Pandhu masih menatap Oma yang terlihat sumringah dan bibirnya mulai bergerak. Apa yang akan oma katakan ya? Pria itu menebal-nebak dalmam hati.
"Lagi pula, kamu juga kan tahu sendiri. Kalau oma itu punya cita-cita agar kamu menikah dengan seseorang siapapun itu. Pagi ini oma kembali semangat setelah pertemuan semalam.” Pandhu tersenyum dan mengecup dahi wanita itu.
“Itu sangat terlihat oma, mata oma memancarkan kebahagiaan. Maaf oma Pandhu tidak bisa memberikan apa yang oma inginkan. Doakan suatu saat nanti Pandhu bisa mengabulkan semua itu siapapun yang akan menjadi wanitanya.” Darti menganggukkan kepalanya menatap Pandhu.
Pagi ini, Arianna sudah menyiapkan perlengkapan sekolah untuk Axel. Wanita itu segera keluar untuk menemui Pandhu makan malam bersama dengan pria itu. Arianna akan membicarakan apa yang selam ini dirasakannya. Itu yang ada dalam pikirannya. Wanita itu menghela napas lega ketika sampai di meja makan Pandhu juga baru memasuki ruang makan. Setelah itu pria itu pamitan pada oma pasti ada kesempatan untuk dirinya berbincang-bincang beberapa menit dengan pria itu.
Wanita itu tersenyum, ketika tatapan mata mereka bertemu. Arianna duduk dengan gugup di pikirannya sudah terbesit kata-kata
yang akan keluar dari bibirnya. Gadis itu mengunyah dengan hati-hati sambil merapalkan banyak doa untuk dirinya sendiri. Arianna tidak lupa untuk menyuapi Axel bergantian dengan Pandhu yang juga menyuapi anaknya. itu sudah rutinitas biasa mereka setiap hari. Setelah selesai sarapan, Arianna segera berjalan ke luar mengantar Axel menuju mobil. Setelah kepergian Axel, Arianna menunggu-nunggu kapan datangnya pria itu.
Arianna menanti dengan sabar, Pandhu masih berpamitan pada oma seperti biasanya. Wanita itu hanya memerhatikan saja dari jarak jauh, sambil menenangkan dirinya. Pokoknya gue harus coba mengungkapkan apa yang ada di pikiran dan di perasaan gue selama ini, ditolak atau pun diterima itu belakangan. Tapi gue harap gue akan diterima Tuhan, batin wanita itu.
Darti tersenyum pada Pandhu yang datang pamita, wanita itu mengelus kepala Pandhu. Pandhu terlihat sedikit berbeda, mungkin ada masalah di perusahaannya begitu pikir Darti.
“Jangan terlalu dipikirkan masalahnya, pasti akan bisa terlewati kok.” Pria itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada wanita tua itu. Pandhu menghela napasnya, dan tersenyum kecil tanpa mengatakan apapun. Setelah itu dirinya mencium tangan oma dan segera meninggalkan oma untuk ke kantor.
Arianna tersenyum melihat kedatangan Pandhu, wanita itu merapikan rambutnya dan tersenyum sumringah menyambut pria itu.
Kring! Kring! Kring!
Arian merenggut dengan kesal, ponselnya berbunyi. Wanita itu segera merogoh tasnya mengeluarkan ponselnya, melihat panggilan yang masuk di ponselnya. Arianna menepuk jidatnya.
“Halo, iya gimana bos?” Wanita itu menunggu jawaban dari seberang sana. Arianna mendadak menunggu dengan sangat cemas, lagian ngapain juga deh dirinya ditelepon pagi-pagi seperti ini?
“Iya, saya ke situ sekarang,” Arianna menjawab dengan lemas, wanita itu memasukkan ponselnya dengan terburu-buru akhirnya bergegas menuju mobilnya. Sialan, hari ini gagal lagi batin wanita itu. Arianna menyetir dengan hati yang sangat kesal pagi ini.
Pandhu yang kini sudah berada di kantornya menjadi lebih banyak diam, pagi ini tidak seperti biasanya. Semua hal menjadi sensitif bagi pria itu. Misalnya pagi ini, Marwan yang terlambat membersihkan ruang kerjanya kena semprot oleh dirinya, Calista yang terlambat beberapa menit juga kena semprot dari dirinya. Orang-orang hanya bertatapan dengan alis berkerut menerka-nerka apa yang sudah terjadi pada bos mereka ini. Penolakan Savannah masih lagi mengganggu pikirannya, dasar sialan! Pandhu mengepalkan tangannya dan meninju mejanya sendiri. Apa yang kurang sih dari dirinya? Napasnya berkejaran, Pandhu menoleh ketika pintu terbuka. Pria itu menaikkan alisnya menatap Radit yang tersenyum manis pada dirinya. Pria itu langsung duduk di hadapannya.
“Congrats bro, parfum dan beberapa merek pakian keluaran terbaru kita laris banget, gak salah juga lo pilih Adera menjadi modelnya." Pandhu hanya mengangguk malas, lalu duduk di kursinya. Pria itu menghembuskan napasnya kasar, tidak ingin membahas Adera.
“Gua mau kalau proyek berikutnya lagi kita pakai Adera lagi? Masih banyak proyek 'kan?” Pandhu berdehem pelan dan menatap Radit datar.
“Gue nggak mau pakai Savannah lagi untuk produk-produk yang akan diluncurkan kedepannya. Dan untuk hal ini aku tidak mau debat.” Pria itu segera mengalihkan fokusnya pada berkas berkasnya yang ada di atas mejanya, membiarkan Radit melompong mendengar katak-kata yang keluar dari bibirnya. Ada apa lagi dengan Pandhu? Bukannya kemarin dia yang sangat semangat untuk bekerja sama dengan Adera?
“Tapi kenapa? Terus Savannah? Apakah itu panggilan sayang lo untuk dia? Cie ternyata lo diam-diam romantis juga ya.” Pandhu tidak menggubris apa yang dikatakan oleh pria itu. Pandhu malah mulai sibuk dengan laptop yang kini sudah mulai dinyalakan. Ini kenapa sih, kok gue dikacangin, lagi pula angin apalagi yang membuat pria ini menjadi sangat bad mood sepeti ini? Radit meremas rambutnya yang tadi sudah tersisir dengan rapi, lalu berdiri dan menarik laptop yang ada di hadapan pria itu.
“Lo itu kenapa sih? Gue ada salah?” Pandhu menelan ludahnya dan menatap Radit malas, ingin tahu banget urusan orang lain.
“Iya ada, jadi lo jangan ganggu gue. K.e.l.u.a.r!” Tegas pria itu penuh penekanan membuat Radit mengembalikan laptop milik Pandhu. Pandhu kembali mengabaikan Radit.
“Okelah, jangan lupa telepon gue kalau lo butuh cerita.” Setelah berkata seperti itu Radit langsung pergi meninggalkan pria itu dengan perasaan dongkol. Ini mah kalah cewek, kalau bad mood. Pandhu kembali menyibukkan diri dan tidak menyahut sedikitpun ucapan Radit yang mulai menjauh itu.
Pagi ini Adera bangun dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Gadis itu menatap kalung yang masih ada di nakasnya. Tiba-tiba perasaan bersalah menyeruak dari dalam hatinya, rasa bersalah pada pria itu. Tapi ini juga terlalu cepat bukan salah aku, lagian apa yang akan dikatakan publik. Batin gadis itu. Adera turun dari ranjangnya. Gadis itu mendekati nakas dan meraba kalung itu, gadis itu meletakkannya di dadanya memeluknya dan memejamkan matanya. Setetes air mata jatuh di pelupuk matanya. Hahahahaha, kenapa ada air mata ya? Wanita itu lalu mengambil kalung itu dan memakainya, ada perasaan aneh lain yang menyeruak ke dalam hatinya. Setidaknya gue gak bakal merasa bersalah dengan acara seperti ini, Batin gadis itu.
Siangnya Adera segera ke kantor Fenola untuk mengunjungi gadis itu. Ada hal yang ingin di bicarakannya pada Fenola, mengenai Marcel tentu saja. Adera menghembuskan napasnya, gadis itu melirik ponselnya. Baru saja ada pemberitahuan masuk, transferan uang ke rekeningnya. Dan jumlahnya sangat tidak sesuai dengan yang ada di kontrak. Adera akan menemui Pandhu tapi tidak sekarang, mungkin Minggu depan. mGadis itu belum siap untuk melihat wajah Pandhu sekarang.
Adera segera masuk ke ruangan Nola, gadis itu masih sibuk memilih-milih kain dan mengecek beberapa model pakaian yang sedang didesainnya. Adera dengan tidak sopannya malah masuk dan duduk di hadapan gadis itu, tentu saj a mengganggu konsentrasi Fenola.
“Lo kalau masuk pakai salam kek, jangan langsung duduk aja di depan gue." Imel Fenola yang hanya ditanggapi Adera dengan anggukam cuek. Adera lalu membuka camilan yang ada di atas meja kerja Fenola. Mungkin gadis itu kerja sambil ngemil seperti biasanya. Fenola kembali fokus pada bahan yang ada di depannya. Setelah beberapa kama kemudian, gadis itu memberikan isyarat pada asistennya untuk meninggalkan dirinya dan Adera.
Adera menatap Fenola yang kini menatap fokus pada dirinya, gadis itu berdiri dan meninggalkan Adera kemudian kembali dengan segelas minuman di tangannya. Wanita itu menyodorkan minuman tersebut pada Adera.
“Apa yang ingin lo bicarakan?” Adera menarik napasnya dan menatap Fenola tepat di manik matanya.
“Marcel, gue ribut dengan pria itu.” Fenola mengangguk, itu hal yang biasa ribut dengan manajernya sendiri.
“Terus lo mau gue bantu gimana?” Wanita itu menatap Adera, yang terlihat menatapnya licik.
“Bantu cari tahu dong, Marcel itu ada apa dengan perubahan dia. Gue lagi nggak bisa cari tahu sendiri, kan selama ini orang yang selalu gue minta tolong kenalannya Marcel semua.” Fenola menganggukkan kepalanya, itu mudah sih. Lagi pula dengan bantuan papanya hal seperti ini akan semakin mudah untuk diatasi.
“Terus gimana lo dengan Marcel sekarang? Masa iya masih bertengkar sih?” Adera menggelengkan kepalanya. Wanita itu meneguk minumannya dan menghela napasnya malas.
“Lo tahu nggak, dia menyuruh gue membatalkan kontrak bersama Pandhu Bagaskoro. Pikir dong penaltinya gede banget, gue mau cari dimana duitnya? Nggak habis pikir deh gue.” Adera memijit kepalnya. Fenola hanya mendecakkan lidahnya, tidak mengeluarkan satu kata pun.
“Kadang-kadang ya Fen, gue merasa lagi berada dalam bahaya. Pusing gue mikirnya.” Fenola menghela napasnya dan mengambil kacang yang ada didepanya. Gadis Itu mengunyah kacang itu kalau menatap Adera santai.
“Jangan dipikiran, nanti jadi kenyataan. Itu hanya perasaan lo aja kok. Sebenarnya nggak seperti itu. Tapi gue mau tanya sesuatu sama lo sih.” Adera mengerutkan alisnya menatap gadis itu, apa yang akan ditanyakannya? Apalagi Fenola menatapnya dengan hati-hati.
“Lo pernah ada masalah yang gak gue tahu dengan Myana?” Mendengar pertanyaan itu sontak saja kepala Adera menggeleng. Seingat gue memang nggak pernah sih, gadis itu menatap Fenola yang kini mengembuskan napas lega. Setelahnya, wanita itu makan kacang dengan santai membuat Adera. kini menanti apa lagi yang akan dikatakan oleh gadis itu selanjutnya. Fenola malah menikmati kunyahannya yang kini membuat Adera gemas. Nggak jelas banget deh nih anak. Kalau seperti ini ngapain nanya sih, nggak ada akhirnya tapi bikin penasaran sih iya.
“Lo nggak jelas banget dih, nggak ada penjelasannya sama sekali. Kenapa lo sampai bertanya seperti itu?” Adera menatap Fenola yang kini menepuk-nepuk tangannya. Membersihkan sisa-sia kacang.
“Karena ... karena ... Karena nggak ada apa-apa. Hahahahaha.” Adera yang kesal langsung melemparkan bantalan sofa pada gadis itu.
“Nggak papa kok, hehehehe. Abis tadi muka lo kusut bangat jadi gue buat kesal berganti ekspresi hehehehe.” Adera mengerucutkan bibirnya. Au ah , bikin gue malas saja.
“Terus dimana Myana sekarang? Dia ada kasih kabar ke lo atau gimana?” Fenola menggelengkan kepalanya, menatap Adera sesaat lalu tersenyum datar.
“Lo jangan terlalu berbagi berbagai hal lo pada Myana. Gue takut aja kalau ada apa-apa nanti sama lo.” Adera menghela napasnya, lalu menegakkan kepalanya. Kembali menatap mata Fenola.
“Lo jangan gitu dong, dia itu teman kita juga. Jadi jangan menjugde seenaknya. Lagian Myana kan sahabat kita dari dulu jadi nggak mungkin.” Adera menatap Fenola dengan tatapan lembutnya, Fenola menganggukkan kepalanya saja. Malas berdebat dengan Adera.