5. Dilema.

2050 Kata
"Sayang sekali aku tidak bisa menyentuhmu. Coba kalau aku bisa menyentuhmu seperti aku menyentuh Sejun, sepertinya menancapkan pisau ke jantung bukanlah gagasan yang buruk." Mata Nara menatap Hani dengan jijik yang saat itu sedang menoleh ke kanan dan ke kiri sembari memegangi bulu kuduknya yang merinding. Sekarang Sejun dan Jay sudah keluar dari jarak dengar. Tidak mau menghabiskan waktu hanya untuk melihat wajah kakak tirinya yang memuakkan, Nara segera berbalik, berlari mengejar kedua pria itu meninggalkan Hani yang masih dilanda perasaan takut mumpung mereka masih belum begitu jauh. Hani memutuskan untuk pergi sendiri ke ruang ICU, ketimbang harus merasa bosan atau menanggung perasaan tidak karuan seperti sekarang, karena mengharapkan calon suaminya datang kembali ke tempat ini, sepertinya akan memakan waktu lama. Sebelum memasuki ruangan di mana adiknya tertidur dengan kondisi menyedihkan, Hani terlebih dahulu memasang wajah sedih maksimal bahkan nyaris menangis, seolah sedang menanamkan citra kepada dua suster jaga yang berada di sana bahwa dia adalah seorang kakak yang baik dan sangat mencintai adiknya yang bernasib malang. Hal yang berbeda terjadi ketika Hani hanya berdua saja dengan Nara. Jika dilihat dari luar, gadis berambut pirang itu tampak sedang menangis tersedu-sedu sambil menciumi kening Nara berkali-kali seraya mengatakan sesuatu yang akan disangka orang lain sebagai ungkapan rindu, kasihan, dan mungkin juga doa-doa pengharapan agar sang adik bisa segera sembuh. Anggapan itu tidak sepenuhnya salah karena Hani memang berkata tepat di telinga Nara bahwa dia merindukan adiknya yang cantik. Rindu membuatnya merasakan sakit yang jauh lebih kejam daripada yang sudah diterimanya selama ini. Hani juga mengatakan kalau dia kasihan. Kasihan dalam tanda kutip karena Nara harus kehilangan cinta dari orang-orang yang ia cintai. Yang satu karena alasan sepele, yang satunya lagi karena kecelakaan nikmat yang membuat Nara harus menelan pahitnya dikhianati. Dan yang terakhir, Hani memang merapalkan doa dengan penuh kesungguhan, dengan ketulusan yang berasal dari lubuk hatinya yang terdalam demi Nara—demi kematiannya tentu saja. "Saudaraku sayang, kau kesakitan bukan? Sayangnya ini adalah balasan setimpal untukmu yang telah membunuh adikku. Daripada kau menderita seperti ini, bukankah lebih baik jika kau cepat mati? Seorang anak pembawa sial sepertimu, buat apa hidup lama-lama?" Hani menutupi kedua wajahnya, sementara bahunya bergetar hebat seolah dia sedang menangis keras. Tidak ada yang tahu jika di dalam tangan yang menutupi wajah itu, tersungging wajah asli Hani dalam bentuk senyuman jahat. Begitu kedua tangannya terbuka, topeng 'kakak yang baik' secara otomatis terpasang dan dia sangat pandai dalam hal itu—pura-pura sedih, pura-pura menderita. Hani mengganti tawa jahat yang sangat ingin ia tunjukkan kepada Nara secara terang-terangan menjadi isakan pilu yang kemungkinan besar akan membuat orang lain tertipu. "Sebagai saudara yang baik, aku akan membantumu melepas semua penderitaanmu. Tapi nanti. Sekarang aku sedang menciptakan image baik dan juga alibi agar aku tidak dicurigai." Hani wara-wiri membersihkan air matanya yang jatuh, padahal kenyataannya tidak ada setetes pun air mata yang keluar dari sana. Tidak untuk Nara yang sangat ia benci. "Tunggu sebentar lagi, ya, Sayang. Aku tidak mungkin membuatmu berhenti bernapas dengan kedua tanganku sendiri. Aku ingin tanganku bersih ketika mengirimmu pergi ke neraka supaya kau bisa bertemu dengan ibumu." Hani menunduk, mencium kepala Nara yang tertutup perban hanya saja kali ini lebih lama, lebih penuh penghayatan dari yang sebelumnya sudah ia lakukan. Anggaplah apa yang Hani citrakan terwujud. Jay yang entah sejak kapan berdiri di pembatas kaca yang memisahkan ruang ICU dengan lorong di mana ia berada, kini sedang menatapnya dengan tatapan tak terbaca. Air matanya menggenang di pelupuk mata sementara perasaan perih terluka mengoyak hatinya dengan sayatan yang dalam. Hatinya dipenuhi oleh pertarungan sengit antara harus mempercayai apa yang Sejun ucapkan padanya atau apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Dia tidak pernah mengenal laki-laki bernama Oh Sejun sebelumnya. Dan dia yakin Nara pun pasti begitu karena sejauh yang ia tahu, Nara tidak pernah menceritakan padanya bahwa gadis itu memiliki teman laki-laki bernama Oh Sejun. Sedangkan Hani, oh lihatlah! Gadis itu terlihat sangat menderita, sangat sengsara atas apa yang menimpa adiknya. Matanya terlihat bengkak dan pipinya basah oleh air mata. Berkali-kali dia 'seperti' mengajak bicara sang adik dalam upayanya memberikan penghiburan serta kekuatan padanya, karena konon orang yang jatuh koma, sebenarnya bisa mendengar apa yang dikatakan kepadanya. Hanya saja mereka tidak mampu menjawab. "Apa benar Hani yang mendorong Nara hingga jatuh dari apartemennya?" Lelah, Jay menarik turun kedua kelopak matanya sementara jakunnya naik turun dengan susah payah, seolah-olah dia sedang berusaha menelan empedu. Jika diingat-ingat, Nara memang sering bercerita kalau dia dan kakaknya sangatlah tidak akur. Bahkan Nara sangat membencinya malah. Tapi dia tidak pernah berpikir bahwa Hani akan membuat adiknya celaka. Dia tidak berpikir bahwa Hani akan setega itu, sejahat itu, meski dia dan Nara kerap kali bertengkar memperebutkan cinta sang ayah. Daripada menyalahkan Hani, Jay justru semakin menyalahkan diri sendiri atas semua yang terjadi kepada Nara. Jika saja malam itu dia tidak terbakar cemburu setelah melihat Nara berdua dengan laki-laki lain, jika saja dia tidak minum-minum di bar dan bertemu Hani lalu kehilangan kesadaran, jika saja dia tidak melakukan.... "Sial!" Jay mendesis marah, mengatupkan kedua rahangnya kuat-kuat. Pria itu nyaris berteriak frustasi jika saja dia tidak sadar bahwa ini adalah rumah sakit yang wajib dijaga ketenangannya. "Aku benar-benar bodoh! Kenapa aku tidak berpikir jernih sebelumnya?" Jay menopang tubuh bagian atasnya dengan satu tangan menempel di dinding kaca. Kepalanya tertunduk dalam seolah-olah tepat di atas kepalanya terdapat sebuah batu besar yang membuatnya kesulitan menengadah, menatap kenyataan yang terjadi di hadapannya. ... Di lain sisi, Nara yang kini memberengut karena Sejun tidak mengizinkannya untuk ikut pulang ke rumah pria itu, akhirnya melakukan keahliannya yang sebelumnya sempat ia tolak, yakni menembus pintu mobil lalu duduk seenaknya. Sejun hanya bisa pasrah sembari membuang napas kasar, karena dia sudah terlalu lelah untuk berdebat dengan gadis yang ia sebut-sebut sebagai hantu. Di pikirannya hanya tercetus satu kata yaitu pulang ke rumah, makan malam, lalu rebahan di kasurnya yang empuk sambil bergumam betapa nikmatnya dunia. Namun khusus malam ini dan sepertinya berlaku juga untuk malam-malam selanjutnya, pria itu tidak yakin akan menggumamkan kalimat tersebut. Tidak karena si hantu cantik itu bersikeras tinggal di rumahnya dengan dalih tidak nyaman tinggal di rumahnya atau di apartemennya. Miris! "Sebenarnya apa sih yang kau mau? Sesuai permintaanmu, aku sudah menyampaikan pesanmu kepada Jay. Harusnya kau menepati janjimu untuk tidak menggangguku lagi, bukannya terus mengikutiku seperti anak anjing!" Sembari mengemudi, Sejun terus menyuarakan kekecewaannya kepada Nara. Dia merasa dibohongi sedangkan Nara tidak terlihat merasa bersalah sama sekali. "Harusnya yang kau ikuti seperti buntut itu bukan aku, tetapi kekasihmu! Kau itu salah orang, tahu tidak?" omelnya lagi sembari membelokkan kemudinya. "Sssttt! Ssstt! Sssttttt...!" Nara meletakkan satu jari telunjuknya di depan bibir. "Kenapa kau terus mengomel seperti ibu-ibu kekurangan beras? Kau itu tidak benar-benar membawa pulang seorang gadis ke rumahmu. Kau lupa, ya? Aku 'kan tidak terlihat. Orang tuamu juga tidak akan tahu kalau aku ikut bersamamu," lalu Nara mengoreksi cepat-cepat, "untuk sementara waktu." "Haaaahh." Entah untuk yang ke berapa kali Sejun menghela napas berat seperti itu. Denyutan di kepalanya terasa semakin memusingkan dan Nara adalah sumber dari segala sumber yang membuat kepalanya pusing tujuh keliling. Sejun hampir menyerah untuk memberitahu Nara kalau dia amat sangat tidak suka diikuti olehnya. Bahkan Sejun rasa, apa yang dialaminya sekarang jauh lebih parah dari apa yang dialami oleh para artis yang dikuntit oleh sasaeng-sasaeng mereka. Hilang kesabaran, Sejun pun berteriak frustasi, "Pulang ke rumahmu saja sana!" Dalam sekejap, keberanian tidak pada tempatnya yang terus Nara tunjukkan kepada Sejun sebagai tameng memudar dengan cepat, dan dia merasakan kekecewaan yang aneh datang menyelimuti dirinya. Dia tidak bisa ikut bersama Jay karena takut melihat hal-hal yang sangat mungkin menyakiti dirinya. Bagaimana pun, saudara perempuannya dan kekasihnya akan segera menikah. Hani adalah tipe wanita yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia mau. Jadi, tidak menutup kemungkinan kalau Hani saat ini sudah memboyong semua barang-barangnya untuk tinggal bersama dengan Jay meski pria itu tidak suka, lalu melakukan hal-hal yang membuatnya bisa mengandung seorang bayi. Sama sekali bukan suatu hal yang mustahil. Lalu bicara tentang rumah, Nara juga tidak mau pulang ke rumahnya hanya untuk melihat betapa tidak pedulinya sang ayah kepada dirinya yang notabene adalah putri kandungnya sendiri. Terbukti dari dia yang tidak terlihat datang mengunjungi Nara yang kini sedang berada di ambang kematian, menungguinya dengan wajah sedih, atau merasa cemas takut kalau kalau putrinya tidak akan bangun lagi. Bahkan Nara memiliki keyakinan kuat kalau sang ayah tidak merasa sedih sama sekali atas kejadian yang menimpa dirinya. Bisa jadi ayahnya justru merasa senang bukan kepalang karena putri yang ia sebut-sebut sebagai pembangkang, sedang menerima 'tulah' dari tindakan yang ia perbuat. Mungkin. Menyeret pikirannya dari kenyataan pahit itu, Nara kemudian menjawab, "Aku tidak bisa pulang ke rumah karena rumah itu sudah tidak lagi menjadi rumahku sejak lama. Aku juga tidak bisa mengikuti Jay karena..." suaranya tersekat dan dia mengatupkan bibirnya rapat-rapat demi menahan gejolak yang menggelegak di hati, "dia adalah calon suami kakakku. Aku tidak sanggup melihat mereka bermesraan." Diam-diam Sejun merasa iba. Sepanjang perjalanan, pria itu tidak lagi mendesak Nara untuk pergi. Namun sebagai ganti, gadis itu dilarang keras menakut-nakuti semua penghuni rumah dengan tiupan-tiupan tidak jelas seperti yang sudah ia lakukan. Mobil Sejun sudah memasuki area pelataran luas yang mana di tengah-tengah area tersebut terdapat air mancur yang di bawahnya melingkar berbagai jenis bunga mawar. Rumahnya tidak terlalu besar seperti kebanyakan rumah yang dimiliki oleh konglomerat-konglomerat tajir melintir yang menguasai perekonomian di kota itu. Namun rumah itu juga tidak bisa dikatakan kecil. Elegan dan asri adalah dua kata yang tertangkap di benak Nara begitu Sejun keluar dari mobil lalu menaiki anak-anak tangga di depan rumah dengan penuh semangat. "Ibu, Ayah, aku sudah pulang." Sejun berjalan dengan langkah-langkah besar, seolah-olah dia sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan kedua orang tuanya. Nara yang sedari tadi tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Sejun pun merasa heran pada sikap pria itu yang berubah menjadi anak manis dalam sekejap, alih-alih tetap menjadi pria garang yang cuek dan galak. Tingkahnya kini mengingatkan Nara pada seorang anak kecil yang baru saja pulang dari sekolah. Berbeda jauh dengan rangkaian ekspresi yang sudah ia lihat sepanjang dia mengikuti Sejun. Tak lama kemudian, Sejun disambut oleh seorang wanita anggun yang mengenakan dress rumah sederhana namun tetap cantik dari arah ruang keluarga. Wanita itu tersenyum. Senyum yang membuat Nara bisa merasakan ketulusan dari lengkungan indah di bibirnya itu. "Ibu, aku pulang." Sejun merentangkan kedua tangannya, memeluk sang ibu. "Kenapa kau baru pulang? Ini sudah sangat larut," tanya ibunya cemas. "Apa terjadi sesuatu yang gawat di rumah sakit?" "Tidak," Sejun menggeleng. "Tidak ada hal yang gawat. Kondisi temanku cukup baik. Kata dokter, dia hanya butuh istirahat supaya cepat sembuh." Yoon Ji—ibu Sejun, menghela napas lega sembari menepuk lembut dadanya. "Kau pasti belum makan, kan, Nak? Ayo ganti baju dulu. Ibu akan menyiapkan makan malam untukmu." Sejun melebarkan senyumannya kemudian menganggukkan kepala, sejenak melupakan keberadaan Nara di rumahnya. Sesuai titah sang ibu, Sejun bergegas pergi ke kamarnya, melemparkan tas punggung yang ia bawa ke atas kasur lalu membuka kaos putih yang ia kenakan. Melihat otot-otot yang terbentuk lewat latihan fisik di sepanjang punggung lebar Sejun membuat Nara panik sekaligus tidak ingin melewatkan momen indah itu. Namun semua itu berubah ketika Sejun dengan santai menarik lepas ikat pinggang dari celananya, kemudian dilanjut dengan suara derit ritsleting yang ditarik turun. "Eh! Eh! Eeeehhhh! Ti-tidak boleh! Jangan lakukan ituuuu!" Sejun tersentak dan dia berbalik ke belakang, menghadap Nara yang sedang menutupi matanya dengan jari-jari yang tidak bisa dibilang rapat. Jari telunjuk dan jari tengah Nara semakin merenggang ketika mata nakalnya dengan tepat menangkap sesuatu yang berada di dalam ritsleting yang terbuka itu. Sadar ke mana arah mata Nara tertuju, Sejun mendesis lalu berputar memunggungi Nara. "Sial!" umpatnya, dengan rona malu yang menjalari pipi. Tak hanya Sejun yang merasa malu, Nara pun merasakan hal yang sama ketika kewarasannya kembali duduk di otaknya. "Ma-maaf.... Aku tidak bermaksud—" "Inilah yang tidak aku suka! Dasar tukang ngintip!" tuduh Sejun sembari membetulkan ritsletingnya. "Apa?" Nara tidak terima dituduh seperti itu hingga dia pun berbalik cepat, kembali menatap tubuh atletis Sejun secara tidak sengaja. "Aku tidak bermaksud mengintipmu! Kau sendiri yang asal buka baju." Nara berusaha membela diri setelah bergerak cepat kembali memunggungi Sejun. Sejun tersenyum miring, malas meladeni Nara. "Aku mau mandi. Dan jangan pernah berpikir untuk mengintipku atau menyelonong masuk sesukamu, jika kau tidak mau aku membuatmu menjadi hantu sungguhan." Suara Sejun halus, tetapi ancamannya terasa begitu mengerikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN