demam

1701 Kata
Sudah tiga hari karin hanya terbaring di atas tempat tidur tanpa melakukan apapun. setelah lukanya di obatin, bukannya membaik luka karin malah semakin parah. tubuh gadis itu demam parah, luka-kuka yang yang ada di balik punggungnya juga belum sepenuhnya kering. karin berharap dalam keadaan sakit begini ibunya bisa datang menjenguk dan merawatnya. namun karin harus menelan kekecewaan karna sang ibu tidak peduli sama sekali. ibunya hanya peduli pada amel yang masih di rawat di rumah sakit. sungguh, sakit sekali hati karin menelan kenyataan itu. padahal dulu ibunya akan menjadi sangat cemas jika karin sakit sedikit saja. tapi kenapa sekarang berbeda? karin rindu, karin sangat merindukan kasih sayang ibunya. ia tidak menyangka ibunya akan lebih menyayangi gadis yang bukan anak kandungnya. tapi karin masih bersyukur karna dalam keadaan seperti ini bi asa tetap setia di sampingnya. wanita itu begitu tulus merawat karin yang terbaring lemah. " non minum obatnya dulu," ujar bi asa sembari membantu karin duduk. " makasih bi," balas gadis itu tersenyum tipis. bi asa tersenyum, kemudian membantu karin meminum obat. setelah itu ia mengangkat baju karin dan mengoleskan salep pada bekas lukanya. selama bi asa mengobatinya, karin hanya diam sambil menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong. bayang-bayang kejadian lalu mulai bermain di otaknya, ingatan tentang dion yang mengakhiri hubungan dan ikut membencinya. setetes air mata jatuh mengenai tanganya, karin tersadar dan buru-buru menghapus air matanya sebelum bi asa melihatnya. " non karin mau makan apa? " " apa aja bi " " bagaimana kalau bubur ayam? bibi akan membelinya di depan." tawar bi asa karin menganggukkan-anggukan kepalanya setuju dengan bi asa. matanya masih melihat bi asa hingga wanita itu menghilang di balik pintu. suasana mendadak hening, tidak ada satupun suara yang terdengar kecuali deru nafas karin. " hening," lirihnya tangan karin terangkat dan menyentuh keningnya, bisa ia rasakan keningnya panas yang luar biasa. ia tersenyum hambar dan kembali menatap ke luar jendela." seorang gadis yang memendam banyak luka " karin yang lagi termenung tersentak mendengar suara bel yang di tekan. ia penasaran siapa yang bertamu di saat seperti ini, jadi karin memilih untuk membiarkan orang itu pergi sendiri. namun, walaupun sudah di tunggu lama orang itu tidak juga kunjung pergi, malahan ia semakin menekan bel dengan cepat. karin takut jika itu adalah orang iseng atau orang yang berniat jahat. dan ketakutannya semakin membesar saat mendengar suara pintu di buka dan langkah sepatu seseorang yang mendekat. karin melihat pintu dengan perasaan cemas, bahkan wajah pucatnya itu berubah menjadi wajah tegang. tetapi, karin bernafas lega ketika melihat siapa yang membuka pintu kamarnya. ya, itu adalah sang sahabatnya fanny. gadis itu berdiri di depan pintu sambil memegang kantong kresek di kedua tangannya. ia tersenyum menatap karin dan berjalan mendekatinya. " rin gue rindu banget sama lo," ujarnya langsung memeluk karin dengan kuat. " sshh.. awhhh," ringis karin saat merasakan tangan fanny menyentuh lukanya. fanny tersadar dan buru-buru melepas pelukannya. dengan wajah yang tegang plus takut ia mencoba menyingkap baju karin. mata gadis itu melotot dan ternganga ketika melihat punggung karin penuh dengan luka lebam. bekas cambukan terlihat dengan sangat jelas di sana. " rin, ini karna dia? " tanya fanny bergetar karin mengangguk " iya fan " mendengar itu fanny seketika mengusap wajahnya kasar, ini sudah sangat keterlaluan dan ia tidak menyangka si pria jahat itu masih menyiksa karin. " gak usah khwatir fan, gue baik baik saja kok," ucap karin tersenyum sembari memegang tangan fanny. ingin rasanya fanny menangis melihat senyuman yang penuh luka itu. ia menyeka setetes air matanya yang jatuh dan menatap karin. " ini gue ada bawa buah, di makan ya " " iya " " hmm bagaimana sekolah? " tanya karin fanny menghela nafas," mereka semua semakin membenci mu rin " " dion membeberkan sebuah berita tentang lo yang mencoba membunuh amel." sambungnya membuat karin menunduk, gadis itu tidak kaget lagi mendengar berita itu. melihat karin yang kembali sedih fanny pun menghentikan ceritanya." tenang aja rin, selama ada gue di sana gue akan selalu melindungi mu" karin tersenyum halus." makasih fan " kedua gadis itu berpelukan saling melengkapi satu sama lain. *** alfie yang tengah bekerja menjadi sangat tidak fokus dengan kerjaannya, di dalam pikirannya hanya ada satu nama yaitu karin. ia sangat menghawatirkan gadis itu. sudah seminggu berlalu namun ia belum melihat keberadaan gadis itu. di sini maupun di rumahnya, padahal karin pasti akan selalu nongkrong di kafe ini. " oiii kenapa lo? " " gue pengen ketemu karin ka," lirihnya pelan berhasil membuat raka bungkam. raka terdiam sembari memperhatikan alfie yang semakin tidak hidup setelah kepergian karin kemarin. raka tau betul kalau alfie benar-benar menginginkan kehadiran gadis itu. entah aneh atau apa, tapi karin menjadi penyemangat utama alfie untuk bertahan hidup. " lo gak usah cemas, dia pasti baik baik saja," ucap raka menenangkan alfie tersenyum." iya, gue harap juga begitu " walaupun sudah menguatkan hatinya untuk berpikiran positif, tetap saja itu tidak menghilangkan rasa cemasnya. kafe hari ini sedang ramai pengunjung, jadi mengharuskan alfie bekerja lebih ekstra dari biasanya. ia dari tadi sibuk mondar mandir mencatat dan menyiapkan pesanan pelanggan dan membawanya. sesekali ia beristirahat sejenak, lalu setelah itu kembali lagi bekerja. setelah melewati hari yang panjang akhirnya alfie bisa bernafas lega. lelaki itu bersandar di dinding sambil mengatur deru nafasnya. pelu keringat berjatuhan membasahi wajahnya yang pucat. wajah alfie sangat pucat layaknya mayat hidup, bukan itu saja tubuhnya juga semakin hari semakin kurus. alfie memegang perutnya saat merasakan sakit luar biasa muncul. ia memejamkan matanya dan perlahan berjalan mengambil obatnya di dalam tas. dengan tangan yang bergetar hebat ia mencoba meraih gelas dan segera meminum obat tersebut. setelah selesai, pandangannya tertarik ke atas menatap langit-langit kafe. sudut bibir lelaki itu terlukis membentuk senyuman tipis , walau ia harus membendung air mata di pelupuk matanya. sungguh alfie benar benar tidak tahan lagi menahan sakit ini. " rin, jika bukan karna mu , aku pasti akan menyerah detik ini juga " " sakit, sangat sakit!." ia memukul dadanya melampiaskan rasa sesak itu. " ayo bertemu dan buatlah semangat hidupku semakin besar." lelaki itu terdiam lalu menunduk menatap lantai. " ya, walaupun sebesar apapun semangatku, aku akan tetap tiada," ia terkekeh mentertawakan nasibnya yang tidak beruntung. lelaki itu menarik nafas panjang lalu mengambil tasnya dan berjalan menghampiri raka. di tatapnya punggung sahabatnya itu dari jauh, sahabat yang begitu baik padanya selama ini. entah kenapa perasaan alfie tiba tiba menjadi tidak enak, ia hanya takut dan sedih harus meninggalkan raka sendiri di dunia ini nantinya. " ya tuhan , jika boleh meminta aku ingin menghabiskan masa dewasa dengan raka." ucap lelaki itu getir, ia menyeka air matanya dan mengembangkan senyuman. " oiii, udah lama ya?," tanya alfie basa basi sambil menepuk pundak cowok itu. raka menoleh." gak juga kok " " hehe ayo pulang," ajak alfie berjalan melewati raka " oii tunggu! " teriak raka mengejar lelaki itu " cepatan pe'a," kedua cowok itu berjalan pulang di bawah senja yang indah, sesekali mereka bercanda dan mengejek satu sama lain. namun tibalah di satu titik di mana alfie mendadak berhenti membuat langkah raka juga terhenti. raka yang melihat itu sontak menatap alfie dengan tatapan bertanya-tanya. di tatapnya wajah yang seperti memikul banyak beban itu. " raka " " iya? " " senyum lo jangan hilang ya." ucap alfie mendongak menatap mata raka. raka mengkerutkan alisnya," maksud lo?" alfie tersenyum kemudian melangkah hingga ia berada tepat di depan raka." kalau misal gue gak ada, gue harap senyum lo gak akan hilang " " ya ,lo boleh menangis atau sedih karna itu, tapi gue mau keterpurukanmu hanya berlangsung dengan cepat." lanjutnya raka membeku, ia masih mencerna setiap kata yang keluar dari mulut alfie. hingga sedetik kemudian ia menatap alfie dengan tatapan marah. " jangan pernah ucapkan kata keramat itu lagi!! gue benci itu al!!." ia berbalik badan dan maju selangkah dari alfie. alfie yang merasa bersalah dengan kata katanya tadi merasa sangat menyesal. lagi pula apa salahnya jika ia menitipkan pesan?. ia mendongak menatap punggung raka, seulas senyuman terukir di wajahnya, dan perlahan ia mendekat pada lelaki itu. " yaudah, kalau gitu ayo pulang," ajaknya membuat raka menatapnya sendu. setelah menempuh perjalanan, akhirnya kedua cowok itu sampai pada kompleks tempat kos mereka. langkah keduanya terus berjalan mendekati kos yang sudah terlihat. tetapi,ada yang aneh dari itu, mereka seperti melihat seseorang yang sedang duduk di kursi teras depan. alfie berhenti sejenak mencoba memperhatikan siapa yang berada di sana dengan seksama. hingga ia membelakkan matanya saat mengetahui siapa yang sedang duduk di sana. ya, dia adalah seorang yang sangat alfie rindukan dan nantikan selama ini. sang pujaan hati tercinta karin. " itu karinnn!." girangnya menepuk-nepuk tubuh raka dengan semangat. raka tertawa." iya, sana samperin, pasti dia udah lama tunggu " alfie mengangguk kemudian berlari kecil menuju kos mereka tepatnya pada karin. sementara raka yang melihat betapa senangnya alfie dengan hal sekecil ini menjadi sangat terharu. ia berharap alfie bisa merasakan sesuatu yang menjadi kebahagiaannya. " karinnn!!," panggil alfie membuat kepala karin menoleh dan tersenyum melihat lelaki itu. " udah lama ya?," tanya alfie dengan nafas yang memburu padahal larinya tidak terlalu jauh. " kamu gak papa? mukamu pucat banget." bukannya menjawab karin malah berbalik bertanya. alfie menggeleng." gak papa kok " ia berjalan dan duduk di kursi samping karin. " ohh syukur lah, aku kesini mau kembalikan jaket dan pakaian mu." jelasnya seraya menyodorkan jaket dan pakaian milik alfie. alfie tidak bergeming karna merasakan pusing yang teramat dan sesak di d**a. oh ya, karna kanker hati alfie sudah memasuki tahap akhir, yaitu di mana sel kankernya sudah menyebar ke organ sekitar, tepatnya paru-paru. makanya tak heran jika alfie sering sesak nafas, batuk, nyeri d**a, dan mimisan. karin yang melihat perubahan raut wajah alfie pun menjadi sangat kebingungan. apa lagi melihat pelu keringat yang membasahi seluruh wajah cowok itu. " kamu keringatan." tangan gadis itu merogoh sakunya dan mengambil sapu tangan. " permisi," dengan hati hati ia mengusap keringat di seluruh wajah alfie. sementara alfie yang di perlakukan seperti itu menjadi sangat senang. di tambah ia bisa menatap wajah cantik karin dengan jarak yang sangat dekat. sedangkan raka yang menyaksikan adegan itu dari jauh hanya bisa geleng-geleng kepala. ia tau pasti hati alfie sekarang lagi berbunga-bunga. jadi raka memutuskan untuk singgah sebentar ke warung terdekat karna tidak ingin mengacaukan momen mereka berdua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN