PROLOG
"Lepaskan aku, Farah! Aku tidak mau ada yang melihat kita seperti ini, dan nantinya akan menjadi salah paham."
Ilona menghentikan langkahnya tepat di depan celah pintu ruang kerja suaminya.
Ia datang saat jam makan siang. Suasana lantai teratas gedung pencakar langit itu tampak lebih lengang, karena para karyawan yang sedang menikmati waktu istirahat mereka.
"Nikahi aku, Ren! Aku tidak keberatan menjadi yang kedua. Aku tahu, Ilona adalah orang baik. Dia harusnya bisa mengerti tentang keadaan kita. Tentang aku yang juga butuh tanggung jawabmu."
Ia mengenal suara dua orang yang sedang berbicara di dalam sana. Rendra - suaminya, serta Farah.
Wanita berusia 35 tahun itu hadir di tengah kehidupan rumah tangganya dengan Rendra empat bulan yang lalu. Tepatnya, setelah kecelakaan mobil yang mereka alami empat bulan lalu. Farah adalah kakak dari lelaki yang telah menyelamatkan keluarga kecil mereka, khususnya Ilona yang saat itu posisinya terhimpit di detik-detik terakhir sebelum mobil mereka meledak.
Tangan dan kaki Ilona bergetar. Matanya mulai mengisyaratkan luka yang dalam, menatap ke arah dua insan yang saling beradu tatap di dalam sana.
"Ren... aku butuh kamu," cicit Farah sambil menggapai lengan suami Ilona.
"Kamu selalu ada di saat-saat yang paling sulit di hidupku. Kamu satu-satunya orang yang aku punya."
"Kamu selalu datang saat aku membutuhkanmu, bahkan meski kamu harus meninggalkan pesta ulang tahun anakmu sendiri."
"Lagi pula, selama empat bulan kebersamaan kita, tidak mungkin kan kamu tidak memiliki perasaan apapun padaku?"
Ilona meremat dadanya. Setetes air matanya terjatuh. Ia ingat momen itu. Saat putri kesayangannya sampai menangis dan melamun seharian karena sang ayah yang tiba-tiba pergi di pesta ulang tahunnya.
"Jadi saat itu, Rendra pergi untuk menemui Farah?" batin Ilona pilu.
"Aku... aku melakukan itu-"
"Aku nggak salah kan, Ren, berpikir kalau kamu peduli padaku?" Farah memotong ucapan Rendra.
"Kamu pasti akan menepati janjimu padaku, kan? Kamu bahkan sering menemaniku tidur saat aku-"
Brakkkk
Rantang makanan yang Ilona pegang seketika terjatuh ketika ia mendengar penuturan seorang wanita di dalam ruang kerja suaminya. Niatnya, ia ingin mengantar bekal makan siang untuk sang suami. Namun, percakapan memilukan itu justru jadi hal pertama yang ia dengar.
Ucapan Farah seketika terhenti. Kedua pasang mata yang ada di dalam ruangan itu seketika beralih ke arah pintu yang sedikit terbuka.
Menyadari keberadaannya akan segera diketahui, Ilona berniat untuk pergi. Ia belum siap menghadapi Rendra dan Farah. Semua ini terlalu mengejutkannya. Ia masih tidak tahu harus bereaksi seperti apa untuk menghadapi mereka.
Ia bersembunyi di balik tembok. Ia abaikan suara langkah kaki Rendra yang terdengar mendekat, serta suara pintu terbuka beberapa meter di belakangnya.
"Siapa, Ren? Itu..." Farah menggantungkan ucapannya.
"Ilona?" kaget Rendra. Tampaknya pria itu bisa mengenali Ilona dari tempat makan yang tergeletak berceceran di depan ruang kerjanya.
"Ilona! Ini pasti Ilona. Ilona tadi ada di sini," seru Rendra. Suaranya terdengar panik.
"Dia... apa mungkin dia mendengar ucapan kita?" Suara Farah juga terdengar panik.
"Aku harus cari dia! Aku harus jelasin ke dia," putus Rendra.
Farah menahan lengan Rendra. "Tapi cepat atau lambat Ilona juga akan sadar tentang hubungan kita. Dia tidak bodoh. Dan harusnya dia-"
"CUKUP, FARAH! Hentikan hal konyol ini! Aku harus segera menemukan istriku dan menjelaskan semua padanya." Rendra berbicara dengan nada setengah membentak. Menghempas tangan Farah yang menahan lengannya. Tanpa banyak bicara, ia berlari ke arah lift, berusaha mengejar istrinya yang ia kira sudah lebih dulu pergi dengan benda logam itu.
Sementara itu, Ilona, dengan air matanya yang berlinang berjalan gontai ke arah tangga darurat yang biasanya sepi. Ia berhenti setelah tiba di tengah anak tangga. Tubuhnya merosot. Ia memeluk lututnya dengan erat, lalu menumpahkan isak tangisnya di ruang sepi itu.
"Sebenarnya sejauh apa hubungan kalian? Apa yang kalian sembunyikan dariku selama ini?" lirihnya.
"Rendra... kamu bahkan sudah menemaninya tidur? Apa kamu benar-benar sudah mengkhianatiku?"
"Kamu tega menghancurkan istana kecil yang kita bangun selama ini?"