Pemotretan

1581 Kata
Miyana menyemburkan minuman yang baru saja di teguknya. Perkataan dari asistennya benar-benar membuatnya terkejut. Sangat tidak enak untuk di dengar, juga sangat mengejutkan. Gadis itu sampai terbatuk-batuk, Myana segera membersihkan bibirnya. Begitu pula dengan Teddy, asistennya yang terkena semburan dari gadis itu segera membersihkan bajunya dan juga membersihkan meja yang tadi terkena semburannya. “Lo serius kan Ted? Mana mungkin Pandhu Bagaskoro menjalin kerja sama dengan Adera yang menjadi modelnya? Lagi pula kan Adera habis kena masalah juga? gadis itu masih menggelengkan kepalanya, antara percaya dengan tidak percaya. Myana sebenarnya sudah sangat lama mengincar kerja sama dengan pria itu tapi sayangnya, belum rejeki bisik hatinya. Gadis itu tidak habis pikir, kenapa harus Adera? “Iyalah gue serius, mana mungkin gue lupa. Ini benaran, tadi gue baru diberitahu oleh si Marcel.” Myana melotot kembali, gadis itu menatap Teddy dengan tajam. Teddy menelan ludahnya kasar, apa lagi yang salah dari dirinya. Dia kan sudah memberikan informasi yang sangat berharga untuk wanita ini. Apa jangan-jangan, Marcel belum menceritakan hal ini pada Myana? “Kenapa tidak bilang dari awal? Biar si Marcel kan bisa menolak semua itu.” Desak Myana menatap Teddy yang kini menggaruk kepalanya. Pria itu lalu menundukkan kepalanya. “Mungkin si Marcel punya pertimbangan lain kok bos, karena kita berada di titik sekarang pun kan berkat si Marcel, jadi tenang saja.” Teddy bersuara dengan sedikit ragu-ragu lalu menegakkan tubuhnya menatap wanita itu. Myana menggelengkan kepalanya. “Awas saja pokoknya! mati lo dan Marcel ditangan gue kalau gue kecolongan lagi. Myana menunjuk wajah Teddy penuh ancaman. Teddy menelan ludahnya setelah gadis itu agak berpaling, pria itu mencibir pelan tindakan Myana tadi. Kalau bukan karena utang Budi dirinya juga sudah ingin mencari bos yang lain. Myana berjalan dengan tergesa-gesa dan bahkan beberapa kali menabrak orang, yang tidak dipedulikan oleh gadis itu. Pokonya dia harus menemui Marcel sekarang, pria itu benar-benar keterlaluan. Adera yang kini berhadapan dengan Pandhu menelan ludahnya berkali-kali dan berusaha untuk mengabaikan pria itu. Mengabaikan pesona yang ada pada pria itu lebih tepatnya, Tuhan saja yang tahu betapa deg deg jantungnya. Elis hanya memerhatikan dengan santai bosnya gang sedang bekerja itu. “Sedikit lagi, iya lebih dekat. Letakkan tangan Anda di pinggang Adera, iya seperti itu.” Adera merutuk dalam hati, kenapa pose ini rasanya terlalu mengada-ada? Gadis itu sudah merasakan hembuskan napas dari pria itu yang menggelitik punggungnya. Bahkan badan Pandhu rasanya sudah sangat mepet dengan dirinya. “Jangan terlalu tegang Adera, coba sedikit lebih rileks.” Adera menghembuskan napasnya. Sepertinya ketegangannya terbaca oleh sang fotografer. “Rileks Savannah, ini hanya bentuk profesional.” Bisik Pandhu di telinganya. Adera semakin salah tingkah, apalagi ketika pria itu meletakkan tangannya di perut gadis itu. Fokus Adera, ini bukan pertama kalinya lirih gadis itu dalam hati. Seperti halnya Adera, Pandhu juga menahan debaran dalam hatinya, pria itu menggeram merutuki dirinya yang bisa-bisanya tidak profesional hari ini. Jantungnya terus berdegup kencang. Seperti halnya Adera pria itu juga agak tegang, hanya saja semua itu bisa disembunyikan dengan wajah datarnya. “Oke. Oke seperti itu, lebih rapat lagi ! “ Adera menghembuskan napasnya lega. Begitu pula dengan Pandhu, pose-pose berikutnya menjadi lebih ringan, mungkin karena sudah lebih rileks dibandingkan sebelumnya. Marcel tersenyum senang melihat Pandhu yang terlihat agak puas dengan hasil pemotretan mereka. Ini peluang bagus untuk langkah-langkah selanjutnya. Pria itu menyeringai membayangkan pundi-pundi rupiah yang akan masuk ke kantongnya. Semoga dirinya tidak salah melihat, ada ketertarikan diantara mereka berdua. Kring.... Kringgg...kringgg !! Melihat siapa yang menelpon dirinya, Marcel segera menjauh dari area emotr3tan dan segera ke luar. “Iya sayang , aku lagi menuju ke situ. Iya kita bicarakan disitu, oke.” Pria itu lalu mematikan ponselnya dan sedikit berlari untuk menemui kekasihnya yang sudah menunggu dirinya. Walaupun Marcel juga sayang pada Adera, tapi pria itu lebih sayang lagi pada kekasihnya. Marcel mencari ke sembarang arah, Marcel tersenyum dan berlari segera menuju mobil kekasihnya. Marcel mengerutkan isinya melihat wajah Myana yang tidak lurus. “Kok cemberut banget wajahnya, kamu kenapa lagi sih?” Myana menatap Marcel tajam. Masih tanya lagi kenapa? Jelas-jelas dia yang membuat gue jadi badmood. “Pikir saja sendiri coba, aku kenapa?” alis Marcel terangkat. Pria itu berpikir beberapa detik. Lalu menjentikkan jarinya. Ini pasti ulah si bodoh, siapa lagi kalah bukan Teddy yang pasti sudah bocor lagi terhadap gadis ini. “Jadi Teddy sudah cerita?” Pria itu memandang wajahnya. Myana menatap pria itu dengan jutek. “Menurut lo? Lo itu benar-benar keterlaluan tahu, nggak? Kamu tahu sendiri salah satu impian aku itu bisa menjalin kerja sama dengan Pandhu Bagaskoro lalu kenapa masih Adera yang dapat semua itu? Kamu memang manajernya, tapi kamu kekasih aku. Memang menurut kamu, Adera lebih penting gitu?” Myana mulai ngegas. Marcel tersenyum pasrah, lalu menatap gadis itu. “Gak sayangku ini hanya salah paham, kamu itu yang selalu aku utamakan. Kenapa Adera yang terpilih, itu semua karena Pandhu yang minta sendiri, kamu pikir aku tidak berusaha dan mencari banyak alasan apa untuk menolaknya? Gak sayang, Pandhu yang kekeh, jadi itu aku nggak bisa bikin apa-apa lagi. Bayarannya juga lumayan, lagi pula itu untuk tambahan penghasilan aku juga.” Myana menggelengkan kepala mendengar penuturan dari Marcel. Wanita itu tidak terima d2ngan alasan yang diberikan oleh Marcel. “Memang susah kalau punya pacaran kere kayak kamu. Semua dilakukan dengan uang.” Balas Myana kasar, Marcel menelan ludahnya, inilah kata-kata pahit yang selalu dikeluarkan oleh Myana setiap mereka bertengkar. “Kamu jangan ngomong sembarangan! Semua jerih payah aku juga kan itu untuk kamu semua kalau kamu lupa!” Pria itu juga mulai menaikkan oktaf suaranya. Elis segera menghampiri Adera yang sedang istirahat, gadis itu memberikan tisu dan minuman untuk gadis itu. Selain itu Elis juga penasaran kenapa Adera beberapa kali tadi sepertinya tidak fokus. “Memang lagi ada Maslah ya? Mbak tadi sepertinya tidak fokus.” Adera mengelap titik-titik keringat di dahinya. Gadis itu menggelengkan kepalanya. “Nggak ada kok, aku baik-baik saja. Mungkin cuma lagi grogi saja,” eksil mengerutkan alisnya. Apa Adera gerigi karena berpasangan dengan pak Pandhu kah? Wanita itu tersenyum jahil lalu berbisik pada Adera yang membuat gadis itu membulatkan matanya. Syukur ada make up yang menutup wajahnya, itu yang ada dipikiran gadis itu karena wajahnya pasti memerah kalau tidak tertutup oleh make up. Pandhu yang diam-diam memerhatikan gadis itu mengulum senyumnya. Entah kenapa seperti bisa menebak apa yang dibisikkan oleh Elis kepada bosnya itu. Pria itu menggelengkan kepalanya, bukan Cuma Adera dirinya juga merasakan hal itu. Radit yang duduk di sebelah pria itu menepuk bahunya, Pandhu menoleh dengan alis yang terangkat. “Kenapa senyum-senyum sendiri? Tadi serasa mau prewedding ya?” ujar Radit yang membuat ia Pandhu tertawa, tawa yang cukup menarik di pendengaran Adera. Gadis itu menahan napasnya, apa aku sudah gila, kenapa suara pria itu terdengar sangat indah sekarang? “Lo bisa aja, kalau prewedding gue pasti lebih mahal dari ini.” Radit tersenyum pria itu lalu bersuara lirih. “Aku melihat ada masa depan disini, Congratulation bro.” Radit segera menyalami pria itu. Selama ini Pandhu hanya menanggapi datar jika dirinya membahas pernikahan atau hal-hal yang berbau pernikahan. Pandhu hanya menatap datar pria itu. Dan mengalihkan pandangannya ke arah langit-langit. Adera segera membuang pandangannya, menyadari teman Pandhu juga menatap kerahnya dengan senyum usil. Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu. Adera jadi penasaran apa yang dulu perbincangkan oleh mereka berdua. “Hai, Adera sayang,” tiba-tiba saja suara itu memenuhi ruangan ini. Bukan apa-apa, Adera merasa malu karena semua orang kini menatap ke arahnya. Wanita itu menahan napasnya, melihat alis yang sayang dengan buket bunganya. Adera melirik Elis yang menggaruk kepalanya. Wanita itu mengangkat kepalnya pelan-pelan dan menatapnya takut-takut. “Soalnya tadi mbak Fenola, tanya lagi dimana. Jadi aku share lokasi saja mbak,” Adera memijit pelipisnya, Adera menghela napasnya dan menatap Alex yang berjalan mendekatinya. Apalagi pria itu berjalan dengan penuh percaya dirinya, Adera melirik sekilas pada Pandhu dan pria itu hanya menatap datar. “Selamat bekerja, semoga dengan bunga ini hari ini kamu semakin semangat.” Alex segera berlutut dan memberikan bunga itu untuk Adera. Adera melirik pria itu sedikit risih, tapi kalau tidak diterima pasti Alex masih di posisi seperti ini. Gila, nyebelin banget sih nih orang bisik gadis itu dalam hati. Adera menerima bunga itu dengan wajah yang kusut. “Kamu ngapain harus datang kesini, jangan aneh-aneh deh Lex.” Adera menatap pria itu dengan tegas yang ditatap malah nyengir tanpa dosa. “Apanya yang aneh sih sayang, aku itu ke sini mau datang kasih semangat, masa dibilang aneh. Kalau gak dikasih semangat dibilang gak perhatian, cewek mah gitu.” Alex bersuara sambil tertawa kecil, sudut matanya menatap rekan-rekan Adera. Pria itu menyeringai menyadari ada yang menatap penuh permusuhan pada dirinya. Sepetinya ini akan jadi saingan untuk dirinya. Jadi pria itu punya rasa juga untuk Adera ya? Alex menyeringai usil. “Ihhhhh, apa-apaan sih. Sana jauh-jauh.” Adera mendorong pria itu. Alex tiba-tiba saja merangkul dirinya, dan itu membuat Adera semakin risih. Karena tidak ingin hal-hal yang lain lagi, Adera segera mendorong pria itu. Gadis itu berkali-kali menundukkan kepalanya meminta maaf, pada orang-orang yang ada di ruangan ini. “Tidak perlu seperti itu sayang, mereka juga paham kok. Gak perlu menunduk seperti itu.” Alex mengacak-acak rambut Adera. Gadis itu menepis tangan pria itu, ini juga apa-apaan sih sampai harus pakai acak-acak rambut gue segala. Kru dan tim yang lain hanya menatap biasa pada dua sejoli itu, entah kenapa Adera terlihat sepeti malu-malu yang terlihat lucu. Begitu pula dengan pertengkaran mereka yang sangat menggemaskan dan terasa menghibur. Hanya Pandhu satu-satunya yang punya perasaan lain. Pria itu menghela napasnya kasar, rahangnya mengeras. Tiba-tiba saja dirinya merasa marah dan gerah di saat yang bersamaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN