Ke Kantor Pandhu

1523 Kata
Keduanya diam untuk beberapa saat. kemudian Fenola kembali melirik Adera yang masih diam. Mungkin ada hal yang sedang dipikirkan oleh gadis itu. “Terus apa yang menjadi rencana lo setelah pertengkaran lo dengan Marcel?” Adera menggaruk kepalanya, dan menatap gadis itu lelah. Kenapa itu yang jadi pertanyaannya, gue juga belum mikir lagi mau jadi apa. Hadeuh gue gini amat ya. “Nggak tahu,” cicit Adera rendah. Fenola hanya menghembuskan napasnya kasar. Gadis itu merasa kasihan juga pada Adera. “Lo kembali saja lagi bantu-bantu gue jaga butik saja.” Adera menganggukkan kepalanya dan berdiri memeluk Fenola. “Terima kasih, gue juga mau istirahat dulu dari permodelan. Capek saja gitu kemarin lagi gue kena bully lagi. Jadinya aku nggak buka lagi i********: aku.” Fenola menganggukkan kepalanya. Gadis itu paham dengan apa yang terjadi pada Adera. “Tapi yang pertama tadi, gue mohon lo cari tahu dulu. Ada apa dengan Marcel," Fenola menganggukkan kepalanya, itu mah biar tidak diulang tetap akan dilakukannya lagi. Di kantor Arianna berkali-kali melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Wanita itu menggerutu tanpa henti, pekerjaan miliknya begitu bertumpuk dan juga harus diselesaikan sekarang. Hari ini tidak ada kesempatan untuk bertemu dengan Pandhu. Arianna benar-benar dilanda ke khawatiran, karena hal itu. Gue harus mengungkapkan perasaan gue pada Pandhu, bagaimana pun kalau gue ditolak gak papa. Yang penting perasaan gue terungkap dulu sama Pandhu. Arianna kembali melirik bosnya yang masih mengawasi mereka, itu juga ngapain sih si botak itu mengawasi segala, tapi nggak papalah masih ada hari esok batin wanita itu. Satu Minggu berlalu, tepatnya hari ini Adera segera ke kantor Pandhu. Bukan apa-apa, dirinya perlu untuk bertemu dengan pria itu. Untuk menanyakan kejadian Minggu lalu, urusannya dengan Marcel sudah selesai. Tapi masalah ini tidak disampaikannya pada Marcel atau mungkin Marcel juga sudah tahu, Adera tidak tahu itu. Wanita itu berusaha dengan susah payah untuk bertemu pria itu. Mulai dari dirinya yang tidak membuat janji dengan Pandhu dan Pandhu yang punya banyak rapat membuat pria itu sulit untuk bertemu. Adera masih menunggu di depan ruangan pria itu, walau harus menahan diri menerima tatapan sinis dari orang-orang yang ada di ruangan ini dan juga dari sekretaris Pandhu sendiri wanita berleher jenjang bermata tajam yang dari tadi menatapnya tajam. Adera hanya menatap datar, menahan kegelisahan yang ada di dalam hatinya. Mampus gue nih, apalagi kalau sampai bertemu Pandhu pria itu pasti akan lebih tajam lagi menatap gue. Adera masih sibuk dengan pikirannya sendiri tidak menyadari kehadiran Pandhu. “Mohon maaf pak, saya sudah ingatkan tapi ibu ini mengotot untuk menunggu, padahal kan tidak ada janji sebelumnya dengan bapak. Bahkan dia juga tidak menggubris para satpam yang tadi menahannya. Dan dengan brutalnya justru mencederai para satpam. Calista sengaja melebih-lebihkan untuk menarik simpati. Wanita itu tidak benar-benar peduli pada Adera. Biarlah, wanita keras kepala itu mendapatkan balasan dari bosnya. Pandhu hanya mengangguk dan berjalan masuk ke dalam ruangannya, melewati Adera yang kini sudah tersada akan kehadiran Pandhu. Wanita itu awalnya seperti orang linglung. Kemudian, buru-buru berdiri mengikuti Pandhu. Gue tidak tahu malu banget, bahkan pria itu seperti tidak menyadari kehadirannya. Pandhu yang ingin menutup pintu, membatalkan niatnya melihat Adera yang kini mengekor dirinya. Tanpa mengatakan apapun pria itu langsung duduk di meja kerjanya. Adera yang mengikuti Pandhu memegang tengkuknya, merasa aneh. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir pria itu. Inimah, bikin seram aja, aku ditanya kek, mau ngapain atau ada perlu apa disini. Masa iya aku langsung menjelaskan saja? Adera yang setengah bingung segera duduk di sofa yang biasa digunakan pria itu menerima tamu. Adera mengerucutkan bibirnya, ditawari minum kek gerutunya dalam hati. Nggak ada perasaan banget deh. Gadis itu menggerutu lagi. Apa yang harus dilakukannya?, Adera hanya memainkan ponselnya. Pandhu benar-benar mengabaikannya, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir pria itu. Setiap kali Adera menemukan kalimat yang cocok untuk diucapkannya pada pria itu yang ada malah pria itu selalu kelihatan sibuk dengan berkas-berkas yang ada di depannya. Kan jadi gak enak diposisis seperti sekarang ini, percuma dong gue ijin pagi-pagi uruk datang ke tempat ini. Bisa gagal kalau gue terus diam seperti ini. Satu, dua, tiga, Adera menghela napasnya. “Pak.” Adera berharap ada respon dari pria itu, Adera masih menatap Pandhu dengan senyuman manis yang tercetak di bibirnya. Nihil, tidak ada reaksi apapun. Bahkan pria itu seperti mengabaikan Adera, dengan tidak menjawab panggilan dari dirinya. Adera menghela napasnya. Gadis itu akhirnya memilih m berselncardi Dmemainkan ponselnya dan berselancar di dunia Maya yang penuh dengan cibiran dan cacian. Sampai jam makan siang Adera masih lagi dianggurin, tidak diajak bicara sedikitpun oleh pria itu. Adera mendumel dalam hati, pria itu mengangkat wajahnya dari laptopnya. Setelah ada ketukan dari luar pintunya. Pandhu mempersilahkan orang yang tadi mengetuk itu untuk masuk. Adera membuang wajahnya ketika menyadari sekretaris dari pria ini masuk ke dalam sini. Ngapain juga coba aku dilihatnya sinis seperti itu? Adera mendengus dalam hati. Ternyata wanita itu datang bersama dengan nampan makanan ditangannya, wajahnya juga menjadi kusut setelah melihat Adera. Setelah mengantarkan makan siang dari pria itu, Calista segera kaluardari ruangan milik Pandhu. Ngapain juga sih gadis itu masih di ruangan pak Pandhu, hati Calista juga menggerutu. Adera memerhatikan saja apa yang pandhu lakukan, pria itu menata makanan tersebut di atas mejanya dalam diam. Gak bisa apa ada suara dikit, dari tadi kerjanya diam melulu, Adera kembali berbisik dalam hatinya. Memang sejak penolakannya beberapa hari yang lalu Pandhu menjadi jauh dari dirinya dan sengaja tidak berinteraksi dengan dirinya. Bahkan beberapa hari yang lalu juga ketika bertemu dengan dirinya di acara ulang tahun temannya pria itu tidak menggubrisnya sama sekali sama seperti hari ini. “Sini, makan!” Adera mengernyit, apa Pandhu sedang berbicara dengan dirinya sekarang? Wanita itu menunjuk dirinya, sayangnya Pandhu tidak melirik pada dirinya sedikitpun lagi. Adera kembali menggaruk kepalanya. Pria itu malah kembali fokus lagi pada laptopnya. Adera yang bingung kembali menggaruk kepalanya. “Kesini, Savannah!" Adera segera berdiri dan berjalan mendekati pria itu. Bahkan untuk menoleh pun sepertinya masih berat batin Adera, Pandhu masih asyik dengan pekerjaan nya. “Tarik sofa kecil itu Savannah, dan duduk lalu makan.” Bagaikan robot Adera segera melakukan apa yang diperintahkan oleh pria itu. Wanita itu lalu duduk di samping Pandhu, Adera kembali menatap ragu-ragu pada Pandhu yang masih kerja. Ini dianya gak bakal makan gitu? “Pak, maksudnya Aku makan sendiri gitu? Bapak tidak akan makan?” Adera menggigit bibirnya setelah itu, aduh kenapa gue jadi bicara secara langsung sih ke dia. Pandhu terhenti, pria itu melirik pada gadis yang kini menggigit bibirnya, dengan ekspresi sedikit cemas. Pandhu menyeringai, lalu berdehem pelan. “Aku tidak bisa menunggu untuk makan Savannah, pekerjaan ini harus selesai dengan segera agar aku bisa menyelesaikan lagi pekerjaanku yang berikutnya. Kalau kau tidak keberatan, kau bisa menolongku dengan menyuapiku Savannah.” Pria itu berujuar dengan santai membuat Adera kembali menelan ludahnya, bukan masalah menyuapi pria itu. Tapi masalah pada dirinya, aku jadi deg degan seperti ini sih. Wanita itu terdiam beberapa saat, dan setelah menghembuskan napasnya beberapa kali barulah mulai mengambil makanan untuk dirinya dan juga Pandhu. Pandhu hanya melirik sekilas dan kembali asyik dengan pekerjaannya. Adera menatap ragu-ragu pada pria itu. “Aaaa.” Adera mengarahkan sendok pada pria itu. Pandhu langsung membuka mulutnya tapi masih sibuk dengan pekerjaannya. Adera menyuapi pria itu dengan telaten, yang menjengkelkan adalah dirinya harus memilih-milih sayur yang ada di makanan itu karena pria itu kurang suka pada sayur. Maunya bilang dari tadi kek, batin Adera kesal. Pandhu masih asyik bekerja, dan pria itu menyembunyikan senyumnya melihat kening yang berkerut-kerut milik Adera. Kenapa gadis ini kembali menjadi semenggemaskan dan semanis ini? Pandhu tidak bisa memungkiri setelah beberapa kali mengabaikan gadis ini dan setelah bertemu kembali dengan gadis ini perasaan yang ada dalam dirinya malah makin menguat bukannya menghilang. “Selesai,” Adera bersuara penuh kegembiraan. Ini suapan terakhir untuk Pandhu. Adera merasa lega, gadis itu kalau merapikan piring bekas makan mereka berdua. “Jadi apa yang mendorongmu sampai datang ke kantorku sejak pagi-pagi sekali Savannah?” Adera segera mengakhiri aktivitasnya yang menyusun piring-piring tadi dan kembali memfokuskan pandangannya pada Pandhu. “Itu ... itu ... tentang kontrak kita. Maksudnya kerja sama yang kemarin.” Adera mengatur napasnya, Pandhu mengerutkan alisnya dan menatap gadis itu. “Berapa kekurangannya Savannah?” Adera melotot, dengan pertanyaan yang keluar dari bibir pria itu. Entah ini ledakan atau keseriusan dari pria ini? “Bukan kurangnya sih, tapi lebih malah. Maksudku itu kebanyakan bahkan melebihi apa yang telah disepakati.” Pandhu berhenti sejekanka, kalau menoleh menatap Adera. Pria itu tersenyum tipis, yang membuat Adera menjadi terpesona melihat senyum itu. Kirain tadi gue bakal dianggurin lagi. “Tidak mengapa, karena aku yang memutuskan kontrak kerja kita. Paling tidak uang itu akan membantumu untuk membuka sudah atau untuk melakukan hal yang lainnya. Apalagi aku dengar dari asistenmu kamu lagi vakum sekarang?” Pandhu melirik Adera yang kini terdiam. Adera lagi malas berurusan dengan Marcel jadi jalan pintasnya adalah vakum setelah membayar denda juga dari pria itu. Nyebelin banget memang kalau diingat. “Iya seperti itu, hehehehe.” Adera tertawa dengan garing. Pandhu segera berdiri dari kursinya dan duduk disamping gadis itu, bukan pilihan yang tepat sih. Karena sofa itu memang ukuran hanya urnuk satu orang. Adera menahan napas gugup ketika Pandhu mengangkat dirinya dan mendudukkan dirinya diatas pangkuan pria itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN