Pandhu memerhatikan saja Adera yang masih, gadis itu sekarang sudah diam. Tidak seperti tadi yang banyak bicaranya, gadis itu kini sudah diam. Mungki memikirkan nasibnya atau pekerjaannya. Pandhu tidak tahu pasti.
“Loh, gue lo mau bawa kemana?” Adera sedikit shock begitu menyadari ini bukan arah ke rumahnya. Gadis itu menatap was-was pada Pandhu yang masih menyetir dengan tenangnya. Ini gue mau dibawa kemana? Ini semua gara-gara kontrak sialan itu akhirnya gue gak konsen. Awas saja kalau pria ini cari kesempatan. Lagian kenapa gue juga bisa gak sadar sih kalau pria ini mengambil arah lain?
“Ke rumah aku, mau makan malam. Apalagi coba? Salah sendiri dari tadi hanya menangis.” Pandhu menjawab dengan santainya. Pria itu tidak peduli pada Adera yang kini membulatkan matanya dan menatapnya sedikit horor.
Kan mulai lagi nyebelinnya, batin Adera.
“Yakin? Nggak , aku nggak mau. Bodoh amat.” Adera menggelengkan kepalanya, gadis itu menatap Pandhu yang kini tersenyum misterius. Pria itu kini sudah memasuki gerbang sebuah rumah yang cuku mewah di mata Adera. Ini lebih mewah dari rumah Wilson dan juga peninggalan papa dan mama dulu.
“Eh? Kamu serius. Aku benaran gak mau ya!” Adera mulai panik, gadis itu menggigit kukunya. Melirik lagi pada Pandhu yang hanya diam, dan fokus mendengarkan arahan satpam memarkirkan mobilnya. Kan gue diabaikan lagi, percuma juga gue protes ini mah.
“Pak, aku serius. Pak tolonglah, aku ada makan malam, tolonglah.” Adera kali ini bersuara dengan memelas agar pria itu percaya pada dirinya paling tidak makan malam bersama Pandhu itu dibatalkan.
Pandhu menghela napasnya, melepaskan sealtbelt miliknya. Lalu menoleh pada Adera, pria itu menggeser kan tubuhnya dekat dengan gadis itu. Aduh, pliss jantung jangan buat ulah. Apa yang harus gue lakukan, lagian ngapain juga sih, dia menatap gue intens seperti ini? Bibirnya juga seksi banget ternyata, terus wajahnya juga jauh lebih tampan kalau dari jarak dekat. Adera menelan ludahnya, apalagi jangkung pria itu juga bergerak-gerak dengan cepat, Pandhu juga menatapnya dengan liar. Adera merasakan tubuhnya lunglai, napas pria itu sudah mengenai wajahnya, jarak diantara mereka sangat tipis.
Cup!
Gadis itu sontak saja menutup matanya. Antara shock, pasrah dan terkejut dengan apa yang dilakukan Pandhu. Awalnya gadis itu hanya diam, tapi seiring berjalannya waktu Adera akhirnya membuka bibirnya membiarkan lidahnya berbelit dengan lidah Pandhu dan menimbulkan bunyi decakan yang kini menggema dalam mobil itu. Pandhu yang awalnya bergerak dengan lembut, kini memperdalam ciumannya dengan sedikit lebih menuntut. Adera sampai mengerang, merasakan pergerakan tangan pria itu. Pandhu tidak sepolos yang dipikirkannya.
“Hhhhhhhhhh,” Adera menghirup oksigen dengan rakus begitu pula dengan Pandhu. Gadis itu diam-diam bersyukur bisa mendorong pria itu sehingga ciumannya terlepas, gila gue hampir kehabisan napas. Tapi ciuman Pandhu enak juga. Eh? Dasar Adera bodoh, bodoh banget malah batin gadis itu. Pandhu kini menjauhkan tangannya dari gadis itu, dan kembali mendekatkan wajahnya pada pada gadis itu. Dengan tangannya Pandhu mengelus bibir gadis itu, diambilnya tisu dan dibersihkannya sisa Saliva yang ada dibibir gadis itu.
“Ketahui satu hal Adera, kamu itu godaan terindah dalam hidupku. Jadi tanpa berusaha pun aku sudah sangat b*******h pada dirimu. Jangan terlalu banyak bicara padaku Adera, karena itu membuat keinginanku untuk membungkam bibir cantikmu itu berkali-kali lipat lebih besar.” Adera, melongo. Gadis itu segera menutup bibirnya, Pandhu tersenyum. Pria itu merapikan pakaian gadis itu dan juga mengecup kening Adera penuh sayang. Aduh, kok gue malah senang sih. Harusnya gue tampar nih cowok, kayaknya gue mulai gila bisik Adera dalam hatinya.
“Yuk, keluar. Hari ini oma pulang tahun, dia ingin kenal sama kamu. Ayo kita keluar dari mobil ini?” Adera linglung, hari ini ulang tahun? OMG? Ader melirik pakaian yang melekat di tubuhnya. Pakaian yang sangat tidak pantas untuk makan malam, lagian mana ada orang yang makan malam hanya pakai baju kaos doang?
“Aku tidak menerima alasan apapun Savannah, jangan banyak pikir!” Pandhu bersuara dengan tegas, yang membuat Adera mengerucutkan bibirnya. Tadi lemah lembut, gak ada tegas-tegasnya. Dasar cowok, kalau udah dapat nikmatnya kembali lagi ke sifat aslinya rutuk Adera dalam hatinya.
“Kamu bisa pakai kamar tamu untuk gantian, aku sudah menyiapkan gaun untuk kamu.” Adra mengeritkan alisnya. OMG? Jadi semua sudah disiapkan ? Kalau gitu gimana lagi cara nolaknya. Adera tersenyum manis, Pandhu mengerutkan alisnya. Tumben banget nih mau senyum ikhlas sepeti ini sama aku, pasti ada apa-apa lagi nih.
“Aku ada janji juga sama orang lain,” Pandhu tertawa mendengar Adera yang berkata sepeti itu. Pria itu segera keluar dari mobil dan memutari mobil itu.
“Aku sudah cek, dan ini benar-benar tidak ada. Jadi aku mengabulkan apa yang kamu katakan, ada janji makan malam.” Adera seperti tersiram air dingin, bayangkan saja deh lo ketahuan berbohong. Itu gimana rasanya? Gadis itu tersenyum paksa. Dasar sialan, kalau kayak gini bisa jadi dia memata-matai semua yang aku lakukan, dasar cowok sialan dan Elis yang polos. Ini pasti Elis lagi yang dihubungi oleh pria ini. Dengan kesal Adera turun dari mobil pria itu dan menolak untuk berbicara dengan pria itu. Gadis itu menelan ludah ketika melewati orang-orang yang menatapnya aneh.
Cepat-cepat Adera berbalik pada Pandhu yang ada beberapa meter dibelakangnya. Pria itu menahan senyum, gak jadi ngambek nih artinya. Pandhu segera merangkul gadis itu dan melangkah bersamanya, bahkan sesekali di kecupnya puncak kepala gadis itu. Pandhu menatap tajam para pekerja yang memerhatikan mereka. Adera diam-diam hanya merutuki dirinya sendiri dalam hati, gue ini kenapa sih. Kan gue masih kesal sama dia batin Adera.
Adera benar-benar diantarkan ke kamar tamu sepeti yang dikatakan oleh pria itu. Sekarang gadis itu sudah selesai mandi, Adera melihat pakaian yang sudah disiapkan oleh Pandhu. Bahkan pria itu juga menyiapkan dengan dalamannya, Adera kembali mengumpati pria itu. Dasar pria m***m, bahkan dia tahu ukuran dalam gue, tunggu aja pokoknya gue harus benar-benar kasih pelajaran pada pria itu. Gadis itu benar-benar sangat marah pada Pandhu, pokonya dasar pria m***m. Wilson saja tidak selancang ini. Tapi lo juga senangkan? Gadis itu kembali mencibirkan bibirnya dengan suara yang muncul dari kepalanya.
Pandhu yang sudah berpakaian lengkap, segera menjeput Adera untuk ke rumah oma bersama dengan dirinya. Pria itu segera mengetuk pintu kamar gadis itu, Adera yang sudah selesai di dalam mengerucutkan bibirnya. Pasti si tua m***m itu lagi, gadis itu dengan semangat mengepalkan kedua tangannya. Adera sudah siap untuk mencaci maki pria itu, dengan sekali hembusan napas di bukanya pintu.
Gadis itu memandang Pandhu dari atas ke bawah, seperti lupa pada tujuan awalnya gadis itu malah menelan ludahnya. Pandhu terlihat lebih segar dengan pakaian formal sepeti biasa, tapi bedanya kali ini membiarkan beberapa kancing bajunya terbuka. Terlihat lebih sexy dan lebih fresh, kok dia makin tampan gini. Gimana caranya agar aku marah coba? Adera tersenyum linglung pada pria itu.
Pandhu mengamati gadis itu dari atas sampai bawah, gadis itu terlihat lebih menggiurkan, Apalagi setengah gundukan dadanya terlihat dibalik gaunnya. Sangat menantang dimatanya, sama halnya seperti Adera pria itu juga menjadi terpesona pada gadis ini. Gila! Gue benar-benar berhasrat untuk memiliki gadis ini, apakah ini cuma karena nafsu atau karena dia mirip Adelia? Pandhu menggelengkan kepalanya tidak tahu jawabannya.
“Dilepaskan tangannya, biar lebih rileks.” Pandhu meraih kedua tangan gadis itu yang masih terkepal tapi kepalannya mengendur. Pasti ini marah algi sama gue, terima kasih tuhan pesona gue mampu juga membuat gadis ini lupa sama kemarahannya. Adera hanya melihat saja apa yang dilakukan Pandhu gadis itu, tidak lagi memberikan komentar apapun. Bahkan gadis itu kini merasakan sensasi yang berbeda ketika Pandhu melepaskan kepalan tangannya dan menautkan jari-jari mereka. Perasaan hangat menyelusup ke dalam hatinya. Pandhu membawa kedua tangan gadis itu ke bibirnya dan tersenyum menatap mata gadis itu. Pandhu mencium dengan lembut kedua tangan gadis itu.
“Terima kasih untuk malam ini, Savannah.” Lirih Pandhu, setelah itu Pandhu menuntunnya berjalan meninggalkan kamar tamu tadi. Gadis itu hanya diam sepanjang jalan, gadis itu tidak tahu mau mengatakan apa untuk memulai pembicaraan diantara mereka berdua. Pandhu pun memilih diam, menikmati kebersamaan mereka saat ini.
Sampai di rumah oma, Adera langsung gugup. Gadis itu melirik Pandhu, yang ada di sampingannya. Pria itu masih tidak mengatakan apapun pada dirinya. Adera memiliki kekhawatiran bagaimana tanggapan oma Pandhu pada dirinya? Bukannya tidak tahu, dengan tersebarnya beberapa fotonya yang lalu dirinya semakin dikenal oleh banyak orang.
“Pak, eh apa ini tidak akan jadi masalah?” Adera menatap Pandhu yang kini menatap dirinya. Pria itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Tenang saja Savannah, lagi pula ada aku yang akan membelamu kalau ada apa-apa.” Lirih pria itu, dan mengemaskan genggamannya di tangan gadis itu. Adera tersenyum ketika mata wanita yang sudah berusia lanjut tersenyum pada dirinya. Begitu pula dengan anak kecil yang ada di meja makan itu.
“Selamat ulang tahun oma,” Pandhu sudah memeluk wanita yang disapanya oma itu. Wanita tua itu tertawa lebar dan langsung membisikkan sesuatu yang membuat Pandhu ikut tertawa. Adera tersenyum merasakan kehangatan di keluarga ini. Sepertinya Pandhu sangat sayang pada wanita ini. Adera duduk hanya memerhatikan keakraban keluarga ini, gadis itu akhirnya memilih untuk berbincang-bincang dengan Axel. Apa ini anak Pandhu ya? Adera merasakan sedikit keperihan dalam hatinya. Anak itu sangat manis dan juga mirip dengan Pandhu.
“Arianna, kemana oma? Kok tidak ikut makan malam?” Adera hanya menyimak, siapa lagi wanita yang bernama Arianna itu? Pandhu sekarang duduk disampingnya dan mulai mengambilkan makan untuk Axel. Adera hanya tersenyum kaku ketika oma menanyakan sesuatu hal sensitif pada dirinya.