7. Chilhood Dreams

2112 Kata
Seulas senyum singkat berkelebat di bibir Nara ketika ia menatap pria jangkung itu dengan masam. Pikirannya bisa menebak-nebak apa yang mungkin terjadi jika dia menuruti perintah Oh Sejun untuk segera kembali ke kamar. Tentu saja Nara tidak mau kemungkinan buruk itu benar-benar terwujud, sehingga dia pun memilih untuk tetap diam di tempat duduknya sembari melihat interaksi manis bak film romantis yang terjadi tepat di depan mata. Semakin lama dilihat, semakin ia merasa ada sesuatu yang hilang di dalam dirinya. Ada bongkahan rasa rindu yang bangkit kembali setelah sekian lama terkubur, ada secercah harapan semu yang tergambar dalam sketsa-sketsa buram di dalam kepalanya. Keharmonisan serta rasa kasih sayang yang terjalin di antara kedua orang tua Sejun di usia senja mereka, bagaikan pupuk ajaib yang menumbuhsuburkan rasa rindu akan sentuhan hangat dari dua manusia dengan kasih sayang berlimpah yang ia panggil dengan sebutan 'ayah' dan 'ibu. Pemandangan indah itu juga menghidupkan kembali impian masa kecilnya tentang sebuah rumah sederhana yang di dalamnya ada seorang pria yang ia cintai dan mencintainya, juga seorang anak kecil lucu yang selalu bisa membuat mereka tersenyum. Kedua hal itu sudah lama lenyap dalam kepingan kepingan harapan yang ia lukiskan dalam bait-bait doa, sehingga Nara merasa sesak ketika ia menyadari bahwa di sudut terpencil hatinya, harapan semu itu ternyata masih hidup dan kini merasa terpanggil. Dia lupa kapan terakhir kali ia melihat kedua orang tuanya bersenda gurau bersama seperti kedua pasangan itu. Yang pasti, itu sudah sangat lama dan tidak akan pernah terulang kembali karena sosok ibu yang begitu ia cintai sudah menutup mata selama-lamanya, sedangkan ayahnya, sudah lama dia tidak lagi menjadi pelita satu-satunya yang Nara miliki sepeninggal sang ibu. Rimbunan duri seolah menyekat tenggorokannya, ketika dia mengingat kembali sosok mantan kekasihnya yang ia kira akan menjadi seorang peri pelindung, yang akan bekerja sama dengannya mewujudkan sesuatu yang tadinya hanya sebatas impian masa kecil, menjadi kenyataan indah yang akan mereka kenang seumur hidup. Namun nyatanya, Nara harus merasakan kembali bagaimana terlukanya ia ketika impian sederhananya hancur menjadi puing-puing tak berbentuk di tangan seseorang yang ia percaya, saat pengkhianatan menjadi kerikil tajam yang mampu membuat semua angannya jatuh tak berarti. Nara menggelengkan kepalanya keras-keras, seolah-olah dia sedang mengusir semua omong kosong yang melambungkan angannya sekaligus meremukkan hatinya. Namun, tepat ketika kabut yang menyelimuti pikirannya pudar dan matanya bisa kembali melihat dengan jelas, rona merah langsung menyebar ke seluruh pipinya ketika mereka—kedua orang tua Sejun sedang bertukar ciuman manis. Awalnya Nara kalang kabut. Berdiri dengan kedua tangan bertumpu di meja, sementara kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri dengan panik mirip seperti seseorang yang sedang mencari pertolongan. Sayangnya, godaan untuk 'menonton film romantis' secara gratis ternyata jauh lebih besar, sehingga dia pun malu malu tapi mau, kembali duduk nyaman di tempat duduknya sambil memperhatikan bagaimana dua sejoli itu saling memagut. "Wah... daebak! Mereka benar-benar pasangan yang serasi." Nara berdecak kagum, menyangga pipinya dengan satu tangan. "Apa aku bisa menjalani kehidupan rumah tangga yang harmonis seperti mereka?" Nara mengembuskan napas panjang, sementara angannya kembali berkelana tanpa diminta. Tak lama kemudian, ekspresi sedih di wajahnya menjawab pertanyaan itu sebelum suaranya sempat keluar. "Omong kosong!" Nara tersenyum meremehkan, tatapannya tertutupi lamunan mengerikan tentang cinta manis yang kontras dengan sejarah percintaannya sendiri. "Hal seperti itu hanya akan menjadi mimpi bagiku. Bisa hidup dengan perasaan dicintai dan mencintai itu, adalah anugerah yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Anggaplah aku tidak beruntung." Tatapannya pun jatuh ke atas meja. "Hanya sedang tidak beruntung," desisnya lagi. Waktu santai Nara rupanya harus berhenti ketika telinganya menangkap suara rendah milik Sejun yang berada tepat di atas kepalanya, entah sejak kapan. Gadis itu pun mendongak ke atas yang langsung disambut oleh tatapan setajam belati dari iris pekat malam milik pria yang berdiri pongah dengan gestur tubuh mengancam. "Kau mau main-main denganku, ya?" bisik Sejun lirih, mengurung Nara dengan kedua tangannya yang mengunci di sisi kanan dan kiri, bertumpu di meja makan. Selain cemas karena Sejun membuatnya seperti anak ayam kehilangan nyali, Nara pun merasa bingung begitu dia meluruskan pandangannya ke depan. Alisnya berkerut mengetahui kalau orang tua Sejun yang beberapa saat lalu masih mengobrol mesra—menurutnya, kini sudah pergi entah ke mana dan lagi lagi entah sejak kapan. Apa aku melamun selama itu? Nara bertanya-tanya dalam diam, kesal karena ilusi kosong yang tampak indah itu membuatnya tidak menyadari kepergian couple favoritnya, padahal mereka duduk di seberangnya. Dia juga kesal karena terlambat menyadari kemungkinan Sejun akan datang kembali ke sini untuk menjemputnya, hingga kesempatan untuk bersembunyi di salah satu ruang dari sekian banyaknya ruang yang ada di rumah ini pun gagal. Kehadiran Sejun bersama auranya yang garang membuat Nara menelan ludah. Bahkan kini ia merasa malu, takut jika gumaman-gumaman nyeleneh dari bibirnya terlanjur tertangkap telinga Sejun yang nantinya bisa menjadi bahan olok-olokan. "Jika kau terus bersikap seperti anak nakal, aku tidak akan sudi menolongmu. Apa kau belum puas membuatku bertingkah seperti orang gila di depan orang tuaku, hm?" "Aku tidak bermaksud begitu. Aku—aku hanya bosan dan... butuh teman mengobrol," kilah Nara, mencoba meredam amarah Sejun yang berkilat-kilat di matanya. Sejun mendengus kasar sambil menyugar rambutnya yang hitam lebat. "Kau tahu tidak? Aku benar-benar merasa tidak aman semenjak bertemu denganmu. Aku tidak bisa mandi dengan leluasa, tidak bisa makan dengan nyaman, dan sekarang... kau membuatku disalahpahami oleh ayah dan ibuku gara-gara semua ocehan bodohmu yang membuat telingaku sakit!" Akhirnya, Sejun meluapkan kekesalan yang sudah ia simpan seharian ini tanpa harus berlama-lama membujuk Nara untuk pergi ke kamarnya terlebih dahulu sebelum diceramahi. Nara menunduk dalam. Tidak ingin memancing amarah Sejun lebih dari yang sudah ia lakukan, gadis itu memilih diam saja, menyerap semua amarah Sejun dari telinga kanan kemudian membuangnya lewat telinga kiri. "Yang paling memalukan dari sekian banyak ketidaknyamanan yang kau sebarkan adalah..." Sejun merendahkan sedikit punggungnya hingga bibirnya berada tak jauh dari telinga Nara, "kau ternyata doyan mengintip!" Kedua mata Nara melebar dan dia segera memutar kepalanya ke belakang, memberanikan diri melawan manik hitam sepekat malam itu. "Kau jangan asal menuduh! Aku tidak mengintip! Orang tuamu-lah yang bermesraan di depanku!" seru Nara membela diri. Merasa kalau dia sudah berhasil membuat Nara kesal, Sejun tersenyum sinis sebelum melanjutkan kembali ejekannya. "Kalau kau gadis normal," Sejun membuat tanda kutip dengan kedua tangannya di atas kepala, ketika ia memberi penekanan pada kata normal, "kau pasti akan memilih pergi dari sini, alih-alih menonton sambil berpangku tangan." Sejun diam sejenak. "Atau jangan-jangan... kau sedang asyik mengkhayalkan sesuatu?" tuduhnya, menyeringai sinis. Mata Nara membulat. Kedua pipinya terasa panas dan ia yakin sekali jika dirinya sedang dalam keadaan normal, rona merah bagai tomat sudah pasti merekah di sana. Nara seakan menelan pil pahit yang muncul di tenggorokannya dan dia berbisik dengan bibir bergetar. "Tidak! Aku tidak sedang memikirkan apa pun!" bantahnya panik. "Aku tidak bermaksud—aku tidak ingin mengintip mereka, aku hanya... hanya lupa di mana letak kamarmu. Jadi aku tetap di sini menunggumu datang." Gadis itu mengangguk, mencoba meyakini dalih yang barusan ia katakan sebagai kejadian yang sebenarnya. Mendengar jawaban gugup Nara, Sejun mengangkat sebelah alisnya kemudian bertanya, "Lupa dimana letak kamarku atau memang sedang lupa daratan?" Nara mendesis, menatap benci ke arah Sejun yang tak kunjung berhenti mencecarnya. Dia baru akan membuka mulut, membantah perkataan tidak masuk akal yang keluar dari mulut pria tampan yang sayangnya sangat menyebalkan itu. Tapi dorongan untuk berdebat yang Nara rasakan, ternyata harus kalah oleh kalimat lain dari Sejun yang terlontar lebih cepat dari suaranya. "Padahal kamarku tidak jauh dari tangga. Kau hanya perlu berjalan sebentar ke arah kanan lalu selesai. Jika kau bisa membaca, ada papan besar bertuliskan namaku di depan pintu kamar. Di kamar adik perempuanku pun begitu. Karena di keluarga kami, masing-masing kamar memiliki nama." Ketika Sejun menyebut kata adik, Nara tiba-tiba teringat dengan foto yang sempat ia lihat di atas bufet. Segera, dia mengalihkan pembicaraan dengan berkata, "Oh! Adikmu, ya? Tadi aku sempat melihat foto adikmu di kamar, di atas bufet. Dia cantik sekali, ya? Mirip sekali dengan ibumu. Cantik!" puji Nara penuh semangat. Kening Sejun berkerut hingga kedua alisnya nyaris menyatu. "Di atas bufet?" Nara mengangguk. "Kau memeluk adikmu yang sedang memegang biola dari belakang sambil mencium sisi kepalanya. Tadinya aku pikir gadis yang kau peluk itu pacarmu. Karena pose foto kalian itu agak... sedikit mesra? Tapi ternyata—" "Sunny," kata Sejun tiba-tiba, " dia memang pacarku." Tubuh Sejun sempat membeku sepersekian detik sebelum ia meralat kembali ucapannya. "Lebih tepatnya mantan pacarku." Sejun menjaga ekspresinya agar tetap datar, kemudian berlalu begitu saja sambil menjejalkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Nara yang bingung pun menjadi bertanya-tanya. "Semudah itukah membungkam mulut pedasnya?" Meski heran, tapi tetap tidak dapat dipungkiri kalau Nara merasa senang. Setidaknya dia tidak harus terus menerus mendengar sindiran pedas dari Sejun maupun ancaman kasarnya yang selalu bisa membuat Nara merasa ngeri. ... Begitu masuk ke dalam kamarnya, tatapan Sejun langsung terpaku ke deretan foto-foto yang tersusun rapi di atas bufet. Jika saja Nara tidak membahas sosok gadis yang ia peluk dengan mesra di foto, mungkin Sejun tidak akan membuka kembali kotak kenangan yang sudah lama terkunci rapat di dalam hatinya. Sejun menyapu rambut hitamnya dari kening lalu memandang ke sekeliling kamar. Ternyata tak hanya satu, dua, atau tiga barang yang mampu memvisualisasikan setiap detail wajah cantik mantan kekasihnya dengan sempurna. Mereka—benda-benda itu, telah menyerap semua kenangan yang tercipta dan menjadi saksi bisu bagaimana hubungan kasih itu terjalin, kemudian putus begitu saja tanpa salam perpisahan. Gadis yang membawa hati Sejun pergi bersamanya itu tidak pernah memberikan Sejun kesempatan untuk bertanya, "Atas alasan apa dirinya ditinggalkan tanpa kabar, tanpa kejelasan, tanpa sedikit pun salam yang terlampir dalam layar-layar kaca yang mereka punya?" Sejun merasa hampa dalam upayanya mengarungi putaran-putaran waktu tanpa sosok gadis yang namanya terus dieja oleh lisannya secara sadar atau tidak sadar. Akhirnya, demi menghilangkan jiwa pesakitan yang bercokol kuat di dalam diri, Sejun menghadirkan banyak kupu-kupu indah dengan kecantikan yang selaras, atau beberapa level lebih tinggi dari dia yang sudah begitu tega menghilang tanpa bekas. Meski begitu, Oh Sejun tetap tidak bisa menyerahkan kunci hatinya kepada pemilik yang baru, kendatipun dia sudah memaksa diri menembus batas yang nyaris tak lagi bisa ia terima hanya untuk meraih satu kata yaitu move on. Seperti foto-foto yang tak pernah ia ganti dengan kecantikan gadis lain, Sunny begitu angkuh menjajah jiwa raganya tanpa mempedulikan pergantian tahun dan musim yang terus bergulir, sehingga Sejun menjadi begitu terbiasa, begitu enggan menyentuh atau menyingkirkan, atau memindahkan segala hal yang berkaitan dengan cinta pertamanya yang tidak berjalan mulus. Sejun membiarkan kenangan-kenangan itu bertahan di tempatnya tanpa adanya perubahan sedikit pun. Pria itu lantas mengambil salah satu foto yang terpajang di sana. Gambar Sunny yang tersenyum begitu manis dan anggun, selalu bisa membuat bibir Sejun melengkungkan senyuman rindu. Senyuman rindu yang sejak bertahun-tahun lalu telah ditumbuhi semak berduri hingga rasa perihnya begitu menusuk ke sanubari. Setelah beberapa menit ia habiskan dalam diam sambil memandangi foto yang ia pegang, Sejun meletakkan kembali benda tersebut ke tempat asalnya. Namun kali ini dalam posisi tertelungkup, alih-alih tetap berada di posisi semula yang akan sangat memudahkannya menerobos masa lalu sewaktu-waktu. Mengetahui bahwa Nara sudah berdiri beberapa langkah saja di belakangnya tanpa ia sadari, Sejun melirik sekilas dari celah bahu kemudian berkata, "Aku ini sibuk. Aku punya banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan dalam waktu seefisien mungkin." Sejun melempar pandangannya jauh ke langit malam yang diterangi bulan, sedangkan Nara meluruskan manik sewarna madu miliknya ke punggung lebar pria itu, menunggu-nunggu kelanjutan kalimat yang ingin Sejun utarakan. "Tapi karena aku sudah berjanji akan membantumu, maka aku akan berusaha menepati janjiku." Sejun diam sebentar, menyimpan kepalan tangannya ke balik saku celana. "Besok, aku akan membawamu pergi ke seorang paranormal yang cukup tersohor. Barangkali dia bisa membantumu kembali ke ragamu seperti yang kau inginkan, atau memberikanmu pencerahan dan semacamnya, yang tentunya tidak bisa aku berikan kepadamu. Karena jujur saja, aku itu orang yang awam terhadap masalah-masalah gaib seperti ini," aku pria itu sambil menggosok alisnya. Nara menyadari perubahan sikap Sejun yang terlalu signifikan untuk diabaikan. Namun dia menganggap perubahan itu hanyalah bagian dari suasana hati Sejun yang sedang buruk. Mencoba menyesuaikan diri dengan suasana hati Sejun yang dingin, Nara mencoba mengungkit kembali topik yang memenuhi otaknya dengan hati-hati dan penuh kelembutan. "Aku ingin kau pergi menemui Jay lagi." Sejun berbalik, memandang Nara dengan tatapan yang tak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. "Aku... aku ingin tahu tindakan Jay selanjutnya setelah dia mengetahui kebenarannya lewat mulutmu." Sejun mengangguk, menyanggupi. "Baiklah. Nanti aku akan pergi menemuinya lagi. Tapi jika yang dia lakukan nanti tidak sesuai dengan harapanmu, kau tidak bisa memaksaku untuk meyakinkannya." Sejun berjalan mendekat hingga posisinya dengan Nara hanya berjarak empat langkah saja. "Apa kau bisa berjanji untuk itu?" Nara tersenyum tipis. "Ya. Jika dia tidak menuntut keadilan untukku, aku tidak akan memaksamu meyakinkan dirinya. Aku bahkan tidak akan memaksamu untuk pergi menemuinya lagi selama-lamanya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN