" kamu tidak papa?," tanya lelaki itu yang tak lain adalah alfie.
karin masih mematung, ia masih bertanya-tanya siapa pria di depannya ini.
" aku gak papa "
mendengar hal itu alfie pun menatapnya semakin sendu. bagaimana tidak, wajah dan kondisi karin benar benar menyedihkan. wajah yang sembab dan pakaian yang basah kuyup , pastinya bukan sekadar tidak papa kan? .
tanpa menunggu persetujuan dari karin, alfie segera mendaratkan bokongnya di samping karin tanpa melepaskan payung dari gadis itu.
alfie bisa tau karin disini karna ia tidak sengaja melihat gadis itu dari dalam kafe. ia awalnya hanya melihat seorang gadis yang duduk sendiri di bawah derasnya hujan.
karna wajah gadis itu tidak terlalu jelas membuat alfie sedikit tidak peduli dan mengacuhkanya. namun saat ia perhatikan lagi, struktur tubuh dan wajahnya sedikit mirip dengan si cantik.
dengan perasaan yang berdebar-debar, alfie meminta ijin untuk pulang lebih awal. kebetulan sekali beberapa menit lagi waktunya pulang karna hari ini bukanlah hari lembur. di tambah raka juga sudah pulang lebih awal darinya.
ia meminjam payung milik karyawan lain dan berlari dengan kencang mendekati karin. sesampainya di sana, ia termangu melihat sosok wanita yang ia cintai sedang tidak baik baik saja.
alfie menarik nafas dalam-dalam dan mulai berjalan mendekati karin. walaupun saat ini ia sangat kedinginan, tetapi alfie tetap memaksakan diri untuk memberi payung pada karin.
karin menoleh menatap lelaki baik hati yang baru saja ia temui itu. ia mengusap asal air matanya dan tersenyum simpul.
" aku baik baik saja, ini payungnya kamu pakai aja, kasihan basah loh," tuturnya lembut
mendengar suara lemah lembut itu membuat hati alfie sedikit bergetar. karna akhirnya ia bisa berbicara langsung dengan gadis impiannya.
alfie menggeleng," kamu aja, kamu terlihat kedinginan tuh nanti sakit "
" hehe aku kuat kok." kekehnya
alfie masih diam seraya memperhatikan senyuman penuh kepalsuan itu." oh iya kamu kok sendiri disini ? "
mendengar perkataan alfie sontak saja senyum yang mengembang di wajah karin menghilang begitu saja. air mata yang tadi sudah berhenti, kembali berlinang dan menumpuk di pelupuk matanya.
alfie yang melihat perubahan wajah karin pun merasa sangat bersalah, ia menyesal telah membuat gadis itu kembali sedih.
" ehh maaf, kalau gak mau cerita gak papa kok. lagi pula kita baru ketemu jadi sebaiknya gak." sesal alfie sembari menunduk.
karin mendongak dan perlahan tersenyum melihat alfie yang tampak lucu baginya. lelaki ini sangat sopan dan lembut, dan dia adalah lelaki baik hati pertama yang pernah karin temui.
" gak papa kok." ia mengangkat dagu alfie sehingga kedua mata mereka bertemu.
deg
apa ini, kenapa jantung karin berdetak dengan kencang?. kenapa saat melihat mata teduh lelaki itu membuat karin berdebar?. tidak mungkin karin tertarik dengan pria ini kan?. karin menggeleng kuat mencoba menepis pikiran itu.
mungkin hal itu terjadi karna lelaki di depannya ini tampan, bahkan sangat tampan. jadi normal saja jika karin terpesona.
sementara di sisi lain karin tidak tau bahwa alfie sedang menahan jantungnya yang berdetak dengan kencang seperti mau copot. ia terlalu dekat dengan karin, apa lagi sampai melihat kedua mata indah itu.
" hmm gini. " karin memalingkan wajahnya dan menatap lurus ke depan.
" aku baru putus "
hening.
yang terdengar hanyalah suara hujan dan hembusan angin.
" aku di fitnah," lirihnya dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
" dia memutuskan ku "
" dia menampar ku "
" dia membentakku "
" dia meninggalkan ku "
ungkap gadis itu sesegukan dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. sedangkan alfie yang melihatnya juga ikut meneteskan air mata. Ia sangat tidak tega melihat wanita yang di cintainya menangis.
perlahan tangan alfie terangkat dan mengusap bahu karin bermaksud menenangkannya. dan hal itu adalah sebuah perlakuan yang berhasil membuat karin tenang.
" jangan terlalu di pikirkan, karna yang harus kamu pikirkan adalah kesehatanmu." ia beranjak dari duduknya dan berdiri tepat di depan karin.
" mari ku antar pulang? " tawarnya
karin menggeleng," aku basah kuyup nanti mama dan papa marah "
alfie nampak berpikir sejenak," hmm, kalau begitu kamu ke kos ku aja dan pinjam baju ku "
sedetik kemudian alfie tersadar dengan apa yang baru ia ucapkan.
" ehhh maaf aku lancang banget." ia memukul pelan mulutnya beberapa kali sehingga membuat karin tertawa kecil.
" hahaha, gak papa kok. ayo kita kerumahmu, sekalian aku mau numpang mengeringkan tas dan bukuku "
alfie tersenyum dan segera mengajak karin keluar dari taman dan berjalan menuju kosnya. sepanjang perjalanan menuju kos, kedua insan itu tertawa dan banyak menceritakan kehidupan masing-masing.
bahkan karin tidak segan-segan menceritakan kronologi pernikahan ibunya, ia di siksa di keluarga, jadi korban bullying , dan adik tiri jahat. sementara alfie senantiasa mendengarnya dan sesekali menahan marah mendengar kejahatan orang orang itu.
berbeda dengan karin yang menceritakan semuanya, alfie juga menceritakan kehidupannya, tetapi tidak dengan penyakit yang ia derita. ia berpikir karin tidak seharusnya tau tentang itu.
setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu lama akhirnya mereka sampai di depan kos sederhana dan tidak terlalu besar itu.
" ayo masuk," ajak alfie
karin tidak menjawab melainkan berjalan mengikuti alfie yang masuk ke dalam kos.
saat baru menginjakkan kaki di dalam rumah ini, karin mengadahkan kepalanya melihat isi rumah yang terlihat adem.
di dalam kos itu hanya terdapat ruang tamu kecil tanpa sofa dan beralaskan karpet. di sana juga hanya terdapat satu kamar , dapur yang kecil, dan kamar mandi.
karin berjalan lebih dulu, kemudian duduk lesehan di pinggir karpet sambil menyandarkan tubuhnya ke tembok. pandangan gadis itu masih terus mengagumi ruang tamu itu. hingga beberapa saat kemudian ia terkejut ketika mendengar suara yang muncul dari dalam.
" al , lo udah pulang?." teriak raka dari dalam lalu berjalan ke ruang tamu.
raka yang tadinya tersenyum seketika kaget melihat alfie basah kuyup. dan semakin kaget lagi saat melihat seorang gadis cantik sedang duduk sambil menatap ke arahnya.
raka dengan cepat menatap alfie dan memberi kode dengan matanya. alfie yang mengerti dengan maksud temannya itu langsung mendekat dan merangkulnya.
" gue jumpa dia ditaman tadi sendirian di bawah guyuran hujan "
" karna gue kasihan, gue bawa aja dan suruh dia memakai baju gue biar gak kedinginan. " jelasnya lembut
raka terdiam sambil memperhatikan alfie yang lebih hidup dari biasanya. walaupun wajah pria itu terlihat pucat, tetapi raka bisa melihat aura kebahagiaan di sana.
alfie memalingkan wajahnya menatap karin." oh iya nama kamu siapa? "
karin mendongak." aku karin , kamu? " tanyanya balik
" aku alfie. " ia mengarahkan tangannya di depan karin, karin yang melihat itu langsung tersenyum dan menyambut tangan alfie.
" oh iya aku kedalam dulu ya, ambilin kamu pakaian ganti, " pamitnya meninggalkan raka dan karin.
hening. suasana mendadak canggung
" khmmm, aku raka "
" ahh iya, hai raka aku karin." wajahnya mengembangkan senyuman yang lembut. sementara raka yang melihat itu juga ikut tersenyum.
cantik. Hanya itu yang terucap di pikiran raka saat melihat senyuman gadis di depannya ini.
" ini rin kamu ganti dulu ya di kamar," ujar alfie sembari menyodorkan kaos oblong, jaket hitam dan celana training.
karin dengan cepat menerimanya dan berjalan ke kamar yang di tunjuk oleh alfie. sebenarnya ia sudah sangat kedinginan dari tadi.
melihat karin yang sudah masuk kedalam kamar, raka pun segera mendekat pada alfie. dia kepo dengan kejadian yang sampai membawa gadis yang di cintai sahabatnya itu kemari.
" kenapa dia mau? "
alfie menghela nafas." tadi di taman dia menangis sendiri. dia juga menceritakan luka yang selama ini ia dapati dari orang terdekat "
alfie mulai menceritakan kisah hidup karin sebagaimana karin bercerita padanya tadi.
" hmm kasian juga ya." Gumam raka membuat alfie mengangguk.
saat ingin melanjutkan pembicaraan tentang karin, tiba-tiba saja mereka terhenti ketika karin ikut bergabung dan duduk di samping alfie. sungguh jantung alfie berdetak semakin kencang, apalagi melihat karin yang terlihat sangat cantik dengan jaketnya .
" makasih ya, nanti aku kembalikan." ucapnya tulus
karin membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa buku, kemudian menaruhnya di depan kipas angin. karna alfie dan raka tidak mempunyai hairdryer makanya karin berinisiatif mengeringkannya dengan cara netral.
ia menoleh menatap ke luar jendela di mana hujan masih turun dengan deras tanpa ada tanda tanda akan berhenti. perlahan gadis itu tertunduk memikirkan apa yang akan terjadi pada dirinya nanti saat pulang.
sementara alfie yang melihat itu juga ikut sedih. Namun, terlintas sebuah ide di kepalanya untuk membuat karin kembali lagi ceria. yaitu dengan memberinya makan.
" rin kamu pasti lapar kan? "
karin menoleh." jika kamu bertanya, tentu saja "
" kamu mau makan apa? "
karin nampak berpikir." jika hujan hujan begini mending mie rebus aja deh "
alfie mengangguk " ok, tunggu ya " ia berdiri dan mulai melangkah, tetapi langkahnya terhenti saat mendengar ucapan raka .
" buatin gue juga ya "
" buat aja sendiri," ketus alfie
" ayo dong al plisss," pintanya memelas
alfie menghela nafas " hmm baiklah "
" hihihi." pandangan kedua cowok itu menoleh melihat karin yang sedang tertawa .
" kalian lucu ya "
alfie tersenyum, kemudian ia langsung pergi ke dapur membuat mie pesanan untuk sang pemilik hatinya. tentu saja alfie membuatnya dengan penuh cinta, sedangkan untuk raka dia membuatnya asal asalan.
setelah beberapa menit akhirnya masakannya telah siap. ia menaruh kedua mangkok mie itu di atas nampan dan membawanya ke depan.
dengan hati hati ia menaruhnya di lantai dan memberikannya pada karin.
karin tersenyum menyambut makanan itu, senyumannya semakin lebar saat melihat mie itu di hias dengan indah. ada telur dan beberapa sosis , tidak lupa dengan sayur yang membuatnya semakin indah.
ia menoleh menatap mie di mangkok raka yang kosong tanpa ada toping sama sekali. karin terkekeh lalu kembali menatap mie miliknya dan segera memakannya.
" Mmm enak." pujinya membuat alfie tersenyum senang.
beberapa saat kemudian karin tersadar akan satu hal. ya, mie yang di buat alfie hanya dua yaitu untuknya dan raka saja, sedangkan lelaki itu hanya menonton mereka makan.
" alfie gak makan?, " tanya karin menatap alfie dalam
alfie menggeleng " aku gak suka mie instan." itu hanya alasan alfie saja. karna sebenarnya alfie di larang keras memakan mie instan karna penyakitnya.
karin mengangguk-anggukan kepalanya dan tetap melanjutkan makannya hingga tidak tersisa sedikit pun.
" wahh makasih ya, ini adalah mie paling enak yang pernah aku makan "
" kamu masukin bumbu apa sih?," tanyannya penasaran karna memang ini mie pertama yang membuat karin jatuh cinta. sejujurnya karin bukan seorang pecinta mie instant.
alfie terkekeh." bumbu biasa kok "
" di tambah bumbu cinta " batinnya
Raka berdecak mendengarnya." ck! mie gue rasanya biasa aja gak ada spesialnya "
" makanya buat sendiri " ledek alfie
karin diam seraya memperhatikan kedua pria itu, ia tersenyum dan beralih memperhatikan alfie yang menurutnya humoris.
" al sebaiknya kamu minum teh deh, itu wajahmu pucat aku takut kamu masuk angin." perkataan karin sontak membuat kedua pria itu terkejut.
" i-iya makasih." ucap alfie kaku
karin mengangguk kemudian melihat ke luar jendela dimana hujan sudah berhenti. dengan segera ia menyimpan buku ke dalam tasnya dan berdiri menuju pintu luar.
" makasih ya, nanti kapan kapan aku mampir kesini lagi buat balikin baju ini. " pamitnya lalu berbalik meninggalkan kos itu.
sementara di sisi lain alfie menghela nafas panjang sembari meramas kedua tangannya. andai karin tau wajah pucatnya bukan karna kedinginan melainkan penyakit mematikan.
raka yang berada di samping alfie mengangkat tangannya dan mengelus punggung lelaki itu. ia tau apa yang di pikirkan sahabatnya itu.
" ini sudah hari keempat , jadi itu artinya sisa usiaku hanya tersisa 86 hari." lirih lelaki itu nyaris tak terdengar.
" akan kugunakan 86 hari itu untuk mencintainya dan membuatnya bahagia "