~Pov Athaar “Lepas, Aa ih” bisik Dillah, nyaris berbisik karena jika ia menaikan sedikit saja suaranya, sudah pasti terdengar ke ruang tamu. Keluarga yang ada di sana, tengah mengobrol pun terdengar sampai sini. “Uhm, enggak mau.” Aku semakin sengaja menjahili dirinya. “Aa, nanti ada yang datang! Nggak boleh kayak gini!” Alih-alih melepaskannya, aku mengeratkan pelukan, buat dia makin-makin kelihatan kesalnya, “aku lagi mikir, bagaimana caranya biar Ibu dan kakak-kakakmu setuju tanggalnya dipercepat, kalau bisa minggu depan.” Dillah berdecak sebal, “buru-buru banget!” “Makanya aku peluk, kalau kepergok sama Mas Suta lagi kali ini bukan dapat pukulan, tapi langsung diseret ke penghulu. Aa siap, bahkan dengan pasrah menyerahkan diri!” Aku geli sendiri mendengar kalimatku, tapi m

