Lanjutan

1506 Kata
Adera tersenyum kaku, gadis itu mengangkat kepalanya menatap wanita yang kini menunggu jawaban dari dirinya. Pertanyaan yang agak sensitif untuk Adera, gadis itu menarik napas. “Kami baru kenal,” Pandhu menganggukkan kepalanya. Pria itu membiarkan saja Adera menjawab pertanyaan dari oma. Lagi pula mana ada sih baru pertemuan pertama sudah tanya kapan akan menikah. Dia saja bisa ada di tempat ini karena gue yang berkeras tadi bisik Pandhu. Oma hanya tersenyum mendengar jawaban gadis itu, dan kembali melanjutkan makannya. “Orang tua kamu gimana kabarnya?” Adera menghentikan kunyahannya dan menggaruk kepalanya. Gadis itu kembali tersenyum, menatap oma yang masih menatapnya penasaran. “Gimana ya oma, aku yatim piatu sekarang.” Jawab gadis itu lirih, oma langsung terdiam dan meminta maaf mungkin wanita tua itu juga merasa bersalah dengan pertanyaannya sendiri. Pandhu tersenyum lembut pada kedua wanita yang asyik dalam perbincangan ini. “Terus pekerjaan kamu sekarang gimana?” Adera tersenyum, gadis itu menyudahi makannya dan menatap oma dengan pandangan tertarik. “Baik oma, walaupun gak sepeti biasnya. Tapi bagus sih, aku malah punya banyak waktu untuk olahraga untuk istirahat juga. Karena kan selama ini aku juga padat banget jadwalnya.” Oma tersenyum pada gadis itu. Seperti Adera dia juga menyudahi makannya. “Oma tertarik untuk berbincang lebih jauh lagi bareng kamu.” Gadis itu menganggukkan kepalanya, Pandhu hanya memerhatikan saja dan sesekali meladeni Axel yang kini makan bersama dengan dirinya. Pandhu tersenyum melihat oma yang kini sudah akrab bersama dengan Adera. Adera mengikuti Oma ke kamarmya, katanya ada yang ingin dibicarakan dengan dirinya. Gadis itu menanti penuh debaran, mengikuti wanita itu dari belakang. Kira-kira apa yang di gi dibicarakan dengan gue ya? Gadis itu bertanya-tanya sendiri dalam hatinya. Sampai di kamar wanita itu, Adera di persilahkan duduk. Oma melepaskan gaunnya terlebih dahulu. Kemudian menemuinya kembali setelah menggunakan piama. “Kamu rileks saja dong, jangan tegang.” Adera tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya. Oma kini duduk di sampingnya. Bahkan memberikan minuman lagi juga untuk dirinya. “Kamu sudah lama mengenal Pandhu?” Adera yang mendengarkan pertanyaan itu menggelengkan kepalanya. “Belum lama sih oma, baru beberapa bulan yang lalu.” Oma Darti tertawa, gadis ini terlihat lucu ketika mengerutkan alisnya untuk berpikir. Ini gue salah ngomong atau gimana sih, kok oma malah tertawa seperti ini? “Kamu itu lucu juga, pantas Pandhu sampai tertarik sama kamu.” Gadis itu mengerutkan alisnya. Jadi gue lucu? “Ngomong- ngomong kamu mau gak aku beri tahu tentang Pandhu?” Gadis itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya pada wanita tua itu. “Pandhu itu sangat keras kepala, dan juga kadang suka seenaknya sendiri. Tapi dia itu sangat sayang pada keluarganya. Pandhu itu punya ibu tiri dan atauanya juga masih hidup, tapi hubungan mereka tidak sebaik itu. Jadi oma harap kamu bisa menerima semua hal yang kurang dari Pandhu karena kamu pasti akan mendapatkan hal-hal yang lebih indah lagi. Dia itu sangat sayang pada keluarganya, kamu akan sangat beruntung nak.” Adera menggigit bibirnya, gadis itu tersenyum kecut mungkin dia yang akan tidak beruntung. Setelah melihat rumah dan semua yang dimiliki pria ini aku pikir aku bukan orang yang tepat untuk dia. Lagi pula, pasti banyak wanita yang mengincar dia, aku pasti akan lebih capek. Capek hati mengatasi semua orang-orang itu batin Adera. “Oma berbicara terlalu jauh,lagi pula kami juga baru kenal. Dan mungkin oma sudah pernah dengar atau belum, tapi aku juga baru saja batal menikah. Dan masih berpikir panjang untuk menikah.”Adera tersenyum miris menatap Oma. Wanita tua itu mengelus kepalanya dan tersenyum pada dirinya. “Itu buka alasan, kamu pasti marah dan mungkin trauma. Tapi kamu tidak bisa seperti itu, karena yang datang tidak selalu sama. Setiap orang berbeda-beda dalam menyikapi banyak hal yang terjadi di hidup ini. Kamu hanya perlu menemukan orang yang sesuai dengan dirimu dalam menyikapi banyak hal, atau orang yang mampu membuatmu bersikap positif menyikapi banyak hal.” Adera menganggukkan kepanya, gadis itu tersenyum kembali menatapnya serius. “Satu-satunya harapan oma, adalah bagaimana agar Pandhu nanti sudah memiliki pasangan ketika Oma meninggalkan dunia ini. Oma kadang kasihan sama dia, walaupun dia kuat tapi tetap saja. Dia butuh wanita yang akan memberi warna hari-harinya. Lagi pula, Oma sudah mengenal kamu kok. Oma punya mata-mata hanya saja Oma benar-benar tidak tahu kalau kamu yatim piatu.” Adera melongo, nggak cucu nggak nenek semua punya mata-mata. Nyebelin banget deh, aku saja yang tidak tahu apa-apa tentang mereka. “Memang pak Pandhu kenapa menjadi jomblo terus oma?” Adera tertawa geli mendengar pertanyaannya sendiri. Iyalah jomblo, orang dia kan udah tua bisik hatinya. “Dia pernah terluka dan menutup diri selama bertahun-tahun. Baru sekarang dia dekat dengan wanita lagi, dan itu adalah kamu.” Wanita itu tersenyum sumringah, Adera menggaruk kepalanya. Tapi bukannya, Pandhu sering bertemu dengan seseorang? Gadis itu menghela napasnya, lalu menatap oma. “Bukannya pak Pandhu sering menemui pacarnya setiap malam? Aku sering loh ketemu dengan dia malam-malam katanya habis menemui orang yang spesial di hidupnya.” Kening wanita tua itu berkerut. Lalu menghela napasnya. Adera memerhatikan ekspresi wanita itu. Kenapa oma terlihat jadi sedih, apa kau salah ngomong ya? “Aku salah ngomong ya oma?” Wanita itu menggelengkan kepalanya. Kalau memegang kedua bahu Adera. “Nanti kamu akan tahu sendiri alasannya. Tapi sekarang kenapa kamu tidak membuat Pandhu jatuh cinta sama kamu? Pokoknya kamu jangan mau di sentuh-sentuh sama dia, apalagi dicium-cium. Rugi di kamu nantinya, apalagi dia itu juga cepat bosan.” Pucat wajah Adera, tapi Darti pura-pura tidak tahu saja. Kalau tidak bisa mendesak Pandhu untuk menikah maka dirinya kan menggunakan Adera, apalagi Pandhu terlihat memperlakukan berbeda gadis itu. “Mamang dia playboy oma?” Darti terlihat berpikir dan menggelengkan kepalanya lambat-lambat. Bisa gagal dapat mantu gue kalau gue mengiyakan. Lagian gadis ini ternyata polos juga, Darti tersenyum dalam hati. “Bukan seperti itu sayang, dia itu terbiasa jomblo bertahun-tahun. Jadi pasti tidak akan terlalu peduli kalau nggak benar-benar jatuh cinta sama kamu.” Adera mengerutkan alisnya, tapi untuk apa aku melakukan semua itu? Lagi pula, gue juga belum mau menjalin hubungan serius dalam jangka waktu yang dekat ini. “Kok aneh ya oma, terus anak yang tadi makan bersama kita itu anak siap oma?” Darti tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Itu cicit oma anak dari adik Pandhu. Pokoknya kalau kamu sudah menjalin hubungan yang serius dengan Pandhu, kamu harus pertahankan Pandhu. Dia itu banyak lo yang tertarik sama dia, hanya saja dianya nggak peka dan juga mungkin malas. Tapi sekarang kayaknya dia sudah mulai membuka diri lagi, berkat kamu.” Gadis itu menggaruk kepalanya, oma Pandhu ternyata sama juga ribetnya dengan pria itu. Lagian mana ada Pandhu berubah lebih membuka diri yang ada malah membuat dirinya kesusahan dengan berbagai hal yang dilakukan pria itu. Pandhu yang sudah kembali ke kamarnya segera mengambil ponselnya. Pria itu mengetikkan sesuatu pada asistennya. Ada hal yang harus diurusnya lagi, Pandhu sedikit penasaran dengan apa ya g terjadi pada Adera. Sore tadi, gadis itu sampai menangis. Pria itu segera menyalakan lampu kamarnya dan berbaring di atas ranjangnya. Pria itu meletakkan ponselnya di telinganya, menunggu sahutan dari seberang sana. “Tolong, cari tahu apa yang membuat Adera Savannah menangis sore tadi.” Robin yang berada di seberang sana segera mengiyakan tanpa bertanya lebih jauh lagi. Ini sudah menjadi pekerjaannya memberikan semua informasi yang dibutuhkan oleh bosnya. Pandhu Bagaskoro. Selesai dengan semua itu, Pandhu segera keluar dari kamarnya dan bergerak turun ke bawah untuk kbali bertemu dengan omanya. Pasti oma sangat senang sekali, setelah bertemu dengan gadis itu. Pandhu mengetuk pintu kamar omanya, tidak ada suara yang terdengar. Tak lama kemudian pria itu merasakan pintu terbuka, Adera muncul di hadapannya. Gadis itu masih cantik seperti tadi, Pandhu segera mengalihkan pandangannya dan menoleh pada oma yang mengedipkan mata pada dirinya. Pandhu mengulum senyum, entah apa yang dipikirkan oleh oma. “Kamu yah, kalau ada Adera oma ditengok. Kalau tidak ada Adera oma tidak pernah ditengokin sebelum tidur.” Darti sengaja membesarkan suaranya dan juga memukul sayang lengan Pandhu. Adera merasakan wajahnya memanas, belum tentu juga itu benaran. Bisa saja oma mengatakan seperti itu di depan aku dengan sengaja hanya untuk menggoda Pandhu batin Adera. “Oma jangan drama deh, aku kan setiap hari tengok oma. Pamitan juga sama oma,” Pandhu menjawab dengan malas, kemudian duduk di hadapan oma. Pria itu dengan santainya mengangkat kedua kaki oma dan memijitnya. Adera hanya memerhatikan saja pria itu, ternyata dia akrab banget sama omanya. Beda banget dengan Wilson, Adera kembali menggigit bibirnya kenapa aku harus membandingkan mereka lagi sih. “Jadi kapan jadiannya? Kata Adera kalian hanya teman?” Oma bertanya langsung pada intinya pada Pandhu. Pandhu menghentikan gerakan tangannya dan menatap wajah wanita itu. Dipandangnya juga wajah Adera yang terlihat termengung, entah apa yang dipikirkan oleh gadis itu. Darti mengerutkan alisnya dan menyembunyikan senyum melihat Pandhu yang masih memerhatikan Adera dengan intens. "Sayang, kamu jangan benging dong." Adera tersadar dari lamunannya mendengar suara Darti yang agak besar volumenya itu. Pandhu tersenyum melihat gadis itu yang kaget. "Kamu mau nginap atau diantar pulang?" Gadis itu berpikir sejenak kalau tersenyum. "Pulang oma, aku ada jadwal besok pagi." Darti menganggukkan kepalanya sedangkan Pandhu menyipitkan matanya, menatap gadis itu. Mampus, kayaknya Pandhu tahu kalau gue besok tidak ada jadwal sedikitpun. Adera tersenyum kaku dan menundukkan kepalanya. Pandhu menyeringai licik, Adera ternyata bisa juga bermain-main dengan dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN