Sepuluh hari sudah berlalu, sejak Parmi keluar dari rumah sakit. Keadaan rumah hari ini dibikin meriah. Bahkan Anton mengundang nenek, om, tante dan para sepupunya untuk hadir menyambut kepulangan puteri kembar mereka. Satu orang lagi yang tidak kalah antusias adalah Bu Rasti, semalaman ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Kamar untuk cucu kembar tiganya telah selesai direnovasi. Bu Rasti bersama dengan Iqbal, Parmi, dan Anton pergi ke rumah sakit untuk membawa pulang si kembar tiga. "Orang-orang pada ngapain sih keluar?" gerutu Parmi yang memandang jalanan tidak kunjung terurai kemacetannya. "Bukannya diem aja di rumah," sambungnya lagi sambil mendesah kesal. Ia duduk di samping ibu mertuanya. Anton melirik istrinya dari spion lalu tertawa kecil. "Namanya hari sabtu, Mi. Pasti macet. B

