Bertemu

1550 Kata
  Adera benar-benar putus asa, banyak kontrak yang dibatalkan karena foto-foto yang tersebar di berbagai platform sosial media. Adera benar-benar mengutuk keras siapapun yang menyebarkan foto-foto itu. Seingatnya dirinya tidak memiliki musuh yang akan menjatuhkannya, lagi pula selama ini Adera main aman dengan tidak suka ikut campur urusan orang lain. Gadis itu melangkah ke arah balkon, hati setelah sudah mulai malam. Adera menatap lampu-lampu yang lelap kelip sambil menghela napasnya panjang. Adera tidak ingin merepotkan Fenola malam ini, mungkin besok dia baru akan menceritakan apa yang terjadi pada dirinya. Gadis itu meremas rambutnya, Adera meninggalkan balkon. Gadis itu ingin menghirup udara segar yang ada di luar rumah ini. Adera meraih kunci mobilnya dan menyetir tanpa arah tujuan yang pasti. Adera membeli minuman kemasan dan berjalan menuju taman yang mulai sepi, jika biasanya ada ketakutan yang dialaminya ketika berjalan sendirian maka malam ini tidak ada ketakutan yang menghampirinya. Mungkin karena kepalanya korslet memikirkan bagaimana kedepannya menjalani hidup. Apes memang! Pernikahan yang batal dan juga pekerjaan yang mulai berkurang. Adera sebenarnya bisa memanfaatkan momen ini dengan membuat klarifikasi. Tapi gadis itu tidak siap akan membuat suasana makin panas dan dirinya kembali menjadi bahan cemoohan orang-orang. Sekarang saja sudah pusing banget kepala milikku.   Adera duduk sambil termenung memandang taman yang disinari lampu. Adera seketika teringat lagi pada Wilson, mereka sangat senang keluar malam dan menghabiskan waktu dengan bercerita di tepat sepeti ini. Adera akan menghabiskan waktu dengan menceritakan hal-hal yang dilewatinya setiap harinya begitupun dengan Wilson. Aku bahagia kamu menjadi pendengar yang sangat baik untukku, kata Wilson setelah selesai menceritakan tekanan-tekanan yang juga di alaminya. Mereka akan memandang bintang-bintang, dan akan membuat permohonan-permohonan ketika ada bintang jatuh. Adera tidak percaya pada bintang jatuh, tapi bersama Wilson membuat permohonan pada saat bintang jatuh itu sangat menyenangkan untuk dilakukan. Tes!     Asin, Adera meraba pipinya. Ada air mata yang mengalir berarti masih ada luka. Gadis itu langsung terisak-isak sendirian. Adera memeluk tubuhnya dan terisak-isak, mengapa sekejam ini? Dirinya belum bisa melupakan Wilson seutuhnya dan Adera sangat benci dengan kenyataan itu. “Sendiri saja neng? Mau Abang temanin?” Adera yang masih sibuk dengan dirinya sendiri tidak mengindahkan suara yang mendekatinya. Adera menggeliat merasakan bahunya di sentuh, Adera segera berbalik dengan penuh kewaspadaan. Alisnya berkerut, kenapa orang ini lagi? Adera sangat tidak ingin bertemu siapa-siapa malam ini, dengan mata yang basah dan hidung yang memerah pastinya. “Ngapain nangis, tambah jelek. Ini lap air matanya!” Adera menggelengkan kepalanya. Ngapain juga mau menerima sapu tangan dari pria itu, bibirnya juga pedas banget mengatai aku jelek bisik Adera dalam hatinya. Adera berjalan mundur dan berbalik untuk kembali ke mobilnya, ngapain juga lama-lama disini.  “Mau kemana?” Adera tertarik ke belakang, pria itu menahan pergelangan tangannya. Adera diam, menunggu apa yang ingin di katakan oleh pria itu. Adera sebenarnya merasa lega sedikit, karena pikirannya tidak lagi tentang Wilson saat ini. Jadi walau masih sesenggukan perasaan sesak di dadanya sudah berkurang. Pandhu berjalan mendekati gadis itu dan mengelap air mata yang keluar dari kelopak mata gadis itu. Setelah itu Pandhu memeluk dan mengelus punggung Adera. Adera melongo, ada apa dengan pria ini? “Akhhhhhhh” Pandhu melompat-lompat menghilangkan rasa nyeri yang bertandang di kakinya. Adera menginjak kakinya dengan tidak berperasaan. Dasar tidak tahu terima kasih. Pandhu menatap gadis itu tajam, jadi ini yang didapatkannya. Dasar gadis labil. “Dasar pria tua tukang modus!” Adera berteriak dan balas menatap pria itu tak kalah tajamnya. Pandhu tersenyum menyeringai dan berjalan serius. Pria itu seperti mengabaikan rasa sakit yang ada di kakinya dan berjalan mendekati Adera. Adera tidak menghindar, gadis itu menatap tajam dan menantang pada pria itu. “Modus? Aku sudah berbaik hati untuk memelukmu meredakan kesedihanmu. Tapi itu yang kau lihat? Ckckckckckck.” Pandhu menyeringai dan berbicara tepat di depan kedua bola mata Adera. Adera menelan ludahnya, gadis itu melebarkan kelopak matanya menatap mata pria itu. “Lagi pula untuk apa kau menangisi hal-hal yang tidak bisa kau dapatkan? Kau hanya membuang-buang waktumu, nona!” Pandhu mengucapkannya dengan suara yang berat. Adera merasakan wajahnya yang mulai merah, aliran darahnya memenuhi wajahnya.  “Jaga bicaramu, kau tidak tahu apa-apa dan aku tidak ingin kau memelukku untuk meredakan kesedihan atau apapun itu. Kau hanya orang asing yang akan memanfaatkan diriku.” Pandhu tersenyum, tanpa aba-aba pria itu segera mencuri ciuman dari gadis di depannya ini. Setelah beberapa detik pria itu mengangkat wajahnya menjauh dari wajah gadis itu. “Ternyata bibirmu tidak sepeda ucapanmu. Lagu pula aku sudah punya segalanya, Nona. Aku tidak perlu memanfaatkan dirimu.” Adera yang kesal juga sebal segara menjauh dari pria itu. Adera benci jantungnya yang berdetak kencang karena ciuman kilat dari pria itu. Dasar bujang tua m***m, kutuk Adera di dalam hatinya. Tidak ingin bertengkar, Adera melangkah untuk menjauh. “Aku antar, ini sudah sangat larut.” Pandhu kini berdiri di sisi gadis itu. Adera melirik Pandhu sebentar dan melirik sekitarnya. Gadis itu menelan ludahnya, ternyata ada banyak orang juga yang ada di sekitar sini. Kelompok orang-orang yang menghabiskan malam dengan minuman keras dan memalak orang-orang. Sepertinya tidak buruk untuk bersama pria ini.  Sampai di tempat Adera memarkirkan mobilnya, Pandhu segera merebut kunci mobil gadis itu dan langsung masuk ke dalam mobil. Adera terdiam di dalam mobilnya. Apa pria ini mengikutinya ya? Adera melirik pria itu hati-hati. “Kau mengikutiku?” Pandhu tertawa terbahak-bahak. Melirik gadis itu dan menaikkan alisnya menggoda. Adera membuang pandangannya, sebal dengan pandangan pria itu. Pandhu menyetir dengan santainya. “Kau berpikir terlalu jauh, aku habis menemui seseorang yang sangat berarti untuk diriku. Kebetulan saja aku melihatmu menangis tidak jelas sepeti orang gila di taman.” Adera mengerucutkan bibirnya, gadis itu menatap Pandhu sinis. Dasar playboy, bisa-bisanya dia mengambil kesempatan dengan mencuri ciuman darinya setelah bertemu dengan orang penting yang sangat berarti di hidupnya.  “Dasar playboy, dasar buaya, dasar tua bangka mesum.” Adera mengucapkannya dengan suara yang agak di keraskan. Pandhu hanya mengangkat bahunya acuh.  “Nggak lah, aku tidak sepeti itu kok. Jangan su’udzon sama aku. Kamu ngapain magis mikirin foto-foto kamu yang tersebar itu?” Adera menghela napasnya, lalu menelan ludah. Ternyata benar semua orang tahu tentang foto itu, pantas saja wilson menggalkannya. “Nggak lah, itu bukan aku kok. Kenapa aku harus mengingat hal itu?” Pandhu mengangguk saja, pria itu fokus pada jalanan. Adera kembali terdiam, menatap mobil-mobil yang melewati mereka. “Kalau itu bukan kamu, kenapa kamu harus menangis dan uring-uringan setelah satu Minggu ini. Kamu bisa kan membuktikan dengan hal-hal yang lebih positif daripada menangis tidak jelas seperti sekarang ini.” Adera menoleh dengan malas pada pria itu. Dia yang cuma ngomong, enak banget. Aku yang mengalami sepeti mau mati. “Kamu itu tidak mengerti posisi aku. Jadi aku itu kayak gimana! Pernikahan batal pekerjaan berantakan, aku mau hidupnya gimana? Hiks hiks hiks hiks.” Adera mulai terisak-isak. Pandhu yang ada di kursi kemudi hanya menatap gadis itu sekilas. “Kamu cari kerja lain, jangan berlarut-larut. Lagi pula cowok sepeti itu jangan ditangisin. Itu sudah menjadi bukti kalau dia tidak cocok untuk menjadi suami kamu, masalah begini saja pernikahan di batalkan.” Adera bukannya diam, tangis gadis itu makin terdengar nyaring. Pandhu menggelengkan kepala, wanita dan tangisannya sangat menyeramkan. Adera dibiarkan saja menangis berlarut-larut menunggu gadis itu berhenti sendiri. Pandhu sepetinya salah memberikan solusi. “Itu tindakan yang benar kan? Memang kalau kamu diposisi tunangan aku nggak akan membatalkan pernikahan?” Adera bertanya dengan terisak-isak. Pandhu menghela napas, pria itu menggelengkan kepalanya. “Aku akan cari tahu lebih dulu perkara sebenarnya.” Singkat padat dan jelas. Adera mengatupkan bibirnya setelah mendengar Jawaban pria itu.  “Ini minum biar enakkan, kamu mau kuantar kemana?” Adera mengambil botol air mineral yang diberikan pada dirinya. Adera menoleh pada Pandhu dan berpikir. Gadis itu tidak ingin ke rumahnya, untuk saat ini. “Ke hotel saja yang dekat.” Pandhu menatap Adera tajam. Pria itu membuat Adera menatapnya dengan pandangan yang penuh tanda tanya. Apa yang salah dengan hotel? “Kamu mau menginap ke hotel? Sedangkan kamu sendiri pemasukannya turun? Kamu itu bodohnya kok pakai banget.” Adera menatap Pandhu tajam, gadis itu menarik napasnya. “Kamu tapi turun disini deh, sini aku menyetir sendiri!” Pandhu menggelengkan kepalanya, sensitif amat sih. “Iya, iya terserah kamu deh.” Pandhu akur dan memilih untuk mengatupkan bibirnya. Adera mengerucutkan bibirnya dan akhirnya kembali bersuara. “Antar aku ke rumah aku saja.” Pandhu mengangguk, Adera terdiam. Gadis itu menunggu pria itu bersuara, tapi sepertinya Pandhu tidak b*******h untuk berbicara lagi. “Kamu kenapa belum menikah?” Adera menutup bibirnya, melihat Pandhu yang meliriknya tajam dan kembali menatap jalanan. Dasar bibir kepo, Adera membuang wajahnya malu pada pertanyaannya. Itu kan pribadi orang lain. “Ada banyak hal yang terjadi dalam hidup ini, dan itu membuat aku belajar. Mungkin belum waktunya saja aku untuk menikah. Ada banyak hal yang menakutkan, Nona. Lagi pula banyak hal yang bisa dilakukan selain menikah 'kan?” Mata Adera membulat. Astaga jangan-jangan pria ini juga tipe pria yang hobi menebar benih. “Hal apa?” Alih-alih bertanya menggunakan pertanyaan yang bermunculan dikepalanya Adera malah bertanya dengan pertanyaan yang sangat simpel. “Mengejar karir dan membahagiakan keluarga, Nona. Apa yang memang ada di pikiranmu?” Adera tertawa canggung dan menatap ke arah lain. “Jangan panggil aku nona, panggil saja Adera.” Pandhu sontak menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mau, bagaimana jika aku memanggilmu Savannah. Aku pikir aku orang pertama yang akan memanggilmu seperti itu.” Adera menganggukkan kepalanya, setelah itu keduanya terdiam. Adera dengan pikirannya begitu pula dengan Pandhu. “Kita sudah sampai Savannah.” Adera melirik pada pria itu. Mereka sudah berada di depan rumahnya. Adera berbalik dan mengucapkan terima kasih pada pria itu. Pandhu terdiam, memerhatikan keseluruhan wajah gadis itu. Bibir yang terlihat menggoda dalam temaram yang kurang pencahayaan. Adera menjadi gugup dengan tatapan pria itu. “Savannah, may i Kiss you?” Adera merasakan jantungnya berdebar kencang dan juga wajahnya merona. Apalagi tatapan pria itu terlihat sangat tidak sabaran. Apa yang harus dilakukannya sekarang, Tuhan? 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN