nara untuk ikut tercengang seperti Sejun setelah ia membaca paragraf demi paragraf pada lembaran terbuka yang menjadi titik fokus mereka berdua.
"Bohong!" Nara berseru, menatap Sejun dengan bola mata bergetar sementara dadanya kembang kempis tak beraturan. "Aku tidak pernah menulis seperti itu! Ini tidak mungkin! Sama sekali tidak mungkin karena kita berdua tahu kalau kita memang belum lama bertemu!"
Yang jadi pertanyaannya, bagaimana Nara menjelaskan semuanya kepada Jay sedangkan Jay sendiri sedang kehilangan akal sehat akibat perasaan cemburu yang tak terkontrol? Awalnya dia pikir memanfaatkan Sejun sebagai pembawa pesan darinya adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan di kondisinya sekarang. Tapi ternyata sikap Jay yang tak percaya dengan hal-hal di luar logika seolah menjadi hambatan tak terurai yang membuat usahanya terasa sia-sia.
Tidak hanya itu, sikap posesif Jay yang melekat hingga ke tulang sumsum dan semakin diperburuk dengan sikap tidak tegaannya kepada orang lain termasuk kepada Hani, semakin mempercuram jurang yang ada di antara mereka sehingga apa pun jembatan penghubung yang berusaha Nara bangun—dalam hal ini Sejun-lah yang ia minta menjadi jembatan penghubung komunikasi antara dirinya dan Jay, tidak termanfaatkan dengan baik.
Ini bukanlah hal yang Nara harapkan. Namun seolah-olah sudah menjadi hukum alam bahwa apa yang dia harapkan selalu saja bertentangan dengan apa yang terjadi di lapangan. Nara mendongak menatap wajah Sejun yang tampan dan tak terbaca, mencoba menerka apa yang akan pria itu lakukan untuk membantah tuduhan tak logis ini.
Dengan gerakan gusar Sejun menutup buku di tangannya hingga terdengar bunyi berdebam keras ketika kumpulan kertas-kertas itu saling bertubrukan. "Kau percaya semua yang ditulis di sini?" tanya Sejun, tangannya yang terangkat sejajar bahu merujuk pada buku tebal berbentuk binder yang ia pegang.
Salah satu sudut bibir Jay terangkat kemudian dia berkata, "Aku kenal kekasihku dan aku tahu bagaimana tulisan tangannya."
Retakan besar dan dalam terjadi di hati Nara setelah ia mendengar pengakuan dari Jay. Dia pikir Jay benar-benar mengenalnya sehingga dia akan langsung tahu jika yang tertulis di sana itu tidak semua benar. Nara tidak tahu bagaimana ceritanya buku binder yang ia jadikan diary jadi berubah isinya. Dan yang paling mengejutkan adalah, tulisan tangan di sana benar-benar persis dengan tulisan tangannya.
Bagaimana bisa Nara menulis rangkaian kata yang menggambarkan bahwa dia jatuh cinta dengan Sejun setelah beberapa kali pertemuan tak disengaja, padahal dirinya tidak pernah mengalami hal seperti yang tertera di sana? Ini seperti sudah dimanipulasi oleh seseorang yang tahu betul bagaimana perasaan akan mengalahkan logika saat Jay tahu kekasih yang ia cintai diam-diam menaruh hati kepada pria lain, lalu mengadakan pertemuan rahasia ketika Jay sedang tidak bisa menemuinya.
"Jika yang tertulis di sana itu memang benar dalam artian... aku memang bertemu dengannya sembunyi-sembunyi lalu menjalin hubungan, lantas bagaimana denganmu? Apa kau merasa suci setelah menyelingkuhi Nara dengan memacari kakak tirinya sendiri sampai hamil?" Alis Sejun terangkat di atas mata hitam pekatnya yang sinis, merasa tidak ingin menjelaskan lebih dari itu karena Jay tahu betul bahwa apa yang sudah ia lakukan dengan Hani jauh lebih menjijikkan daripada yang sudah ia tuduhkan kepada Nara.
Gigi Jay bergemeletuk menahan amarah yang berkecamuk di dalam dirinya. Dia tahu dia salah. Tapi sebelum dia berbuat kesalahan, dirinya ternyata sudah terlebih dahulu diduakan padahal selama beberapa hari ini, Jay sudah cukup tersiksa oleh perasaan bersalah yang seakan tak berujung. Hal itulah yang membuat pria itu tak terima sehingga melampiaskan semua kekesalannya, kecemburuannya, serta penyesalannya kepada Sejun yang benar-benar tidak tahu apa pun.
Sementara Sejun sedang memusatkan atensi kepada Jay sambil terus membantah perkataan omong kosong sambil bersiap menghadapi ancaman fisik yang bisa terjadi sewaktu-waktu, Nara yang berdiri mematung di sampingnya tiba-tiba saja merasakan rasa sakit yang hebat di kepala. Napasnya tersengal-sengal seolah-olah dunia dan semua orang di dalamnya berputar ke satu arah, sementara dirinya terus berputar ke arah yang berlawanan.
Firasat buruk menyerang bagaikan busur panah yang menembus tubuhnya tanpa jeda. Perlahan tapi pasti gadis itu mundur dari sisi Sejun dengan perasaan bingung, tak mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri. Sesuatu mendorongnya untuk terus pergi menjauh, sementara Sejun terlalu sibuk menghadapi kebebalan Jay untuk menyadari keberadaan Nara yang kini tidak lagi berada di sisinya.
"Aku mau kau berhenti mendekati Nara dan enyah dari kehidupan kami!" seru Jay lantang, masih diliputi oleh kemarahan yang sama seperti sebelumnya. "Kau tidak perlu ikut campur ke dalam masalah kami lebih jauh lagi, karena aku akan memperbaiki semuanya dengan caraku sendiri." Jay diam sejenak sebelum kembali meneruskan. "Selain itu, berhentilah memfitnah Hani karena bagaimanapun juga, dia adalah ibu dari anakku."
Bukannya mengiyakan apa yang diminta Jay supaya pria itu berhenti berbicara omong kosong, Sejun malah terus berdiri tegap dengan kesan menantang dan angkuh, seolah-olah Sejun sedang mengakui bahwa dirinya memang memiliki hubungan dengan Nara terlepas dari apa pun dugaan yang terlintas di benak Jay mengenai hubungan yang ia maksud.
Sejun merasa kalau dia sudah terlanjur terlibat ke dalam masalah mereka. Tentu saja Sejun akan menuntaskan porsinya sesuai ketentuan yang sudah disepakati, walau tanpa dia sadari, dirinya sudah terseret terlalu jauh dari yang seharusnya. Jay harus tahu kalau dia sedang ditipu. Maka dari itu Sejun belum mau menyerah membeberkan bantahan-bantahan yang mampu membuat argumen konyol Jay patah.
"Percayalah padaku. Suatu hari nanti, kau benar-benar akan menyesali apa yang sudah kau katakan hari ini," jawab Sejun santai, melepas jas hitamnya lalu menyampirkannya di tangan kiri.
Sejun sedang melipat lengan kemejanya hingga siku saat ia menyadari kalau Nara sudah tak terlihat di mana pun. Pria itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Menyipitkan mata menyusuri jarak terjauh yang bisa dijangkau kedua netranya, tanpa memberikan perhatian sedikit pun pada kata-kata balasan yang terus Jay tembakan kepadanya.
"Nara!" panggil Sejun, sementara debaran jantungnya terus dan terus meningkat di tiap detik yang berlalu. "Jung Nara! Kau di mana?" Sejun bergegas pergi, meninggalkan Jay yang memandangnya dengan tatapan aneh.
Semburan kekesalan Jay karena usaha Sejun untuk memanipulasi serta menyulut amarahnya selama beberapa menit terakhir tiba-tiba berganti dengan rasa penasaran yang hebat, sementara dia melihat Sejun berlari ke sana ke mari sembari memanggil-manggil nama kekasihnya. Jay yang berdiri diam mengamati Sejun akhirnya memutuskan untuk mengejar Sejun yang berlari ke dalam rumah sakit.
Sikap cemas Sejun yang menurutnya berlebihan menjadi bahan bakar yang membuatnya mampu menyusul Sejun sebelum pria itu masuk melewati pintu kaca yang menjadi pintu utama rumah sakit itu. Tangannya yang panjang meraih kerah kemeja Sejun sekuat tenaga. Menariknya hingga Sejun terdorong ke belakang, lalu ketika tubuh Sejun berputar ke samping, Jay lantas melayangkan kembali pukulan kerasnya ke rahang, persis seperti yang sudah Sejun lakukan kepadanya tadi.
Sejun tidak langsung jatuh akibat pukulan tersebut. Namun, dia juga tidak langsung membalas hantaman yang ia terima. Pikirannya terlalu kalut untuk merespon dengan cepat serangan balasan dari Jay, sedangkan firasatnya terus menerus memerintah supaya dia segera menemukan Nara sebelum terlambat.
"Mau ke mana kau, Br3ngsek! Urusan kita belum selesai," seru Jay, mengeratkan cengkeraman tangannya di kerah kemeja Sejun.
"Minggir, Sialan!" Sejun meronta sekuat tenaga hingga lilitan di lehernya pun terlepas sempurna.
"Masalah kita belum selesai!" bantah Jay seraya mendorong bahu Sejun keras-keras.
Sejun mulai dibuat tak sabar. Keinginan untuk mengalahkan si pengganggu mengalir deras di dalam darahnya dan Sejun segera mengeluarkan ancang-ancang dengan menekuk lutut, mengarahkan pukulan dari bawah menuju area sekitar dagu lawan. Tubuh Jay terangkat oleh pukulan tersebut, kehilangan keseimbangan lalu terbanting ke belakang hingga menimbulkan bunyi berdebam yang keras ketika punggungnya jatuh menghantam lantai.
Aktivitas orang-orang yang berada di sekitar mereka pun terhenti seolah-olah jarum-jarum waktu tidak lagi saling berkejaran. Pandangan mereka sepenuhnya tertuju pada Sejun yang langsung berlari masuk setelah memberikan sebuah kartu nama kepada security yang gagal melerai mereka, sedangkan Jay yang habis terkena uppercut dari Sejun kini tak sadarkan diri.
...
Nara terus berlari melintasi koridor demi koridor menuju ke ruang ICU. Perlahan-lahan Nara seakan sadar dari kebingungan seperti mimpi yang mendorongnya terus melaju seperti orang gila. Jiwanya merasakan adanya tanda bahaya yang sedang mengancam sebelum lehernya terasa dicekik oleh sesuatu.
Langkah kaki itu mulai melambat. Semakin melambat dan terus melambat sampai akhirnya berhenti lalu jatuh. Gadis itu tersungkur di lantai sembari memegangi tenggorokannya sendiri sementara udara yang bergerak menuju paru-paru seakan terhenti oleh sesuatu.
Nara berusaha keras meminta tolong. Namun yang keluar dari bibirnya hanya gumaman tak jelas yang tentu saja tidak akan didengar oleh siapa pun di sana, terlebih lagi Oh Sejun sedang tidak berada di dekatnya. Kamar ICU tempat raganya dirawat hanya berjarak beberapa langkah lagi. Nara yang sudah setengah sekarat itu mengulurkan tangannya ke depan sembari menyeret tubuh rapuhnya dengan susah payah.
Air mata terbit di mata Nara, menyekat tenggorokan, dan hatinya yang tak berdaya berdoa dengan segala macam doa yang ia bisa agar marabahaya yang bisa mencelakainya, apa pun itu, bisa dicegah dengan pertolongan yang hadir tepat pada waktunya. Di masa-masa kritis, Nara beruntung karena doanya langsung dikabulkan oleh Tuhan.
Pertolongan itu hadir dalam bentuk Sejun yang berlari tanpa ragu ke arahnya. Setelah sampai, pria itu berjongkok dengan satu lutut menyentuh lantai kemudian bertanya, "Kenapa kau menghilang tiba-tiba?" Sorot mata khawatir begitu nyata di manik pekat kopi milik Sejun.
Nara menatap Sejun dengan mata berkaca-kaca. Hatinya yang beberapa detik lalu diliputi oleh kengerian yang nyata, serta merta langsung diserbu oleh ketenangan yang merasuk dengan cara yang lembut. Tangan kanannya terangkat dan Nara menunjuk ke arah di mana raganya berada.
"To... long..." katanya susah payah.
Pandangan Sejun spontan mengikuti arah telunjuk Nara. Dia buru-buru berdiri kemudian berlari ke ruang ICU, tepat setelah seseorang yang mengenakan pakaian steril lengkap dan memiliki perawakan seorang pria keluar dari sana dengan gerak-gerik yang mencurigakan.
Mata Sejun terbelalak lebar. Suara kerasnya berseru pada pria misterius yang barusan ia lihat. "HEI! BERHENTI!" Sejun mempercepat langkahnya. Namun laki-laki misterius itu keburu hilang dari pandangannya setelah berbelok ke koridor lain, sementara Sejun berdiri di depan pintu ruang ICU, bergantian memandang ke dalam dan ke koridor yang belum lama ditinggalkan si pria misterius.
Dengan berat hati Sejun membiarkan pria itu lolos dari cengkeramannya. Karena demi apa pun, segera masuk ke dalam ruang ICU untuk memeriksa kondisi Nara adalah hal yang paling utama baginya saat ini. Mata Sejun terbelalak sempurna ketika alat bantu pernapasan yang selama ini menopang hidup gadis itu tidak terpasang sebagaimana mestinya.
Sejun cepat-cepat memasang ventilator itu kembali kemudian berlari keluar ruangan untuk meminta bantuan pada dokter dan suster yang seharusnya ada di sana untuk berjaga. Sialnya, begitu Sejun sampai di ruangan tempat tenaga medis berjaga, mereka semua sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Pria bermarga Oh itu mengerang, mengutuk dalam hati siapa pun orang yang dengan sengaja merencanakan semua kejadian ini. Selang beberapa menit kemudian, Sejun kembali ke ruang ICU bersama beberapa tenaga medis lainnya yang berhasil ia panggil. Mereka, para tenaga medis itu, langsung memberikan pertolongan pada Nara yang detak jantungnya sempat melemah akibat berkurangnya suplai oksigen yang masuk ke paru-paru, sementara Sejun hanya bisa berdiri diam dengan pandangan tak terbaca di luar ruangan.