"Kau sedang diikuti oleh roh jahat yang akan mencelakaimu! Dia akan mengambil sesuatu yang berharga darimu tanpa kau sadari lalu meninggalkanmu dalam keadaan sekarat!" teriaknya dengan mata melotot.
"Roh jahat?" ulang Sejun dan Nara secara bersamaan, kembali bertatapan.
Nara merasa tidak terima ketika dirinya disebut sebagai roh jahat apalagi pencuri karena seumur hidupnya, dia tidak pernah mencuri apa pun dari siapa pun. Bahkan kalau dipikir-pikir, selama ini dialah yang sering menjadi korban dari aksi pencurian. Bukan sebaliknya. Ayah berikut kasih sayangnya telah dicuri, rumah dan ketenangannya dicuri, lalu cinta dan kebahagiaannya pun dicuri. Lantas, bagaimana bisa malah dia yang dituduh sebagai pencuri padahal sejatinya dialah yang menjadi korban?
Terhina dengan fitnah yang dilontarkan oleh sang paranormal padahal dia tidak melakukan apa pun kepada Sejun seperti yang dituduhkan kepadanya, Nara pun berdiri secepat kilat, menunjuk-nunjuk wajah penuh lemak paranormal itu sembari meluapkan kekesalannya. "Ya! Bagaimana bisa kau menyebutku hantu jahat apalagi pencuri? Padahal satu-satunya kejahatan yang pernah aku perbuat itu hanya menakut-nakuti Jimmy saja!"
Nara melipat tangannya di depan d**a dengan gusar, memelototi dukun sialan yang masih sibuk dengan lonceng serta mantra anehnya. "Memangnya apa yang bisa aku ambil dari Sejun? Aku bahkan tidak bisa mengambil novel yang sangat ingin aku baca dari kamarnya," batin Nara, tak habis pikir dengan perkataan nyeleneh yang terkesan ingin menakut-nakuti kliennya saja.
Tindakan Nara yang tiba-tiba berdiri membuat atensi Sejun terpusat seluruhnya pada gadis itu dan dia langsung melayangkan tatapan protes ketika Nara berkata 'satu-satunya kejahatan yang ia lakukan hanyalah menakut-nakuti Jimmy.' Nara langsung salah tingkah begitu ia menyadari sorot mata Sejun yang seolah bertanya, "Apa kau yakin hanya itu saja kejahatan yang kau lakukan?"
Merasa dihakimi, Nara pun segera meralat ucapannya meski sedikit terpaksa. "O-oke, oke. Selain menakut-nakuti, aku juga... eum... sedikit memaksakan kehendak padamu," katanya canggung.
Sejun mendengus, sebelah tangannya ia sangga di atas paha sementara tatapannya yang terkunci pada Nara semakin menuntut. Gadis itu melirik sekilas ke arah pria di sampingnya sembari menahan napas. Semakin terintimidasi, Nara segera memasang kedua tangan di depan d**a sambil tersenyum tanpa dosa. "Baiklah. Masih ada lagi," katanya hati-hati, "aku juga bersalah karena sudah membuat Sejun-ssi disalahpahami oleh keluarganya sendiri."
Barulah setelah itu Sejun mengangguk, puas dengan pengakuan Nara. Namun, tak lama setelah dia kembali meluruskan tubuhnya dan menatap ke depan, semburan air yang keluar dari mulut sang paranormal langsung menyerbu wajahnya secara tak terduga. Di sampingnya Nara terperanjat sembari menutupi mulutnya dengan kedua tangan, sedangkan Sejun refleks menutup kelopak matanya erat-erat.
"&$@#"*:&$+$($@#@&!#$@#!" Paranormal itu terus meracau tak jelas, menatap lekat ke arah Sejun yang menurutnya sedang mengalami gangguan berat dari makhluk halus yang menurutnya sangat berbahaya.
Tangannya yang tadi terangkat ke atas sembari membunyikan lonceng kini sudah berada di sisi baskom yang berada di hadapannya, mengangkat wadah air itu lalu meminumnya lagi, kemudian berkumur-kumur dalam waktu yang agak lama sembari menutup mata. Ketika mata si paman ahli terbuka dan dia bersiap-siap menyemburkan kembali isi dalam mulutnya ke wajah Sejun, sebuah pistol yang teracung tepat di tengah kepala membuatnya menelan air tersebut dalam satu kali tegukan.
"Silakan saja teruskan tindakan bodohmu itu jika kau mau peluru ini meluncur menembus otakmu!" ancam Sejun, geram.
Paman yang tak pernah menduga kalau kliennya akan berbuat demikian pun berdalih. "A-a-aku sedang membantu mengusir hantu jahat yang sedang mengganggumu lewat ritual ini. Air itu yang akan membuat semua hantu di muka bumi ini tidak berani mendekatimu. Se-sekarang... tolong turunkan pistolmu itu, ya?" pintanya sopan sementara tubuhnya yang tambun gemetar ketakutan.
Moncong pistol semi otomatis yang tak kunjung bergeser dari objek sasaran bidik yang tak lain adalah kepalanya sendiri itu membuat sang paranormal pingsan di tempat tak lama kemudian. "Oh Sejun... lebih baik kita pergi dari tempat ini. Mungkin... dia hanyalah seorang paranormal abal-abal." Nara mencoba menenangkan Sejun walau dia sendiri sedikit merasa takut.
Kendatipun Nara tahu bahwa Sejun adalah pria baik yang terkadang bersikap galak dan sinis, dia tidak pernah menduga kalau Sejun memiliki sisi yang seberbahaya ini, mengingat tingkahnya yang sopan dan polos ketika dia sedang berada di tengah-tengah keluarganya sendiri.
Perlahan Nara menurunkan tangan Sejun. Memberikan senyum terbaik yang ia punya saat pria itu menatapnya tajam, mencoba meredakan emosi Sejun dengan mengalihkan perhatiannya ke hal lain. "Bagaimana kalau kita pergi makan malam? Aku tahu tempat makan yang enak di daerah ini meski tempatnya tidak terlalu besar."
Sejun menyeringai, tangannya yang memegang pistol sudah berada di sisi tubuh. Setelah menyimpan senjata apinya di balik saku jas, Sejun mengeluarkan peluru dari sakunya yang lain untuk dipamerkan kepada Nara yang masih terlihat tegang. "Kosong," kata Sejun
sembari menyodorkan proyektil padat yang terbuat dari logam tepat di depan wajah Nara.
Nara ternganga. Merasa bersyukur sekaligus gusar oleh tindakan Sejun yang menurutnya berlebihan. "Itu sama sekali tidak lucu, Oh Sejun!" katanya dingin.
"Aku tidak sedang melucu karena aku bukan pelawak. Aku hanya sedang mengancam."
Setelah berkata demikian, Sejun melangkah lebar keluar dari rumah yang menjadi tempat praktek paranormal abal-abal yang sampai saat ini masih tidak sadarkan diri di kursinya.
...
"Apanya yang 'si paman ahli'? Besok aku akan buat perhitungan pada Jimmy," rutuk Sejun, menutup pintu mobilnya dengan entakan keras.
Nara yang awalnya takut juga kesal jadi merasa lucu saat ia melihat ekspresi Sejun yang sedang bersungut-sungut sementara rambut dan pakaian yang dia kenakan basah terkena air bekas kumur-kumur orang lain.
"Pasti air itu sangat sakti. Kalau kau lihat bagaimana cara dia berkumur-kumur, kau pasti akan sangat takjub!" Nara tertawa terbahak-bahak sembari memukul-mukul pahanya kala mengingat ekspresi khusyu sang paranormal sebelum pistol Oh Sejun menodong kepalanya.
"Tertawalah sepuasmu." Sejun mengambil tisu di atas dashboard lalu menyapukannya ke seluruh wajah.
Setelah wajahnya cukup kering, Sejun langsung menyalakan mesin mobil, melajukan kendaraannya menembus kegelapan malam.
"Sekarang kita mau ke mana?" tanya Nara setelah perjalanan berlangsung beberapa menit.
"Pulang."
"Langsung pulang?"
"Memangnya mau ke mana lagi? Aku benar-benar sedang tidak mood."
"Ya ya, aku mengerti. Omong-omong, apa kau selalu membawa pistol di balik jasmu?"
"Tidak selalu. Tapi sering. Ini hanya untuk berjaga-jaga saja."
"Apa kau pernah mendapat serangan tiba-tiba dari seseorang sampai kau harus sewaspada itu?"
"Dunia ini banyak diisi oleh orang-orang iri. Tidak ada yang tahu kapan orang-orang itu akan menyerangmu entah dengan lisan atau pun tangannya."
Di detik selanjutnya, suara dering ponsel memecah ketenangan singkat mereka tepat sebelum Nara membuka mulut untuk menanggapi pernyataan Sejun. Nomor tak dikenal yang tertera di layar sempat membuat Sejun ragu untuk mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya. Awalnya ibu jari Sejun sudah bersiap menekan tanda merah untuk menolak panggilan asing tersebut, tapi oleh Nara niatnya itu segera dihentikan begitu dia melihat susunan nomer yang ia tahu betul siapa pemiliknya.
"Itu Jay!" serunya bersemangat sekaligus penasaran. "Angkat saja. Mungkin dia ingin membicarakan hal yang penting denganmu."
Mengiyakan permintaan Nara, Sejun terlebih dahulu memasang handsfree miliknya di telinga sebelum mengangkat panggilan yang terus berdering beberapa kali.
"Halo," sapa Sejun terlebih dahulu, sementara matanya lurus menatap jalan di depan yang minim pencahayaan.
"Ayo bertemu! Aku ingin bicara empat mata denganmu."
Sejun mengernyit mendapati adanya getaran tidak suka di dalam nada suara pria yang merasa tak perlu repot-repot berbasa-basi dengannya. Sempat melirik ke arah Nara yang mengawasinya dengan raut wajah penasaran, Sejun melambatkan laju kendaraan lalu menepi ke pinggir jalan. Pria pemilik perusahaan Prospero Enterprise itu langsung mengaktifk21 loud speaker ponselnya begitu mobil berhenti supaya Nara bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas.
"Mau bertemu di mana?" tanya Sejun tak kalah dingin.
"Sekarang aku sedang berada di rumah sakit. Cepatlah ke sini sebelum jam besuknya habis. Aku tunggu dan jangan lama-lama."
Jayden Lee yang kerap disapa Jay itu tidak memberikan celah sedikit pun bagi Sejun untuk menolak ajakannya dengan menutup telepon secara sepihak. Ekspresi Sejun berubah keras. Dia melempar ponselnya ke atas dashboard lalu kembali melanjutkan perjalanan dengan kecepatan tinggi demi memangkas waktu.
"Siapa yang memberinya kuasa untuk memerintahku sesuka hati?" Sejun bertanya dengan ekspresi heran yang lebih ditujukan kepada dirinya sendiri. "Arogan sekali dia."
Gumaman Sejun yang sebenarnya tidak memiliki niat menyindir itu ditanggapi Nara dengan ketus. "Menurutku kau jauh lebih arogan daripada dia," komentarnya sembari mengangkat bahu.
Entah kenapa pernyataan Nara malah menimbulkan kilatan mengejek di mata Sejun. "Kau benar. Aku memang arogan. Bahkan mungkin rajanya arogan."
Malu mendengar nada suara Sejun yang tenang namun penuh cemooh, Nara menunggu, lalu berkata, "Baguslah jika kau sadar. Selain arogan, kau juga galak, sinis, acuh tak acuh dan sedikit tidak berperasaan. Apa kau juga mengakuinya?"
Memasang wajah menyesal, Sejun pun menjawab, "Aku tidak begitu pada orang lain."
"Ya. Kau memang hanya jahat kepadaku." Wajah Nara yang cantik terlihat bingung ketika Sejun mendongak dan tertawa terbahak-bahak, suaranya yang berat dan serak langsung menggema di setiap sudut mobil.
"Kenapa kau tertawa?"
Sejun mulai mengendalikan diri, mengasihani Nara yang gagal membuatnya marah dan pada saat yang sama justru membantu menurunkan sedikit kekesalan di hatinya.
"Kau itu menyebalkan, suka bertingkah seenaknya, dan juga sensitif. Tapi di lain sisi, kau itu gadis yang lucu dan polos. Aku rasa mengobrol denganmu cukup menyenangkan." Sejun tersenyum, menoleh sebentar ke samping. "Aku pikir kau lebih memilih ditanggapi dingin olehku daripada tidak dianggap keberadaannya sama sekali. Bukankah begitu?"
Kalau saja Sejun tidak berkata bahwa mengobrol dengannya cukup menyenangkan, Nara mungkin sudah memberitahu sejun bahwa anggapannya barusan itu salah. Namun sayangnya Nara tidak kebal terhadap suara menggoda Sejun yang memberitahunya secara tersirat bahwa dirinya cukup menghibur.
"Tidak juga," aku Nara dalam rangka menjunjung harga dirinya, namun gagal dalam menyembunyikan senyum tipis yang tercipta di luar kendali.
Berusaha mengacuhkan Sejun, Nara malah mulai merasa sangat santai di dekat pria itu setelah beberapa menit mengobrol dan anehnya hatinya terasa ringan. Nara tidak pernah berpikir bahwa fenomena aneh ini adalah hasil dari usaha Sejun untuk membuat dirinya merasa nyaman ketika mereka sedang berdekatan, serta membuat Nara melupakan kata-kata atau sikapnya yang tanpa sengaja sudah menyakiti hati.
Sejun sadar di mana letak perbedaan signifikan dari sikap Nara diawal keberangkatan mereka menuju ke rumah paranormal abal-abal itu, jika dibandingkan dengan perjalanan ke rumah sakit yang kini sedang mereka jalani. Nara yang lebih banyak diam meski Sejun mengajaknya bicara serta tindakan ragu-ragu Nara ketika dia disuruh menaiki tangga, menyadarkan Sejun kalau kata-kata asal dari bibirnya tak sekedar menyakiti hati melainkan membuatnya merasa rendah diri yang berimbas ke minimnya kepercayaan.
Maka dari itu, Sejun berusaha bersikap lebih lunak sebagai bentuk penyesalan atas segala tindakannya yang telah menggores hati Nara. Beberapa menit kemudian, di tengah-tengah diskusi basa-basi tentang cita-cita, cinta, dan kehidupan yang mereka jalani sehari-hari, Sejun tiba-tiba dibuat penasaran dengan sosok Jay yang telah membuat hati Nara patah begitu dalam.
"Omong-omong tentang kekasihmu itu, apa yang membuatmu jatuh cinta kepadanya?" tanya Sejun tiba-tiba, "lalu, bagaimana ceritanya dia malah bertunangan dengan kakakmu?"
Pertanyaan itu sepertinya membuat Nara merasa gelisah, seolah-olah dia sedang mengulur waktu antara ingin mengarang jawaban atau bingung mau memulai cerita dari mana.
"Apakah pertanyaan itu terlalu sulit untukmu?" Suara Sejun tajam tak sabaran setelah beberapa menit berlalu tanpa jawaban. "Apakah aku harus mencoba mencari pertanyaan yang lebih mudah?"
"Kau benar-benar tak sabaran!" sahut Nara tegas, sama sekali tidak terpengaruh nada suara Sejun.
Kata-kata Nara diikuti tatapan mencela sampai Sejun terkekeh. "Lagi-lagi kau benar. Aku memang tak sabaran."
"Dan suka memaksakan kehendak," lanjut Nara menambahkan.
"Bukankah itu mirip denganmu?"
"Sedikit," jawab Nara sembari mempraktekkan kata 'kecil' dengan ibu jari dan jari telunjuk yang tersambung.
"Jadi, sekarang katakan kepadaku kenapa kekasihmu tidak menikahimu melainkan kakak tirimu?"
"Ya! Oh Sejun! Kenapa kau sangat tidak sopan? Kau terus saja mendesakku tentang masalah-masalah yang sangat pribadi. Kau tidak berpikir kalau pertanyaanmu itu menyebalkan?"
"Ah, mungkin itu karena Jay merasa kalau kau kalah cantik jika dibandingkan dengan kakakmu. Makanya dia berpaling." Sejun akhirnya mengarang jawabannya sendiri.
"Bukaaaan! Sama sekali bukan karena itu! Terus, apa matamu buta? Kau bilang aku kalah cantik dengannya? Haaaaah, aku tidak menyangka." Nara melipat kedua tangannya di depan d**a, memandangi sisi wajah Sejun dengan tatapan heran. "Ibunya saja kalah cantik dengan ibuku. Apalagi dia! Dia hanya menang di satu sisi saja."
"Di satu sisi itu sisi yang mana?" Sejun meminta penjelasan lebih.
"Dia hanya pandai menggoda laki-laki," jawabnya jijik.
"Jadi kau tidak pandai menggoda laki-laki?"
"Tentu saja. Aku tidak mahir dalam urusan begitu."
"Ya ya ya," Sejun mengangguk-anggukkan kepala, "sekarang aku mengerti garis besarnya."
Mata Nara menyipit. "Mengerti apa?" tanyanya penasaran.
"Jay-mu itu lebih menyukai wanita yang pandai menggoda, memiliki aura sexy dan sejenisnya. Sedangkan kau tidak memiliki semua yang diinginkan oleh kekasihmu." Ekspresi Sejun campuran antara geli dan ngeri.
Tidak setuju dengan gagasan Sejun, Nara langsung membantah. "Dia sama sekali tidak seperti itu!"
"Kenapa kau yakin sekali?"
"Karena dia pria yang baik. Dia tidak memandang wanita dari fisiknya."
Sekarang gantian Sejun yang tidak sependapat dengan apa yang diucapkan oleh Nara. Sejun lantas menyempatkan diri menatap lekat wajah Nara meski hanya sebentar.
"Aku tidak yakin kalau dia tidak memandang fisik."
Nara melirik Sejun, ekspresinya masam.
"Apa kau sedang menceritakan dirimu?"
"Kita sedang membahasmu," jawab Sejun tenang.
"Bukankah kau yang memandang wanita hanya lewat fisiknya saja?" tuduh Nara, memprovokasi Sejun.
"Tentu saja," suara Sejun datar, namun tatapannya berkata sebaliknya, "tipe idealku adalah wanita yang mirip dengan ibuku. Bukankah ibuku cantik? Tentu saja aku menyukai wanita cantik. Karena setiap wanita memiliki kecantikannya sendiri. Begitu pula denganmu. Kau cantik dengan caramu sendiri. Jadi jangan merasa rendah diri."
Nara tertegun. Tanpa disadari kedua tangannya meremas rok dress yang ia kenakan saat hatinya yang patah serasa disentuh oleh tetes embun menyejukkan.