Alex dan Pandhu

1602 Kata
Sekarang memasuki pemotretan sesi kedua, dan kali ini Adera merasakan banyak keanehan dari Pandhu. Apa yang pria itu lakukan terasa sangat berlebihan. Bahkan dengan sengaja pria itu mendekatkan jarak di antara mereka sehingga tidak ada jarak diantara mereka. Adera sampai harus menahan napasnya, jarak yang terlalu dekat tidak baik untuk kesehatan jantungnya. Pandhu menyeringai melihat Alex yang mengepalkan tangannya. Pandhu memilih pura-pura tidak tahu saja dengan reaksi Alex, mari kita lihat apa yang akan dilakukan oleh pria itu bisik Pandhu menyeringai. “Angkat dagumu Adera, tatap Pandhu!” Adera menurut, gadis itu mengikuti arahan dari sang fotografer. Adera kembali merasa kacau hanya dengan menatap kedua bola mata pria itu. Hitam pekat yang menariknya lebih dalam, gadis itu terpesona pada tatapan pria itu. Suara jepretan kamera terdengar bersahutan di ruangan ini. Adera dan Pandhu memberikan pose terbaiknya sesuai dari arahan sang fotografer. Alex yang tadi datang untuk menemani Adera sekalian pendekatan dengan gadis itu. Malah akhirnya sakit hati, melihat Pandhu yang sepertinya sengaja memanas-manasi dirinya. Pria itu mengeluarkan ponselnya, untuk mengalihkan pikirannya. Pria tua ini benar-benar, bikin dirinya memanas. “Kamu apa-apaan sih, jangan ambil kesempatan!” Adera menatap tajam Pandhu yang kini menyadarkan kepalanya di pundak gadis itu. Pandhu semakin berulah, pria dengan sengaja menghembuskan napasnya di leher gadis itu. Bahkan peringatan Adera sepertinya tidak ada artinya untuk pria itu. “Siapa yang ambil kesempatan?” lirih pria itu di telinga Adera. Cup! Adera membulatkan matanya, Dasar b******k! Berani-beraninya dia mencuri ciuman dariku. Adera menyikut pria itu, ketika merasakan pria itu memberikan kecupan kilat di wajahnya. “Kamu jangan macam-macam!” Adera bersuara geram, Pandhu hanya menganggukkan kepalanya. Anggukan yang tidak punya arti, sebatas formalitas batin Adera. Adera akhirnya menginjak kaki pria itu. “Gak lah, aku kan tadi nggak sengaja.” Bantah Pandhu, yang kembali membuat Adera memutar kedua bola matanya. Dasar alasan yang sangat basi, orang bodoh juga bakal tahu kali kalau itu modus. Adera yang kesal, kembali tersenyum ketika diarahkan untuk berganti pose lagi. Tuhan kenapa seperti ini banget sih rasanya. Alex yang sudah selesai dengan ponselnya, segera mendekat ke arah para kru yang melakukan pemotretan ini. Pria itu mengepalkan tangannya melihat posisi Adera dan Pandhu yang begitu dekat. Ini bukan bercandaan, Pandhu benar-benar akan menjadi saingan terberatnya. Myana yang kesal pada Marcel mengacuhkan pria itu. Apalagi tadi pria itu mengungkit-ungkit semua yang pernah diusahakan untuk dirinya. Myana melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Antarin aku ke studio Vilan,aku lagi ada urusan.” Marcel mengangguk, pria itu menyetir dengan tenang. Lalu melirik ragu-ragu pada gadis itu. Ngapain lagi sih di bertemu Vilan, mau ngadu? “Ada masalah apa?” Wanita itu menggelengkan kepalanya. Lalu menyibukkan diri dengan ponselnya. “Lagi ada urusan.” Myana menjawab dengan singkat. Marcel mengangguk, tidak ingin bertanya lagi agar terhindar dari keributan yang akan terjadi diantara mereka berdua lagi. “Sampai!” Marcel tersenyum pada gadis itu. Myana menganggukkan kepalanya, tanpa kata-kata gadis itu langsung membuka pintu mobil. “Eitss?” Wanita itu menoleh dengan sebal ke arah pria itu. Marcel menunjuk pipinya. Myana menggelengkan kepalanya. Gak tahu malu banget sih, sudah bikin gue kesal malah minta dikecup lagi. Nyebelin banget deh batin Myana. “Lo jangan minta apa-apa dulu. Asal lo tahu, ya kalau lo gak bisa mencari celah itu untuk mengacaukan Adera lagi. Kita putus.” Marcel menghembuskan napasnya kasar, pria itu memukul setir yang ada di depannya. Astaga apa, yang harus aku lakukan lagi? Apa yang harus aku lagi agar Myana gak putusin aku? Bagaimanapun Adera kan membuat hidup gue juga jadi lebih baik. Pria itu menghembuskan napasnya kasar. Myana membanting pintu mobil dengan keras, gadis itu berjalan dengan tergopoh-gopoh dan segera masuk ke dalam studio. Gadis itu langsung tersenyum pada orang-orang yang ada di studio itu. Selesai pemotretan, semuanya kembali ke aktivitas masing-masing. Alex segera menghampiri Adera yang sudah gantian hanya menggunakan baju kaos biasa. Tapi tetap saja gadis itu terlihat cantik walaupun masih terlihat lelah. “Ini minumannya, sudah aku siapkan.” Air yang ingin di teguk oleh Adera tergantung di udara. Gadis itu menoleh pada Alex yang sudah memberikan minuman ringan untuk dirinya. Adera ragu-ragu, gadis itu mengulurkan tangannya dengan lambat-lambat. “Cepatan dong, pegal aku nih.” Adera mencibir dalam hati. Yalelah bambam, aku juga tidak minta. Resiko sendiri kalau merasa pegal, rutuk gadis itu. “Ini saja lebih sehat.” Pandhu yang sejak tadi hanya memerhatikan dalam diam apa yang dilakukan oleh Adera dan teman cowoknya itu segera mendekati gadis itu. Pandhu langsung meletakkan air mineral itu di tangan Adera. Bahkan pria itu dengan polosnya pura-pura tidak melihat tatapan tajam dari Alex yang juga masih memegang botol yang tadi ditawarkan untuk Adera. “Eh? Aku gak haus.” Adera menggaruk kepalanya menatap minuman yang ada ditangannya. Posisi seperti sekarang ini sangat tidak nyaman untuk dirinya. Gadis itu menatap aneh kedua pria ini yang juga menatapnya saat ini. “Oke terima kasih ya, kalian berdua.” Adera segera merebut gelas minuman yang tadi di tangan Alex dan menjauh dari kedua pria itu. Gadis itu menghembuskan napasnya setelah menjauh dari keduanya. “Adera!” terisak Pandhu dan juga Alex secara bersamaan. Orang-orang yang ada di sekitar situ juga menoleh pada keduanya. Adera mengentakkan kakinya, baru saja gadis itu merasa terbebas dan terlepas dari kedua pria yang aneh itu. Adera berhenti dan memejamkan matanya, kenapa tiba-tiba dirinya di panggil lagi? Gadis itu menghela napasnya dan membalikkan badannya. “Apa lagi?” ketus Adeta. Gadis itu tidak lagi terlihat ramah, Adera menatap keduanya dengan jutek. Alex segera melangkah dengan cepat begitu pula dengan Pandhu. Orang itu mendekati Adera. “Aku antarin pulang ya?” Adera memejamkan matanya dan membuka matanya menatap wajah Alex yang cengengesan pada dirinya. “Gue belum mau pulang!” Setelah mengatakan semua itu pria itu lalu membalikkan badannya. Dan berjalan meninggalkan kedua pria itu. Alex menertawakan Pandhu yang melongo menatap kepergian Adera. Ternyata perjaka tua ini juga benar-benar jatuh hati pada Adera. Alex tersenyum miring, otaknya ligat memikirkan sesuatu. “Apaan lo lihatin gue seperti itu? Gue jijik tahu!” Pandhu menatap tajam Alex yang memandangnya sambil tersenyum-senyum tidak jelas. Hih, gini-gini dirinya juga masih normal. Pria itu menatap aneh pada Alex yang masih tersenyum-senyum tidak jelas. Adera benar-benar merasa lega setelah duduk di hadapan Elis. Gadis itu menghembuskan napasnya panjang. Gila juga mereka berdua. Elis mengerling nakal pada dirinya, Adera kembali menghembuskan napasnya panjang. “Lumayanlah non diperebutkan oleh dua cowok. Cocok untuk pengganti Wilson, hehehehe.” Elis mengedipkan matanya. Iya juga sih, lumayan. Tapi, bodoh amatlah. Gue juga risih kalau terus diikuti seperti tadi Adera bergumam dalam hatinya. “Nggak ada yang lumayan, itu malah bikin suasana semakin canggung. Apalagi kalau ada yang videoin, terus tersebar kemana-mana gitu.” Adera merapikan rambutnya, gadis itu milih duduk dan melanjutkan minumnya yang tadi tertunda karena kedua pria itu setelah selesai dengan beres. Adera segera bersiap untuk pulang. Lumayan udah sore juga nih, apalagi nanti malam gue juga harus bertemu dengan Marcel lagi. “Bro, gue duluan ya.” Adera melambaikan tangannya pada beberapa kru dan tim yang juga siap-siap. Gadis itu buru-buru menuju parkirkannya, agar tidak direcoki lagi oleh kedua pria gila tadi. Gadis itu merasa lega, tidak melihat Pandhu dan Alex. Adera berjalan sambil mengangkat telepon dari Marcel. Pria itu ingin bertemu dengan dirinya. Adera mengernyitkan alisnya. Sekarang belum jam berapa, kenapa pria ini sangat terburu-buru sekali. “Akhhhhh.” Adera merasakan ponselnya direbut, gadis itu membulatkan matanya melihat Alex yang kini sudah merebut ponselnya. Gadis itu menepuk-nepuk bahunya. Gadis itu merapatkan tangannya di dadanya, gadis itu lalu menatap pria itu tajam. “Lo itu apa-apaan! Balikin ponsel aku dong!” Adera berteriak. Dengan sedikit kesal. Alex tertawa kecil pria itu memasukkan ponselnya ke dalam kantung celananya. “Yuk sini, aku antarin.” Gadis itu menggelengkan kepalanya. Kayaknya ini akan bertambah lama lagi urusannya kalau meladeni pria ini. “Gue mau pulang sendiri.” Alex mengeluarkan ponselnya dari dalam jantungnya. Gadis itu segera berjinjit untuk mengambil ponselnya. Alex mempermainkannya. Adera menggenggam kedua tangannya. Sial, nih cowok. Tahu aja kalau gue gak bisa ambil. Bodoh amatlah, Adera segera meninggalkan Alex dan segera masuk ke dalam mobilnya. Adera kembali menghela napasnya, kenapa habis satu, satu lagi bikin masalah. Pandhu kini sudah duduk tenang di kursi penumpang. Gadis itu memejamkan matanya menghela napasnya panjang. “Keluar, gue mau jalan!” Pandhu diam, tidak menanggapi permintaan gadis itu. Ini maunya apa sih, Adera menghembuskan napasnya. “Pak Pandhu yang terhormat, tolong keluar dari mobil saya.” Adera menatap sinis pada pria itu. Apalagi yang diinginkan dari pria ini? “Aku masih ada beberapa hal yang ingin bicarakan denganmu Savannah. Jadi langsung menyetir saja.” Adera mengepalkan tangannya. Kesal mendengar perkataan yang keluar dari bibir pria itu. “Aku tidak pernah menerima penolakan Savannah, jadi jangan bengong seperti itu." Pandhu menatap Adera yang semaiki mengeratkan cengkeramannya disetir. Mungkin gadis itu memikirkan cara untuk mengusir dirinya. Adera menghela napasnya. Dasar sok banget deh jadi cowok. Gadis itu segera memalingkan wajahnya. Makin ditanggapi juga pasti seperti ini. “Sini gantian, biar aku yang nyetir." Tanpa persetujuan Adera pria itu sudah keluar dari mobil dan berputar menuju kursi kemudi. Adera segera bergeser, Adrra tiba-tiba teringat sesuatu dan melirik ke arah dimana tadi Alex berada. Alex sudah tidak ada di tempat tadi ponselnya juga sudah ada di dashboard. Bibirnya seketika menjadi gatal untuk bertanya pada Pandhu bagaimana caranya sampai bisa mengambil alih ponsel itu dari tangan Alex. Tapi diurungkannya lagi, tidak ingin memperpanjang percakapan diantara mereka. “Oh itu, tadi aku ambil dari Alex. Dia sepertinya benar-benar tertarik ya sama kamu.” Adera mendiamkan diri, tidak membalas ucapan pria itu. “Lagi pula kamu juga cantik. Sepadan untuk dia.” Adera hanya mendengarkan dan masih tidak menyahuti pria itu. “Jadi kamu sudah berapa lama mengenal Alex?” Pandhu kembali berbicara datar dan sibuk memandang jalanan. Ini cowok maunya sih apa? Apa yang diinginkan Pandhu dari pertanyaan seperti ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN