12. Frontal

2093 Kata
Ketika Nara terdiam, Sejun kembali mendesak. "Apa kekasihmu tidak pernah mengatakan padamu kalau kau itu cantik?" Nara memutar kepala menghadap Sejun yang fokus menatap jalan. "Tidak juga. Dia cukup sering memujiku." Nada suaranya getir dan dia tersenyum kecut, tahu kalau pujian hanyalah sekedar kata-kata tak berguna jika tidak dilandasi oleh kesetiaan. "Kalau begitu, kenapa dia meninggalkan gadis secantik dan semandiri dirimu demi wanita lain? Apa dia selingkuh di belakangmu?" Lagi-lagi Nara terdiam cukup lama. Malu dan bingung, Nara ragu sejenak sebelum berkata, "Fifty fifty." "Hm? Apa maksudmu dengan fifty fifty?" "Mungkin dia selingkuh. Mungkin juga hanya kecelakaan yang mengharuskan dia menikahi kakakku. Aku tidak tahu yang mana yang benar." Sejun tersenyum penuh arti setelah dia memahami apa yang terjadi pada Nara lewat potongan puzzle yang gadis itu ceritakan padanya. "Apa kau pernah tidur dengannya?" tanya Sejun dengan suara dan ekspresi teramat santai, seakan-akan apa yang ia tanyakan bukanlah hal yang tabu. Berbeda dengan Sejun, Nara ternganga di tempatnya, tidak menyangka kalau Sejun benar-benar sevulgar dan setidak tahu malu ini. "Issshhh... kau benar-benar—haaah!" Nara mendesah, membuang tatapannya ke luar jendela sementara rasa syok yang ditimbulkan oleh pertanyaan sialan yang membuat pipinya memanas belumlah hilang. "Kenapa kau begitu frontal? Apa kau tidak malu bertanya seperti itu kepada seorang gadis?" "Jangan berlebihan. Hubungan seperti itu sudah menjadi hal yang biasa di negara ini. Kau tahu kan kalau Korea sudah seperti negara-negara barat?Kau hanya perlu menjawab iya atau tidak." "Pria ini benar-benar!" Suara Nara sempat menghilang sebelum dia mengatakan dengan tegas. "Tentu saja tidak!" "Dia sama sekali tidak pernah mengajakmu ke ranjangnya?" tanya Sejun lagi. Pria dengan manik mata sepekat malam itu tahu kalau pertanyaannya sudah melewati batas kesopanan. Namun entah kenapa dia tidak bisa berhenti. Sejun tidak bisa berhenti menanyakan semua hal yang terlintas di kepalanya tentang Nara, sehingga ia tidak merasa harus menyortir mana pertanyaan yang harus ia simpan sendiri dan mana yang boleh dia keluarkan. "Kalau mengajak... eum... pe-pernah, sih," aku Nara seraya menggaruk belakang telinganya dengan canggung, "dia... dia tidak memintanya secara langsung. Tapi meski begitu," Nara buru-buru mengoreksi agar Sejun tidak salah paham, "dia benar-benar menghargai dan menghormatiku." "Oh," gumam Sejun datar. "Dia sangat menghargaimu dengan tidak memaksamu tidur dengannya melainkan meminta orang lain untuk menggantikanmu." Mengangkat matanya yang kesal ke wajah Sejun, Nara mendecakkan lidah beberapa kali karena frustasi. "Jay tidak sengaja melakukannya! Dia... dia tidak mencintai kakakku. Pernikahan yang akan mereka jalani nantinya hanya akan bertahan sampai bayi itu lahir!" Tawa serak dan dalam bergema dari d**a Sejun sebelum dia memberikan komentar. "Jika kau yakin kekasihmu akan benar-benar menceraikan kakakmu, kenapa kau berpikir untuk bunuh diri?" Nara merasa tertohok oleh pertanyaan Sejun hingga lidahnya berubah kelu. Nara sendiri tidak mengerti, setan apa yang merasukinya hingga dia bisa berpikiran sependek itu padahal selama bertahun-tahun dirinya sudah bertahan menjalani kehidupan pahit dengan susah payah. Kata-kata Sejun membuatnya sadar bahwa dia tidak sepercaya itu kepada Jay, seperti apa yang ia katakan kepada Sejun barusan. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan, sama seperti tidak ada yang bisa menjamin kalau hati Jay tidak akan luluh kepada kakaknya setelah mereka terikat dalam ikatan pernikahan. Terlebih lagi mereka berdua sudah memiliki seorang anak yang pasti akan menjadi pertimbangan berat bagi Jay untuk pergi meninggalkan kakaknya. Dengan usaha besar, Nara berhasil membuat dirinya terlihat tenang seakan-akan pertanyaan Sejun sama sekali tidak membuat jiwanya terusik. "Saat itu aku sedang terbawa emosi. Aku juga sedang mabuk sehingga aku tidak bisa berpikir jernih." Lagi-lagi Sejun hanya bergumam santai menanggapi pengakuan Nara. Gemas karena merasa hanya dia yang terus-terusan ditodong, Nara pun mengeluarkan statement dengan maksud menguji. "Sepertinya kau pria yang cukup berpengalaman." "Berpengalaman dalam hal apa?" "Berpengalaman menghabiskan malam dengan wanita." Nara merasa malu dengan kata-katanya sendiri, namun berakhir masa bodoh karena ingin menguliti Sejun seperti pria itu mengulitinya. "Kau tampan, kaya, dan sukses. Pasti mudah mendekati wanita mana pun dengan semua yang kau miliki." "Apa kau baru saja memujiku?" Sejun tersenyum lebar hingga barisan giginya yang rapi terlihat. "Anggap saja begitu." "Sayangnya aku harus mengecewakanmu dengan fakta bahwa aku tidak pernah tidur dengan wanita mana pun. Tapi jika itu berkaitan dengan keahlian, aku jamin kalau aku sangat lihai dalam hal itu. Aku sudah tahu bagaimana cara agar—" "He—hei! Kau tidak—kau tidak perlu menjelaskannya!" Nara kalang kabut. "Sudah.... A-aku percaya kalau kau memang ahli. Sangat ahli tentu saja." Wajah Nara terasa panas ketika ia menyadari betapa tidak pantasnya topik yang sedang mereka bahas, tetapi sudah terlambat untuk kembali dan di samping itu Sejun malah terkesan jadi mudah didekati alih-alih terlihat dingin. "Tahu dari mana kau kalau aku sangat ahli? Padahal aku belum menawarkan pernikahan untukmu supaya kau bisa membuktikan ucapanku secara langsung." "HEI! ANDA!" Nara melotot sejadi-jadinya sementara gerakan bahu lebar Sejun yang samar menunjukkan tawanya dan dia tersenyum mencela. "Kenapa? Bukankah aku sedang mengobati rasa penasaranmu?" "Ya, tapi tidak begitu juga," jawab Nara gelisah sembari memilin-milin tangannya sendiri. "Ya sudah, aku minta maaf jika aku sudah bersikap tidak sopan padamu," kata Sejun tulus, masih menyelipkan sisa-sisa tawanya ketika dia berbicara. "Aku ingin bilang kepadamu kalau kau itu cantik, bersinar, dan pantas mendapatkan kebahagiaan. Jangan biarkan orang lain membuatmu merasa sebaliknya. Kau pantas mendapatkan yang terbaik." Nara akui rentetan kalimat dari Sejun kepadanya bagaikan mantra ajaib yang membawa oase ke dalam hatinya yang sudah setandus gurun. Setiap aksara yang tersusun rapi dari bibir pria itu Nara serap dengan baik seperti halnya dia menghirup udara yang kini sudah mulai ia rindukan. Di lain sisi, Sejun tiba-tiba terbuai oleh kata-katanya sendiri yang dia ingat dia dapatkan dari Sunny, sang mantan kekasih yang masih saja terbayang di benaknya meski samar. "Ibuku bilang kalau aku tidak boleh membiarkan orang lain membuatku berpikir kalau aku tidak berharga. Aku bersinar dengan caraku sendiri. Aku kuat dan aku pantas bahagia. Begitulah seharusnya aku mencintai diriku." Sejun membuka kedua kelopak matanya yang terpejam sesaat. Wajahnya berubah serius, sesuatu yang belum Nara sadari karena sibuk memikirkan apa yang Sejun pesankan kepadanya. Tanpa terasa jarak antara mereka dan rumah sakit yang dituju hanya tinggal melewati dua belokan lagi. Hingga mereka sampai di tempat parkir, tak ada percakapan lain dari bibir mereka sebagai pembuka hadirnya topik-topik lain untuk mereka bahas. "Sudah sampai," kata Sejun sembari melepaskan sabuk pengaman di tubuhnya. Tangannya meraih gagang pintu mobil. Membukanya, kemudian menutupnya lagi ketika Nara hanya bergeming alih-alih bergegas keluar seperti dirinya. "Kenapa?" Nara menoleh sekilas ke arah Sejun kemudian menunduk, secara tidak sadar memainkan kuku ibu jarinya setiap kali dia merasa gugup atau cemas. "Entah kenapa aku memiliki firasat buruk. Tadinya aku senang karena aku akan bertemu dengan Jay. Tapi setelah sampai di sini, hatiku tiba-tiba berubah." Dengan nada tenang dan tidak bisa dibantah, Sejun berkata, "Kau tidak akan tahu apa yang akan terjadi jika tidak menghadapinya. Ayo turun. Nanti kita akan tahu apa yang ingin dibicarakan oleh kekasihmu." Tanpa terburu-buru, Sejun keluar dari mobil dan menoleh ke arah Nara, memeriksa apakah gadis itu mengikutinya atau tidak. Setelah mereka sampai di depan ruang ICU, Jay terlihat berdiri di depan jendela kaca, memandangi tubuh tak berdaya yang tergolek di seberang ruangan dengan tatapan tak terbaca. Sejun pun segera mendekati pria itu sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Di derap langkah Sejun yang terakhir sebelum kedua kakinya menetap di bumi, Jay berkata tanpa menoleh. "Aku kira kau tidak akan datang." Sejun tersenyum datar, memutar tubuhnya mengikuti arah pandang Jay. "Maklum. Aku belum sempat memberitahumu kalau aku akan datang di telepon." Setelah terdiam cukup lama, Jay kemudian berkata, "Siapa kau? Apa hubunganmu dengan Nara." Terkandung bara api di dalam setiap kalimat yang ditujukan Jay kepada Sejun. Perlahan kepala pria itu bergerak ke samping, memandang Sejun dengan tatapan bermusuhan. "Apa hubunganmu dengan Nara, kekasihku?" Melihat ekspresi Jay yang jelas-jelas diwarnai rona cemburu bercampur amarah, Sejun tersenyum miring kepadanya. Tubuhnya yang tinggi tegap berputar hingga kedua pria tampan itu berdiri berhadapan dengan sorot mata saling menyerang. Berkat itu, suasana di sana secara otomatis menjadi panas. Nara tahu tabiat Jay yang amat pencemburu. Sedangkan Sejun, pria itu tidak suka diperintah seenaknya, diintimidasi, dan harus menjadi yang paling dominan di situasi apa pun. Jika keduanya bertemu dalam atmosfer rentan seperti sekarang, Nara yakin sekali bukannya bicara empat mata yang terjadi demi mendapat solusi melainkan baku hantam yang akan membuat pasien lain merasa terganggu. Pikiran buruk itu mendorong Nara untuk segera bertindak dengan mencegah mereka beradu argumen di tempat ini sebelum terlambat. Gadis itu melingkarkan tangannya di lengan Sejun. Mengguncangnya lembut sementara dadanya naik turun gelisah kemudian berkata, "Tolong ajak dia bicara di tempat lain. Jangan di sini. Tidak aman." Sejun melirik acuh tak acuh, tetapi jelas ia mendengarkan. "Ikut aku," titah Sejun tegas, "aku akan menjawab pertanyaanmu di tempat lain." Setelah berkata demikian, pria bermarga Oh itu berbalik badan, pergi keluar dari koridor ruang ICU sementara Jay mengikutinya dengan enggan. "Bawa dia ke tempat parkir, kafe, atau di mana saja yang penting jangan di dalam rumah sakit," bisik Nara ketika dia berjalan beriringan dengan Sejun. Dengan anggukan tipis Sejun pun menurut. Langkahnya yang tegas menggiring Jay menuju ke taman berukuran kecil di luar rumah sakit dekat pelataran parkir yang dikhususkan bagi para pekerja medis. Mereka berdiri berhadapan di dekat salah satu pohon rindang yang terdapat bangku panjang di bawahnya. Sebelum pembicaraan mereka dimulai, masing-masing saling memindai lawan bicaranya, seolah-olah mereka adalah dua orang mafia yang akan bertarung satu sama lain lewat duel yang sengit. "Katakan kepadaku apa hubunganmu dengan Nara? Bagaimana kau bisa mengenalnya sedangkan setahuku, dia tidak banyak memiliki teman apalagi teman laki-laki." "Aku memang belum lama mengenalnya. Seperti yang sudah pernah aku jelaskan kepadamu." "Bohong!" Jay membentak, menganggap perkataan Sejun hanyalah omong kosong belaka. "Aku tahu apa yang aku katakan kepadamu sebelumnya memang sulit dipercaya atau diterima oleh akal sehat. Tapi memang seperti itulah yang terjadi." "Bagaimana mungkin Nara bisa mengenalmu sedangkan dia sendiri sedang terbaring koma!" Jay semakin tidak sabar. "Katakan dengan jujur," embusan napas Jay mulai tidak teratur, wajahnya merah padam menahan gejolak panas yang membakar dadanya bagai api, "ada hubungan apa kau dengan kekasihku? Kenapa Nara malah meminta tolong kepadamu bukannya kepadaku jika apa yang kau katakan itu memang benar!" Sejun berdecih jijik. "Aku yakin gadis itu pun tidak mengetahui jawaban dari pertanyaanmu barusan. Daripada kau meributkan masalah yang bukan masalah inti, lebih baik kau membereskan dalang dibalik semua kejadian ini. Kau harus menghukum orang yang sudah mencelakai kekasihmu jika kau memang mencintai dia." "Hani tidak melakukannya." Kedua alis tebal Sejun berkerut dan dia tersenyum mencemooh. "Kenapa kau begitu yakin? Apa kau sudah memeriksanya dengan benar?" "Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau begitu yakin kalau Hani-lah pelakunya? Kau punya dendam apa kepada Hani sampai-sampai kau menuduhnya mencelakai adiknya sendiri?" Nara yang terus mendengarkan pembicaraan mereka tanpa Jay ketahui jelas dibuatnya tercengang. Gadis itu tidak menyangka kalau Jay senaif dan sebodoh ini, hingga dia percaya kalau sejahat-jahatnya Hani wanita itu tidak akan pernah tega untuk mencoba membunuh adiknya sendiri. Melihat ekspresi kecewa Nara yang begitu dahsyat, amarah asing yang merambat ke dadanya mulai membakar Sejun. Sorot matanya awas bagaikan serigala yang sedang mengintai mangsa dan bersiap menerkam kapan saja. "Kenapa kau begitu yakin kalau Hani tidak mencoba membunuhnya?" Sejun balik bertanya, berusaha keras menahan kepalan tangannya yang gatal ingin meluncur ke wajah Jay supaya pria itu sadar dengan apa yang sudah dia katakan. Suara Sejun yang terkesan menantang mendorong Jay mengeluarkan bukti ucapannya yang baru Sejun sadari sudah pria itu pegang sejak mereka bertemu. Jay mengangkat buku diary yang ada di tangannya agar Sejun bisa melihat benda itu dengan jelas, kemudian melemparkannya ke d**a Sejun yang refleks langsung ditangkap oleh pria itu. Sejun membuka buku tersebut secara acak lalu menutupnya lagi. "Apa ini?" tanya Sejun, merasa lebih efisien jika Jay yang langsung menjelaskan padanya daripada dia harus membaca buku itu sendiri. "Di buku diary milik Nara jelas tertulis kalau dia sudah lama berencana untuk bunuh diri. Dugaan itu semakin diperkuat dengan surat yang aku temukan di apartemen Nara setelah dia jatuh koma. Jadi aku hanya ingin menegaskan kepadamu kalau Hani tidak ada sangkut pautnya dengan kasus ini dan berhentilah menuduhnya yang bukan-bukan!" Mulut Sejun terbuka, menatap Jay tidak percaya. "Semudah itu kau percaya pada Hani? Haaaaah!" Sejun membuang napas kasar seraya berkacak pinggang, "kau bodoh atau apa? Apa kau tidak memeriksanya kembali? Dengar! Buku diary itu ditulis berdasarkan perasaan pada hari itu. Sedangkan hati manusia itu gampang berubah-ubah. Kau tidak bisa hanya berpegang pada buku diary sialan ini tanpa mencari bukti lain!" "Bodoh? Kau yang bodoh, Br3ngsek!" Jay mencengkeram kuat kerah jas Sejun sebelum dia melayangkan tinju ke pipi pria yang sudah membuatnya nyaris hangus karena cemburu, begitu dia membaca lembar demi lembar buku harian milik Nara yang Hani berikan kepadanya sore hari ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN