Pandhu masih menyetir dengan tenang sambil sesekali menoleh Adera yang dari tadi mendiamkan dirinya. Gadis itu menghela napasnya, Pandhu masih menunggu jawaban dari Adera. Pria itu merasa terganggu dengan kedatangan Alex tadi.
“Kok tidak di jawab?” Adera menoleh dengan malas pada pria itu. Dengan satu tarikan napas gadis itu akhirnya menjawab pertanyaan Pandhu.
“Lumayan lama sih, kenapa memang?” Pandhu menganggukkan kepalanya dan kembali diam. Adera menjadi kesal, nih orang kenapa sih. Giliran dia tanya harus dijawab ketika gue tanya kenapa dia juga malah diam. Nyebelin banget deh.
“Antarin aku ke kantor Marcel manajer aku. Kamu tahu kan tempatnya?” Pandhu hanya menganggukkan kepalanya. Ini mau balas dendam atau gimana sih. Adera mengerucutkan bibirnya. Pandhu melirik sekilas pada gadis itu, rasakan gimana gedeknya kalau pertanyaan lo tidak dijawab Savannah. Malah di balas bertanya juga atau didiamkan. Pria itu mengulum senyumnya.
“Nggak usah ngomongin orang lain dalam hati, dosa tahu.” Adera menatap Pandhu dengan sebaa. Tahu aja kalau lagi diomongin, pakai bawa-bawa dosa lagi.
“Serah gue dong,” Adera menjawab dengan judesnya. Tawa Pandhu meletus, pria itu menggelengkan kepalanya sambil tertawa.
“Iya kok memang semua terserah lu. Aku hanya mengingatkan saja, gimana gedeknya kalau bertanya terus dianggurin.” Pandhu menjawab dengan datar dan cukup membuat Adera semakin sebal. Gadis itu mengambil earphone yang ada dalam tasnya dan ditutupkan ke telinganya. Pandhu menghela napasnya, sepertinya ini kesalnya udha kehangatan ini.
“Jangan marah ya, sorry kalau aku nyebelin.” Pria itu mengelus kepalanya. Adera menggigit bibirnya. Kok aku gini banget sih. Kalau keseringan setiap hari gue bisa jatuh cinta benaran nih sama pria ini. Pandhu memberikan isyarat pada Adera untuk melepaskan earphone ya dan gadis itu menurut.
“Gimana pekerjaan kamu yang lain, terus bagaimana dengan tunangan kamu?” Adera menggelengkan kepalanya. Tunangan? Siapa lagi yang dimaksud tunangan? Mantan tunangan kali batin gadis itu.
“Baik-baik saja, tadi mau ngomong apa sama aku?” Adera menggigit bibirnya, ini kok gue cepat banget sih baik sama dia. Mana tadi gue pakai cara senyum segala lagi. Pliss Dera, itu cuma mengelus kepala lo kenapa dibawa sampai ke hati.
“Aku mau kenalin kamu sama oma aku.” Hening, Adera memproses kalimat yang keluar dari bibir pria itu. Tunggu .... Mereka baru kenal. Itupun mereka juga kenalannya di klub, terus mau dikenalkan pada oma?
“What? Maksud kamu apa? Gue nggak mau.” Dikira gue cewek apaan sih. Belum juga selesai masalah sama Wilson malah yang ada masalah gue bertambah nantinya. Gadis itu bersedekap dan menggelengkan kepalnya kuta-kuat.
“Kenapa memang? Kamu kan cuma kenal saja? Nggak usah pikir kejauhan deh, aku cuma mengajak makan malam biasa. Kayaknya kamu deh berpikir terlalu jauh.” Pandhu menjawab dengan santainya. Adera melongo, what apa tadi? Nggak usah pikir kejauhan? Aku cuma mengajak makan malam biasa. Kayaknya kamu yang berpikir terlalu jauh? Kalimat itu terngiang-ngiang kembali di kepalanya. Adera menghela napasnya. Gadis itu merasakan wajahnya memanas, sedikit marah dan juga tersinggung dalam waktu yang bersamaan.
“Nggak usah percaya diri deh, gue juga nggak mau kali. Gue udah ada janji makan malam. Ngapain coba gue berpikir lebih jauh? Karena gue berharap lebih jauh?” Adera terdengar menjawab dengan santai. Sialan juga nih, pria ini. Untung gue bisa kontrol diri batin Adera. Pandhu tertawa dan tersenyum sinis menatap Adera.
“Justru lebih bagus kalau kamu berpikir terlalu jauh Adera? Aku pikir kau harus mempertimbangkan ajakanku malam ini Adera.” Adera hanya menanggapi dengan diam. Bingung mau menjawab apa.
“Kamu masih single ‘kan sekarang?” Adera terperangah, ini pertanyaan apalagi? Gadis itu melirik sekilas pada Pandhu yang ternyata menatapnya. Gadis itu mengangguk dengan lambat-lambat. Pandhu kembali fokus menyetir. Adera mengerutkan alisnya, gak jelas banget sih nih cowok. Gadis itu meraih ponselnya untuk mengusir kebosanan yang melanda mereka kini.
Sampai di kantor Marcel, Adera segera keluar dari mobil. Gadis itu menarik napas panjang, ketika merasakan Pandhu mengikutinya. Pandhu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dicelananya, pria itu membenarkan letak kaca matanya, dan mengedarkan pandangannya di kantor ini. Idih, dasar tukang tebar pesona. Ngapain juga sih dia pakai cara ikut gue segala. Maunya nunggu saja dalam mobil. Lagian kan gue yang punya urusan dengan Marcel. Adera mencebikkan bibirnya, melihat para gadis yang tersenyum hangat pada Pandhu. Ini juga gak bisa apa lihat yang segar dikir, langsung senyum-senyum tidak jelas juga.
“Duk! Akhhhhh,” Adera merasakan jidatnya ke jedot kaca yang ada di depannya. Gadis itu, meringis, ini semua gara-gara para cewek itu. Gadis itu ingin sekali mengumpati kaca yang ditabraknya ini.
“Hahahahaha, makanya kalau jalan jangan gibah dalam hati.” Pandhu menertawakan Adera yang kesakitan mengelus jidatnya. Pria itu mendekati Adera. Lalu menuntun gadis itu berjalan bersamanya. Adera sebenarnya kesal, tapi untuk mengkover rasa malunya gadis itu akur pada pria itu.
“Kalau mau tertawa, tertawa saja, jangan ditahan.” Adera merutuk kesal, terlihat dengan jelas jika Pandhu diam-diam menahan tawanya. Adera kesal dengan ekspresi pria itu yang menahan tawa.
“Hahahahahahhaha. Kamu kalau cemburu bilang dong. Jangan kayak tadi, akhirnya jidat kamu kejedot kaca. Lagian kok bisa kamu gak bisa bedain kaca atau bukan.” Adera mengepalkan tangannya. Gadis itu segera melepaskan tangannya yang tadi ada dalam genggaman Pandhu. Makin nyebelin banget sih.
“Nggak usah percaya diri deh!” Gadis itu berjalan lebih cepat dan segera ke ruangan Marcel. Adera mengetuk pintu dengan sangat tidak sabaran. Marcel yang sudah menunggu kedatangan Adera juga tergesa-gesa membuka pintu. Pria itu menelan ludahnya setelah melihat pria yang datang bersama Adera saat ini. Astaga, kenapa harus bersama Pandhu lagi sih datangnya? Pria itu menggaruk kepalanya dan mempersilahkan Adera dan Pandhu untuk masuk ke dalam ruangannya.
“Nggak usah, biarkan saja dia di luar sendirian.” Ketus Adera segera masuk ke dalam ruangan Marcel. Pandhu menghela napasnya, menatap Adera yang sepertinya sangat kesal pada dirinya. Marcel menggaruk tengkuknya. Pandhu juga menatapnya tajam, tidak ada tatapan persahabatan. Kalau gak gue kasih masuk, apa yang akan pria ini lakukan? Tapi, kalau gue beri izin masuk gimana caranya gue ngomong sama Adera?
Pandhu tersenyum kecil dan membalikkan badannya, mungkin lebih baik dirinya menungggu Adera di dalam mobil. Mungkin mereka akan membicarakan hal yang sangat penting yang agak pribadi.
Marcel menghela napas panjang, pria itu merasa lega. Satu masalah selesai. Buru-buru dirinya masuk ke dalam ruangannya. Marcel tersenyum pada Adera yang kini celingak-celinguk mencari orang lain di belakangnya.
“Dih, dia benaran gak masuk? Kamu berhasil melarang dia?” Adera menatap tidak percaya dan tersenyum cerah.
“Dia sendiri tadi yang berbalik, mungkin nunggu di mobil lo. Lagian ngapain sih kamu harus ditandu dia datang kesini? Adera mengangkat bahunya. Gadis itu menggelengkan kepalanya, lalu menatap Marcel aneh. Ini pertama kalinya pria itu mempermasalahkan siapa yang mengantar dirinya.
“Kenapa memang?” melihat Adera menggelengkan kepalanya, pria itu langsung bernapas lega dan bahkan sampai tersenyum lebar pada Adera. Melihat Adera yang penasaran, Marcel menggaruk kepalanya memikirkan alasan yang tepat untuk gadis itu.
“Gak papa sih, cuma kepo aja cepat juga lo dapat pengganti Wilson.” Adera memutar bola matanya. Kirain juga tadi ada apa sampai wajahnya wajahnya terlihat tegang.
“Dera, aku berpikir untuk membatalkan kontrak dengan Pandhu. Entah kenapa gue rasa lo tidak cocok menjadi model dia. Walaupun gue juga tahu ini sangat bagus untuk kita berdua, apalagi pria itu menawarkan pembayaran yang lebih. Ehm tapi .... Kita.... Bisa memulia dari awal kan?"
Adera mengerutkan aslinya, dahinya berkerut. Otaknya meluruskan apa yang dikatakan oleh Marcel. Lah, kemarin dia yang begitu tergesa-gesa untuk kerja sama bareng Pandhu. Kenapa sekarang malah berubah pikiran? Adera merinding membayangkan reaksi yang akan diberikan oleh pria itu kalau dirinya berani membatalkan kontrak. Gila! kemarin di kontrak juga yang tertulis penaltinya sangat tinggi. Bagaimana caranya gue mau batalkan? Marcel menatap gadis itu dengan harap-harap cemas.
“Kalau lo keberatan, nanti gue bantu.” Adera menegakkan tubuhnya, gadis itu menatap Marcel dengan tajam. Ini benar-benar keterlaluan, selama ini juga terkenal karena keprofesionalannya. Apa yang akan terjadi?
“Lo kenapa sih? Ada masalah? Kemarin kan lo yang berapi-api? Yakin mau bantu gue, asal lo tahu penaltinya sebenarnya jauh lebih besar dari kontrak-kontrak sebelumnya.” Marcel menelan ludahnya. Pria itu terdiam, Adera mengangkat alisnya sebelah.
“Tapi ... Tapi ... Ini gak baik, apa yang akan dikatakan orang-orang setelah putus dari Wilson kamu malah dekat dengan Pandhu. Apa yang akan terjadi kalau kamu justru kembali menciptakan skandal?” Adera mengerutkan dahinya. Pria ini habis kerasukan jin atau gimana sih? Kenapa gak dari kemarin sebab dan akibat yang akan terjadi dengan kontrak ini dipikirkan? Adera menatap Marcel dengan tajam.
“Serah lo deh, gue gak bisa membatalkan ini semua. Bye!” Adera keluar dari ruangan itu dengan napas yang berkejaran, gadis itu menjadi marah pada Marcel. Kampret banget sih, ngapain memulai kerja sama kalau hanya untuk dibatalkan. Gila gue, kalau harus membayar penalti lagi. Adera langsung berlari ketika mendengarkan Marcel menyusul dan memanggil namanya.
Pandhu yang menunggu gadis itu di dalam mobil mengerutkan alisnya, melihat Adera yang segera masuk ke dalam mobil dengan napas yang sangat ngos-ngosan. Apa yang terjadi? Pria itu terdiam, dan langsung menjalankan mobilnya ketika Adera memintanya untuk langsung jalan. Bertanya sepetinya bukan pilihan tepat disaat seperti ini.
Sepanjang jalan gadis itu komat kamit dan langsung menyambar air mineral milik Pandhu untuk minum. Pasti kehausan nih cewek, entah apa yang mereka bicarakan tari.
“Jangan marah-marah sendiri. Nanti keriputnya muncul. “ Adera tidak mengindahkan pria itu. Beberapa saat berlalu barulah gadis itu menanggapi.
“Idih, bodoh amatlah pokoknya. Ini semua juga gara-gara kamu tahu. Ngapain sih kamu sampai memberikan penalti yang tinggi banget, hiks.” Lah? Pandhu mengerutkan alisnya. Kenapa aku yang selalu disalahkan oleh gadis ini? Apalagi sekarang Adera sudah mulai menangis.
“Kamu kenapa sih? Aku bukan siapa-siapa kamu, kenapa malah aku yang selalu kamu salahkan?” Adera yang sudah sesenggukan tidak mendengarkan pertanyaan Pandhu. Gadis itu sibuk mengelap air matanya. Sedih sih, ketika baru dapat kerja lagi dan diminta untuk membatalkan kontrak, itu gimana caranya?
“Iya kenapa penalti untuk yang membatalkan kontrak itu tinggi banget? Gue sih mampu bayar tapi setelah itu gue gimana hidupnya? Hiks hiks hiks.” Pandhu tersenyum menyeringai, pria itu melirik Adera yang masih menangis. Ternyata gadis ini cengeng juga.