Adera duduk dalam diam di samping pria itu. Malam ini dirinya melihat banyak hal lain yang belum diketahuinya tentang pria itu. Adera kembali termenung, tapi gue gak bisa juga sih menilai orang secepat itu bisik hatinya. Lagi pula orang kan bisa berubah nantinya. Pandhu mengerutkan alisnya sejak tadi wanita itu lebih banyak diam. Bahkan ketika ditanya oleh oma gadis itu hanya tersenyum kecil, mengangguk dan menggeleng. Pandhu tidak mengerti apa yang mengganggu dalam pikiran wanita ini.
“Kamu lagi sariawan?” Hening. Adera tidak langsung menjawab. Gadis itu mengerutkan alisnya, dia tadi ngomong sama aku nggak ya? Diliriknya Pandhu yang masih sesekali meliriknya seperti meminta jawaban dari dirinya.
“Bertanya pada aku aku?” Pandhu menganggukkan kepalanya dengan tenang. Adera tersenyum canggung, tumben nggak ngeselin malah diam dia.
“Tadi, tadi apa pertanyaannya?” gadis itu menggaruk kepalanya yang pasti tidak gatal. Pandhu mencebikkan bibirnya, tapi tidak mengatakan apapun lagi.
“Kamu, sariawan?” Adera mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepalanya dengan polos. Gadis itu menatap Pandhu yang kini kembali fokus menatap jalan raya.
“Kenapa berpikir sepeti itu?” Pandhu mengangkat bahunya. Pria itu menyalakan radio dan kembali fokus pada jalanan.
“Tumben saja kamu diam, biasa juga bawelnya minta ampun.” Adera menggigit bibirnya, kirain karena apa tadi. Gadis itu memilih diam, tidak menjawab pertanyaan dari pria itu. Selanjutnya tidak percakapan lagi, keduanya terdiam, menatap jalan yang mereka lewati.
Marcel yang kini berada di apartemennya melemparkan semua barang-barangnya, Myana kembali membuatnya marah. Beberapa menit yang tadi wanita itu memutuskan hubungan mereka tanpa alasan yang jelas. Hanya gara-gara Adera? Marcel menggelengkan kepalanya, apa yang harus gue lakukan? Pokoknya dirinya harus bertemu dengan Myana sekarang.
Myana yang baru saja pulang dari ulang tahun temannya terbelalak melihat kedatangan Marcel, apa lagi yang akan dilakukan pria gila ini. Perasaan satu jam lalu aku sudah bilang mau putus. Gadis itu menghembuskan napasnya dan mengangkat wajahnya berjalan melewati pria itu. Marcel tentu saja tidak membiarkannya, pria itu menahan langkah gadis itu.
“Jangan main-main Myana! Aku tidak terima kau putuskan, aku akan menceritakan semuanya pada Adera.” Myana menatap pria itu tajam. Berani juga dia mengancamku? Baiklah, mari kita lihat. Gadis itu tertawa meremehkan.
“Kau pikir, aku peduli? Aku tidak peduli, Adera tahu ataupun tidak tahu itu tidak berpengaruh untuk diriku, karena aku benar-benar tidak peduli.” Sinis gadis itu sadis. Lagi pula dia juga menjadikan Marcel hanya untuk merebut apa yang ingin dicapainya tapi lebih mudah didapatkan oleh Adera.
“Aku juga tidak peduli, aku bisa membunuh kamu jika masih memutuskan hubungan ini lagi.” Marcel mengucapkan semuanya dengan lebih sarkastis. Myana merasakan perih di pergelangan, tangannya. Pria ini benar-benar keterlaluan sekaligus benar-benar nekat. Sepertinya aku salah mengambil langkah, kali ini. Myana hanya mampu berteriak untuk melampiaskan kekesalannya pada pria yang berdiri di hadapannya ini. Adera selalu saja membawa masalah untuk hidupnya.
Wilson yang ada di kamarnya, memandang foto Adera yang ada di ponselnya. Pria itu belum mengganti wallpaper miliknya, masih menggunakan foto gadis itu. Wilson meremas rambutnya, kenapa semua jadi berantakan seperti ini pada akhirnya? Pria itu meraih botol minuman keras untuk menenangkan pikirannya. Mama dengan tuntunan papa pun dengan tuntunannya, hidup aku capek banget pada akhirnya. Karena aku yang selalu berkorban.
Adera menelan ludah ketika sampai di depan rumahnya. Gadis itu melirik Pandhu yang masih terdiam. Pria itu seperti sedang memikirkan sesuatu entah apa yang sedang dipikirkannya. Gadis itu membuka bibirnya.
“Terima kasih, sampai jumpa." Adera segera turun dari mobil tanpa menunggu jawaban dari Pandhu. Pandhu yang di tinggalkan Adera segera turun menyusul gadis itu.
“Tunggu Adera!” Adra yang berada beberapa langkah di depannya itu langsung berhenti. Kemudian membalikkan badan menatapnya, Pandhu berjalan lebih cepat mendekati gadis itu.
“Ada yang ketinggalan, pak?” Pandhu menggeleng, pria itu berdiri di hadapan Adera. Pandhu buru-buru mengeluarkan sesuatu membuka sesuatu? Adera mengerling tidak mengerti. Ngapain sih bawa kotak-kotak segala.
“Jadi kekasihku Savannah,” Tanpa basa basi, Pandhu mengucapkan semuanya dengan penuh percaya diri. Adera terkaku, gadis itu tidak percaya dengan apa yang kini terjadi pada dirinya dan juga Pandhu. Gadis itu lalu menampar wajahnya. Demi tuhan, ini bukan mimpi, lalu ... apa yang harus gue katakan? Gak mungkin juga kan dia mau ngajakin gue pacaran. Lagi pula mana mungkin sih dia serius.
“Kamu tidak panas, bapak tidak kemasukan atau pun kerasukan 'kan?” Adera memindahkan tangannya yang tadi menempel di wajah pria itu. Pandhu menggelengkan kepalanya dengan kuat.
“Aku serius Savannah, ini terlalu cepat. Tapi aku tidak bisa menunggu lagi.” Adera mencebikkan bibirnya. Bukannya tidak tahu apa yah menjadi landasan pria ini mengajaknya untuk pacaran. Pasti karena gairah yang dibicarakannya kemarin, gue juga ogah.
“Gue gak mau, lagian itu cuma karena dorongan napsu lo dong,” Pandhu menghela napasnya, pria itu menatap Adera tajam.
“Aku tidak mengingkari hal itu tapi mana ada yang tidak menggunakan nafsu Adera? Yang berbeda adalah acara menanggapinya, kalau kamu khawatir kita bisa langsung menikah Savannah.” Gadis itu tersenyum menanggapi ucapan Pandhu.
“Aku tidak tertarik menjalin hubungan apapun dalam waktu ini Pandhu. Kau tahu sendiri aku, ... aku masih belum benar-benar sembuh. Aku harap kamu juga paham itu,” lirih Adera. Gadis itu menghela napasnya, tidak nyaman karena luka dengan Wilson kembali teringat lagi dalam hatinya. Pandhu mengejek dirinya sendiri, dan menjauhkan badannya. Pria itu meremukkan kotak yang ada di tangannya itu dengan sekali remasan dan membuangnya ke sembarang arah.
“Terima kasih, A. D. E. R. A.” Pandhu mengucapkan nama gadis itu dengan penuh penekanan, napas pria itu juga naik turun karena kemarahan yang kini menguasainya. Pria itu berbalik, meninggalkan Adera yang menunduk, kenapa harus malam ini pria ini mengungkapkan perasaannya? Adera menunggu dengan tenang sampai merasakan mobil pria itu benar-benar pergi.
Adera berbalik setelah mobil milik Pandhu benar-benar menghilang dari rumahnya. Gadis itu mencari apa yang dibuang oleh pria itu, Adera menghembuskan napasnya. Gadis itu mencari dengan sungguh-sungguh, sampai menemukan sesuatu yang benar-benar di carinya. Gadis itu menghela napasnya setelah menemukan kotak yang tadi di buang pria itu, Adera membuka kotak itu. Sebuah kalung dengan ukiran namanya, Savannah. Adera mengambil kalung itu, tidak akan ada yang berubah tapi ini untuk menghilangkan rasa bersalah yang bertandang dalam hatinya.
Pandhu menyetir dengan sangat cepat, pria itu benar-benar kacau dengan penolakan yang diberikan oleh Adera tadi. Lagi pula siapa juga yang mau terburu-buru menerima lamaran seseorang ‘kan? Pria itu benar-benar sangat kacau sekarang.
Arianna yang sudah sampai di rumahnya, menunggu kedatangan Pandhu. Dua Minggu belakangan ini wanita itu sudah memikirkan masak-masak rencananya untuk mengungkapkan perasaannya pada Pandhu. Bagaimana pun dirinya khawatir jika Pandhu akan benar-benar menemukan wanita pilihannya dan juga dirinya terlambat mengungkapkan semuanya.
Mungkin terlihat murahan, tapi dimana lagi dirinya akan menemukan pria yang bertanggung jawab sayang juga pada Axel, Arianna menunggu dengan cemas kedatangan pria itu. Arianna tersenyum sumringah ketika bel rumah berbunyi, wanita buru-buru membuka pintu.
“Selamat malam, mas.” Wanita itu tersenyum pada Pandhu. Pria itu hanya menganggukkan kepalanya. Lalu berjalan melewati dirinya, tidak seperti biasanya. Arianna mengejar Pandhu, dan dengan segala keberanian yang di kumpulkannya gadis itu mengungkapkan sesuatu.
“Mas, ada yang ingin aku bicarakan.” Pandhu hanya berhenti. Tapi pria itu tidak berbalik pada dirinya. Arianna menunggu dengan harap-harap cemas.
“Aku mau istirahat, nanti saja. Besok pagi, aku lelah.” Setelah itu Pandhu langsung kembali melangkah. Adera tertegun, kakinya sedikit tergerak untuk menyusul Pandhu, tapi langkahnya terhenti lagi. Apa iya aku harus diungkapkan ini malam, atau memang harus menunggu sampai besok pagi? Arianna mengangkat kepalanya gadis itu tersenyum melihat pindah Pandhu yang menjauh. Semoga besok dirinya benar-benar bisa menyelesaikan semuanya.
Di kamarnya Pandhu kembali membuka album-album yang ada di lemarinya. Foto-foto dirinya bersama Adelia dahulunya. Pria itu meraba dan memejamkan matanya menyusuri garis wajah gadis yang ada dalam bingkai foto itu. Kalian hampir seiras tapi pembawaan kalian sangat berbeda atau tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, malam ini aku kembali patah Adelia. Patah setelah kehilanganmu dan patah lagi untuk malam ini. Mungkin aku memang tidak pantas untuk membuka hati lagi.
Keesokan paginya Adera bangun lebih cepat, gadis itu segera meminta Elis untuk datang ke rumahnya. Selain untuk bersih-bersih gadis itu juga butuh dicarikan pelayan oleh asistennya itu. Setelah itu Adera menghela napasnya. Kayaknya gue perlu ketemu sama Fenola dulu, gue harus kembali bantu-bantu dia saat di butik. Apalagi gue sama Marcel juga belum benar-benar kelar. Adera memijit pelipisnya.
Pandhu pagi ini terlihat lebih segar, walau tidak ada binar bahagia seperti kemarin di wajahnya. Pria itu seperti biasa menengok oma terlebih dahulu, wanita tua itu sangat berseri pagi ini. Berbanding terbalik dengan dirinya, wanita tua segera menepuk sebelah ranjangnya untuk mempersilahkan Pandhu duduk.
“Kamu kenapa sih, pagi-pagi kusut banget. Pasti bergadang kan? Kamu pasti ada masalah 'kan? Oma punya kabar baru membahagiakan bagi kamu.” Pandhu mengerutkan alisnya. Apalagi yang membahagiakan?
“Ada apa oma? Kabar membahagiakan seperti apa?” Pandhu sedikit tertarik, wanita tua itu tersenyum. Dirinya mengelus kepala Pandhu.
“Tuhan benar-benar baik untuk kita, semalam oma mimpi kamu dan Adera dijatuhi bintang-bintang. Itu artinya akan jadi pasangan yang bahagia, jadi oma harap kamu tidak melepaskan kesempatan ini. Dia juga sepertinya memiliki ketertarikan sama kamu.” Pandhu yang tersenyum datar, tidak ingin mengatakan hal yang sebenarnya terjadi semalam. Wajah bahagia pagi ini, sangat sayang jika di kecewakan dengan kenyataan yang keluar dari bibirnya.
“Oh iya ,semalam Adera bilang kalau kamu masih mengunjungi seseorang setiap malam. Oma tahu sih itu siapa, tapi oma belum bilang sama Adera. Oma cuma mau mengingatkan kalau kamu benar-benar memulai hidup baru. Jangan membuka lagi kenangan kenangan kamu yang lama.” Darti tersenyum melihat Pandhu yang hanya diam, pria itu tidak mengeluarkan suaranya.