Hari ini Adera bangun lebih siang, gadis cantik itu terlonjak kaget melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Buru-buru gadis itu menelpon manajernya, Adera menghembuskan napas lega memang tidak ada jadwal untuk dirinya hari ini. Gadis itu bergerak malas-malasan menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Adera menatap bawah matanya yang terlihat menghitam, mungkin ini semua karena semalam dirinya tidak tidur cepat.
Apalagi setelah mengantarnya, Pandhu kembali memberikan ciuman selamat tinggal untuk dirinya. Adera bahkan sampai sekarang masih merasakan rasa mint yang menguat dari bibir pria itu. Adera juga masih ingat rasanya ketika tangannya tanpa sadar menjelajahi d**a kotak pria itu. Adera juga belum bisa melupakan bagaimana lihainya bibir pria itu membelai bibirnya dan kemudian berakhir mengecup keningnya dengan penuh sayang. Gadis itu langsung memukul kepalanya karena kembali memikirkan pria itu. Astaga, dasar otak bodoh untuk apa aku memikirkan pria itu. Aku hanya terbawa suasana, Karana sakit hati. Aku yakin itu. Batinnya. Setelah itu Adera segera mengambil masuk ke dalam bathtub untuk mandi. Parah banget aku sekarang, Cuma gara-gara Wilson aku sampai ketemu dengan pria itu, semoga itu terakhir kalinya.
Di lain tempat Pandhu berjalan tergesa-gesa memasuki rumahnya, rumah keluarganya lebih tepatnya Karena di situ ada nenek, ibu dan adik iparnya. Pandhu segera tersenyum melihat neneknya yang sepertinya sudah sangat menunggu kedatangannya. Pria itu segera mencium tangan neneknya dan juga memberikan kecupan di kedua pipi wanita tua itu.
“Kamu sepertinya lupa jalan untuk datang ke rumah ini Pandhu. Kalau aku tidak meminta untuk datang kau pasti tidak akan datang.” Pandhu berjongkok dan menatap matanya neneknya. Wanita yang merawatnya sejak dulu, sejak ibunya meninggal dunia.
“Oma, Pandhu hanya lagi sibuk bukan berati Pandhu tidak mau menemui oma.” Wanita tua itu mendengus, Pandhu tertawa dan berdiri lalu mencium dahi wanita tua itu. Eliza tersenyum, lalu menarik tangan Pandhu menuju ruang makan. Apalagi, kalau bukan untuk makan rendang dan juga opor, makanan kesukaan Pandhu yang selalu disediakan oleh oma. Dengan telaten Eliza mengambilkan makan untuk cucu kesayangannya ini, cucu yang kini sudah sangat jarang punya waktu untuk berama dirinya. Pandhu ikut duduk makan bersama omanya.
“Oma sudah capek loh melihat kamu seperti ini terus. Sampai kapan kamu mau hidup tanpa pasangan? Kamu makin hari makin tua loh. Sayang loh kalau nanti kamu tua sendirian.” Pandhu makan dengan tanang tanpa menyahut ucapan oma. Setelah menelan makanannya, Pandhu menatap oma hati-hati.
“Aku cuma tidak ingin kehilangan lagi oma, lagi pula ada Xello yang akan menjadi penerus.” Eliza menghembuskan napasnya kasar mendengar jawaban Pandhu. Dengan penuh kehati-hatian wanita tua itu melihat sekitarnya, kemudian mencondongkan wajahnya pada pandu.
“Tapi Xello itu hanya keponakanmu. Berda loh rasanya punya ponakan dan punya anak sendiri. Apalagi oma lihat ibunya seperti menginginkan hubungan yang lebih dari kamu. Oma tidak melarang, tapi oma lebih bahagia kalau kamu menemukan wanita yang akan jadi istrimu. Apapun statusnya, Oma bisa terima,kok.” Pandhu hanya menyahut jika penting dan membiarkan saja oma terus bicara.
Arianna yang berada di dekat ruang makan tersenyum bahagia melihat kedatangan Pandhu. Wanita itu segera merapikan rambutnya dan balik ke kamarnya untuk memakai parfum ulang. Setelah merasa dirinya wangi wanita itu kembali ke ruang makan. Bukan tanpa alasan, Ariana sebenarnya sudah lama tertarik pada pandu sejak kepergian suaminya ke surga dua tahun yang lalu. Apalagi Pandhu sangat menyayangi Xello seperti anaknya sendiri. Dan itu sangat menarik perhatiannya sebagai seorang wanita yang memiliki anak. Pandhu pasti akan menjadi suami yang sangat baik untuk mereka. Tapi sampai sekarang Pandhu tidak memperlihatkan tanda-tanda jika pria itu ingin menikahinya atau bahkan tertarik padanya. Tapi itu bukan alasan untuk Arianna agar menyerah.
"Eh, mas Pandhu. Kapan datangnya?" Arianna mengucapkannya dengan sopan disertai senyum yang mengembang. Eliza hanya menggelengkan kepala, dia sebagai wanita yang sudah menikmati liku-liku kehidupan sangat paham jika sebenarnya Arianna tertarik pada Pandhu. Hanya saja Pandhu tidak memberikan respon, Eliza berharap Pandhu menemukan gadis yang membuatnya berubah pikiran dan berani mengambil keputusan untuk menikah.
"Setengah jam yang tadi, Xello masih di sekolah?" Arianna semakin berbunga-bunga dengan jawaban Pandhu. Wanita itu tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya.
"Xello kangen banget loh sama mas. Mas sih, sudah lama tidak main kesini!" Ariana mengucapkannya dengan manja. Pandhu bergidik ngeri mendengar nada manja dari adik iparnya itu. Eliza menatap wanita itu tajam dan memberikan isyarat lewat matanya agar Arianna tidak mengganggu Pandhu lagi. Eliza sangat tidak suka jika ada yang mengganggu acara makan Pandhu. Ariana menarik senyum terpaksa menyadari jika dia melakukan kesalahan.
Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi dengan setelan santai, Adera segera menghubungi Fenola untuk bertemu. Fenola merupakan salah satu sahabatnya yang tidak terlalu sibuk, berbanding terbalik dengan Myana dan Alexa. Apalagi Myana juga memiliki profesi yang sama dengan dirinya dan sekarang gadis itu sedang berada di luar negeri jadi tidak mungkin untuk menemui gadis itu.
Adera segera keluar dari rumah mungilnya dan menyetir untuk menemui Fenola. Fenola menghembuskan napasnya, ternyata Adera baik-baik saja. Fenola khawatir kalau gadis itu terganggu dengan tersebarnya foto-foto aib yang kini tersebar di dunia Maya. Fenola juga tidak membuka suara ketika dihubungi oleh pihak media yang bertanya-tanya tentang Adera. Gadis itu segera pergi dari ruangannya bekerja dan menunggu Adera di ruangan pribadinya. Ruangan yang digunakannya seperti kamarnya sendiri.
Adera yang sampai di butik milik Fenola segera mencari topi dan maskernya dan segera berjalan cepat ketika tidak ada wartawan yang berjaga ditempat itu. Adera melangkah masuk dengan tergopoh-gopoh. Lesia yang sudah menunggunya mengatakan jika Fenola sudah menunggu di ruang pribadinya.
"Pagi, sayang aku." Fenola menatap penampilan gadis itu dari atas sampai bawah. Kemudian keluarlah tawa yang terbahak-bahak dari bibir gadis itu, Adera terlihat aneh dengan topi dan maskernya. Bahkan gadis itu sampai melapisi tubuhnya dengan hodie yang kebesaran dan warnanya mulai usang. Pasti gadis itu juga takut pada buruan paparazi dan para wartawan.
"Jawab kek, lo ngapain malah tertawa seperti itu? Senang lo dengan penderitaan gue?" Adera menatap gadis itu dengan malas dan segera mendudukkan bokongnya di atas sofa yang ada di ruangan itu. Adera segera menghentikan tawanya dan menatap Adera serius.
"Sorry banget kemarin aku juga baru balik dari Sumba dan ponsel aku mati total. Aku baru tahu kabar kamu hari ini, dan tahu tentang foto-foto itu." Adera menghela napas, gadis itu terlihat berkaca-kaca. Kemudian menarik senyumnya menatap Fenola.
"Aku baik-baik saja sekarang, pernikahan aku batal dan aku tidak tahu siapa yang melakukan hal buruk itu untuk aku. Kamu tahu sendiri setelah acara makan malam kita selesai aku juga langsung pulang. Aku juga tidak ingat bagaimana bisa aku berada di hotel itu. Sekarang semuanya kacau," Fenola menganggukkan kepala, dan mendekati gadis itu lalu mengelus punggungnya. Memberikan kekuatan untuk Adera.
"Terus lo setuju pernikahan lo di batalkan? Publik juga sudah tahu loh kamu akan menikah satu bulan lagi." Adera menghapus air matanya mendengar pertanyaan dari Fenola. Gadis itu menganggukkan kepalanya, lagi pula dirinya tidak punya pilihan lain 'kan? Lagi pula Wilson anak yang sangat sayang pada orang tuanya jadi tidak mungkin untuk melanjutkan pernikahan jika kedua orang tuanya tidak setuju.
"Astaga Wilson juga bego banget sih, masa cuma karena hal yang seperti itu dia setuju membatalkan pernikahan. Berarti dia benar-benar tidak mencintai lo dengan tulus. Gue yakin kok ini hanya jebakan untuk lo, gue kenal lo dari dulu gue tahulah lo tidak akan macam-macam seperti itu." Adera segera memeluk Fenola dengan erat, berkali-kali gadis itu mengucapkan terima kasih. Adera bersyukur sahabatnya ini masih percaya padanya.
"Tidak apa-apa sih, kasian juga keluarganya kalau sama aku. Sekarang aku jadi bahan bully-an di media sosial. Jadi aku hapus semua media sosial aku untuk sekarang ini." Fenola mengangguk menyimak dengan serius penjelasan Adera. Fenola lalu melepaskan pelukannya dan menatap wajah Adera dengan senyum.
"Untuk sementara kalau lo tidak dapat pekerjaan, karena gue yakin banyak kontrak dari lo yang pasti dibatalkan. Lo bisa kok datang kerja di sini, walau gajinya tidak sebanyak lo menjadi model." Adera mengangguk, itu tidak akan menjadi masalah. Manajernya juga belum meneleponnya untuk memberi informasi terkait dengan pekerjaannya.
"Lo kenal Pandhu Bagaskoro?" tanya Adera yang kini mengambil tisu untuk mengelap air matanya. Alis Fenola terangkat, gadis itu terdiam sambil berpikir. Nama Pandhu sangat tidak asing ditelinganya.
"Aha! Itu sahabat kakak gue. Lo kenal dari mana?" Fenola menatap Adera penuh tatapan selidik. Adera menelan ludah gadis itu menarik napas, seketika wajahnya memerah. Fenola menyipitkan matanya menatapnya penuh selidik, membuat dirinya seperti terdakwa yang berada di meja pengadilan.
"Cuma tanya saja, gue tidak mau lagi sedih-sedih. Gue mau bangkit lagi, walau gue juga belum berani untuk klarifikasi di depan media." Adera mengucapkannya dengan lirih. Gadis itu yakin walaupun sudah membuat klarifikasi dirinya pasti tetap akan menjadi bulan-bulanan para netizen yang tidak suka pada dirinya.
"Syukur deh, pokoknya hari ini aku akan bolos kerja dan menemani kamu untuk berbelanja dan senang-senang agar kamu tidak sedih. Itulah gunanya keluarga.” Adera semakin berterima kasih pada gadis itu.
Selesai makan Pandhu masuk ke dalam kamarnya. Mengingat pembahasan oma yang tadi membahas pernikahan membuatnya akhirnya menatap bingkai yang ada di atas nakas di samping tempat tidurnya. Pria itu mengusap debu yang menempel dibingkai foto itu, sudah lama sekali dirinya tidak menatap foto itu. Pandhu tidak ingin selalu terseret dalam kesedihan, karena foto itu menyimpan kesedihan yang besar untuk dirinya. Foto gadis yang sangat dicintainya yang meninggal satu bulan sebelum pernikahan mereka. Wajahnya sangat mirip dengan Savannah, tapi bukankah egois jika Pandhu menjadikan Savannah sebagai pengganti Adelia Putri Ningrum masa lalunya?