Amarah yang Meledak

1403 Kata

Kebisingan di sekelilingnya seakan lenyap seketika. Bara hanya bisa mendengar deru napasnya sendiri dan bunyi detak jantung yang berpacu tak beraturan di dadanya. Saat kain merah tua itu lenyap kembali di balik pilar, ia tak lagi peduli pada barisan senjata yang mengarah padanya, tak peduli pada teriakan Ardi yang memanggil namanya, dan tak peduli pada pasukan musuh yang semakin mendekat. Satu-satunya hal yang ada di benaknya adalah Melia di mana dia, siapa yang membawanya, dan apakah dia selamat. Dengan satu gerakan cepat, ia menangkis senjata yang menghadangnya lalu melesat menerobos kerumunan menuju tempat istrinya terakhir kali terlihat. Darah dari luka di lengannya menetes membasahi tanah di setiap langkahnya, namun rasa sakit itu tak berarti dibandingkan rasa hampa yang mulai meraya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN