Melihat Yiping Xie yang masih menunjukkan sikap tenang. Selir Lisun merasa tidak suka, dia ingin segera melontarkan kata-kata pedasnya lagi, "selir Yiping, padahal sang ratu sudah capek-capek datang kemari demi menjengukmu, tapi sedikitpun kau tidak menunjukkan rasa hormat mu." Sambil berkata, matanya melirik ke arah Susan Xie, dan berharap wanita itu terpancing dan mau menunjukkan emosinya.
Mereka tidak tahu, jika yang mereka hadapi bukanlah Selir Yiping yang sebenarnya, melainkan Susan Xie, gadis dari masa depan yang terjebak dalam tubuh wanita ini. Jika selir Yiping yang di perlakukan demikian, entah apa yang akan di lakukan wanita itu. Yang pasti, Susan Xie akan membalas dengan caranya.
Dengan menarik sudut bibirnya, Susan Xie mulai berkata, "Selir Lisun... Benar itu namamu kan?" Gaya nya sangat santai, namun jika orang lain yang melihatnya pasti akan mengatakan bahwa gadis ini menyebalkan, "aku rasa mata mu sangat indah, seperti Bungan persik yang sangat menggoda." Wanita yang mendengar ucapannya hampir melayang dengan pujiannya.
"Namun sayang, kenapa mata yang indah itu, tidak bisa melihat hal dengan jelas?"
Alis selir Lisun seketika berkerut, "apa maksudmu?" Dia bertanya dengan nada tidak senang.
Selir Yiping pura-pura menahan tawa, "kakiku sakit, bagaimana mungkin aku berdiri dan memberi hormat pada kalian?" Setelah wanita itu menyelesaikan kalimatnya. Selir Lisun tersadar jika seorang Yiping Xie sedang mempermainkannya.
Mendengar itu, selir Xio Er tiba-tiba tertawa, "aku pikir hanya otakku saja yang lamban, tapi ternyata kau lebih parah." Dia menepuk pundak selir Lisun cukup keras.
Wajah Selir Lisun berubah merah karena merasa di permalukan. Sampai-sampai tak bisa bersuara karena tenggorokannya seperti tercekat.
"Kau tidak perlu repot-repot berdiri untuk memberi hormat, lagipula kami hanya sebentar, setelah tahu keadaan mu baik-baik saja, kami menjadi tenang." Suara ratu Finix terdengar lembut dan ramah. Susan Xie hampir saja tertipu dan menganggap wanita ini sungguhan baik. Jika panglima Han tidak memperingatkan tentang siapa wanita ini? Susan Xie sejak tadi tidak akan memperhatikan perubahan muka yang di tunjukan wanita itu.
Sejak awal wanita itu memiliki wajah sedingin Es, lalu kenapa tiba-tiba dia mau tersenyum dan sikapnya berubah ramah.
Selir Lisun yang merasa belum puas, ia hendak membuka suara lagi, namun tangan Ratu Finix terulur di depan dadanya, seolah sedang memberi isyarat agar selir Lisun diam.
Wanita itu terpaksa menahan kata-katanya dan hanya memandang tajam ke arah selir Yiping Xie.
"Semoga kaki mu bisa cepat pulih," nada suara ratu Finix terdengar datar, tidak ada kesan menyindir atau lainnya.
"Dan kepala mu juga..." Selir Lusin mengambil kesempatan dan berkata penuh dendam. Dia masih tidak terima soal yang tadi.
Memangnya kepalaku kenapa? Susan bergumam dalam hati.
Susan menundukkan kepalanya kali ini sebelum kaki ratu Finix melangkah keluar dari kamarnya.
Wanita itu hanya balas tersenyum, sepertinya kepalanya sangat berat jika harus membalas menunduk hormat. Dari caranya mengangkat dagu saja, wanita itu jelas terlihat angkuh. Jadi kedatangannya kali ini hanya ingin berbasa-basi.
***
Ratu Finix mengundang kedua selir, untuk datang ke kediamannya yang ada di istana bagian bagian selatan. Setelah datang melihat selir Yiping, dia mungkin jadi punya siasat untuk menyingkirkan wanita itu, namun dengan cara yang halus. Dia sengaja berbasa-basi pada wanita itu hanya untuk memastikan, benarkah selir Yiping yang sekarang ini bukanlah orang lain.
Meski Selir Xio Er sangat lamban dalam berpikir, tapi apa yang di katakannya waktu itu cukup mengusiknya, setelah di perhatikan, selir Yiping yang sekarang begitu berbeda, jika dulu wanita itu terlihat lemah, pemalu dan mudah di tindas, kini dia berubah menjadi seorang wanita yang begitu berani dan cukup pintar. Ratu Finix sengaja datang untuk mencari kelemahan wanita itu. Kelemahan wanita itu bukan terletak pada emosinya. Dia cukup pandai mengendalikan diri. Terbukti selir Lisun yang malah terpancing emosinya karena ulahnya.
Jadi dimana letak kelemahannya? Dia terus berpikir.
"Apa kau tahu kelemahan wanita sialan itu kira-kira ada dimana?"
Selir Lusin terkenal pandai dalam menganalisa, setelah dia datang menemui wanita itu bersama ratu Finix tadi, dia berpikir jika wanita itu adalah wanita yang ceroboh. Meski dia terlihat pandai dan berani? Tapi dia tidak memiliki sikap waspada dan mudah di kelabuhi. "Karena wanita itu sangat ceroboh, yang mulia bisa memanfaatkan kecerobohannya itu agar dia bisa terlempar dari istana ini dengan sendirinya."
"Caranya?"
Selir Lisun pun mendekat ke telinga Ratu Finix dan mulai membisikkan sesuatu.
"Jadi kita akan memfitnahnya lagi?"
Selir Lisun mengangguk dengan sudut bibir terangkat, "kaisar tidak suka dengan orang yang sangat ceroboh, apalagi jika barang-barangnya di sentuh atau rusak. Kaisar Lee pasti akan memberi hukuman pada orang tersebut."
"Dan kita akan membuat wanita itu mendapatkan hukuman dari kaisar Lee, lalu menurutmu, apa benda kesayangan kaisar Lee?"
"Aku pernah dengar kaisar Lee membanggakan pedang pusaka pemberian dari mendiang guru pertamanya, pedang itu memiliki kekuatan magis, jika pedang hilang, kaisar Lee tidak akan segan memenggal siapapun yang berani mencurinya. Dan kita akan membuat Selir Yiping sebagai yang tertuduh."
Ratu Finix memutar bola matanya dan berpikir, "ide mu bagus, namun siapa yang tahu letak benda itu, dan siapa yang akan mengambilnya?"
Kini ketiganya terdiam, selir Lisun tak memikirkan tentang hal itu.
Tak lama dari arah jendela terdengar suara seseorang mengetuk, ketiganya menjadi panik, takut ada pengintai dan mendengar semua percakapan mereka.
"Selir Xio Er, coba kau periksa," titah Seli Xio Er.
"Kenapa harus aku?"
Selir Lisun hanya melotot ke arahnya, dan mau tidak mau selir paling muda itu berjalan ke arah jendela dengan perasaan takut.
Perlahan tangannya mulai menyentuh daun jendela berukiran indah itu dan membukanya. Tak ada siapapun di luar sana.
Namun saat selir Xio Er hendak menutupnya kembali, sebuah pisau kecil menerobos masuk dan menancap di salah satu pilar yang ada di dalam kamar.
Di pisau tersebut terdapat sepucuk surat. "Cepat tutup lagi jendelanya," perintah ratu Finix. Setelah merasa aman dia segera meraih beda tajan itu dan meraih surat yang di bawanya.
Dia membukanya, isi surat itu mengatakan. "Temui aku di dekat perbatasan hutan terlarang, dan aku bisa membantu kalian mengatasi masalah kalian."
Selesai membaca surat itu, ratu Finix dan lainnya saling berpandangan. Pikiran mereka sama, sedang menebak-nebak siapa kira-kiraorang yang baru saja mengirimi mereka surat kaleng?
"Apa kita bisa mempercayai orang iseng ini?" Ratu Finix merasa tidak yakin. Tapi mungkin dia akan memikirkannya lagi.
Bersambung.