" kamu kemana saja selama ini?," tanya alfie setelah karin melepaskan tangan dari wajahnya.
" aku sakit al," jawab karin tertunduk
alfie terdiam seraya memperhatikan wajah karin yang memendam perasaan sedih. melihat karin yang terluka seperti itu membuat alfie menjadi tidak tega. ia juga tidak tau harus melakukan apa supaya karin kembali lagi bahagia.
sedetik kemudian terselip lah sebuah ide yang bermunculan di kepalanya untuk membuatkan makanan yang lezat untuk karin. walaupun sebentar lagi hari sudah mau gelap, namun ia ingin karin merasakan masakannya yang lezat sebelum pulang.
alfie memang sangat pandai dalam hal memasak, setiap masakan yang ia buat selalu nikmat dan akan langsung di sukai orang-orang. bahkan raka selalu meminta alfie untuk memasak, tentu saja dia akan membantu alfie di dapur.
" kamu sudah makan belum? kalau belum aku akan membuatkanmu nasi goreng "
" ehh, gak usah gak papa kok," tolak karin gak enak
" udah santai aja "
" ehh al gak usahhh!!," teriak karin saat alfie meninggalkannya begitu saja.
di dapur, alfie mulai berperang dengan alat masaknya, ia menyingkap lengan bajunya ke atas agar memudahkannya bertugas.
wajah lelaki itu terus mengembangkan senyuman yang lembut. walaupun tubuhnya masih lemah dan butuh istirahat tetapi itu tidak menghalangi kegiatannya sama sekali.
dengan cekatan ia membolak balikan nasi di wajan, lalu menambah kecap dan beberapa sosis. selang berapa waktu nasi goreng special buatan alfie akhirnya jadi juga.
ia tersenyum puas memandang sepiring nasi goreng yang telah dihias dengan sangat cantik. alfie sangat yakin karin pasti akan jatuh cinta dengan masakannya.
" nasi goreng special dengan bumbu cinta terlihat sangat sempurna," gumamnya terkekeh
tangannya bergerak mengambil gelas dan segera mengisinya dengan air mineral. setelah itu tangan satunya mengangkat sepiring nasi goreng dan mulai berjalan ke depan.
dari dalam ia bisa melihat karin yang tengah duduk dengan tenang dari sela-sela jendela . sungguh demi apapun alfie terpesona , di tambah pantulan senja tepat mengenai wajahnya menambah pesona seorang karin. alfie menarik nafas panjang dan melangkah menemui gadis itu.
kedatangan alfie membuat karin spontan menoleh ke arah lelaki itu. di tatapnya wajah alfie yang seperti menahan lelah. pandangannya turun melihat sepiring nasi goreng yang dipegang lelaki itu . karin tidak habis pikir bahwa alfie benar-benar membuatkanya makanan.
" ini nasi goreng special untukmu," seru alfie tersenyum hangat sembari menaruh makanannya ke atas meja.
" alfie ini benar-benar merepotkan loh "
" udah makan aja "
karin tidak bergeming, sejujurnya ia tidak enak karna telah merepotkan alfie. tetapi di satu sisi ia kasihan juga melihat alfie yang sudah susah payah membuatkannya.
karin berbalik badan menghadap alfie dan memajukan sedikit duduknya agar lebih dekat pada meja. perlahan tangannya mengambil sesendok nasi dan memasukannya ke dalam mulut.
karin reflek membulatkan matanya saat sesuap nasi itu mendarat tepat di dalam mulutnya. ia tidak dapat berkata-kata lagi, ini sangat lezat. bahkan saking lezatnya membuat karin menjadi terharu dan berkaca-kaca.
sementara alfie yang melihat karin mau menangis langsung menjadi heran. ia berpikir apakah makanannya seburuk itu? ia memberanikan diri menyentuh dagu karin dan mengangkat wajah gadis itu .
" tidak enak ya rin? "
karin menggeleng." ini-ini sangat lezat." ia kembali mengambil sesendok nasi dan memakanya dengan lahap. tentu saja melihat itu alfie kembali tersenyum sembari terus memperhatikan karin.
" wahh enak sekali sungguh," puji karin tulus
" syukur lah jika kamu suka "
" kamu memang koki the best deh "
" hahaha kamu bisa aja rin "
karin terdiam, mata lentiknya menatap alfie dengan lekat. sosok lelaki baik, ramah, dan pandai memasak itu mampu mencuri perhatiannya.
" wanita yang menjadi istri alfie pasti akan merasa bahagia sekali," ucap karin tanpa sadar membuat alfie terpaku.
keduanya sama-sama terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. karin mengerutui kebodohannya yang ia ucapkan tadi, ia kesannya seolah berharap lebih . sedangkan alfie memang merasa senang dengan ucapan karin, namun ia tau itu tidak akan pernah terjadi.
karna hari sudah mau gelap alfie memutuskan untuk mengantar karin pulang. ia takut jika seorang gadis keluar sendiri di malam hari, di tambah ia juga ingin mengetahui dimana lokasi rumah gadis itu.
alfie sedikit ragu mengatakannya, ia takut karin berpikir macam-macam tentangnya. namun ini semua demi keselamatan karin.
" karin," panggil alfie di antara keheningan
" iya? "
" aku antar kamu pulang ya? "
" gak usah al, aku bisa sendiri," ia menggelengkan kepala lalu berdiri. kakinya mulai melangkah meninggalkan alfie, tetapi sebelum gadis itu meninggalkan teras, alfie lebih dulu mencekal tanganya.
karin sontak menoleh dan melihat tangannya yang di genggam erat oleh alfie. perlahan ia mengangkat kepalanya melihat wajah manis itu, sejenak keduanya bertatapan hingga suara raka mengejutkan mereka.
" oiii lo pada kenapa? "
alfie buru buru melepaskan genggamnya dan berbalik menatap raka dengan senyuman kaku. sedangkan raka langsung tau kalau dirinya baru saja menghentikan sebuah momen romantis.
" kenapa lo?," tanya raka lagi
" emm itu gue tawarin diri buat antar karin karna takut dia kenapa-kenapa, tapi karin tolak," jelas alfie menatap karin yang menunduk.
" loh yang di katain alfie benar loh rin, seorang gadis gak seharusnya berjalan sendirian," kata raka menoleh menatap karin.
" ehh rin apa lo tau , waktu itu ada korban seorang gadis di lecehkan di sekitar kompleks ini karna pulang sendiri," ucap raka sembari mengedipkan sebelah matanya pada alfie.
alfie yang melihat itu pun langsung menangkap maksud dari raka." i-iya rin kasihan banget dia "
karin mematung mendengarnya, di satu sisi ia tidak ingin merepotkan alfie lebih jauh lagi, dan di sisi lain ia juga takut dengan ucapan kedua pria itu.
" emm baiklah." ia mendongak menatap alfie." tolong antar aku pulang al "
tentu saja dengan senang hati alfie mengangguk dan berjalan sedikit lebih dulu dari karin.
" dahh, jaga dia ya al!! " teriak raka
" pastiii! " jawab alfie yang sudah berjalan sedikit jauh dari raka.
selama di perjalanan alfie menceritakan segalanya yang ia lihat, mulai dari teman-temanya yang tidak sengaja berpapasan, makanan, dan tempat yang ia ketahui.
setengah dari perjalanan, keduanya memutuskan untuk singgah sebentar di taman yang tidak terlalu besar. mereka sejenak beristirahat disana karna alfie ingin membelikan karin gulali berbentuk love.
sebenarnya bukan itu alasannya, alfie ingin beristirahat karna ia merasakan lelah yang teramat, seolah ia akan jatuh pingsan pada detik itu juga.
" al , kamu gak makan?," tanya karin sambil menyantap gulali lezat itu.
alfie tersenyum tipis dan menggeleng." gak rin, aku gak suka manis "
" ouhh benarkah? ini enak banget loh, apa kamu gak mau coba?," tawar karin sekali lagi
mendengar itu alfie memalingkan wajahnya menatap lurus kedepan, rambut lelaki itu berterbangan terbawa angin malam. pandangan alfie dengan lekat melihat segerombolan remaja yang sedang memakan sate dengan nikmat.
" aku juga ingin makan makanan yang aku ingin rin, tapi sepertinya takdir tidak setuju." sebuah kata yang mampu membuat karin menghentikan makannya.
" aku ingin mencoba makanan yang tidak di sukai oleh tubuhku," lirihnya nyaris tak terdengar
" maksud kamu? " tanya karin tidak mengerti.
alfie menghela nafas." lupakan, ayo habiskan dan pulang "
karin mengangguk dan melanjutkan kegiatan makan yang sempat tertunda. ia kali ini tidak begitu menikmatinya karna kepikiran dengan kata-kata alfie tadi.
" al "
" hmm? "
" kita baru bertemu tapi kenapa kamu begitu baik padaku?,"
alfie reflek menghentikan langkahnya dan berbalik menatap karin yang sedang menunggu jawaban darinya.
" apa kita tidak boleh baik kepada seseorang? "
" iya sih, tapi kamu terlalu baik untukku "
" itu karna aku mencintaimu " batin alfie
" itu karna kamu gadis malang, cantik dan membuatku merasa gemas," kata lelaki itu bergurau
" ihh kamu mah," ketus karin sembari memukul tangan alfie.
" aduhh sakit tau! "
" kamu sih aku tanya serius malah bercanda "
" aku serius rin "
karin masih diam namun tiba-tiba ia tersentak saat merasakan gerimis mulai berjatuhan di atas kepalanya.
" alfie hujan "
" rumah kamu dimana rin? "
" di sana beberapa rumah lagi dari sini," jawab karin seraya menunjuk rumahnya yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
alfie mengangguk." ayo." tanpa persetujuan dari karin alfie dengan cepat menggandeng tangan gadis itu dan berlari membawanya.
kedua insan itu berlari di antara hujan yang tidak terlalu besar, benar-benar sebuah pemandangan yang sangat romantis.
sesampainya di teras rumah karin barulah alfie melepaskan genggamannya. mereka berdua saling bertatapan, hingga
" hahahah!! "
" kamu basah al " ledek karin masih tertawa
" kamu juga, wajahmu basah," balas alfie memandang karin.
tawa keduanya terhenti saat pintu terbuka dan keluarlah sosok wanita yang melihat mereka dengan tatapan sinis. ya, wanita itu adalah rose ibunya karin.
" dari mana kamu? " tanya rose dengan nada yang tidak enak di dengar.
" habis main dari rumahnya " jawab karin lirih dan menunduk.
rose beralih menatap alfie dari atas sampai bawah. dari pandangnya ia tahu kalau alfie adalah orang yang tidak punya.
" cih orang miskin tidak usah sok dekatin anak saya." ia berbalik menatap karin." dan kamu juga jangan sembarangan dekat dengan cowok! ".
sedih rasanya hati alfie mendengar dirinya dituduh dan di katain seperti itu. tetapi ia tetap menguatkan hatinya untuk tidak terlalu memikirkannya .
" pulang sana kamu!! " usir rose
sontak karin mendongak." jangan ma!! lihatlah hujan semakin deras biarkan dia berteduh dulu "
" tidak!! "
" tapi ma-"
" KARINN!!!! " bentak mamanya melotot membuat karin terkejut.
alfie tersenyum." gak papa rin, aku pulang ya "
" i-iyaa al, hati hati ya," walaupun karin tidak tega tetapi ia tidak punya pilihan lagi.
" tante aku pulang ya," pamit alfie menatap rose tetapi perempuan itu hanya diam.
alfie menghela nafas dan berbalik menatap derasnya hujan di depannya. tepat setelah ia berbalik ia mendengar suara pintu yang di tutup dengan kuat. dan benar saja ia tidak lagi melihat keberadaan karin di sini, itu artinya gadis itu pasti sudah di paksa masuk oleh ibunya.
" hujan, aku suka hujan," gumamnya menyentuh rintikan hujan dengan telapak tangannya.