Waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya, padahal jarum jam terus bergerak tanpa ampun. Bara menginjak pedal gas hingga ke batas maksimal, mobil melaju melesat membelah kegelapan malam, menerobos setiap rambu lalu lintas seolah aturan dunia biasa tidak lagi berlaku baginya. Di dadanya berkecamuk badai emosi: ketakutan, amarah, dan rasa posesif yang meledak melampaui batas akal sehat. Siapa pun yang berani menyentuh Melia, baginya sudah menandatangani surat kematiannya sendiri. “Perkuat pertahanan! Jangan biarkan satu orang pun mendekati kamar Nyonya! Jika perlu robohkan seluruh gedung itu demi melindunginya!” bentak Bara melalui alat komunikasi, suaranya serak dan bergetar menahan gejolak batin. Sesampainya di depan rumah sakit, pemandangan yang menyambutnya membuat darahnya mend

