Tibanya karin di rumahnya ia sempat mematung di depan rumah lantaran suasana rumah itu nampak gelap seperti tidak berpenghuni.
ia mencoba melangkah dan membuka pintu dengan perlahan. dan benar dugaannya, suasana di dalam rumah sangat gelap tanpa ada tanda tanda kehadiran orang.
karin berpikir, pasti sekarang ibu dan ayahnya sedang berada di rumah sakit. mereka pasti sudah mengetahui kabar dari amel.
karin berjalan ke kamarnya dengan tatapan kosong, wajah gadis itu terlihat sangat sendu dan menyedihkan. ia duduk di atas kasur sembari membuka jaket yang terpasang di tubuhnya.
setelah jaket itu terbuka, kini tubuhnya hanya terlihat memakai baju kaos biru milik alfie. tatapan karin menunduk melihat jaket hitam yang berada di tangannya.
di genggamnya jaket itu dengan kuat dan memeluknya dengan erat. karin hanya menguatkan hatinya bersiap menerima serangan dari sang ayah nantinya.
" al , aku akan di pukul "
" aku takut al, jika bisa memilih aku ingin tinggal saja dengan kalian. " karin terhenti sejenak dan terkekeh mentertawakan dirinya.
" tapi kita baru saja bertemu dan pasti akan sangat aneh jika tinggal bersama " ia beranjak dari tempat tidur dan melangkah menuju lemarinya.
tangannya membuka pintu lemari dan menaruh jaket alfie dengan hati hati. setelah itu ia berjalan mendekat ke jendela dan melihat awan yang mendung.
suasana senja ini di tutupin dengan suasana dingin dan mendung. padahal karin ingin sekali melihat langit senja. ia sangat suka dengan suasana itu karna bisa membuat hati menjadi tenang .
lagi pula senja juga bagian dari namanya yaitu karin senja. karin yang lagi fokus melihat awan menurunkan pandangannya saat melihat mobil ayahnya memasuki perkarangan rumah. bukan itu saja, dion juga datang dari belakang.
karin masih tidak bergeming dari tempatnya dan terus memperhatikan ayahnya yang masuk ke dalam rumah dengan wajah penuh amarah.
" KARIINNN!!! "
karin membeku, ia reflek menutup matanya karna takut dengan teriakan sangat ayah yang begitu menyeramkan.
" KARIINN!! "
karin membuka matanya dan menarik nafas panjang. ia berbalik badan dan mulai berjalan keluar dari kamar. dengan langkah yang pelan karin turun dengan jantung berdebar seperti akan copot.
ia menunduk dan mendekat pada keluarga termasuk dion yang tengah duduk di sofa rumah. jari jari gadis itu bermain berusaha menghilangkan rasa takut. namun itu tidak bisa karna hanya dengan melihat wajah amarah ayahnya mampu membuat karin bergetar hebat.
david berdiri dan mulai mendekat pada karin, pria itu berdiri tepat di depan karin dan mengangkat wajah yang tertunduk itu. dan di saat itu lah karin melihat aura membunuh dari sang ayah.
PLAKKK!!
sebuah suara tamparan menggema di ruangan itu bersamaan dengan jerit pelan bi asa yang shock melihatnya dari jauh. ia ingin melindungi karin tetapi ia mengurungkan niatnya karna suasana yang tidak mendukung.
wajah karin tertoteh ke samping menahan rasa yang amat perih di pipinya. bahkan ia sudah bisa menebak kalau sudut bibirnya sobek.
david membuka ikat pinggangnya dan memukul karin tanpa ampun di depan ibu dan dion. ingin karin menjerit namun tenggorokannya seperti tercekat, jadi ia hanya bisa pasrah dan menangis sesegukan.
" BERANINYA KAU MELUKAI ANAKKU!! " murka david
dengan tubuh yang masih sakit, karin menggeleng dan memberanikan diri menatap ayahnya. sungguh wajah gadis itu terlihat sangat menyedihkan.
" bu-bukan a-ku " lirihnya
mendengar itu David pun tersenyum miring dan berjalan mendekati dion. pria itu menarik tangan dion dan membawanya ke hadapan karin.
sementara karin yang melihat itu berharap dion bisa membantunya, tetapi sepertinya itu tidak akan terjadi karna lelaki itu juga menatap karin dengan tajam.
" katakan yang sebenarnya terjadi dion! " desak david
dion mengangguk dan menatap mata teduh karin yang penuh dengan air mata." dia sengaja melukai amel karna amel juga menyukaiku "
" dia memang penjahat!! " tekan dion membuat hati karin semakin hancur. ia memejamkan matanya dan membiarkan air matanya lolos semakik deras.
" baiklah kau boleh kembali duduk " perintah david dan dion kembali ke tempatnya semula
" hikss.... hiksss " isak gadis itu tidak dapat menahan suara dari mulutnya.
david menatapnya semakin tajam dan mencengkram kedua pipi karin kuat." ANAK SIALAN!! DASAR BINATANG, MATI SAJA KAU!! "
ia menghempaskan wajah karin ke samping hingga gadis itu terlempar ke meja. dengan air mata yang berderai ia mendongak menatap ibunya yang malah memalingkan wajahnya.
tidak sampai di situ ia menoleh menatap dion yang juga sedang menatapnya. mata gadis itu terpancar rasa sakit dan kecewa yang mendalam.
" sini kau! " david menarik rambut karin kuat dan membawanya ke kamar mandi. sontak saja bi asa yang melihat itu ikut menyusul bersama rose dan dion.
tanpa rasa kasihan david menyiram karin dengan cepat tanpa jeda sedikit pun, membuat karin harus menahan sesak.
sungguh karin butuh pertolongan, bukan tontonan kalian semua. karin tidak bisa mengelak karna david begitu menahannya sehingga gadis itu tidak dapat bergerak.
sesudah menyiramnya, david membawa karin dengan kasar ke gudang lalu menghempaskanya sehingga gadis itu terbentur ke tembok.
David mengambal tali dan mendekat pada karin, sedangkan karin yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya dan semakin menumpahkan air mata.
" ini hukuman mu. " tanpa rasa kasihan david mengikat tubuh karin dengan kencang tanpa ada celah sedikit pun untuk melepasnya.
" kumohon jangan hiksss " rintihnya dengan wajah memelas
" mama kumohon tolong aku " mohonnya sesegukan
bukannya melihat karin dengan iba rose malah menatapnya menusuk." terimalah hukuman mu karin! kau pantas mendapatkannya "
deg
hati karin menjerit mendengar suara dingin sang ibu yang tidak membelanya. ia mencoba menoleh ke arah dion.
" dion, bukan aku yang melakukannya... percayalah padaku "
" cihh pandai sekali kau berbual "
mendengar itu karin seketika menunduk sehingga lantai di bawahnya basah dengan air mata.
" jangan ada yang membuka ikatan ini sampai pagi, dan jangan ada yang memberinya makan! " tegas david membuat rose mengangguk.
david melangkah dari hadapan karin dan berjalan ke pintu, ia menoleh sekilas ke arah gadis itu dan perlahan menutup pintu dan menguncinya.
" ayahh kumohonn buka!! " teriak karin melengking
" di sini gelap!! "
hening .
tidak sahutan dari luar, yang karin dengar hanyalah suara jangkrik dan rintikan hujan.
ruangan yang gelap membuat suasana semakin mencengkam. karin sama sekali tidak bisa melihat apapun kecuali sedikit cahaya yang masuk dari lubang udara atas jendela.
tubuh gadis bergetar hebat menahan dingin yang menusuk. tubuh yang basah kuyup dan hembusan angin tentu saja membuatnya menggigil.
luka bekas pukulan ayahnya masih terasa sangat perih dan nyut nyutan. di kegelapan itu karin hanya bisa terisak tanpa tau harus berbuat apa.
" dingin..... sangat dingin " lirihnya nyaris tak terdengar.
" sakit.... sangat sakit "
" gelap..... sangat gelap "
walaupun berusaha menahan tangisannya air mata itu tetap meluncur dengan derasnya .
sudah berjam jam karin berada di sana tanpa seorang pun datang menemuinya. gadis itu sudah pasrah menerima keadaan, jadi ia hanya bisa melihat bulan dari lubang udara.
cahaya bulan tepat mengenai wajah sendunya, walau sudah berhenti menangis tetapi tubuhnya masih bergetar hebat. bahkan saking kedinginannya tubuh karin terasa seperti es.
karin menelan salivanya menahan rasa lapar yang menyerang dirinya. ya, ia belum makan apa apa kecuali mie instan di rumah alfie.
" aku lapar dan entah kapan bisa makan." lirihnya lalu perlahan kedua matanya tertutup.
sinar matahari masuk dan mengenai wajah gadis yang sedang tertidur dengan pulas. gadis itu tertidur dengan posisi miring masih dalam keadaan terikat kuat.
mata gadis itu perlahan terbuka saat mendengar suara pintu yang hendak di buka. ia memperhatikan pintu itu dengan wajah tegang dan jantung yang berdebar kencang . ia hanya takut jika itu adalah sang ayah yang mencoba masuk.
namun ia bernafas lega ketika melihat bi asa bediri di sana saat pintu terbuka.
sementara bi asa yang melihat betapa kacaunya karin langsung berlari dan memeluk gadis itu. tangis karin pecah di dalam pelukan bi asa. bahkan bi asa bisa merasakan bajunya ikut basah terkena air mata karin.
" cup... cup tenanglah. " ucap bi asa menenangkan dengan mengelus rambut gadis itu.
bi asa melepas pelukannya dan mengambil pisau yang memang ia bawa tadi. dengan hati hati ia memotong tali tersebut dan melemparnya ke sembarang arah.
betapa hancurnya hati bi asa melihat tangan karin memar akibat ikatan tersebut. jadi sudah bisa bi asa tebak bahwa ikatan tersebut benar benar menyakitkan.
bi asa menyingkirkan anak rambut karin ke belakang telinganya. tanganya terangkat dan mengusap pipi karin dengan lembut. sementara karin hanya diam saja seraya memperhatikan bi asa.
bi asa membalikan tubuh karin dan perlahan mengangkat baju gadis itu ke atas. alangkah terkejutnya ia melihat punggung karin luka kemerahan hingga kebiruan. bahkan ada beberapa yang bengkak dan mengeluarkan air.
" non , ini pasti sakit kan.. ? " tanyanya terisak
karin mengangguk " iya sakit bi "
bi asa menghapus air matanya dan memegang kedua pipi karin dengan sayang.
" bibi obatin ya, trus non karin sarapan dan setelah itu tidur "
karin menggeleng." karin harus sekolah "
" tidak sayang! kamu tidak akan sekolah dengan keadaan seperti ini "
tanpa menunggu jawaban dari karin bi asa segera membantu gadis itu berdiri dan membawanya ke kamar mandi. ya , pertama bi asa akan memandikan karin karna tidak mungkin karin sarapan dengan pakaian yang lembab seperti ini.
setelah mandi, bi asa menyiapkan sarapan dan membawanya ke kamar karin. di rumah itu saat ini hanya menyisakan bi asa sama karin saja, sedangkan penghuni rumah lainnya sudah pergi ke rumah sakit dari tadi.
melihat karin makan dengan lahap membuat bi asa tersenyum sekaligus sedih. bagaimana tidak, karin memakan makanannya seperti orang kelaparan.
sesudah karin makan, bi asa segera mengobatinya dengan hati hati. setelah itu barulah ia menidurkan karin dan tetap setia berada di samping gadis itu.
sementara di satu sisi alfie bangun dengan lesu, semalam lelaki itu tidak bisa tidur dengan nyenyak. ia merasa ada sesuatu yang membuat hatinya ini tidak tenang.
ia sempat berpikir soal karin semalam , karna setelah mendengar cerita dari karin alfie pun menjadi sangat cemas dengannya. ia takut orang orang di sekitar karin melukai gadis itu lagi.
sebenarnya saat pertemuannya dengan karin kemarin alfie bisa melihat bekas tamparan di pipi gadis itu. dan alfie juga melihat memar kebiruan di kaki karin.
" semoga kamu cepat datang kemari " lirihnya berharap karin secepatnya datang menemuinya.
alfie dengan yakin berpikir karin pasti akan datang menemuinya karna gadis itu sudah berjanji akan mengembalikan pakaian yang ia pinjam.
alfie menghela nafas berat dan membuka kotak obatnya, dengan malas lelaki itu minum obat tersebut walau sebenarnya ia ingin berhenti saja melakukannya. namun satu hal yang mendorongnya untuk rutin meminum obat ialah sang pujaan hati karin.