Manik pekat Sejun terlihat memperhatikan Nara selama beberapa saat, merasa tertarik dengan apa yang gadis itu janjikan padanya barusan. "Gagasan yang bagus." Sejun memuji dengan nada masam, tidak mau terlalu bertumpu pada kata-kata yang belum tentu terealisasikan secara nyata.
"Kau harus bisa memegang janjimu," lanjut pria itu sambil lalu.
Sejun berjalan santai menuju ke tempat tidur yang tak letih membujuknya untuk segera melewati sisa malam di atas hamparan tebal nan empuk itu. Setelah melepas sandal rumah yang ia pakai, kepalanya langsung melesak di atas bantal bulu angsa yang membuatnya mendesah nyaman sambil memejamkan mata.
Lelah dengan apa yang dia hadapi hari ini, membuat Sejun tidak membutuhkan waktu lama untuk menjemput uluran tangan sang dewi mimpi. Suasana yang semakin hening di tiap detiknya mendorong Nara berjalan mendekat ke tempat tidur dengan kedua tangan tersembunyi di balik tubuh. Lengkungan tipis perlahan terbentuk di bibir Nara ketika ia melihat wajah polos Sejun saat pria itu tertidur pulas.
Gadis itu pun duduk bersimpuh di tepi ranjang, melipat kedua tangan di atas kasur kemudian merebahkan kepalanya di sana. Matanya memandang lurus ke arah Sejun yang jauh dari kesan kaku dan tak tersentuh. Bahkan menurut Nara, wajahnya lebih mirip seperti bayi tanpa dosa sehingga rasa ingin melindungi muncul sendiri di dalam rongga dadanya meski hanya berbentuk noktah kecil.
Kesadaran aneh tentang diri Sejun membuat Nara sedikit tersentak. Pria yang tertidur di hadapannya sekarang memang sangatlah tampan. Bentuk rahangnya kokoh, ada sedikit belahan di dagu dan hidungnya yang tinggi adalah penyatuan sempurna dari kesan feminim serta maskulin. Kedua mata Nara kian menyipit ketika pria yang sempat ia maki-maki dalam hati ternyata memiliki bulu mata paling lentik yang pernah dilihatnya seumur hidup. Mengejutkan sekali!
Dalam senyap yang dipenuhi pengamatan, Nara mengulurkan jari telunjuknya berniat menyentuh bulu mata lentik milik Sejun yang ia warisi dari sang ibu. Namun niat itu pun Nara urungkan karena takut tindakannya tersebut akan membuat pria tampan yang sedang menjadi pusat korneanya justru terbangun dari mimpi yang belum lama ia raih.
"Maaf karena aku sudah sangat menyusahkanmu," kata Nara tiba-tiba, "maaf juga karena aku sudah membuatmu dimarahi oleh ayah dan ibumu. Meski aku kesal denganmu karena alasan tertentu, tapi tidak bisa dipungkiri kalau kau itu pria yang baik. Hatiku bisa merasakan itu dan aku bersyukur telah diberi kesempatan untuk bertemu denganmu."
Seulas senyum samar terlihat di sudut bibirnya yang indah sebelum ia melanjutkan. "Aku berjanji. Jika aku sudah sadar dari koma, aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu padaku. Aku akan menganggap pertolonganmu hari ini sebagai hutang budi, dan aku akan membalasnya suatu hari nanti."
Rentetan kalimat yang keluar dari bibir Nara benar-benar keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam. Di dalam kesehariannya, Nara selalu berusaha hidup mandiri bahkan sampai ke taraf seolah-olah dia tidak membutuhkan bantuan dari siapa pun. Tidak dengan ayahnya, apalagi dengan ibu dan saudara tirinya.
Nara terbiasa bekerja paruh waktu di usia muda meski itu harus dilakukannya secara diam-diam. Kendatipun keluarganya sama sekali tidak hidup dalam kekurangan, dia lebih suka memeras keringatnya sendiri untuk membeli apa pun yang ia inginkan ketimbang harus merengek kepada ayahnya yang walau dengan tampang dingin, pasti akan mengabulkan keinginan Nara apa pun itu.
Sikapnya yang seperti itu secara alami telah menciptakan dinding kokoh tak tertembus yang memisahkannya dari keluarganya sendiri terutama ayahnya. Lewat sikapnya yang mandiri, Nara berhasil membuat sang ayah beranggapan bahwa putrinya tidak membutuhkan dirinya dan Nara baik-baik saja dengan anggapan ayahnya yang seperti itu.
Dengan background keluarga yang menurutnya jauh dari kata harmonis, Nara sangat bersyukur karena di tengah situasi yang benar-benar membuatnya tidak berdaya—dimana dia tidak bisa mengandalkan dirinya sendiri seperti biasa, bukan ayahnya, ibunya, atau saudaranya yang menjadi pilihan untuk ia mintai pertolongan melainkan orang lain. Karena menurutnya, orang lain masih lebih baik daripada keluarga formalitas yang hanya bisa membuatnya terluka hati hingga ke jantung.
"Aku pasti akan membalasmu, Oh Sejun," ulang Nara, seolah-olah dia sedang menanamkan tekad kuat di dalam dirinya.
Selepas kata-katanya habis, Nara kembali merebahkan kepalanya di atas lipatan tangan yang kini ia jadikan alas. Dia tidak mengantuk, hanya merasa nyeri di kepala dan di sekujur tubuh akibat sisa-sisa hantaman bumi yang membuat tulang-tulangnya patah. Sementara pikirannya melayang menembus pintu-pintu masa lalu bersama helaan napas tertahan, kelopak mata Sejun terangkat sejenak kemudian tertutup lagi.
Senyum tersungging di bibir pria tampan itu. Karena berkebalikan dengan anggapan Nara yang salah mengira bahwa kesadaran Sejun telah lepas sepenuhnya dari raga, dia justru mendengar semua curahan hati Nara yang membuat beban di hatinya sedikit berkurang. Setidaknya gadis itu masih tahu diri, pikirnya.
"Suatu hari aku bisa menagih janji itu. Tapi bisa juga tidak," bisik Sejun dalam hati.
...
Di kawasan yang hanya dihuni oleh kalangan elit, Jay berdiri di balkon apartemen mewahnya sembari memegang secangkir kopi pahit yang ia pikir tidak lebih pahit dari kehidupan percintaannya sekarang. Pria tampan yang membiarkan tangan-tangan angin membuat tatanan rambutnya tidak beraturan itu mulai menyesap pahit getir kopi di tangannya secara perlahan, seolah-olah dia sedang memindahkan kepahitan dalam hidupnya ke dalam lambung untuk dicerna lalu dibuang menjadi sesuatu yang tidak berharga.
Sayangnya hidup tidak semudah itu. Tidak semudah dia menganalogikan pahitnya kopi yang lidahnya rasakan, tertelan, kemudian menghilang dan terlupakan. Karena jika esensi dari rasa kopi yang ia teguk saja tidak mudah dilupakan oleh otaknya, maka esensi atas tindakannya melukai kekasihnya sendiri pun pasti tidak akan mudah dilupakan apalagi dimaafkan.
Masih basah dalam ingatannya ketika ia berlari sekuat tenaga menghampiri sosok Nara yang tergeletak tak berdaya dengan tubuh bersimbah darah, menembus kerumunan orang-orang yang menatap tubuh mungil kekasihnya dengan tatapan tragis. Dia bersalah! Sangat sangat bersalah karena telah menjelma menjadi pukulan rasa sakit terhebat yang mendorong gadisnya melakukan hal nekat yang tidak pernah terpikirkan olehnya.
Jay mengarahkan tatapannya ke salah satu tangan yang kini sedang menggenggam secarik kertas, nyaris meremas. Di sana tertulis betapa besar kekecewaan Nara pada dirinya sehingga gadis itu begitu merindukan mati. Pria itu percaya kalau Nara dibunuh secara tidak langsung olehnya, sampai di detik dia bertemu dengan laki-laki misterius yang mengatakan sesuatu di luar logika.
Bagi Jay yang terbiasa berpikiran logis, apa yang Sejun katakan sama sekali tidak mudah diterima oleh akal sehatnya. Apalagi hal yang dia sampaikan bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan lelucon.
Apa benar Nara jatuh bukan karena dia berniat bunuh diri?
Jay memejamkan mata, menikmati terjangan rasa pusing yang membuat kepalanya terasa begitu berat.
Hani... aku harus mencari tahu kebenarannya! Jika memang kau yang melakukannya, awas saja!
Jay meletakkan cangkir yang ia pegang ke atas meja dengan kasar. Bergegas masuk ke dalam kamar untuk mengambil kunci mobil yang ia letakkan di atas meja, kemudian setengah berlari menuju ke pintu utama. Tatapannya langsung meredup, sementara aura gelap berbahaya menguar dari dalam dirinya, ketika ia mendapati Hani sudah berdiri di depan pintu apartemen dengan satu tangan terangkat ke depan bel.
Gadis itu tersenyum manis ke arah Jay seraya menjatuhkan tangannya yang terangkat ke sisi tubuh. "Sayang, aku datang membawakanmu makan ma—"
Dengan satu gerakan kasar yang tak terprediksi, Hani ditarik masuk oleh Jay yang mana akibat tindakannya itu, Hani hampir saja terjatuh. Setelah mengunci pintu rapat-rapat, Jay mencengkeram kuat lengan Hani seolah-olah dia adalah seorang pencuri yang terpergok ketika sedang beraksi, kemudian menyeretnya menuju ke ruang tengah.
Jay menghempaskan tubuh calon pengantinnya ke sofa dengan semena-mena hingga paper bag berisi makanan yang Hani bawa terlempar jauh lalu jatuh berserakan. Bersamaan dengan bunyi berisik dari benda yang beradu di lantai, Hani pun memekik kesakitan sambil memegangi jejak kemerahan bekas cekalan tangan Jay yang tak berperasaan di lengannya.
"Apa yang kau lakukan?!" bentak Hani, tak terima diperlakukan tidak manusiawi oleh calon suaminya sendiri.
Jay menyeringai, masa bodoh dengan Hani yang nyaris menangis akibat perlakuannya yang jauh dari kata lembut. Tanpa banyak basa-basi, pria itu langsung menodong Hani dengan pertanyaan yang terus mengusik hatinya seharian ini. "Katakan padaku," katanya tajam, "kau ada dimana ketika Nara jatuh dari apartemennya?"
Suara Jay yang lebih dingin daripada gunung es membuat Hani terkesiap dengan mata terbelalak. "A-apa? Apa maksud—"
"Apa kau yang mendorong Nara hingga dia jatuh dari ketinggian?" potong Jay, sembari memandangi Hani dengan tatapan menuduh.
Napas Hani naik turun dengan cepat ketika angkara menguar pekat dari sorot mata pria di depannya.
"Apa kau yang mencoba membunuh Nara dengan dalih bunuh diri, hah!" Suara Jay semakin meninggi.
"Tidak!" Hani menggeleng keras, "kenapa jadi aku yang mendorongnya? Bukankah kau sendiri yang membaca surat dari Nara sebelum dia melompat untuk bunuh diri?"
Hani bangkit dari sofa, mencoba pergi dari tempat itu secepat mungkin agar terhindar dari pertanyaan yang bisa membuatnya terpojok. Dia berjalan melewati bahu Jay dengan langkah gusar. Namun lagi-lagi tangannya disambar oleh kekuatan menyakitkan yang berasal dari cekalan tangan Jay, hingga tubuhnya pun berputar secara paksa menghadap pria itu.
"Sakit!" Hani berteriak sekuat tenaga bersama serpihan rasa sedih yang telah terkontaminasi oleh rasa takut. "Kenapa kau sangat kasar kepadaku? Dengar! Aku itu sedang mengandung anakmu, harusnya kau bisa memperlakukanku dengan baik!"
Jay melirik sekilas ke perut Hani sebelum melepas cengkeramannya dengan terpaksa. "Baik." Jay tersenyum sinis, berusaha mengendalikan amarahnya yang menggebu-gebu.
"Jika kau tidak ingin diperlakukan dengan kasar, sekarang katakan padaku dengan jujur." Pria itu menjeda sejenak kalimatnya sebelum melanjutkan. "Kau ada dimana ketika Nara jatuh dari apartemennya malam itu?"
Mata Hani bergerak-gerak panik.
"Jawab!" Teriakan Jay menggelegar keras memenuhi seisi ruangan.
Hani terperanjat, merasa kaget setengah mati sambil menutupi kedua telinganya lalu menangis sejadi-jadinya.
"Aku..." ucapnya terbata-bata, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang, "aku masih dalam perjalanan menuju ke apartemen. Karena sebelum dia jatuh, Nara mengirimiku pesan dan berkata kalau dia ingin berbicara denganku."
"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Nara karena begitu aku sampai di lokasi, adikku sudah jatuh. Aku tidak tahu. Sungguh! Aku benar-benar tidak tahu apa-apa! Tolong jangan mencecarku lagi." Hani memelas, berharap Jay akan luluh melihat lelehan air matanya yang tiada henti.
"Jangan menguji kesabaranku," kata Jay tajam, dipenuhi penyesalan tapi tetap waspada.
Tak lama kemudian, pria itu menjauhkan diri dari Hani, berputar membelakanginya. Jay menengadahkan kepalanya ke langit-langit ruang yang terlihat buram dalam pandangannya yang berkabut. Embusan napas kasar keluar dari mulutnya dan dia mengusap gusar wajahnya yang merah padam.
"Aku tanya sekali lagi kepadamu. Apa kau benar-benar tidak terlibat dalam kecelakaan yang menimpa Nara?"
Setelah hening memanjang selama beberapa waktu, Hani mulai menjawab, "Aku akui kalau hubunganku dengan Nara tidaklah akur. Tapi bukan berarti kau bisa menuduhku seenaknya! Aku..." tangis Hani meledak lagi, "aku tidak mungkin tega membuatnya celaka. Aku tidak mungkin berbuat seperti itu meski Nara tidak pernah menganggapku sebagai kakaknya."
Punggung Jay yang tadinya tegang mulai mengendur. Di belakang, Hani mengamati perubahan ekspresi Jay dengan saksama. Merasa kalau sikap tidak tega yang Jay miliki bisa ia manfaatkan untuk menanggulangi situasi genting yang terjadi saat ini, Hani langsung menunjukkan skill acting-nya yang bisa dikatakan cukup mumpuni.
Meski awalnya ragu, Hani tetap nekat melingkarkan tangannya di sekeliling pinggang Jay sembari menangis dalam raungan pilu. Mungkin Jay bisa menyakitinya karena pria itu memang tidak memiliki perasaan apa pun terhadap dirinya. Tapi itu tidak akan terjadi jika Hani menyinggung tentang anak yang sedang ia kandung. Dia tidak akan tega melukai darah dagingnya sendiri, pikirnya.
"Aku menyesal karena aku sudah menyakiti Nara. Aku tahu kalau kau adalah segalanya bagi adikku. Andai saja saat itu kita tidak mabuk dan... aku tidak sampai mengandung anakmu... kita berdua tidak akan terjepit dalam masalah yang rumit seperti ini."
Jay bergeming di tempat ia berdiri.
"Aku tidak tega jika harus mengaborsi janin yang sedang aku kandung. Jadi tolong... jangan paksa aku untuk menyakiti anakku sendiri." Hani memeluk perutnya dengan protektif, seolah-olah dia sedang melindungi bayi yang sedang tumbuh di dalam sana.
Perkataan Hani sukses membuat hati Jay seakan diremas-remas. Perasaan bersalah menyerangnya secara bertubi-tubi hingga ia pun melepas lilitan tangan Hani di pinggangnya dengan lembut, berbalik, memandangi Hani dengan tatapan tak terbaca.
"Pergilah," usir Jay, tanpa mengandung jejak kemarahan dalam kalimatnya. "Untuk sekarang, tolong jangan muncul di hadapanku. Karena setiap kali aku melihatmu, aku terus teringat akan kesalahan yang sudah aku perbuat."
Hani merasa kecewa karena respon yang ia harapkan bukanlah seperti ini. Namun untuk sekarang, tampaknya dia harus lebih menahan diri jika ia tidak mau kedoknya terbongkar lalu terkurung di dalam bui alih-alih menikmati alunan musik wedding march di pesta perkawinan mereka nanti.
Setelah menghapus air mata yang berjatuhan di pipinya, Hani berkata, "Jika itu maumu, tidak masalah. Aku akan menahan diri untuk tidak bertemu denganmu, meski anakku yang menginginkannya sekali pun. Aku tidak tahu siapa yang menghasutmu sampai-sampai kau menuduhku dengan tuduhan keji seperti itu. Tapi aku akan berusaha membuktikan padamu bahwa aku tidak bersalah."
Jay mendengus. Tanpa berkata apa-apa, dia langsung meninggalkan Hani begitu saja masuk ke dalam kamar. Melihat kepergian Jay di balik pintu, tangan Hani mengepal kuat. Buru-buru ia ambil tas miliknya kemudian keluar dari apartemen Jay. Setelah situasinya dirasa cukup aman, Hani mengambil ponsel miliknya dari dalam tas untuk menghubungi seseorang.
"Halo, Sayang."
Hani tersenyum miring sebelum menjawab sapaan mesra dari suara di seberang telepon tanpa banyak basa-basi. "Kita harus bicara. Aku harap, kau sudah menyelesaikan tugas dariku sesuai kesepakatan."