6. How Tiring Is!

2050 Kata
"Siapa juga yang mau mengintipmu mandi. Asal kau tahu saja, tubuhmu tidak semenggiurkan itu untuk diintip. Jadi jangan terlalu percaya diri!" bantah Nara dengan seberkas perasaan sinis demi menyelamatkan harga dirinya. Memutar bola matanya malas, Sejun bergegas masuk ke dalam kamar mandi setelah melayangkan peringatan keras lewat sorot matanya yang tajam menusuk. Begitu bunyi pintu ditutup terdengar, kedua bahu Nara melesak turun, lega karena terlepas dari tatapan penuh intimidasi Oh Sejun yang sangat menakutkan. Sementara itu di dalam kamar mandi, Oh Sejun tidak langsung menanggalkan pakaiannya. Dia menghela napas panjang dengan kepala menengadah, sementara satu tangannya tersangga di pintu lalu tangannya yang lain bertengger di pinggang. Sejak dia bertemu Jung Nara, pria itu tahu kalau hari-hari yang sulit sudah terbentang nyata di depan matanya. Meskipun Nara tidak terlihat oleh netra siapa pun kecuali dirinya, dia tetaplah seorang wanita. Sejun merasa sudah sangat berbaik hati dengan membiarkan Nara ikut ke rumah. Tapi tidak dengan tinggal di kamarnya, apalagi tidur di kasurnya. Kamar adalah sesuatu yang sangat privasi dan Sejun tidak mau ranah pribadinya diganggu oleh siapa pun, dengan alasan apa pun. Detik-detik yang terus berlalu Sejun gunakan untuk berpikir, mencari solusi terbaik agar hidupnya bisa kembali normal seperti sedia kala. Tak kunjung menemukan ide, pria itu lantas menanggalkan celana panjang warna hitam yang ia pakai kemudian melemparnya secara sembrono. Ketika Sejun nyaris melepas satu pakaian terakhir yang melekat di tubuhnya, tiba-tiba saja gerakan tangannya terhenti. Sebersit kenangan mengerikan ketika dirinya nyaris saja tenggelam dalam rasa malu dengan bertelanjang bulat di hadapan seorang gadis yang bukan istrinya itu membuatnya merinding. Hal tersebut langsung menyadarkan Sejun kalau bahaya mengintai di mana saja. Maka dari itu, dia harus siap siaga dalam segala situasi. Lagi pula, siapa yang bisa menjamin dengan kemampuan Nara yang bisa menembus dinding selayaknya hantu-hantu di film horor, dia tidak akan menerobos masuk ke dalam kamar mandi lalu merusak harga diri Sejun sebagai seorang laki-laki? "Setan memang tidak bisa dipercaya," gumam Sejun dongkol. Buru-buru dia benahi kembali pakaian dalamnya yang masih menggantung di paha, mengurungkan niat untuk benar-benar bersih dari satu-satunya kain yang masih menempel di badan. Setelah bathtubnya terisi dengan air hangat, bubble bath, serta sedikit minyak esensial, Sejun mengubur tubuhnya hingga leher ke dalam riak air beraroma menenangkan yang ia harap bisa membantunya memancing ide, supaya ia bisa terlepas dari situasi aneh ini. As soon as possible. ... Jika Sejun sedang berpikir keras memikirkan solusi jitu agar dia bisa terlepas dari Nara selama-lamanya, gadis yang sedang berkelana dalam benaknya itu justru sedang berkeliaran menyambangi seluk-beluk kamar Sejun yang menurutnya cukup rapi untuk takaran kamar seorang laki-laki. Matanya tak berhenti memindai kamar Sejun yang menerapkan konsep kamar tidur modern dan didominasi oleh warna-warna gelap dengan nuansa maskulin yang kental. Dekorasinya cukup elegan, namun tetap meninggalkan kesan mewah lewat walk in closet yang di desain sedemikian rupa, serta beberapa furniture dan barang-barang elektronik lain dengan taksiran harga yang cukup membuat Nara merinding. Ada dua lukisan besar dengan background warna putih yang menggantung di atas dinding tempat tidurnya, sedangkan tak jauh dari sana, terdapat rak buku dinding yang rata-rata didominasi oleh buku-buku tentang bisnis, filsafat, sains, dan... novel? Kening Nara berkerut, melemparkan tatapan aneh pada buku yang judul serta nama penulisnya tampak familiar. Tangannya yang ramping terulur ke atas. Namun karena buku tersebut terletak di bagian rak paling atas, dia jadi kesulitan untuk meraihnya. Sempat membeku beberapa saat, Nara menepuk dahinya sendiri karena sudah melupakan sesuatu, lalu tertawa sumbang menertawakan dirinya serta hidupnya yang berantakan. "Walaupun buku itu tergeletak di depanku pun, aku tetap tidak bisa membacanya," katanya sedih sembari tersenyum miris. Sinar mata Nara meredup, dan dia melupakan keinginan hatinya untuk mengambil buku yang menarik perhatiannya itu. Mengalihkan pandangannya ke arah lain, atensinya langsung tertuju ke deretan foto di atas bufet kayu minimalis, yang baik warna maupun desainnya selaras dengan tempat tidur Sejun. Nara berjalan mendekat ke arah bufet, mengamati dengan saksama momen-momen indah yang terabadikan dalam lembar-lembar kertas berwarna di hadapannya. Bertepatan dengan netranya yang kini terpusat pada salah satu gambar wanita cantik yang sedang Sejun peluk sementara senyum bahagia terlukis indah di bibir mereka berdua, suara derit pintu kamar mandi yang dibuka membuat tubuh Nara terkesiap dan dengan gerakan cepat ia menoleh ke belakang, ke arah Sejun yang berdiri di ambang pintu dengan tubuh topless dihiasi sisa-sisa air yang belum tersentuh handuk di dadanya yang bidang dan terbentuk, serta rambut setengah basah yang semakin membuatnya terlihat seksi. Tentu saja. Sejun memandangi Nara dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan aneh dan curiga. "Sedang apa kau?" tanya Sejun dengan mata memicing. Nara menggeleng cepat, menyangga berat tubuhnya dengan kedua tangan terulur ke belakang bertumpu pada pinggiran bufet. "Aku... aku hanya sedang melihat foto, kok." Gadis itu berusaha bersikap tenang, namun gagal mengendalikan getaran dalam nada suaranya. "Jangan macam-macam," lanjut Sejun sambil lalu, bergerak menuju walk in closet untuk mengambil pakaian yang ia butuhkan lalu masuk kembali ke dalam kamar mandi. Dua menit kemudian, Sejun yang sudah mengenakan pakaian lengkap berupa kaos hitam lengan pendek serta celana training dengan warna yang kontras, langsung keluar kamar menuju ke ruang makan tanpa melirik ke arah Nara sedikit pun. Gadis yang memiliki rambut panjang sepunggung itu mengedikkan bahu, mengerti bahwa alasan Sejun bersikap dingin padanya lantaran dirinya yang terlalu memaksakan kehendak. Secercah perasaan tak enak hati merayap ke dalam hati Nara. Sejatinya dia bukanlah pribadi yang seperti ini. Tapi apa boleh buat. Dengan keadaannya yang seperti hidup segan mati tak mau, dia benar-benar tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa selain terus mengekor kepada Sejun agar pria itu sudi menampungnya. Jadi dengan berat hati, Nara harus terus bersikap seperti seseorang yang urat malunya putus sampai dirinya menemui takdir antara bisa kembali hidup, atau berhenti bernapas selamanya ... Sejun sampai di ruang makan bersamaan dengan sang ayah yang juga baru selesai membersihkan diri setelah pulang dari kantor. Sementara Yoon Ji—ibunya, sedang menata makanan di atas meja untuk dua pria yang amat ia sayangi, Sejun dan ayahnya sama-sama menarik bangku yang saling berhadapan ke belakang lalu duduk di sana. "Ayah baru pulang?" tanya Sejun, mengawali pembicaraan. "Benar. Ayah harus lembur karena pekerjaan di kantor seakan tidak ada habisnya." Ayahnya mendesah, kemudian berkata lagi. "Benar-benar hari yang melelahkan." "Betul sekali. Hari ini benar-benar hari yang melelahkan." Sejun menyetujui ucapan sang ayah dengan penuh semangat, sambil melirik ke arah Nara yang diam-diam mengikuti lalu duduk di kursi kosong di sebelahnya. Seolah tak mendengar sindiran dari Sejun, Nara malah berkomentar, "Sejun-ssi, ayahmu itu tampan sekali, ya?" Nara memuji sambil senyum-senyum sendiri, memperhatikan wajah pria yang duduk di depan Sejun dengan ekspresi kekaguman yang nyata. Sejun yang merasa muak dengan Nara pun tidak menjawab ocehan gadis itu. Tangannya mengambil segelas air yang baru saja dituangkan oleh sang ibu, lalu meneguknya dengan tegukan-tegukan besar. Ekspresinya memang terlihat tidak acuh pada apa pun yang Nara ucapkan. Namun telinganya bertindak lain dengan tidak melewatkan satu kata pun yang meluncur dari bibir ranum gadis di sampingnya. "Padahal ayahmu sudah tidak lagi muda. Tapi jika dibandingkan denganmu, kau masih kalah tampan dengan ayahmu sendiri." Nara memandangi Sejun dan ayahnya secara bergantian, kemudian tertawa cekikikan sembari menutupi mulutnya dengan satu tangan. "Kau tahu tidak? Jika diperhatikan lagi, ayahmu itu mirip dengan salah satu personil boyband yang aku suka. Yah, bisa dibilang... ayahmu itu versi tuanya anggota boyband yang aku maksud itu. Vibes mereka benar-benar mirip!" Nara menopang dagunya dengan kedua tangan, sedangkan fokus matanya tak kunjung lepas dari wajah sempurna milik ayah kandung Oh Sejun. "Satu kata yang cocok disematkan kepada ayahmu!" Nara lalu menempelkan jari telunjuknya ke pipi Sejun, "tampan, tampan dan tampaaaaaaannn," puji Nara sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke pipi Sejun sebanyak tiga kali karena gemas. "Berisik!" desisan kasar dari Sejun yang terlontar secara refleks, membuat ibunya yang saat itu sedang menuangkan nasi ke dalam mangkuk, serta ayahnya yang baru saja ingin menyesap teh buatan sang istri, langsung berhenti dari kegiatan mereka masing-masing sementara tatapan mata mereka terpusat sepenuhnya kepada Sejun. "Sejun-ah... kau kenapa?" tanya ibunya, sambil bertukar pandang dengan sang suami yang sama penasaran seperti dirinya. Sejun tergeragap. "A-ah... maaf. Aku hanya..." pria itu menggaruk belakang lehernya yang tak gatal, bingung bagaimana harus menjelaskan kepada kedua orang tuanya bahwa kalimat yang sudah terlanjur keluar dari bibirnya tadi, sama sekali bukan ditujukan kepada mereka. Pria beriris hitam pekat itu menyempatkan diri melayangkan tatapan glare pada Nara yang hampir tidak bisa menahan senyum senang, sebelum mencoba mengemukakan alasan yang menurutnya masih bisa dibilang logis. "Tadi... eum... di bawah kakiku ada... ada..." Sejun bingung, dengan panik memerintahkan otaknya supaya bekerja lebih cepat lagi. Tikus? Cacing? Ular? Kening Sejun berkerut, menyadari opsi yang melintas di pikirannya barusan bukanlah gagasan yang baik. Lalu, tiba-tiba saja tercetus sebuah ide. Ah, aku tahu! "Tadi ada kecoa!" seru Sejun, terlihat heboh sendiri. Mendengar kata kecoa, ibunya langsung menjatuhkan pandangannya ke lantai sambil mengentakkan kedua kakinya panik, takut jika binatang menggelikan itu merayap ke arahnya kemudian merambat naik ke tubuhnya. Dalam usahanya menghindar dari terjangan hewan yang ia takuti, ibunya nyaris kehilangan keseimbangan jika saja Sehun—ayah Sejun, tidak segera berdiri dan menahan pinggang ramping sang istri. "Sudah, jangan takut. Tidak ada apa-apa." Pria yang kini sudah tidak lagi muda tetapi tetap mempesona itu lantas menuntun istrinya duduk di kursi, menyudahi kegemparan tak perlu yang putranya ciptakan di meja makan. "Ayo kita makan, nanti makanannya keburu dingin." Mereka pun menyantap makan malam mereka dalam suasana tenang. Namun hanya Sejun saja yang tidak setenang kelihatannya, lantaran Nara terus saja mengajaknya bicara tentang hal-hal yang tidak penting seperti melemparkan lelucon-lelucon garing, memuji-muji ketampanan ayahnya seperti fans fanatik, dan masih banyak omong kosong lain yang tentunya sangat tidak Sejun suka. Gadis itu benar-benar memecah konsentrasinya hingga Sejun tidak bisa memahami isi obrolan maupun menanggapi pertanyaan dari ayah dan ibunya dengan baik di sela-sela kegiatan makan mereka. Jawaban tidak nyambung yang Sejun berikan beberapa kali, untungnya masih ditanggapi dengan santai oleh keduanya dengan asumsi mungkin saja putra mereka sedang lelah hingga konsentrasinya pun menurun. Sejun ingin sekali menyudahi makan malamnya lalu menarik Nara ke kamar untuk diberi peringatan keras. Karena jika tetap dilanjutkan pun, Sejun sudah benar-benar kehilangan selera makan walau semua hidangan yang tersaji di atas meja adalah makanan kesukaannya. "Sejun, kapan kau akan mengambil alih seluruh perusahaan yang ayah pegang?" tanya ayahnya, ketika Sejun meletakkan sumpit yang ia pakai di atas mangkuk dengan posisi sejajar. "Aku masih harus banyak belajar, Ayah. Lagi pula, aku masih belum sehebat Ayah dalam berbisnis." "Bukankah perusahaan yang kini kau kelola profitnya meningkat pesat? Ayah harap kau segera melakukan merger, supaya ayah bisa lebih leluasa menikmati waktu luang bersama ibumu. Kau 'kan tahu kalau ayah sudah tidak lagi muda. Jadi sudah waktunya untuk ayah—" Kalimat terakhir ayahnya seperti mengambang. Sejun tidak bisa mendengar dengan jelas kelanjutan kata-kata tersebut gara-gara Nara yang tiba-tiba saja menyeletuk. "Tidak, Ayah! Kau masih cukup muda. Bahkan kau... kau sangat tampan! Aku kagum padamu, Ayah!" Spontan Sejun menggebrak meja sembari berteriak, "Diam kau!" Ayahnya berhenti di tengah-tengah kegiatannya meraih gelas, wajahnya nyaris lucu karena ekspresi tidak percaya sementara ia menatap putra satu-satunya yang tampan, sopan, dan biasanya tak banyak tingkah. "Apa kau bilang? Kau menyuruh ayah diam?" tanyanya, seulas senyum tidak percaya bercampur kekesalan terlihat di wajahnya. Kembali, Sejun gelagapan, memandangi Nara dengan tatapan menyalahkan yang sialnya kembali ditanggapi dingin. "Kau memberitahuku kalau aku jangan terlalu banyak omong, begitu?" "Tidak, tidak!" Sejun mengibaskan tangannya di depan d**a. "Bukan begitu, Ayah.... Bukan begitu maksudku. Aku hanya... aku hanya..." Sejun meringis. Terlalu bingung untuk menjelaskan kondisi rumit yang sedang membelitnya, sekaligus terlalu marah pada sosok wanita di sampingnya yang tampak adem ayem tanpa beban setelah membuat harinya kacau. Ibunya yang tak kalah kaget dengan sang suami pun mencoba menengahi agar masalah tak semakin rumit. Wanita lembut itu berdiri dari bangku yang ia duduki. Menempatkan diri di sebelah kursi suaminya, kemudian melingkarkan tangannya di sekeliling bahu pria yang ia cintai. "Mungkin Sejun sedang kelelahan. Jadi dia sedikit... tidak waras malam ini," kata ibunya membela, sekaligus memarahi putranya yang sudah sangat tidak sopan itu. "Sejun... kembalilah ke kamarmu. Jika akal sehatmu sudah kembali dan kau sadar dengan apa yang kau ucapkan, segeralah minta maaf pada ayahmu." Dengan wajah sedih, Sejun mematuhi perintah ibunya. Pria itu mendorong kursinya ke belakang kemudian berdiri. Sempat melakukan bow sembilan puluh derajat sebagai tanda penyesalan, Sejun berbisik dengan suara yang amat lirih kepada Nara sebelum dirinya menaiki tangga menuju kamar. "Aku ingin bicara denganmu sekarang! Cepat ke kamar."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN